Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 56 "Malam Jumat"


__ADS_3

Jangan lupa berdoa. Bismillah.


Hari berlalu tanpa pamit. Vey tertegun sendirian di bawah ayunan yang tergantung di dahan pohon mangga depan rumahnya. Bergurau dengan malam. Barangkali tiba-tiba ada bintang jatuh, lalu dia akan melangitkan permohonan. Lalu, sesekali terdengar suara Kala mengaji, bertingkah di antara embusan angin yang menerbangkan daun-daun berguguran. Begitu juga suara hatinya yang tak berhenti berbicara pada kenangan.


"Cinta bermula dari Adam dan Hawa. Lalu, kita adalah generasinya. Mungkinkah, Kaf, masih ada kesempatan kita untuk bertemu? Seperti Adam dan Hawa yang kemudian bertemu setelah terpisah dari surga. Aku hanya ingin mengakhirinya baik-baik. Kamu datang dengan kebaikan, Kaf. Maka, sudah selayaknya aku berpisah denganmu baik-baik. Walau aku kecewa kamu ternyata sama seperti Papamu. Aku tidak menyangka, Kaf." Selendang di kepalanya jatuh terbawa angin.


Vey bangkit, merunduk untuk mengambilnya. Saat dia mengangkat wajahnya, matanya kontan menyipit terkena sorot lampu motor dari kejauhan. Dia menduga motor itu akan berhenti di depan rumahnya. Dia pun buru-buru menyelendangkan selendang ke kepalanya. Membenahi poni yang menyembul tak beraturan.


"Mas Abi?" gumam Vey. Dia memperjelas tatapannya dengan maju selangkah.


"Ngapain?" batinnya.


"Assalamualaikum?"


"Iya waalaikumussalam, Mas." Vey menjawab seraya mengeja. Ada Pak Cipto yang kemudian langsung dia sapa, karena beliau melempar senyum kepadanya.


Vey sibuk membenahi selendang sambil bertanya, "Ada apa, ya, ini?" Vey sempat berpikir kalau Abimana datang karena ingin mengantarkan undangan.


"Antarkan aku ke rumah Pamanmu bisa?"


"Bisa. Tapi, sebentar aku ke dalam. Silakan masuk dulu, Mas!


Abimana dan bapaknya tak berkenan masuk. Gelagatnya seperti orang terburu-buru.


Vey melangkah cepat. "Pengen ketemu Mas Abi nggak? Tuh, orangnya di depan."


Bibir Kala seketika membentuk garis lengkung. Lalu, menggeleng.


"Andaikan njenengan ke sini untuk nyari aku, Pak," batin Kala.


"Ke sini mau ngapa?"


Vey bercermin. "Nggak tahu."


"Terus?"

__ADS_1


"Nyari Paman."


Deg! Deg! Deg! Kekhawatiran itu mulai bermain-main di kepalanya. Membekukan suasana yang sempat mencair beberapa saat. Konsentrasinya buyar. Dia hanya diam saja ketika Vey bertanya apakah dirinya mau menemaninya ke rumah Paman. Dalam hati, dia mengatakan tak sanggup seandainya dugaan kuatnya saat ini benar-benar akan terjadi.


Lalu, Vey kembali ke teras setelah selendangnya rapi. Dia berjalan menjadi petunjuk. Rumah Paman Gani hanya berjarak lima puluh meter dari rumahnya. Kemudian, masuk gang sebelah kanan jalan.


"Ini rumahnya."


"Oh, ya ya makasih, Na."


"Tapi, aku nggak bisa nemenin, Mas. Sory. Ada pesanan yang belum aku kerjakan." Vey hanya beralasan karena ingin kembali menyendiri di ayunan lagi.


Abimana dan Pak Cipto masuk. Paman Gani yang kemudian langsung membukakan pintu, mempersilakan masuk. Mereka berdua masuk, tapi Budhe Atun malah menyuruh Vey agar tidak cepat pulang.


"Ada apa, Budhe?"


"Siapa dia, Na?" bisiknya.


"Mas Abimana."


"Abimana siapa, Na?" Sembari mengingat nama yang tidak asing.


"Oooo, Abimana cah bagus itu. Dulu dia kurus, kecil. Tapi, Budhe lama gak ketemu lo, Na."


"Mas Abi mondok dari SMP. Wajar kalau perubahannya sama dulu beda banget."


"Masyaallah. Soleh dan pinter pastinya. Budhe cuma tahu warung orang tuanya makin hari makin laris. Tapi, ketemu Abimana baru ini." Budhe Atun justru mendadak curhat.


