
Perjalanan sejauh 126 kilometer ditempuh dengan waktu dua jam. Ngebut di jalan tol.
Setiba di RSUD, Vey berjalan tergesa-gesa mendahului Syarif. Dia mencari ruangannya tanpa bertanya setelah Syarif memberitahu.
Vey pun melihat Mela ada di depan kamar menunggu dirinya dan Syarif datang. Seketika dia melemparkan tatapan tak biasa. Memarahi sekaligus bertanya.
"Di dalam?"
"Iya, Onni." Demi melihat tatapan Vey, Mela harus mempersiapkan diri jika Vey akan menyalahkannya. Selain karena dia pun sadar yang merencanakan kepergian kemarin adalah dirinya.
"Ya Allah, La." Vey tersuduk lesu. Wajah pucat pasi itu membuatnya kembali meratap masa-masa dia akan kehilangan orang tuanya. Bergetar seluruh tubuhnya.
Dia menoleh. "Bisa tinggalkan kami, Rum?"
"Oh, iya." Ruma beranjak. Menyuruh Syarif dan Mela pun keluar dari ruangan.
"La, aku punya tugas menjaga kamu. Kamu nurut dong sama aku," ujarnya pelan. Mengelus kepada Kala.
"Sudah cukup aku kehilangan Papa dan Mama. Tapi, aku nggak bisa kehilangan kamu. Sumpah aku nggak bisa." Dia menggeleng-geleng. Membiarkan bulir matanya terurai ke tangan Kala.
"Aku bilang kemarin bukan karena aku pengen kamu pergi. Aku pengen sendiri. Dan, kamu nggak perlu repot ikut campur. Kamu punya tanggungan yang lebih besar, La." Dia menyentuh perban di kepala dan di lengan Kala.
Vey beranjak. Melambai Syarif.
Syarif mendekat.
"Tolong jagain Kala bentar, Rif. Aku mau ngomong sama mereka berdua."
"Siap, Kak."
Vey melangkah pelan. Sedikit menakut-nakuti Mela dan Ruma dengan tatapan dan ekspresi wajahnya.
"Duduk kalian!" Vey sangat serius.
"Kak, aku ngaku salah beneran." Mela mengangkat tangannya.
Ruma mengangguk.
"Lagian kalian kenapa bisa sampai ada acara ke sana segala? Nggak izin aku juga."
Ruma yang menjawab, "Soal perizinan, Kala yang melarang. Kelihatannya Kala lagi..."
"Iya paham terus?"
"Nah ya itu kita akhirnya ngasih saran. Mela awalnya, Kak. Tapi, terus aku oke-oke aja. Kita kasihan, Kak, lihat Kala kaya orang depresi gitu. Akhir-akhir ini dia sering diem aja. Anak-anak di kelas pada nanya. Ya baru kemarin pas kita dolan itu dia bener-bener kelihatan seneng. Ya walaupun kita nggak ngerti juga, Kak, apa dia beneran seneng apa nggak. Aku sama Mela terus jadi lega. Kalau tahu ujungnya bakalan begini, aku sama Mela nggak berangkat. Maaf, ya, Kak??" Ruma memelaskan wajahnya. Dia memang menyesal, tapi semuanya sudah telanjur terjadi.
"Kak, kita beneran minta maaf. Wallahi kita cuma pengen Kala seneng aja. Serius." Mela menguatkan pernyataan Ruma.
Mela dan Ruma terus berkata demi meyakinkan. Tak memberikan Vey kesempatan untuk bicara terlebih dahulu.
"Kalau boleh tahu Kala ada masalah apa? Kita kemarin berusaha mau nanya, tapi ketika dapat kesempatan...apa dia semringah gitu..dia kaya menghindar. Iya, kan, Mel?"
"He.em, Kak."
Mela dan Ruma kompak menelungkupkan tangannya.
"Kala cuma habis berantem sama aku."
"Oooo." Mela mengangguk.
