
Jangan lupa berdoa. Bismillah..π€π€
Denting jarum jam berbunyi. Acara perayaan anniversary dadakan baru selesai setelah pukul sebelas malam. Belum lagi bincang-bincang dengan tetangga dan sanak saudara yang sengaja berkumpul untuk ikut memeriahkan. Mereka bubar lima belas menit yang lalu.
Niar masih terduduk di depan televisi sembari berpura-pura asik main handphone. Padahal, dia tengah mengawasi Abimana yang terlihat sebal padanya. Dia memperhatikan Abimana yang melangkah masuk ke kamar. Malam ini, Niar berencana ingin kembali memeriksa handphone Abimana. Tak peduli dia akan dimarahi. Namun, dia harus menunggu sampai Abimana benar-benar tertidur.
Ketika dia mendengarkan Abimana bertengkar dengan Vey di telepon, Niar begitu bangga. Dia senang apabila Abimana dan Vey bertambah dekat. Sejak pernikahan kakak pertamanya, perempuan, dia cukup kesepian. Meski dekat dengan Abimana, menurutnya kurang begitu asik. Dengan sifat Abimana yang cenderung cuek dan kadang sama jailnya dengan dirinya, membuat Niar semakin bersemangat menanti pernikahan Abimana. Dialah orang pertama yang senang mendengar Abimana menyukai Vey.
"Kok belum tidur?"
"Belum, Yah. Bentar lagi."
"Ada pe-er?"
"Nggak kok, Buk. Sudah Ayah dan Ibuk tidur saja."
"Ya sudah. Pokok jangan tidur malam-malam. Ini sudah malam."
"Iya, Buk."
Niar kembali menengok jam. Lima belas menit berlalu. Mungkin Abimana sudah tertidur, pikirnya. Dia meletakkan handphone-nya, lalu bangkit menuju daun pintu kamar Abimana yang sudah tertutup rapat. Dia berharap bisa masuk tanpa harus mencari kunci serep. Dan dengan mudahnya dia bisa masuk kamar Abimana. Dia mendekat--kelihatannya sudah tidur. Dia terkikik--awas saja. Dia mengarahkan kameranya ke tempat tidur.
Cret!
Niar berhasil mengambil gambar Abimana saat tidur dalam posisi telentang, dengan hanya memakai kaus dalam dan celana training panjang, serta tangan kanan diletakkan di kepala. Dia tertawa. Berhubung belum sepenuhnya puas, dia memvideo Abimana yang tengah mendengkur pelan.
"Aku harus ngirim ke Mbak Nana. Biar mereka perang lagi." Terkikik.
Niar mengambil handphone Abimana yang diletakkan di meja, sedang di-charge. Awalnya dia khawatir setelah kejadiannya tadi Abimana akan mengunci handphone, tapi ternyata tidak.
"Mas, Mas, harusnya sih kamu kunci biar kamu nggak aku jaili lagi." Dengan santainya, dia mencari kontak Vey yang dinamai Kun Nana.
Hanya sebentar. Niar kembali meletakkan handphone Abimana seperti semula.
"Kira-kira reaksi Mbak Nana gimana, ya?" batin Niar sembari mengangsurkan langkah keluar kamar.
Sembari merebah di kasur, Niar mengirim pesan kepada Vey.
***
"Mas Abi nyebelin ternyata. Untung lo Kala nggak nikah sama dia. Kasihan Kala. Fix Kala dan Mas Abi nggak cocok. Masak aku kata dia jutek? Emang aku jutek? Kayaknya enggak. Bukannya dia yang kalau ngomong mukanya flat melulu. Aneh," batin Vey.
Bukannya langsung tertidur, Vey justru masih terngiang perkataan gadis di video itu.
"Cewek tadi siapa? Adiknya, saudara, atau siapanya? Terus yang ngirim ini siapa? Nggak bales-bales juga."
Muncul pesan beruntun. Grup sekolah, grup jual beli, dan satu pesan dari nomor tidak dikenal.
"PING."
^^^"Hmmm?"^^^
"Mbak Na?"
^^^"Ya?"^^^
"Aku, Mbak."
^^^"Aku?"^^^
"Niara Tamim."
^^^"Kek nama artis?"^^^
__ADS_1
"π€£π€£ ngakak so hard."
^^^"Siapa, sih? Nggak kenal."^^^
"Iya aku artis, Mbak.ππ Percaya, nggak? Percayalah. π"
^^^"π€π€??"^^^
"Aku Niar."
^^^"Siapa? Yang jelas. Atau, kamu customer-ku yang udah-udah?"^^^
"Adiknya Mas Abi, Mbak."
^^^"Oooh, sorry, ya. Belum kenal. Iya, Niar, ada apa? Coba ngomong dari tadi."^^^
"Wkwkwkwk. Biar panjang chat-nya."
^^^"Kok belum tidur?"^^^
"Habis acara anniv Ayah dan Ibuku."
^^^"Ou, pantes tadi Masmu bilang ada acara."^^^
"Mbak, aku boleh telepon?"
^^^"Boleh."^^^
Vey menunggu. Pesan masuk dari Niar, video dan foto.
"Lihat dulu, Mbak!"
