Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 81 "Qabiltu"


__ADS_3

"Qabiltu nikahaha watazwijaha bi mahril madzkuri. Halan."


Kala mendengar lafal qabul itu terucap dengan lantang dan jelas. Dia mengucapkan kedua tangannya. Membarengi bait-bait doa yang tengah dilangitkan. Besar harapannya bisa menjadi pendamping terbaik. Melaksanakan pesan Nurmaya kala itu. Semoga dengan berulang kali membaca pesan itu, dia bisa menjalaninya dengan jalinan kasih yang terindah. Bukan hanya hafal, tapi berlapang hati mengabdikan diri pada keluarga baru, terkhusus pada Gus Omar.


"Kala?" Mela menjerit lirih. Merangkul cepat.


Begitu juga Ruma. "La, akhirnya ... akhirnya kamu dah jadi istri orang. Duh, nggak nyangka."


Kala mengangguk. Tersenyum semringah.


"Kamu bakalan tetep jadi bestie-ku, kan?" tanya Ruma seraya memegang pundak Kala.


"Pasti. Meskipun tempatku sudah nggak di sini lagi, kalian bisa datang kapan pun. Please, jangan anggap ini sebagai perpisahan. Aku butuh support kalian. Bagiku, perjalanan setelah ini nggak mudah, Mel, Rum. Tanggung jawabku juga semakin besar. Untuk mendampingi Gus Omar, aku membutuhkan doa-doa tulus dari kalian. Ya?" Kala memohon dengan kedua matanya.


"Pokoknya kita jadi bestie terus," ujar Ruma.


"Aku ada sesuatu."


Kala menatap ke mana langkah perginya Mela. Lalu, Mela membawa satu paper bag besar berwarna hitam elegan.


"Dari kamu?"


Mela menggeleng.


"Siapa?"


Mela menatap Ruma. Lalu, memandang Kala kembali. "Udah buka aja."


Melihat air muka itu, Kala menjadi penasaran. Dia membuka paper bag itu. Sejurus membelalak dan bergantian menatap Mela dan Ruma.


"Mukena ini dari siapa?"


"Kamu pakai, La. Yang ngasih pasti bakalan seneng," ujar Ruma.


"Heh, dari siapa? Kalau aku ditanyain Gus Omar gimana? Aku nggak mau bohong, ah."


"Bilang aja nggak tahu. Yang ngasih aku dan Ruma."


"Iya, La. Kan, itu kamu nggak bohong. Emang beneran kita yang ngasih dan kamu nggak tahu siapa pengirimnya."


"Jangan main rahasia-rahasiaan dong, Mel?" Berganti menatap Ruma. "Ruma? Kamu ngerti, kan, siapa yang ngasih?"


Ruma mengulum bibir. Menggeleng.


"Ah, masak? Nggak yakin aku."


Dan, sejurus kemudian Gus Omar menjemputnya di depan pintu.


Mereka bertiga menoleh bersamaan.


"Gih, cepet berdiri! Dijemput pangeran ganteng," bisik Ruma.


Kala segera meletakkan paper bag itu. Berdiri dengan ekspresi gupuh. Menunduk sebentar untuk memperbaiki mimik. Lalu, menatap dengan sedikit mencipta senyuman.


Budhe Atun permisi menyela jalan Gus Omar. Lalu, mendekati Kala.


"Nanti dicium tangannya. Diaminkan doanya Gus Omar, Nduk!" bisiknya.


"Iya, Budhe."


Budhe Atun memberi isyarat supaya Mela dan Ruma mendampingi sampai di pintu.

__ADS_1


Dalam adegan semacam ini, sudah jelas Kala tak berpengalaman. Tak ada bayangan kalau rasanya akan secampur aduk ini. Mela menyenggolnya pelan ketika dirinya membiarkan tangan Gus Omar menggantung dalam beberapa detik. Dia hanya tak menyangka status remajanya telah berakhir di titik ini. Dalam jangka waktu yang tak dapat dia terka sebelumnya. Ya, rencana manusia seringkali tak sejalan dengan takdir Tuhan.


Flash kamera menyala. Beberapa adegan telah terambil. Termasuk ketika Gus Omar mengecup ubun-ubun Kala seraya berdoa. Pun saat dia menawarkan punggung tangannya, lalu Kala menyucupnya dan mengaminkan doa setelahnya.


Kala menurut saat Gus Omar membimbingnya ke meja akad.



Di sana, Budhe Atun dan Paman Gani telah duduk menggantikan posisi papa dan mamanya. Kala mendekat. Sungkem, lalu memeluk mereka bergantian.



"Kala, meskipun kamu masih remaja, tapi ingat, Nduk Ayu! Kamu membersamai orang besar. Yang gemati dan hati-hati. Jaga muruah suamimu."


"Insyaallah, Budhe."


