
"Apa aku ke sana tanya sama tetangganya lagi aja, ya?" Namun, untuk pergi ke rumah Kafil saja membutuhkan waktu banyak, sedangkan dia harus mengerjakan pesanannya.
"Sabar, Vey. Be strong. Nggak ada yang bisa membuat perempuan kuat kecuali dirinya sendiri yang berusaha untuk bangkit." Vey mengatakan itu untuk membujuk dirinya yang ingin terus marah dan menaruh curiga. Dia ingin membuang itu semua supaya dirinya bisa berpikir jernih.
"Kapan enaknya aku ke sana?" Vey menatap langit-langit.
Lantas ada yang kemudian berbisik. Mengatakannya sesuatu. Entah itu pikiran buruk atau bisikan lubuk hatinya. Bahwa sekali pun nantinya Vey akan kehilangan Kafil, dia tidak akan sakit seperti kesakitannya saat dulu dia kehilangan kedua orang tuanya. Meski enam tahun perjalanan telah menumbuhkan ikatan kuat dan cinta dalam hatinya, suatu saat ikatan itu akan luruh karena alasan.
Dia terpekur sejenak. Antara yakin dan tidak. Akalnya pun menyangkal bahwa tidak mudah bagi seseorang melupakan cinta dan perasaannya pada lelaki yang telah membersamainya enam tahun. Ada yang berbisik lagi mengatakan dia tidak perlu khawatir karena sakit yang sesungguhnya telah dia lalui, yaitu sakit karena kehilangan orang tua. Dia telah melampaui ujian besar dalam hidup. Bisikan itu terus diulang-ulang. Dan, tiba-tiba dia mendapatkan kekuatan untuk menghadapi seandainya Kafil memang akan benar-benar pergi dan tidak menjadi jodohnya.
Dia pun keluar kamar. Mendapati Kala sendirian mengerjakan pesanan seserahan.
"Nggak makan kamu?"
"Tadi aku sudah bilang aku baru ke warung Pak Abi. Tadi Pak Abi nanyain Onni ke mana." Kala berkata tanpa menatap. Nadanya cuek.
"Terus?" Vey menanggapi. Berusaha duduk.
"Ya aku bilang aku dari sekolahan langsung ke sana. Kan aku, Mela, Ruma, sama Syarif juga masih seragaman. Cuma kita ke sana emang naik mobilnya Syarif." Di akhir kalimatlah Kala baru menatap Vey.
"Sudah baikan belom?"
Vey terdiam sebelum menjawab. "Sudah." Walaupun sebetulnya juga belum sepenuhnya.
"Aku mau cerita soal Pak Abi, Onni. Tadi aku lihat piala Pak Abi kok banyak banget. Kayaknya ada lima puluh. Entah itu piala siapa saja. Pak Abi itu ternyata jago jujitsu, hafiz juga, cerdas cermat Quran, baca kitab kuning." Kala berbunga-bunga menceritakan itu.
"Tumben mujinya nggak biasa?" Vey berusaha menebak dengan pertanyaan.
"Hehe." Dia segera menunduk mencari perhatian lain.
"Syarif biasanya beliin apa aja ke kamu?"
Bibir Kala seketika mengerucut. "Ishhhh. Kok jadi ke Syarif?"
"Tinggal dijawab aja, kan?"
"Biasanya beliin aku pentol, pecel, kadang jajan. Aku nggak pernah minta, tapi dianya aja yang sering ngasih biar kelihatan baik gitu paling."
"Husstttt. Kalau memang dia aslinya baik gimana?"
"Ya alhamdulillah."
"Jadi, nggak masalah dong?" Vey sedikit tersenyum.
Kala menelisik air muka Vey yang janggal.
__ADS_1
"Nggak masalah gimana ini maksudnya?"
"Nggak paham ya udah. La, aku izin keluar bentar ya nanti abis magrib. Gapapa, kan, kamu di rumah sendirian? Aku usahain cepet pulang."
Kala ingin menahan dengan mengingatkan banyaknya pesanan. Tapi setelah memperhatikan lamat-lamat ekspresi Vey, dia mengerti. Ada sesuatu yang harus Vey selesaikan segera. Lagipula, Vey pasti juga sudah mempertimbangkan.
"He.em gapapa. Kak, aku mau ngomong."
"Ngomong aja."
"Gimana kalau Mela sama Ruma main ke sini?"
"Ngapain izin?"
"Dia bilang mau bantuin kita."
"Boleh main, tapi nggak usah bantuin kita, La. Kita bisa sendiri. Nanti kalau kita minta bantuan orang dekat, biasanya mereka nggak mau kalau dikasih upah. Kita yang nggak enak jadinya."
"Tapi, mereka menawarkan diri lo."
