Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 93 "Tamu"


__ADS_3

Jangan lupa berdoa. Bismillah.🤗❤️ Selamat membaca. 🥀😊


Kini, pesantren sudah lebih megah daripada tujuh tahun yang lalu. Jumlah santrinya meningkat dari tahun ke tahun. Begitu pula kampus yang dulunya terakreditasi B, kini sudah terakreditasi A karena perkembangannya yang memang sangat pesat, terutama dalam kurun empat tahun belakangan. Kampus STAI Mahbubah sudah menampung tiga profesor dan tujuh doktor, serta dosen dengan gelar magister lainnya. Jika dilihat-lihat, kemajuan pesantren dan kampus sudah jauh berbeda dari masa ke masa, seperti contohnya saja bangunannya yang sudah tidak kalah besar dan megah dengan institut atau universitas. Dan, sejak Abah sepuh telah wafat dua tahun lalu, tepatnya ketika Gus Yusuf bertunangan dengan Ning Fysha, banyak orang yang tabarukan ke pesantren dengan menziarahi makam abah sepuh yang disandingkan di sebelah makam bu nyai.


Tiga tahun lalu, setelah lulus kuliah, Kala mendedikasikan dirinya untuk rumah tangga dan pesantren sepenuhnya. Dia fokus membimbing santri dalam bidang kewirausahaan agar nantinya para santri menjadi pribadi yang produktif dalam mengenal diri sendiri dan kemampuan mereka. Tak mudah karena realitanya dia harus lebih banyak belajar ketika menghadapi santri yang ternyata pengetahuan dan cara berpikirnya di atas keilmuan yang dia miliki. Karenanya, dia menimba ilmu pada suami tercinta setiap sore hari.


Sejauh ini, tak ada gejolak rumah tangga yang memprihatinkan. Hanya mungkin Kala harus tetap banyak menggali pengetahuan dan beradaptasi hingga dia benar-benar mumpuni menjadi seorang ning sekaligus ummi untuk para santrinya. Walaupun, sampai tujuh tahun ini belum ada seorang putra di dalam kehidupan rumah tangganya.


Tak mengapa. Gus Omar sendiri beberapa kali mengatakan pada dirinya bahwa kelonggaran yang sedang mereka nikmati adalah ruang bagi dirinya untuk belajar menjadi pengasuh yang lebih baik lagi. Siapa sangka kalau rupanya beban demi beban yang dipikulnya, kadang membuatnya begitu rindu dengan statusnya menjadi orang biasa, hanya sebagai adik seorang kakak bernama Vey. Dia merindukan masa itu. Maka tak salah memang, apabila Tuhan belum menghendaki hadirnya buah hati di tengah usaha yang sudah dirinya dan suami tercinta lakukan.


"Ning?"


"Iya? Kenapa?"


"Itu ..."


"Itu kenapa? Gus Omar nyari saya gitu, ya?"


"Tidak, Ning. Tapi ada seseorang yang mencari Ning Kala."


"Siapa?" Alis Kala menyatu.


"Tidak tahu, Ning. Laki-laki."


"Gus Omar tahu nggak? Memang nyari saya atau Gusnya?"


"Njenengan kok."


"Gitu. Mmm ... ya udah kalau begitu Mbak Yaya mendingan buatkan minuman."


"Iya ini saya mau ke dapur, Ning. Permisi."


"Iya ya."


Dengan raut wajah penasaran, Kala berjalan menuju ruang tamu utama yang sekarang sudah direnovasi menjadi luas lagi. Sembari membenahi anakan rambutnya, dia menebak sejenak laki-laki yang berdiri menghadap tembok, menatap foto keluarga pesantren yang baru setelah Gus Yusuf resmi menikah tiga bulan lalu.


Kala berdehem. Berdiri dari jarak tiga meter dari laki-laki itu, yang sejurus langsung menoleh seraya membentangkan garis bibir.


"Assalamualaikum, Bu Nyai?"


"Waalaikumussalam," jawab Kala setengah gagap. Air mukanya tidak percaya.


"Masih ingat dengan saya, Bu Nyai?" Nada bicaranya yang seperti orang menggoda.


Kala tak bisa membiarkan bibirnya tetap datar seperti semula. Dia tersenyum tanpa bisa berkata sampai lupa mempersilakan laki-laki itu agar singgah.

__ADS_1


"Syarif? Ini serius beneran kamu?" Nadanya masih saja gagap.


