Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 66 "Basith"


__ADS_3

Jangan lupa berdoa. Bismillah..❤️


Wahai hati?


Apa kau baik-baik saja?


Pulanglah sekarang!


Gubuk untukmu singgah, sudah bukan lagi menjadi tempat yang nyaman.


Wahai hati?


Jangan pergi ke laut!


Jika kau memaksa menyelam ke dasarnya, hanya akan ada namanya kau akan tercedera.


Cinta tak berhasil sampai pada yang terkasih baginya. Walau, pada hakikatnya cinta itu telah lama bertaburan di rumah kesepuhan abah kiai. Ketika cinta telah bertasbih, maka terkirimlah surat itu. Pada teman lama yang beberapa waktu lalu berikrar menjadi seorang sahabat. Sahabat tak merebut yang terkasih baginya. Hati yang besar dan lapang membuka sebenar-benar cinta dalam hatinya hingga sahabat pun terkagum-kagum.


Sore ini...


Nurmaya harus keluar dari kelas mengaji kitab 'arudl yang diajarkan oleh Gus Asri. Setengah jam sebelum disudahi, dia izin keluar terlebih dahulu. Dengan alasan ada utusan dari ndalem kesepuhan. Tadi, santri yang duduk paling belakang memberitahunya kalau Gus Omar memintanya ke ndalem sebentar saja. Entah ada perlu apa, dia tidak tahu.

__ADS_1


Kini, hati itu selalu mendadak pilu bila bertemu. Ada keinginan yang tiba-tiba menyeruak, akan tetapi harus ditandaskan pada saat itu juga. Sosok yang begitu dekat di pelupuk, terlihat lebih jauh daripada ribuan kilo jarak antara matahari dan bumi. Sudah tak akan mungkin lagi ada angan-angan untuk memiliki. Kandas.


Kaki itu melangkah pelan. Nurmaya sejenak diam, memandang sepasang sandal yang dia tahu persis siapa pemiliknya. Seperti biasanya, dia membalikkan posisi sandal itu. Tak sadar, dia pun menghela napas.


"Nduk?"


Makin hari, panggilan itu makin terdengar wajar di telinganya. Setengah memaklumi bahwa dirinya memang layak menyandangnya. Sekalipun dia pernah bermimpi menikah dengan Gus Omar, hanya saja dia tak sekali pun memikirkan panggilan manis apa yang akan Gus Omar berikan. Selalu terngiang satu panggilan itu sejak awal. Mungkin karena perawakannya yang cenderung mungil dan pendek, pikirnya.


"Nggeh?"


"Santri kok pada repot. Aku minta tulung kamu, ya. Celana dan baju batikku yang di kamar, kamu ambil. Setrika!" Gus Omar terlihat mondar-mondir setelah itu. Langkahnya menuju ruang perpustakaan ndalem.


Nurmaya tahu di mana baju itu tergantung. Ada cantolan di balik pintu. Dia mengambilnya tanpa mengedarkan pandangan ke mana-mana. Lantas dia membawa baju dan celana itu ke tempat setrika, di meja dekat dapur.


Sejenak Nurmaya melupakan apa yang dirinya rasakan. Hingga baju dan celana itu kembali ke tempat semula dalam keadaan rapi dan wangi aroma yang disuka Gus Omar. Lantas, dia berhenti di depan pintu. Mengamati Gus Omar yang kali ini membaca buku tanpa ditemani santri. Lekas terbayang dirinya tengah duduk di bawah Gus Omar, menjadi tempat untuk menampung semua cerita. Sudah barang tentu dia akan penuh dengan ilmu.


Ah...


Dia pun akhirnya memastikan kalau sayur untuk makan malam abah sepuh masih ada. Jikapun habis, dia akan langsung memasak lagi. Berhubung masih ada, lalu dia mengepel kering dapur yang lantainya agak berminyak. Juga memeriksa pakaian kotor abah sepuh yang ada di kamar. Syukurlah abah sepuh tak merasa terganggu saat dirinya masuk dengan salam lirih. Lanjut mencucinya. Mumpung hanya ada selembar kain sarung dan dua baju. Itu semua tentang pengabdian dan cinta. Dia akan melakukannya dengan sukarela.


Alhamdulillah...

