Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 55 "Sendu"


__ADS_3

Keesokan malamnya. Paman Gani datang. Menyiarkan kabar yang menggemparkan suasana hati Kala. Padahal, Kala baru saja membaca chat Syarif yang mengatakan sedang baik-baik saja dan tidak sedang marah dengannya.


"La, kamu manut saja, ya. Ini permintaan Abah Kiai. Kiai sepuh. Insyaallah barakah."


"Maksud, Paman?" Dada itu mulai bertabuhan.


"Paman sudah rundingan. Paman baru dari ndalem kesepuhan. Setelah kamu selesai ujian sekolah dan tahfiz, Abah Kiai pengen kamu dan Gus segera melangsungkan akad. Mereka sabar menunggu kamu khatam dulu. Kapan wisuda?"


Kala terkesiap. Lalu, menggeleng tanpa menatap Paman Gani.


"Ya pokoknya begitu."


Vey meletakkan tangannya di paha Kala. Dan, otomatis Kala menyisihkan tangan itu. Ada nada ketidaksukaan. Dan, Vey bisa menangkap dengan jelas apa maksudnya.


"Sebetulnya Paman pengen kalian...kamu dan Gus berbincang-bincang langsung...ya tapi Gus Omar tidak menghendaki. Paman yang disuruh ngomong, Nduk. Setelah kalian menikah nanti, Gus Omar membukakan peluang seluas-luasnya untuk kamu. Kalau misalnya kamu ingin mengembangkan bisnis ini ke pesantren. Kamu ingin berkiprah. Ada banyak santri yang bisa kamu ajari. Santri-santrinya bisa kamu ajak berkolaborasi."


Mungkin kedengarannya menggiurkan. Tapi, Kala hanya fokus pada apa yang telah dilihatnya waktu itu. Kenyataan bahwa Abimana justru menyukai kakaknya sendiri. Dan, di saat dirinya berharap Abimana datang sebagai penyelamat, orang lain malah menawarkan surga yang baginya belum tentu indah. Kandaslah keinginan itu.


"Iya, Paman." Dia sengaja tidak berbicara supaya Paman Gani lekas pulang.


"Paman berharap kamu mempersiapkan diri mulai sekarang. Mentalnya ditata. Kamu bakalan jadi mantu kiai, La."


Kala mengangguk.


Paman Gani pun pamit pulang. Menyertakan wajah semringah karena Kala yang dilihatnya terlihat begitu manut.


"La?" tanya Vey.


Kala menoleh.


"Bener kata Paman. Aku cuma bisa mendukung. Ngasih kamu kepercayaan kalau kamu mesti bisa. Tapi, sekali lagi aku tanya, apa kamu bener-bener siap?"


"Mau gimana lagi emang?" Kala melempar nada sebal.


"Sebetulnya aku juga nggak terlalu ngerti. Tapi, kalau mungkin sukamu ke Mas Abi bisa kamu jadikan alasan untuk menolak pernikahan ini, kamu coba."


"Enggak mau."


"Kenapa?"


"Buat apa, Onni? Nggak manfaat."


"Siapa tahu Paman mempertimbangkan. Dia tahu kamu merasa keberatan di situ."


"Kalau perkataanku lalu sampai ke telinga Pak Abi gimana? Itu lebih memalukan lagi, kan?"


"Nggak, La."


"Sudahlah, Onni. Aku siap kok. Aku hanya perlu belajar ikhlas." Meski pelan, nadanya kian terdengar kesal.


"Kamu kenapa, sih?"


"Nggak napa-napa."


Kala bangkit. Lalu, dia tersedu-sedu dibalik bantal. Menyalahkan perasaannya sendiri. Memarahi keinginannya.


"Nggak ada gunanya juga Pak Abi ngerti perasaanku. Justru itu akan membuatku malu," batinnya.


Hidungnya mulai terasa penuh dengan ingus.


Di luar kamar, Vey pun bingung mencari solusi. Dia tahu betul Kala tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Memang ada benarnya kalau dengan berterus terang soal perasaannya, itu tak akan mengubah keputusan. Juga tak akan mengubah keputusan Abimana yang sudah berencana menikah dengan orang lain, pikirnya.

__ADS_1


Vey bangkit. Mengetuk pintu. "La, jangan lupa minum obat. Langsung istirahat. Sementara nggak usah banyak mikir, ya. Kamu masih pemulihan."


Kala mendiamkannya. Dia sibuk meredam emosi dan perasaannya. Tangis yang tak berhenti-henti membuatnya merindukan pelukan ibu.


"Ma, kalau Mama masih hidup, apa Mama justru akan sangat senang, Ma?"


"Tentu Mama senang, Sayang. Kamu pasti bisa." Ibu menciptakan senyum untuk dirinya. Menyempatkan untuk membelai dan memberikan satu kecupan.


Begitu Kala memperhatikan jam dinding, dia sadar bahwa dirinya hanya bermimpi. Semalaman air matanya tak berhenti mengalir. Kini kelopak matanya terlihat sangat sipit. Kantung matanya menghitam. Bibirnya turun. Bening bola matanya menjadi sangat keruh. Untung saja dia tidak perlu pergi ke sekolah.