Meski hanya berlangsung singkat. Nasihat itu mengingatkan pada apa yang disukai dan tidak disukai Gus Omar. Sembari sibuk menafsirkan desir pelan ketika dia merasakan dekapan erat tangan Gus Omar yang mengajaknya berdiri melanjutkan sesi foto. Dia pun mengakui tangan itu begitu lembut. Sama seperti orangnya. Meski demikian, dia ingin acara akad ini segera berakhir. Menjadi perhatian banyak orang, membuatnya sangat malu. Bahkan, dia beberapa kali tersipu karena pandangan suaminya. Sampai dia berani mengalihkan perhatian ke arah lain. Juga ketika tangannya berusaha didekap, dia menarik pelan-pelan. Dia pun kaku tatkala diminta berfoto berdua dengan saling berhadap-hadapan, di depan banyak orang dan kamera.


"Mbak, senyum."


Kala tersenyum kaku.


"Kurang natural, Mbak."


"Pripun, ya? Nggak bisa," keluhnya.


Gus Omar memegang kedua pipi Kala. Mengarahkan ke wajahnya. Menyentuh sudut bibir itu, lalu menariknya.


"Begini cantik."


Kala meringis.


"Banyak orang saya malu," bisik Kala.


Tanpa aba-aba, Gus Omar menautkan tangan kirinya ke pinggang Kala. Mendekatkan ke arahnya. Lalu, saat Kala spontan menatapnya dengan tegang, flash itu menyala.


"Nah, bagus ini. Candid."


"Mbak, sudah, ya."


"Bentar lagi, Mbak. Adegan romantisnya kurang banyak."


"Ya Allah," gumamnya.


"Santai aja." Gus Omar menenangkan. Lantas mempersilakan fotografer membidik kembali.


Bukan karena Kala tidak tahu gaya. Jika bersama teman-temannya, dia bisa menjadi sangat narsis. Lain hal dengan momentum akad ini, sekujur tubuhnya terasa amat kaku. Berulang kali bidikannya gagal karena dia susah tersenyum lepas. Kalau pun ada, dia hanya berhasil tersenyum tipis.


Satu jam berlalu.


"Mela, jangan pulang dulu, ya." Kala menahan tangan Mela.


"La, acaranya akan udah selesai. Orang-orang udah pada pulang. Nanti kita ganggu. Kayaknya Gus Omar pengen cepetan bisa berdua sama kamu, deh. Selamat berkasih, ya, La. Samawa. Until jannah forever." Ruma yang berkata.


"Kita kudu cepetan pulang. Ada yang pengen sweet-sweetan." Mela mencandai.


Kala mencubit Mela seketika. "Dasar, ya. Aku nggak ngerti. Udah kalian pergi aja, deh. Kerjaan kalian nyandain orang mulu."


Mela menatap Ruma. "Tuh, kan berhasil. Kalau aku candain, dia pasti ngusir."


"Awas lusa nggak ke sini. Aku sleding kalian."

__ADS_1


"Duh duh. Ning kok tukang nyleding. Anggun dong, Bestiee." Mela berulang lagi.


"Mel, udahan. Pulang, gih!" Kala mendorong Mela.


Mela hanya terkikik puas.


"Oke kita pulang. Bye."


Mela dan Ruma pun akhirnya pulang.


Kala sendirian di kamar sembari menghapus riasan.


"La, udah belum?" Vey berdiri di tengah pintu.


"Belum. Baru kok."


"Kalau sudah, terus nyalamin tamu, ya."


"Emang Gus Omar ke mana, Onni?"


"Salat duha kayaknya."


"Oh, gitu. Ya aku cepet-cepet."


Vey melenggang pergi, Gus Omar pun masuk. Menghamburkan diri di kasur.


"Dek, ngapain make-up di hapus? Cantik begitu."


"Mendingan riasan biasa, Mas."


"Bisa, ya, kamu panggil mas?" Gus Omar tersenyum. Menawarkan aura ketampanannya.


Kala menoleh. Menyadari sesuatu.


"Njenengan potong rambut?"


"Nggaklah. Aku nggak akan potong rambut. Nanti kegantenganku hilang dong."


"Bisa-bisa berkelakar gitu," batin Kala. Dia yang justru tersipu.


"Terus?"


"Aku kuncrit."


"Ow. Karena setahu saya, njenengan rambutnya pasti digerai."


"Nanti aku gerai. Biar seperti punyamu."


Gus Omar berdiri. Menggeser kursi, lalu duduk tepat di belakang Kala.


"Rambutmu seberapa hmm?" bisik Gus Omar mesra.


"Pendek."


"Nanti kalau sudah panjang, nggak usah dipotong." Tersenyum lagi.


"Njenengan jangan gitu, ah."


"Gitu gimana?"


Kala membuang wajahnya. Tak nyaman dengan desiran yang muncul tiap kali Gus Omar memandangnya dengan cinta.

__ADS_1


"Jangan terlalu malu. Sama suami sendiri kok malu. Hmm?" Gus Omar mendekatkan wajahnya. Pipi kirinya hampir menempel ke pipi kanan Kala.


"Usia empat puluh, tapi kayak masih dua lima gayanya kalau pas begini. Apa emang aslinya Gus Omar begini, ya?" batinnya. Dia kikuk meski berusaha menghapus keseluruhan sisa make-up.


__ADS_2