Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 50 "Bertukar Air Mata"


__ADS_3

Jangan lupa bismillah..🤗


Vey terduduk dalam keadaan basah kuyup. Awalnya dia berniat akan tetap di kantor Akbar jika Akbar tetap tidak mau jujur padanya. Namun setelah dia mengetahui kebenarannya bahwa Kafil pun seorang pengguna narkoba, hatinya luluh lantah. Keping demi keping mungkin telah jatuh di jalan dan sebagiannya terjatuh ke dalam kubangan air hujan. Dia tak peduli meski tubuhnya harus menggigil. Dia hanya ingin sendiri.


Hujan tak kunjung mereda. Sudah satu jam lamanya. Vey lama berteduh di bawah pohon palem alun-alun. Menyaksikan langit yang masih mengabu. Beberapa orang yang lewat di depannya sembari membawa payung, menoleh dengan tatapan setengah mencibir atau menasihati. Lantas tiba-tiba dia melihat seseorang dari kejauhan. Yang perlahan mendekat dan memberinya payung berwarna hijau. Dia terpana beberapa detik sampai dirinya menyadari bahwa itu hanya lamunan belaka.


"Mas Abi?" Menggumam tiba-tiba.


"Kala menyukai Mas Abi dan dia akan menikah dengan orang lain." Vey segera mengingat itu.


Vey bertanya kenapa dirinya melamunkan tiba-tiba wajah Abimana. Saat hatinya dirundung pilu dan penuh kesakitan. Dan, saat yang sama wajah Kafil menindih lamunan itu. Teringatlah kembali momen saat dirinya berkemah di bukit cinta.


"Andai aku tahu semua kejadiannya akan berakhir seperti ini, aku lebih memilih untuk tidak pernah mengenalmu, Kaf. Berat semua kenanganku bersamamu. Pelan menindih pikiranku sehingga hadirmu semakin berat untuk kulupakan. Bagaimana caranya aku bisa menghapus namamu?" Vey mendongak. Membiarkan wajahnya terguyur hujan yang merintik lebih deras. Namun, dia tak berpindah posisi.


Jam demi jam berlalu. Sampai hujan pun reda, dia tetap berada di tempat yang sama.


"Mbak, Mbak, sudah mau magrib mendingan ke masjid saja." Pelan kata seorang perempuan yang menggendong anak gadisnya yang masih balita.


Vey yang tak sengaja tertidur pun gelagapan. Dia menoleh ke sekeliling dan mendapati suasana alun-alun sudah semakin sepi. Dia pun mengangguk ketika perempuan itu kembali menawarkannya agar bersama-sama ke masjid.


"Lagi uzur, Mbak."


"Ya sudah aku duluan, Mbak."


Vey mengangguk lagi. Lantas kembali mendongak. Tak ada mega. Langit hanya sedikit semburat warna ungu, tepat di atas kubah masjid agung.


Vey mendapati Kala terduduk di teras rumah begitu dia sampai di halaman.


"Onni, ke mana aja? Aku telponin nggak jawab. Baru dari mana hmm?" Nada Kala yang meringik hampir menangis membuat Vey begitu haru.


Keduanya saling meneteskan air mata. Lalu, berpelukan. Vey terjatuh lebih dulu. Lemas. Kala yang tak kuat menopang pun ikut terjatuh. Mereka tergugu bersama. Suasana rumah dan hati yang sedang tidak baik membuat keduanya mudah cepat berurai air mata.


"Baru dari mana? Kenapa basah kuyup gini?" Kala memegang pipi Vey. Memperhatikan kedua mata itu. Sayu dan tak bisa membelalak sempurna.


"Onni jangan gini dooong." Suara Kala kembali bergetar melihat Vey yang lemas. Dia mulai ketakutan. Gupuh. Meski dia menggoyang-goyangkan badan Vey, Vey tidak merespons.


"Onniii?"


Kala berusaha membawa Vey ke sofa. Susah payah meski dengan setengah menyeret. Dia bingung kenapa Vey pulang dalam keadaan parau.

__ADS_1


"Aku gapapa, La." Begitu ucapnya. Dia berusaha duduk.


"Jangan dulu." Kala justru harus mengalah karena Vey menangkis tangannya.


"Aku nggak apa-apa, La." Dia menegaskan.


Kala pun terdiam. Menaruh kedua tangannya di paha. Lantas berdiri mengikuti langkah Vey yang akan ke kamar.


"Onni?"


"Udah, La." Vey membentak. Lalu, menutup pintu kamar keras-keras.


