
Jangan lupa berdoa. Bismillah. ๐ฅ๐ฅโค๏ธ
๐"Cara ngomong kamu itu sekilas kaya temennya Kala."
๐"Siapa emang?"
๐"Mela. Sekelas dengan Kala. Bar bar gitu orangnya."
๐"Aku bar bar dong." Niar tergelak. Seketika tawanya berangsur lirih seperti usai ditegur.
๐"Siapa?" Niar berbicara dengan orang di dekatnya. Beranjak untuk membuka pintu.
Vey mendengarkan percakapan lirih. Vey menebak Niar tengah berbicara dengan Abimana.
"Ngapa, Mas?"
"Kalau ketawa lirih. Ini sudah malam."
"Iya, Mas Abii yang suka ngompolan."
Niar memandang wajah datar Abimana. "Tuh, kan dikatain mukanya tetep flat gitu. Mas Abi, ayolah kita belajar ketawa. Tawamu lebih mahal dari minyak goreng tahu nggak."
"Nggak jelas," balas Abimana.
"Hisshhhhhh."
"Sini ikut aku bentar!" Abimana menarik tangan Niar.
Vey menyimak. Dia mengira Niar sengaja membawa handphone tanpa mematikan panggilan supaya dirinya bisa tetap mendengarkan.
"Ada apa, sih?"
"Kamu barusan mainin hape aku, Cil?"
"Enggak." Keluar spontan. Agak gagap setelahnya.
"Mainin nggak?" Tatapan Abimana menuduh sekaligus memastikan.
"Enggak."
"Mainin apa enggak?"
"Eng-gak. ENGGAK."
__ADS_1
"Sekarang kamu lihat garis kuning di meja ini?"
Niar menerka dan membantin, "Apa hubungannya?"
"Terus?"
"Aku meletakkan handphone-ku di atas garis. Kenapa sekarang di bawah? Tikus nggak mungkin bisa menggeser."
"Ketiup angin mungkin," ujar Niar. Konyol. Alasan itu memang tak terdengar masuk akal.
"Mainin nggak?"
Niar diam. Memainkan bola matanya.
Abimana kontan menjitak kening Niar.
"Aaauuuuu."
"LE-BAI." Dengan muka datar.
"Nggak serem. Marah kok mukanya datar. Weeeeek."
Abimana menghentikan langkah. Menoleh.
"Mau tahu aja."
"Buat apa?"
"Iseng doang, Maaaas."
Niar tertawa dalam hati. Dia berjalan cepat sambil berkata, "Tadi aku ngirim sesuatu yang lucuuuu sekali ke Mbak Nana. Dah gitu aja. Dadaaaa."
Abimana memburu Niar.
Kontan Niar berteriak. Dia menutup pintu kamarnya keras-keras.
"Hufffft."
๐"Halo, Mbak? Halo halo.."
๐"Iya." Vey tertawa kecil.
๐"Tom and Jerry pindah channel."
__ADS_1
๐ Niar menambahkan tawa. "Aku tu kadang gemes, Mbak, gimana caranya bikin Mas Abi bisa kelihatan marah banget atau bisa tersenyum tampan. Bosen aku lihat mukanya. Nggak menyenangkan. Anak-anak itu kadang memanggilnya Mr.Ice."
๐"Wkwkwkwk. Masuk juga, sih."
๐"Tapi, kalau dilihat-lihat Masmu jeli, ya. Masak sampai segitunya dia ngetes kejujuran kamu. Berarti dia tahu kalau malam ini tadi kamu mau mengerjai dia lagi."
๐"Ah, mbohlah."
Dret!
Pesan masuk. Vey tersenyum.
๐"Niar, nih Masmu nge-chat aku."
๐"Gimana gimana?"
๐"Nanti aja. Males buka. Paling ya menanyakan apa yang kamu kirim. Enaknya dibales gimana?"
๐"Terserah, Mbak. Bikin aja dia sampai marah, Mbak. Nanti aku yang nyoteng dari sini. Wkwkwkwk. Terus videonya aku kirim dari sini."
๐"Oke oke. Sudah malem banget. Kamu besok sekolah. Aku juga ngajar. Besok aku mau nyiapin beberapa file."
๐"Have a nice dream, Mbak Na. Miss you. Daaaah. Assalamualaikum?"
๐"Waalaikumsalam."
"Mr.Ice punya adik sebar-bar Niar? Aneh. Mas Abi orangnya aslinya gimana, sih? Agak misterius juga ternyata. Kata Paman saudaranya empat. Dia masih punya adik laki-laki. Kira-kira sejenis Niar apa Mas Abi...mmm?" batin Vey. Dia berusaha merebah. Membiarkan pesan Abimana. Sengaja hanya membacanya tanpa berniat membalas.