__ADS_1


Dia merasa hatinya kembali lapang. Namun, rindu yang lain datang mendesak. Sudah lama dia tak bertemu bapak dan mamak. Ketimbang santri lainnya, dia hampir tak pernah disambang orang tua. Orang tua sibuk mencari nafkah. Bapak ke laut hingga kadang tak pulang dan mamak berdagang sapu lidi dan sepet di pasar. Uang saku yang dia peroleh pun jelas tak banyak. Seringnya hanya dititipkan kepada salah seorang tetangga di rumah yang anaknya juga mondok dan sudah menjadi senior di Mahbubah.


Jika dia mendapatkan kabar bapak dan mamak sehat, dirinya akan sangat senang. Sayangnya, sudah tiga minggu dia tidak mendapat kabar lagi. Sebetulnya mudah sekali jika dia ingin bertanya kabar. Tapi, bapak dan mamak di rumah tak punya alat komunikasi, selain juga karena jaringan di daerahnya sering tidak mendukung.


Dalam hati kecil Nurmaya, dia sangat bersyukur bisa hidup di tengah kehidupan pesantren yang damai dan menentramkan ini. Dia tak perlu memikirkan sibuknya mencari nafkah di rumah bersama bapak dan mamak. Tak perlu gundah jika mendengar keluh kesah mereka yang belum bisa membayar hutang. Melalui kebaikan Gus Omar, dirinya sudah seperti mondok gratis. Andaikata dulu dia pun bersedia sekolah formal, maka saat ini dia akan segera lulus seperti Kala. Namun, kebaikan yang diberikan sudah dirasa cukup. Sebagai santri baru ketika itu, dia sungkan menerima banyak pertolongan. Dari semua hal yang telah Nurmaya rasakan hingga sekarang, kadangkala dirinya merasa menjadi seseorang yang sangat tidak bersyukur. Atas dasar alasan apalagi dirinya boleh meminta lebih? Termasuk menjadi istri seseorang yang dia muliakan.


Kata basith yang tersemat di belakang namanya, bukan hanya sekadar nama atau simbolis belaka. Dimana basith ialah kata yang bermakna lapang. Diambil dari himpunan asma Tuhan. Dia tercenung. Berjalan menuju pondok putri dengan tatapan tertunduk.


"Rokku, udah bolong. Yaaaahh," batinnya.


Lantas dia terduduk di bawah pohon kelengkeng yang tertanam di halaman pondok putri. Duduk di atas batu yang permukaannya rata berbentuk bundar. Biasanya memang digunakan santri yang ingin sekadar thengak-thenguk. Dia memperhatikan rok hitamnya. Yang baru dia sadari sudah bolong cukup lebar. Alangkah malunya dia jika seandainya tadi Gus Omar mengetahui sebagian betisnya.


Bersamaan dengan turunnya semua santri, Gus Asri melangkah paling depan, lalu memanggil Nurmaya. Yang dipanggil seketika mendongak. Mengangguk.


"Jangan melas di situ," pinta Gus Asri.


Nurmaya hanya meringis.


Esok harinya, seperti biasanya dia akan melakukan kegiatan rutin di ndalem bersama mbak ndalem lainnya. Dari belakangnya, Ning Bulqis memanggil sembari menenteng beberapa baju tunik, rok, dan sarung.


"Pengen tak buang kok eman, Mbak. Dijual lagi nggak pantes. Sudah aku pakai berkali-kali, tapi masih bagus, Mbak Ya. Ini sudah ndak muat di aku. Buat kalian, ya. Terserah pilih yang mana."

__ADS_1


Nurmaya dan kawannya berebut. Momen seperti inilah yang menguntungkan dan memberkahi. Orang seperti Nurmaya malah tak akan mungkin memakai barang branded jika bukan karena memakai pakaian lungsuran Ning Bulqis. Selama di ndalem, dia juga empat kali ini memakai baju yang aslinya milik keluarga ndalem.


"Alhamdulillah. Ini sarungnya buat aku, ya. Rokku yang kemarin udah bolong." Sarung batik madura itu akhirnya menjadi milik Nurmaya. Dia tersenyum semringah karena hal sederhana. Bahkan, dia sejenak lupa kalau hatinya masih terluka.


__ADS_2