"Kak, tapi apa cuma karena itu?" Ruma tidak yakin.
"Ya karena apa lagi?" Vey balik bertanya.
"Kak Vey sudah tahu Kala suka sama Pak Abi?"
__ADS_1
"Sudah, Rum."
"Kalau Syarif suka sama Kala?" Mela yang ganti bertanya.
"Masih kemungkinan. Kalian ngapain jadi bahas itu. Ini soal kesalahan kalian yang belum aku maafkan."
"Kita minta maaf sekali lagi," kata Mela dan Ruma.
Vey menghela napas. "Lain kali kalau kalian ke mana-mana sama Kala harus izin aku. Sekali pun Kala nggak mau, kalian harus izin. Kalau kejadiannya sampai kaya gini repot juga, kan?"
"Iya. Ngerti, Kak." Ruma mewakili.
"Mendingan hari ini kalian balik. Biar aku sama Syarif yang di sini."
"Nggak. Kita pengen di sini juga, Kak." Ruma menggeleng.
"Nggak usah. Kalian punya orang tua. Cewek. Mereka khawatir. Udah nanti sore kalian harus pulang. Titik."
Mela dan Ruma tak bisa menolak lagi.
"Aku harus mengabari Paman," pikir Vey.
Vey menyisih sembari mengucap salam.
📞"Paman, tolong jangan kaget. Sekarang aku ada di RSUD Lamongan."
📞"Siapa yang sakit?" Suara di seberang sana sedikit meninggi.
📞"Kala."
📞"Allah muhammadar rasulullaaaah. Paman ke sana, ya, Na?"
📞"Iya, Paman. Maaf merepotkan. Nanti aku ceritakan semuanya. Paman bawa berkas untuk keperluan administrasinya. Aku lupa."
📞"Syarif. Pakai kendaraannya dia. Ada dua teman Kala yang lain juga. Paman hati-hati."
📞"Yowis yowis. Paman akan datang sama Budhe."
Dokter baru saja memantau kesehatan Kala dan perawat mengantarkan makanan baru untuk jatah sore hari.
"Semoga besok segera membaik. Kalau dalam seminggu kesehatannya terus stabil, saya akan izinkan Kala pulang."
"Terima kasih dokter."
Dokter mengangguk.
Vey, Ruma, Mela, dan Syarif serempak menoleh saat Paman Gani dan Budhe Atun tergopoh-gopoh.
"Loh kok..." Vey terbengong melihat seseorang yang melangkah di belakang Budhe Atun.
Saat Paman Gani ingin memberondong pertanyaan kepada dokter, Vey menahan dan mengatakan dirinya yang akan bercerita.
Mela, Ruma, Syarif, dan Budhe Atun dibiarkan menunggu Kala di dalam. Sedangkan, Vey, Paman Gani, dan Gus Omar duduk di depan ruangan karena ingin membicarakan banyak hal.
"Na, ini tadi Gus Omar kebetulan lagi di Lamongan."
"Aku berangkat subuh. Ada keperluan. Pamanmu ngasih tahu. Jadi, aku ke sini juga karena mumpung. Bagaimana kejadiannya?"
Vey bercerita panjang lebar. Termasuk pertengkarannya sore itu. Dia mengaku menyesal telah bersikap terlalu kasar. Dia juga menyadari kejadian ini juga disebabkan karena sikap dirinya dan Kala yang kurang bisa memahami satu sama lain.
"Mungkin ada sebab lain."
"Sepertinya begitu, Gus."
Sementara, Ruma dan Mela di dalam berbisik-bisik. Mela sesekali menoleh ke bingkai pintu, lalu mengatakan sesuatu pada Ruma, "Itu bukannya Gus Omar?"
__ADS_1
"Iya. Ngapain Gus Omar ke sini, ya?"
Mela mencebik dan menaikkan pundaknya. "Ada urusan kali. Penting."
Ruma menatap Budhe Atun. "Maaf, Dhe. Ada keperluan apa, ya, Gusnya datang ke mari?"