Hanya merebah. Nyatanya, Vey kembali teringat dengan momen lamaran itu. Cincin pemberian Abimana masih berada di tangannya. Malam itu, dia tak menolak karena melihat harapan besar di wajah Pak Cipto. Cincin itu terus disodorkan agar disimpan. Paman Gani pun sama, sungkan jika menolak terus terang. Cincin itu sekarang ada di laci. Belum pernah dibuka lagi sejak malam itu. Dia mengambilnya.
***
Malam berganti siang. Begitu sebaliknya. Fase kehidupan akan seterusnya berjalan sama. Vey nyaris melupakan Kafil. Juga melupakan urusan cincin yang hingga kini masih tertangguh di tangannya. Bukan karena dia bermaksud membiarkan Abimana terus berharap kepadanya. Lebih karena Abimana pun semakin menjauh darinya. Yang kata Niar, Abimana sendiri sibuk membesarkan LBB-nya. Mereka berdua sama-sama lupa soal lamaran malam itu.
Dua bulan yang lalu sampai di pertengahan bulan Maret tahun 2023 ini, Vey mulai sibuk dengan pekerjaan barunya. Sejak kesepakatan dengan Kala pagi itu, kini usahanya semakin maju. Ada lima orang yang bersedia menjadi partner kerja Vey selanjutnya. Pemesanan lettering, buket, hampers seserahan dan mahar, lukisan, sketsa, souvenir, dan dekorasi flowers papers. Belum sebentar lagi, di bulan ramadan, dia akan menjual jajan-jajan lebaran, cookies, dan sebagainya. Rumah yang bisanya hanya gaduh oleh dua orang, kini menjadi lebih ramai. Dan, semenjak Vey mendapatkan partner baru, dirinya memberikan kebebasan pada Kala untuk membantunya jika perlu saja. Dia tahu sebentar lagi Kala harus ujian tasmi' 30 juz yang akan dilakukan ketika safari ramadan bulan depan.
Kala digadang-gadang akan menjadi satu di antara sepuluh hafizah terbaik se-jurusan unggulan agama. Selain juga dikarenakan dalam kurun tiga tahun belakangan dia kerap mewakili lomba tahfiz untuk mewakili sekolah. Dia mendapatkan dukungan penuh, baik dari keluarga--Vey terutamanya--dan Bu Maria. Serta Gus Omar yang setiap dua minggu sekali menanyakan peningkatan hafalannya pada Bu Maria tanpa sepengetahuan dirinya. Jadi, selama ini dia benar-benar mendapatkan perhatian khusus hingga mampu sampai di titik ini.
Meski pernikahan sudah semakin dekat--rencananya akan digelar di akhir bulan Syawal sebelum wisuda kelas XII--Kala tak berhubungan intensif dengan Gus Omar. Tetap saja renggang seperti dulu. Seringnya hanya lewat perantara Paman Gani atau santri kepercayaan beliau. Yang pada intinya dia diminta untuk serius mendalami Alquran. Agar jika di pesantren dia ingin membuka peluang bisnis bersama para santri, dia tetap mampu memegang keduanya. Dari pesan itu, entah rencana apa yang sudah disusunkan Gus Omar untuknya. Termasuk acara pernikahan yang kata Paman Gani akan ditanggung oleh pihak ndalem.
Kala tak mendapatkan kesempatan untuk mengenal Gus Omar, selain hanya dari apa yang pernah disampaikan Nurmaya. Bahkan, sampai saat ini pun dia masih meyakini akan menikah dengan orang asing. Yang figurnya hanya sering dia dengarkan dari kata orang. Dan, sejak dia ke pesantren untuk memberikan hadiah kepada Nurmaya, dia belum ke sana lagi.
Kini yang tertinggal hanyalah pasrah. Tak ada perasaan lagi untuk Abimana. Kala menjalankan apa yang semestinya. Mempersiapkan mental dan ekspektasi yang tidak terlalu tinggi. Atau sebaliknya, bahwa dengan tinggal di pesantren kemudian hari tidak akan membuatnya merasa tertekan dan jauh dari keluarga. Selain itu, dia pun lebih sering mengunjungi makam mamah dan papahnya. Bahkan, setiap seminggu sekali di Jumat sore untuk menabur bunga dan mengirimkan doa-doa. Dan jika nanti dia sudah mengkhatamkan Alquran, dia berencana akan datang ke makam untuk mengaji di sana hingga tuntas 30 juz bil-gaib.
__ADS_1