Kala pun akhirnya memilih mojok di ruang lukisan Vey. Sembari memeluk Alquran, dia melamun. Tak sadar dia tersenyum. Memutar ingatan semasa kecilnya dulu ketika dirinya sering menemani ibu di dapur atau mengaji bersama. Di saat yang bersamaan itu juga dia kembali menangis. Air matanya berjatuhan ke Alquran.


Dia menangis sesenggukan seraya mencoba murajaah seperempat ketiga juz sepuluh. Saat dia melafalkan ayat 40, dia mengulang-ulang hingga belasan kali kalimat la tahzan innallaha maana. Pun hingga suaranya hanya terdengar desisan saja. Di ayat selanjutnya, suaranya semakin terpatah-patah. Tak bisa melanjutkan. Dan, tak sengaja dia pun ketiduran dengan posisi bersila. Memangku Alquran.


Vey membuka selambu, memperhatikan Kala. Dia kembali ke kamar untuk mengambilkan selimut. Lantas membiarkan Kala tetap di ruang lukis.


Sudah pukul sembilan. Vey lapar. Dia memasak mie instan telur, lalu memakannya sendiri di depan televisi.


Tak ada harapan lagi. Vey dan Paman Gani tak pernah menyinggung soal Kafil. Dan sekarang, Vey juga tak akan mungkin bercerita. Dia akan memendam semua kisah cintanya. Meskipun, kenangan-kenangan itu masih akan terus menjadi bayang-bayang setiap langkahnya.


"Mending aku izin." Dia berniat tak masuk sekolah. Berhubung dia juga sedang uzur dan tidak berjadwal memasak, dia melanjutkan tidur sampai setengah tujuh.


Dia terbangun saat keadaan rumah sudah bersih dan sup ceker ayam sudah tersedia di meja makan. Terdengar suara orang mandi. Dia mengira itu Kala.


"Nana?"


"Loh?"


"Kala sudah berangkat?"


"Nggak tahu. Bukannya sudah berangkat sekolah Budhe?" Vey segera melihat jam dinding. "Udah enam tiga lima berarti dia udah berangkat," katanya kemudian.


Vey buru-buru mengambil sendok. Mencicipi rasa supnya. "Sup ini Budhe yang bawain?"


"Iya." Budhe Atun duduk di depan Vey.


"Budhe tadi cuma mau ngomong kalau Pamanmu nanti siang mau membicarakan perihal Gus Omar. Tapi, Kala malah ndak ada. Wajahmu kok begitu?"

__ADS_1


"Aku izin nggak masuk, Budhe. Kemarin aku hujan-hujanan. Aku meriang."


"Owalah...untung tadi Budhe itu datang langsung ngecek kamar..eh kok kamu masih tidur. Kala nggak ada di kamarnya. Di dapur juga nggak ada apa-apa. Padahal sudah jam enam."


"Kala apa ada acara di sekolah kok dia berangkat pagi banget?" batinnya.


"Ya mungkin ada acara di sekolah kali, Budhe."


"Ya sudah nanti sampaikan, ya. Pulang sekolah ndak usah dolan."


"Budhe aku mau ngomong."


"Gimana?"


"Apa kalau Gus Omar ingin segera dilaksanakan pernikahan, Paman dan Budhe setuju?"


"Kalaupun iya, secepat-cepatnya ya nunggu Kala lulus to, Na."


"Kata temenku, Gus Omar ingin menuruti permintaan Abahnya. Kiai sakit, Budhe. Paman pasti belum tahu."


"Ya nanti kamu bicarakan dengan Pamanmu kalau Kala sudah pulang."


Pesan yang Vey kirimkan ke Kala belum juga dibalas. Dari pagi sampai zuhur pun masih centang satu. Dia mulai bertanya-tanya.


"Tumben banget?"


Vey akhirnya menitipkan salam kepada Mela dan Ruma. Centang dua. Pesannya tidak kunjung terbalas. Ditelepon tidak diangkat. Pesan pun dikirimkan pada Syarif.


📞"Rif, Kala ke mana, ya? Ada acara OSIS apa gimana kok tadi dia berangkat lagi banget."


📞"Kita, kan, OSIM sudah re, Kak. Kurang tahu. Aku juga nggak masuk. Meriang aku. Aku tanyain ke Mela sama Ruma coba."


📞"Nggak dibalas."


📞"Aku tanyain ke yang lain."


📞"Aku tunggu, Rif."


📞"Oke."

__ADS_1


__ADS_2