Mela ikut menanti jawaban. Sedangkan, Syarif menyimak di belakang posisi duduknya Mela dan Ruma.
"Gus Omar itu calon suaminya Kala?"
"Whoootttt?" Spontan kata itu terlepas tanpa kontrol sedikit pun.
Ruma memukul paha Mela.
"Kok bisa, Dhe?"
Syarif yang tadinya terlihat santri kini menyimak lebih serius. Tanpa mendekat.
"Lho kalian, kan, teman dekatnya Kala masak ndak tahu?"
Mela dan Ruma sepakat menggeleng.
"Lha tapi, kan, itu..."
Ruma tahu Mela akan menyinggung soal Abimana. Dia langsung mencubit Mela sekali.
"Begitulah kenyataannya, Dek."
"Jujur saya syok." Mela berterus terang sembari menunjukkan air mukanya yang terheran-heran. "Jadi, ini alasannya dia akhir-akhir ini banyak diem di kelas?" Dia menatap Ruma.
"Mungkin." Ruma memperlihatkan raut wajah sedihnya. Walau dia tak mengerti sesedih apa Kala saat ini, tapi dia mencoba mengerti kalau Kala tidak menceritakan itu semua karena malu.
"Dhe, kita keluar dulu sebentar."
Ruma memberi aba-aba agar Mela dan Syarif mengikutinya. Dia menarik tangan Mela. Mereka bertiga pun pergi ke kantin.
"Rif, gimana perasaan lu sekarang?" Mela yang bertanya.
"Nggak tahu." Syarif menjawab ketus.
"Syok pasti. Dan pastinya kamu galau banget, kan?" Ruma menyambung. Menerjemahkan gelagat Syarif.
"Iyalah. Aku aja syok berat. Kok bisa, ya? Gimana ceritanya? Seorang Kala yang tiba-tiba tersiar kabar sudah jadi calon istri Gus Omar? Calon menantu Kiai? Sumpah, nggak ngerti gue."
"Rif, sabar, ya. Sabar." Ruma memainkan bibirnya. Memandang belas.
"Udah jodoh kali. Mending kita balik aja gimana? Kak Vey tadi juga nyuruh kita cepetan pulang."
"Rif, Rif, jangan gitu dong mukamu. Serem." Mela membujuk. Menahan langkah Syarif.
"Kita nggak penting di sini. Sudah ada calon suaminya juga, kan?" Dia berlalu.
"Yaaah. Galau beneran dia."
"Udah, Mel. Jangan godain Syarif. Dia yang suka sama Kala jelas galaulah. Kita aja kaget, apalagi dia. Dulu kamu nanya ke Kala, 'pilih Syarif apa Pak Abi?' jawabannya udah jelas, Mel. Gus Omar. Laki-laki yang nggak kita sangka."
"Aku jadi mikir. Kok perantaranya itu justru Syarif sendiri ya. Dia, kan, yang dulu maksa Kala jadi humas? Dan, akhirnya Kala berhubungan dengan Gus Omar. Bermula dari situ kali."
"Emang kamu setuju Kala sama siapa, Mel?"
"Nggak tahulah. Kalau sama Syarif tu dia masih labil gitu kayaknya. Pinter, sih, iya. Tapi lihat caranya dia marah barusan aku kok meragukan kepantasan Kala sama diam Kalau sama Pak Abi kok...kayaknya Pak Abi nggak ada chemistry. Aku, sih, mikirnya kok Pak Abi udah punya calon malah. Terus...Gus Omar? Hmm...ini kalau aku sendiri gak suka sama Gus Omar karena aku bukan tipikal penyuka pria dewasa. Apalagi yang terlalu dewasa."
Selamat menjalankan ibadah puasa 2 ramadhan 1443 H.
Semoga amal kebaikan kita diterima dan diridhai Allah. Sehat selalu dan berkah...❤️🙏🙏
__ADS_1