Vey men-download-nya. Tawanya mengudara seketika.
π Sisa tawa Vey pun akhirnya terdengar sampai ke seberang telepon.
π"Hahahaha. Lucu, kan, Mbak?" Niar sama tertawanya.
π"Aku kok ilfeel."
π"Mas Abi ngeselin, Mbak Na. Tapi, sebelum jadi istrinya Mas Abi, Mbak Na harus ngerti looh. Kalau pengen tahu jeleknya Mas Abi, wis tanya aku aja beres semuanya. Aku jelaskan segamblang mungkin."
Vey tersenyum sinis. Dia akan memanfaatkan tawaran Niar.
π"Emang gimana? Yang paling jelek?"
π"Dia kalau lagi berak lama buanget. Nongkrongnya bisa dua puluh menitan."
π"Yakin?"
π"Iya. Ada lagi, Mbak. Dulu Mas Abi pas SMP di pondok, pernah dibilangin sama pengurus kalau ternyata masih ngompolan. Usia lima tahun, Mas Abi itu masih ngempeng Ibuk lo."
π"Gitu amat? Wkwkwkwkw. Tapi, gedenya bisa aneh gitu, ya?"
π"Aku juga kagak ngerti, Mbak. Mukanya itu lo bisa tahan tawa. Muka sebel sama seneng nggak ada bedanya. Bosen nggak lihatnya? Bosen banget. Makanya, aku pengen Mas Abi cepetan nikah aja. Kayaknya Mbak Na asik deh. Aku suka Mbak Na."
π"Masak?" Vey membubuhkan tawa lagi.
π"Ya aku tu cucur apa adanya, Mbak. Ya aku cuma pesen aja kalau Mbak Na suka sama Mas Abi, jangan ngarep romantisnya. Aku nggak jamin."
π"Masmu bisa bikin puisi."
π"Eh, ketahuan deh udah pernah dikirimin puisi. Ciee ciee cieee. Waduh, puisi yang gimana itu? Lihat dong! Penasaran sama romantisnya Mas Abi. Biar aku ledekin dia."
__ADS_1
π"Masalahnya aku juga nggak ngerti. Orang pakai bahasa arab."
π"Mbak, yakin itu puisi?" Nada Niar mendadak serius.
π"Ya kayaknya begitu. Aku minta menerjemahkan, tapi dia nggak mau."
π"Gimana kalau Mas Abi itu ngibulin Mbak Nana."
π"Mmm...nggak tahu. Masak iya? Kurang kerjaan banget dong? Tapi, itu puisi Nizar Qabbani kok. Bukan karangannya sendiri."
π"Halah...nggak jadi seru. Kirain puisi bikinannya sendiri. Udah kubilang dia nggak romantis, Mbak, Mbak. Mana ada cowok romantis ngatain calon istrinya jutek, judes."
π"Oh, ya nomor kamu ada dua bukan?"
π"Satu i. Satu kok. Kan, ini kali pertamanya aku chat Mbak Nana. Ini aja tadi aku masuk diem-diem ke kamar Mas Abi."
"Terus yang mengirim video yang awal tadi siapa?" batin Vey.
π"Gini lo, Niar. Masalahnya tadi sebelum isya tadi ada nomor nggak dikenal kirim video itu."
π"Itu yang mana?"
π"Kalian bertengkar? Pas kamu menjatuhkan handphone Masmu ke air."
π"Heeee? Kok bisa?"
π"Kok bisa aneh gitu?"
π"Oh, ini ulah Mas Abi sendiri paling."
π"Nggak mungkinlah, Niar."
π"Dicek melalui aplikasi bisa kayaknya."
π"Kamu bisa?"
π"Bisa. Tapi, besok aja, Mbak Na."
π"Belum ngantuk?"
π"Belum. Pertama telepon Mbak Nana seru. Nanti aja tidurnya. Katanya Mbak Nana sibukan? Aku ganggu dong?"
π"Nggak. Aku pegang hape tadi karena sudah selesai. Kalau bisa bales chat full, lama, berarti aku sudah longgar."
π"Mbak, kapan-kapan main ke rumah dong."
π"Kamu yang ke sini aja gimana? Ke sini bareng dengan Kala."
π"Loh, jadi Mbak Nana itu Mbaknya Kala?"
π"Iya. Baru ngerti?"
π"Iya. Kak Kala katingku."
π"Aku juga baru ngerti kalau kamu masih kelas sepuluh, Niar."
π"Aku tu kenal Kak Kala karena dia sering memandu mengaji pagi. Jadi, satu sekolah sudah hafal sama siapa kating yang biasanya tiap pagi memandu. Kak Kala, sih, aku hafal banget. Suaranya khas. Ngajinya juga beda. Sumpah aku baru ngerti, Mbak."
π"Ya karena kamu nggak dekat dengan Kala. Makanya, nggak kenal keluarganya siapa aja. Beda tingkatan juga."
Percakapan itu terus berlangsung panjang. Berulang kali mereka berdua terkikik. Selalu ada pertanyaan yang dilontarkan, terutamanya dari Niar.
Kala tak sengaja mendengar keasikan itu. Dia menghela napas. Berusaha mengabaikan.
__ADS_1