"Ya sekali pun gitu. Sudah. Kita bisa ngerjain sendiri. Ini juga tinggal berapa pesanannya. Kecuali kalau kita udah bener-bener nggak bisa, baru kita rekrut orang."
"Oo..oke." Kala mengalah. Sebetulnya dia juga sudah tahu kalau ujung-ujungnya Vey akan menolak.
Tabuh azan magrib mulai terdengar dari arah barat. Vey berjingkat, sedangkan Kala masih berusaha menyelesaikan sedikit lagi--membentuk mukena menjadi bunga.
Kala tak menjawab karena fokus.
Vey ke kamar mandi. Menoleh sebentar. "Kita belum makan lagi. Beli atau masak, La?"
"Aku sebetulnya nggak laper banget. Makan mie instan aja, Onni. Nanti kalau Onni udah mau pulang, chat aku, aku bikinin mienya."
"Ok."
Sebelum berangkat, Vey ke rumah Paman Gani untuk mengatakan kesiapannya bertemu dengan Gus Omar. Dia akan mencoba. Dengan jawaban antusias, Paman Gani pun mengatakan akan segera memberitahu Gus Omar.
Tiba di rumah Kafil. Rumahnya benar-benar sepi sekali. Entah sampai kapan rumah sebesar itu akan ditinggalkan. Kalau pun pada akhirnya rumah itu akan dijual, uangnya pasti banyak sekali. Beberapa detik dia mematung di depan pagar, menelaah suasana sekitar. Sembari berpikir kepada siapa dia akan bertanya. Beberapa tetangga Kafil membuka pintu rumah. Dia akhirnya mencoba bertamu ke tetangga paling dekat.
Usai salam, dia diperkenankan masuk. Ibu yang terlihat sudah cocok dipanggil nenek itu menanyakan apa maksud kedatangannya. Mula-mula bertanya siapakah dirinya.
"Saya Vey, Tante. Teman Kafil kuliah dulu. Beberapa waktu yang lalu, sekitar tiga minggu yang lalu saya ke sini nengok rumah dia. Tapi, tetap tutup. Ke mana, ya, Te?"
"Panggil saja aku Ummu."
"Oh, nggeh, Ummu."
__ADS_1
"Ini hanya setahu Ummu, selebihnya bisa kamu klarifikasi sendiri, ya. Berhubung keluarga mereka juga selalu sibuk dan kurang sosialisasi dengan tetangga. Sebetulnya mereka orang baik, tapi ya kekurangannya di situ. Jadi, untuk masalah info Ummu hanya bisa memberitahu kalau tidak sa-lah...Ibunya Kafil pernah mendadak sakit. Rawat inap di rumah sakit umum sini sampai beberapa hari begitu lo."
Deg.
"Innalillahi. Sakit apa, Ummu?"
"Jantung sepertinya. Ummu juga kurang tahu. Dengar-dengar begitu."
"Kapan Ummu?"
"Ketika kamu ke sini, itu pas di rumah sakit. Ya insyaallah begitu. Sampai sekarang Ummu tidak tahu."
"Kenapa Ummu tidak menjenguk, ya?" batinnya.
"Ummu tidak bisa menjenguk karena kesehatan Ummu sendiri kurang begitu baik. Coba kamu jenguk ke rumah sakit umum."
"Mereka sekarang di Malaysia, Ummu."
"Dirujuk ke sana?"
"Kok jauh sekali? Kenapa tidak di Malang atau di Surabaya saja?"
"Kurang tahu, Ummu."
"Semoga saja tidak terjadi apa-apa. Atau, mungkin sakitnya sudah terlalu parah. Ya Allah, jangan sampai begitu."
"Ya Allaaaah, Kaf," batin Vey merana.
"Atau, karena supaya lebih dekat dengan keluarga Mamanya Kafil, Ummu?"
"Itu juga mungkin. Tapi, rumah Kafil akan dijual juga."
"Dijual?" Kali ini Vey benar-benar terkejut. Jantungnya melompat entah ke mana.
"Kafil hanya punya rumah ini di Jawa. Apartemen juga nggak," batinnya.
"Seminggu yang lalu, rumah ini didatangi oleh pemilik barunya. Mereka melihat-lihat kondisi rumahnya."
"Perantaranya siapa, Ummu? Maksud saya kok bisa bawa kuncinya sedangkan mereka semua di Malaysia?"
"Orang kantor. Ummu sempat dengar pria yang datang waktu itu diutus Kafil sendiri."
"Apaa?"
"Kenapa sampai dijual? Butuh uang banyakkah?" batinnya. Dia tak tenang.
__ADS_1
Makasih, Temen-temen udah baca. Makasih komentar semuanya...Sehat selalu, yaaaa....❤️❤️❤️😀😀