"Menurut panjenengan, Bu Nyai?"


"Nggak nggak. Ini kamu lagi nyamar atau apa?"


"Iya aku berpakaian begini cuma karena ingin menemui panjenengan. Saya nggak disilakan duduk?"


"Oh, sorry sorry. Iya aku sampai lupa lo. Sebentar aku panggil Mbak Yaya biar menemani kita. Maaf, ya, nggak enak kalau cuma berdua begini."


"Ya. Aku ngerti banget. Kan kamu sekarang jadi Bu Nyai."


"Alah ... apaan kamu, Rif. Bahasamu itu lo. Biasa aja kali sama teman sendiri."


"Mbak Yaya?" panggil Kala dengan nada biasa.


"Enggeh, Ning. Sebentar."


Tak lama kemudian Nurmaya menyembul dengan dua gelas di atas nampan kecil. Dia pun meletakkan dua gelas itu.


"Eh, Mbak, temenin saya. Ada teman lama aku. Gus Omar ke mana, sih, Mbak?"


"Kurang tahu, Ning. Tadi keluar begitu saja tanpa pamit."


"Dia bukannya istrinya Pak Abi?"


"Kok kamu tahu?"


"Tahulah. Apa yang nggak aku ngerti."


"Jangan-jangan selama ini kamu di Pasuruan aja terus nguntitin aku, ya?"


"Bu Nyai nggak boleh ngomong begitu?"


Kala terkekeh. Sementara, Nurmaya hanya membeku dengan ekspresinya yang merasa asing.


"Seharusnya dia kenal aku."


"Emang kenal di mana coba?"


"Bukannya kenal gitu enggak. Kan pernah ketemu di stan bazar waktu itu dan aku juga pernah ke rumahmu ngantar Pak Abi yang lagi nyari dia. Ingat nggak?"


"Iya aku inget itu. Jadi, ceritanya itu Mbak Yaya hilang ingatan. Enam tahun berlalu, tapi keadaannya belum pulih. Tapi, alhamdulillah setelah tiga tahun tinggal di sini lagi, keadaannya jauh lebih baik. Sesekali aku ngajak dia ke psikiater dan doktor spesialis."


"Terus Pak Abi gimana?"

__ADS_1


Kala berbisik lirih, "Udah cerai."


"Sejak tiga tahun lalu itu?"


"Bener. Mas yang minta agar dibawa ke sini lagi. Karena menurut Mas, kondisinya akan lebih tenang. Dan alhamdullah memang beneran lebih baik."


"Mbak Yaya sudah minum obat?"


"Sudah, Ning. Saya sudah baikan," katanya lirih dan lembut. Dia yang kini menjadi sosok yang lebih pemalu dan enggan bersosialisasi dengan banyak orang.


"Udah yang itu lupakan, Rif. Aku cuma pengen tahu. Tapi, kamu harus benar-benar jawab jujur."


"Sendiko dhawuh, Bu Nyai."


"Di mana aja kamu selama ini?"


Syarif mendahului jawabannya dengan senyuman. "Sudah kubilang aku di Jogja."


"Iya tepatnya di mana? Kamu beneran masuk STAN?"


"Nggaklah. Lulus sekolah aja enggak."


"Tapi, kan kamu pindah terus bisa lulus."


"Enggak. Aku kandaskan semua cita-citaku yang itu."


"Rif, ngomong jangan berbelit-belit dong. Yang panjang sekalian. Kamu dosa lo. Tujuh tahun bikin aku, Ruma, dan Mela penasaran kamu keadaan kamu. Kamu kaya tiba-tiba menghilang tanpa jejak."


"Kamu pernah ke Daris, kan?"


"Iya. Terus?"


"Ya a ..."


Kala memotong. "Hmmm ... iya aku inget, Rif. Bentar. Waktu itu Kiai kamu pernah ngomong ke aku kalau ada santri yang baru masuk beberapa bulan, tapi sudah ikut wisuda tahfidz. Rumahnya Pasuruan. Jangan-jangan itu kamu?"


Syarif hanya membalas senyum..


"Beneran kamu?"


Syarif membiarkan Kala menebak terus-terusan.


"Ya Allah, Rif. Luar biasa banget kamu. Aku nggak nyangka lo. Ini pasti kalau kita meet up dengan Ruma dan Mela, mereka pasti heboh. Artinya, kan, kamu selama di MAN juga hafalan?"


Syarif hanya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2