Selama Kala sakit, Vey yang setiap hari memasak. Dia tidak memintanya karena Vey yang menawarkan diri. Semenjak dia tahu kenyataan itu, dia menjadi malas berbincang-bincang. Apalagi, ketika Vey berusaha membujuknya seperti semalam. Dada itu menguap. Ada perih yang tidak terlihat lukanya. Meski Vey ialah kakaknya sendiri, saat ini dia belum bisa menahan perasaan kecewa.


Begitu keluar kamar, Kala melihat Vey sudah mempersiapkan semuanya sementara hari masih sangat pagi. Dia termenung di bingkai saat tubuhnya masih terlihat separuh.


"Kamu emang rajin. Pemberani. Cerdas. Cantik, Onni. Kuakui tanpa usahamu merintis ini semua, kita mungkin akan kekurangan. Jika dilihat dari kemampuan, sebetulnya kamulah yang lebih mampu. Tapi, nyatanya enggak."


Kala mengakui itu.


"Apa yang njenengan lihat dari aku, Gus? Aku masih terlalu kecil dan belum mengerti apa-apa soal pernikahan. Apalagi mendampingi pria dewasa dan berpengalaman seperti njenengan," batinnya kemudian.


Kala segera memalingkan mukanya ketika Vey mendadak menoleh padanya.


"Udah aku siapkan air hangat. Mandi nggak?"


"Nanti aja," jawab Kala sembari berlalu duduk di ranjang lagi.


"Kalau aku nanti nggak sempet nyapu, nggak usah disapu. Nanti aku berangkat lebih awal, La."


Kala tak menjawab.


Vey menghela napas. "Apa salahku?"


Kala menatap paper bag kemarin yang belum sempat dia buka--di meja kamarnya. Dia mengambilnya--apa?



Kala menghela napas.


Belum Kala beranjak. Handphone-nya bergetar. Pesan dari Syarif.


"Sudah bangun belum?"


"Tumben?" batinnya.


^^^"Udah barusan. Tumben, Rip?"^^^


"Aku pengen ngomong sesuatu, La."


Syarif menelepon.


πŸ“ž"Kamu beneran nggak marah, kan, Rip? Kenapa kamu nggak pernah nyamperin Mela sama Ruma?"


πŸ“ž"Aku lagi di Jogja, La."


πŸ“ž"Kapan berangkat?" Suaranya mendesis tinggi.


πŸ“ž"Tadi malam. Ngapain?"


πŸ“ž"Dolan. Nitip sesuatu nggak?"


πŸ“ž"Ehmm...apa, ya?"

__ADS_1


πŸ“ž"Terserah."


πŸ“ž"Terserah kamu aja, Rip. Manut."


πŸ“ž"Kamu emang manutan, La. Dari dulu kamu mesti mau aku paksa jadi seksi humas, bendahara, walau elu aslinya bete."


Entah kenapa Kala merasakan sesuatu yang berbeda. Nada itu kedengaran sedang tidak baik-baik saja.


πŸ“ž"Rip...mmm...kamu baik?"


πŸ“ž"Iyalah. I'm oke." Nadanya berubah seketika.


Kala bernapas lega.


πŸ“ž"Nanti pas aku di Malioboro, aku beliin kamu sesuatu."


πŸ“ž"Yang spesial pokoknya."


πŸ“ž"Siap."


πŸ“ž"Ruma sama Mela kamu beliin juga, kan?"


πŸ“ž"Yaelah mereka, mah, udah nitip duluan."


Kala tertawa ringan.


πŸ“ž"Jadi, mereka udah tahu. Kok tumben mereka gak ngomong. Curang lo."


πŸ“ž"Barangnya langsung aku kirim dari sini, ya."


πŸ“ž"Kenapa? Nunggu kamu pulang aja kali."


πŸ“ž"Biar kamu bisa cepet makai, La."


πŸ“ž"Emang apaan, sih?"


πŸ“ž"Nggak tahu." Syarif terhabak.


πŸ“ž"Gitu suruh makai."


πŸ“ž"La, elu sehat terus. Kalau perlu elu belajar beladiri biar bisa jaga diri."


Meski Syarif mengatakan baik-baik saja, hati Kala tak bisa menipu. Suasananya berubah sendu.


πŸ“ž"Kamu juga, Rip." Kala merendahkan suaranya.


Sambungan terputus.


"Syarif kok aneh?"


_________________________________________


Selamat menunaikan ibadah puasa hari ini dan esok hari ramadhan ke-4 1443 H.


Sudahkah kamu tadarus?


Sudahkah berzikir?


Sudahkah berbuat kebaikan?


Semoga kita menjadi golongan yang beruntung karena mau menghidupkan ramadhan dengan ibadah. Makasih semuanya...πŸ˜πŸ™πŸ™πŸ₯€

__ADS_1


__ADS_2