
Jangan lupa bismillah...๐ค๐ค
Sampai malam pun Kala tak memberi kabar. Vey berulang kali menghubungi melalui handphone Mela dan Ruma. Baru setelah isya, Kala mau berbicara dengannya.
๐"La, maksud kamu apa pergi nggak bilang-bilang?"
๐"Bukannya Onni yang sumpek kalau aku di rumah?"
๐"Siapa yang bilang haa?"
๐"Enggak bilang emang. Tapi kemarin malam?"
๐"Tapi, nggak gini caranya, La..."
๐"Memangnya Onni kemarin pergi juga bilang-bilang? Saat aku nyoba peduli, pas keadaan Onni kaya gitu, Onni justru nggak suka. Ya oke gapapa."
๐"La, kita itu sama-sama udah lama lo. Kenapa yang kaya gini harus diselesaikan dengan kamu malah pergi sampai malem? Ke Lamongan lagi. Padahal, kemarin aku juga sudah ngomong ke kamu...kita nantinya juga bakalan dolan. Dan, kamu nggak sekolah hari ini?"
๐"Enggak. Aku bolos."
Vey bercedek. ๐"Ya Allah, La, La. Kok bisa kamu bolos..." Dia kecewa atas tindakan Kala yang tidak seperti biasanya.
๐"Aku mungkin sampai rumah besok pagi. Aku mau bolos lagi."
๐"Kala?" Vey sedikit membentak.
๐"Kalau keadaan Onni belum sepenuhnya baik, mendingan kita nggak ngobrol dulu, deh. Aku nggak mau denger suasana yang kaya begini."
๐"Sekarang kamu di mana?" Vey memelankan suara.
๐"Masih di lokasi. Di warung."
๐"Jangan bolos. Oke aku akan bilang ke guru kalau kamu sakit."
๐"Nggak usah."
๐"Kala dibilangin jangan bandel, La."
๐"Aku nggak bandel. Onni aja yang keadaanya nggak lagi baik. Gampang naik pitam."
Di percakapan malam ini, Vey merasa Kala terdengar lebih berani. Dia bingung--kenapa? Apa ada alasan lain?
๐"Harusnya kamu ke pondok malam ini. Kamu pergi karena ingin menghindari itu?"
๐"Enggak kok."
๐"Lalu?"
๐"Ya nggak papa."
๐"Paman minta kamu cepet pulang. Kalau Gus Omar menjadwalkan ketemu lagi, nggak usah pergi, La. Lebih baik dibicarakan baik-baik kalau emang belum siap ketemu."
๐"Aku siap kok ketemu. Sudah kubilang aku pergi bukan karena itu."
๐"Beneran?"
๐"Iya."
๐"Pikirkan baik-baik, La!"
๐"Ya udah aku mau makan dulu."
๐"Kamu yang hati-hati. Cepet pulang!"
๐"Hmm...."
๐"***..." Terpotong.
๐"Selamat, Onni."
๐"Maksudnya?" Vey mengernyit.
Sambungan langsung diputus tanpa salam.
__ADS_1
"Apa maksudnya Kala?" batinnya.
Beberapa pesanan masuk. Dua buah lukisan sedang, tiga buket, dua lettering, dan satu sketsa. Dia mulai mengerjakannya sendirian setelah salat isya. Terjaga hingga malam benar-benar sudah larut. Tanpa sadar. Satu lettering dan satu sketsa selesai. Bahkan, dia sama sekali tidak tidak mengantuk seperti orang yang sudah meminum kopi.
Kling! Bunyi notifikasi yang sudah kesekian kalinya, tapi Vey membiarkan. Mengira kalau itu pasti notifikasi tidak penting atau pertanyaan orang di inbox atau DM. Setelah dia memeriksanya, rupanya notifikasi pesan dari Abimana terselip di antara puluhan notifikasi itu.
^^^"Belum, Mas."^^^
Langsung dibalas. "Masih mengerjakan apa?"
^^^"Baru selesai bikin lettering sama sketsa."^^^
"Langsung tidur?"
^^^"Belum ngantuk, nih. Kapan jadinya lamarannya?"^^^
"Katamu malam Jumat?"
^^^"Lha itu aku bercanda, Mas."^^^
"Serius juga nggak apa-apa."
^^^"Aku mau beres-beres bentar, lalu siap-siap tidur."^^^
***
"Iya, Na."
"Semoga memang kamu orangnya," gumam Abimana tanpa sadar.
^^^"Kalau boleh tahu kenapa belum tidur?"^^^
"Lagi mandangin foto seseorang, Na."
^^^"Calon istrinya, ya?"^^^
"Iya."
^^^"E cieeee," katanya spontan.^^^
^^^"Iya ini baru mau siap-siap."^^^
"Mau aku ceritain sesuatu?"
^^^"Katanya nyuruh aku tidur?"^^^
"Mau nggak? Anggap aja ini dongeng."
^^^"Emang apa?" Vey mencipta senyum.^^^
Sembari menunggu Abimana mengetik. Dia membereskan perkakasnya di lantai dan di meja. Ke kamar mandi sebentar untuk melaksanakan ritual sebelum tidur seperti biasanya. Begitu dia sudah mapan, chat panjang itu sudah dikirim lima menit yang lalu. Dia membacanya seraya merebah. Menarik selimut hingga ke dada.