"Budhe, aku pulang dulu, ya."


"Loh, ya jangan. Tunggu di sini. Kamu nggak penasaran kenapa Abimana ke sini?" Budhe Atun menatap Vey. Tatapannya mencandai.


"Paling ya ada urusan apa gitu." Vey menjawab sekenanya.


Budhe Atun memukul lengan Vey pelan. "Pamanmu itu gak pernah ada urusan dengan Pak Cipto. Kalau ternyata ada hubungannya dengan kamu bagaimana, Na? Kamu mengenal Abi, kan?"

__ADS_1


"Ya Mas Abi kenal aku dari kecil, Budhe. Tapi, aku baru ngeh baru beberapa bulan ini. Apa, sih?"


Budhe Atun memukul lengan Vey lagi. Kali ini lebih keras. Lalu, menarik paksa Vey. "Makanya, sini kita nguping, Na."


Vey menghela napas. "Budhe apa-apaan?" Dia yang kemudian diminta duduk di kursi, mepet dengan tembok yang memisahkan antara ruang keluarga dan ruang tamu.


"Budhe malu-maluin." Vey sebal dipaksa.


"Budhe saja penasaran. Masak kamu ndak?"


Vey mendiamkan. Dia mulai menyimak muqadimah panjang yang dilontarkan Pak Cipto. Dua kali Abimana menyambung setengah basa-basi.


Mereka membicarakan kuliah Abimana di Al-Azhar karena ternyata Paman Gani sudah mendengar itu sejak lama. Katanya, sejak keberangkatan Abimana kala itu, beritanya tersebar ke mana-mana. Bagi masyarakat pinggiran kota, berita semacam itu akan menjadi pembicaraan yang wah. Namun, semenjak Abimana boyong dari pondok, Paman Gani juga masih sekali ini bertemu dengan Abimana. Sempat terkagum-kagum dengan penampilan Abimana yang membuat orang pangling.


Lantas terdengar lirih Abimana memulai kata lagi. Mengawalinya dengan berdehem dan jeda yang agak lama. Seperti sedang mengatur kalimat bicara.


"Na, ingat kata Budhe tadi," bisiknya.


Vey bergeming. Bayangan wajah Kafil dan Abimana bergantian menindih pikirannya. Memang hanya pada saat itulah dia merasa sangat kecewa dan kehilangan. Tanpa dia sadari, kehadiran Abimana memberinya perasaan yang baru. Terdengar suara Abimana mengatakan beberapa kalimat pembuka yang membuat debar jantungnya mengencang pelan-pelan. Lalu, entah dengan bahasa isyarat apa sehingga membuat namanya terpanggil. Seketika dia tersentak mendengar Paman Gani memanggilnya dua kali.


Budhe Atun memukul paha Vey. "Na, dipanggil Pamanmu."


"Tadi ngomong apa Budhe kok aku dipanggil?" Suaranya hampir mencicit.


"Nggak tahu. Wistalah cepetan ke sana, Na!" Nada itu kedengarannya terlalu bersemangat.


Vey berusaha mengatur degup jantungnya dengan menghela napas tiga kali. Ada cermin di tembok, dia menyempatkan mengaca sebentar. Daripada penampilannya terlihat tidak rapi. Dia pun melangkah pelan-pelan seperti pengantin. Melemparkan pandangan datar dan senyum sangat tipis kepada Abimana dan Pak Cipto.


"Sini, Nduk!" panggil Paman. Dia menyuruh Vey duduk di sebelah kirinya.


Di kursi sofa itu, Vey membanting pantatnya sangat pelan. Sekali lagi dia berusaha untuk bersikap selayaknya perempuan dewasa. Yang tidak kaget dengan momen seperti ini--setengah gengsi. Dia mungkin bisa mengelabuhi orang lain dengan gelagatnya saat ini, tapi jujur saja dia gagal berencana meredam debar jantungnya. Tatapan Abimana saat ini membuatnya tersipu seperti anak gadis usia enam belas tahun. Meski hanya lirikan tak sengaja, dia pun mengalihkan pandangannya seperti orang canggung.


"Sudah kenal lama?"


"Belum, Paman."

__ADS_1


"Kata Abi sudah tadi."


"Aku kenalnya baru. Baru menyadari kalau dulu emang pernah ketemu." Setidaknya Vey lega mendengar dirinya lancar menjawab tanpa ada gagap. Kemampuan public speaking-nya memang cukup bagus. Dalam suasana mendebarkan seperti ini, dia masih cukup mampu mengendalikan diri.


__ADS_2