Dia membalas pesannya.
^^^ูููููููู "ุงูุญูุจูููู" ูููู ุชูุฒูููุฏู ููุณูุงู ูุชููู^^^
^^^ููุจูุบูููุฑู ุญูุจูููู ูุงุงููููููู ุฌูู ููููุง^^^
^^^ูููููููู "ุงูุญูุจูููู" ูููู ุชูุตูููุฑู ุงูุตูุงุจูุนููู ุฐูููุจูุง^^^
^^^ูููููููู "ุงูุญูุจูููู" ูููู ููุชูู ูู ุชูุญูููููููู^^^
^^^ููุงูุตููุฑู ููู ูุญูุง ุงูููุงูุตูููุฑูููุฎูููููุง^^^
^^^ุงูุงููู ููููููููููุง ูููุงุชูุชูุฑูุฏููุฏู^^^
^^^ุจูุนูุถู ุงููููููู ูุงููููุจููู ุงูุชููุฃุฎูููููุง^^^
^^^ูููููููู "ุงูุญูุจูููู" ูููู ุชูุฒูููุฏู ููุฏูุงูุณูุชููู^^^
^^^ููุชูุตูููุฑู ุดูุนูุฑู ููู ุงููููููู ุงูููุฌูููุง^^^
^^^"Aku nggak ngerti.๐"^^^
__ADS_1
"Sengaja."
^^^"Gimana aku bisa tahu artinya?"^^^
"Nggak usah ngerti."
^^^"Katanya dongeng?"^^^
"Ya itu dongeng. Terserah kamu mengartikannya gimana."
Vey tersenyum. Merasa lucu sekaligus aneh.
^^^"Kamu aneh."^^^
"Emang gini orangnya, Na."
^^^"Ini puisi, kan?"^^^
"Iya. Puisi Nizar Qabani. Penyair arab yang juga merupakan sastrawan, kaum feminis, sekaligus kritikus. Sudah wafat lama."
Tak sadar, percakapan itu akhirnya malah berbuntut agak panjang. Vey belum kunjung mengantuk. Sebelum menyudahi percakapan, dia kembali ingat dengan siapa dirinya telah berasyik masyuk. Dia pun tak sadar bahwa dirinya mulai sedikit terkena. Dia hanya menyadari bahwa percakapannya malam ini sedikit membuatnya merasa lebih tenang. Kata-kata itu laksana penawar.
"Mungkin karena pengetahuan yang dia kasih, tidak banyak yang aku tahu. Jadi, aku antusias." Begitu cara Vey mengingatkan dirinya sendiri.
"Pantas saja Kala menyukai pria ini," tambahnya.
^^^"Sudah malam banget." Send. Ternyata sudah centang satu. Dia mengira Abimana sudah tertidur lebih dulu karena dia tidak segera membalas pesan sebelumnya.^^^
Lantas Vey menyempatkan bertanya kabar, Kala sudah sampai di mana. Dia juga mengirim pesan kepada wali kelas Kala seperti yang dia katakan pada Kala sebelumnya.
Pagi ini, Vey harus mengurus semuanya sendirian. Tidur terlalu larut dan harus bangun pagi-pagi. Padahal, kondisi tubuhnya juga belum terlalu fit. Sayur kemarin masih sisa. Jadi, dia tidak perlu memasak. Hanya perlu menanak nasi dan lauk--ada tempe dan tahu di kulkas.
Sebelum Vey berangkat ke sekolah, Syarif tiba-tiba datang. Terburu-buru menghampiri Vey yang tengah berdiri di ruang tamu.
"Ngapain, Rip?"
"Kala masuk rumah sakit."
"Maksudmu?"
"Sakit beneran?" batin Vey.
"Mela ngasih tahu. Dia suruh aku nggak bilang Kak Vey."
"Kok bisa masuk rumah sakit gimana ceritanya?" Vey menyuruh Syarif duduk terlebih dahulu.
Syarif pun duduk.
"Perjalanan pulang, mobil mogok. Ada brandalan yang mau njambret barang-barang Mela, Kala, sama Ruma. Untung barang Mela masih selamat, tapi barang-barang Ruma..Mela enggak, Kak. Mereka sempat berkelahi, tapi Kala luka...kena pisau."
"Ya Allah terus posisinya sekarang di mana?" Vey kegupuhan. Pandangannya menatap serius.
"Masih di Lamongan. Di RSUD."
"Ya Tuhan..Ini akibatnya kalau kamu nggak nurut."
"Emang siapa sebenernya yang bikin acara ke Lamongan itu?"
"Mela katanya."
"Duh..."
"Kak Vey nggak usah marahin Kala."
Vey berdecak. Air mukanya berubah kesal dan khawatir.
"Apa sekarang kita ke sana, Kak? Pakai kendaraan Papaku aja. Aku bisa nyetir jauh kok."
"Sekolah kamu?"
"Aku ngomong ke wali kelas aku mau jenguk Kala. Aman, Kak."
Begitu pula Vey. Dia izin mendadak lagi. Dengan izin yang sama seperti Syarif.
__ADS_1
Vey membonceng Syarif dengan motornya.