
Ketika Budhe Atun mengantarkan semangkuk kuah soto sisa pengajian tadi malam, Vey sedang termangu di depan laptopnya. Dia mengagetkan Vey dengan uluk salamnya yang sengaja dikeraskan.
Pundak Vey terangkat. Kontan dia menoleh ke arah pintu depan. "Budhe?"
"Nglamun. Anak wedok kalau melamun itu biasanya pas lagi jatuh cinta...kalau nggak gitu, ya, pas lagi ada masalah." Budhe Atun lekas duduk seraya meletakkan mangkuknya di meja.
Vey mengambil alih mangkuk itu. Beranjak. "Aku bawa ke dapur Budhe. Makasih sudah dibawain. Padahal, aku bisa ambil sendiri di rumah Budhe," katanya sembari melangkah ke dapur.
Budhe Atun melirik sebentar layar handphone Vey. Terbaca sepintas chat Vey pada Kafil yang belum terbaca. Dia mengerti. Langsung melemparkan pandangan ke arah Vey yang kembali berjalan ke ruang tamu. Vey membawakan minuman untuknya.
"Budhe dengar pacarmu itu wong Malaysia?"
"Malaysia Pakistan, Budhe."
"Kamu cari pacar kok pinter Vey. Dapat Bule. Lancar ngomong bahasa indonya?"
Vey duduk di lantai seperti tadi. Membiarkan Budhe Atun tetap di atas.
"Minum, Budhe!"
"Iya."
"Lancar. Bahasa melayu, kan, nggak beda jauh. Apalagi dia sudah hampir tujuh tahun di sini. Tapi, logat melayunya masih kedengeran banget."
"Woalah begitu. Kala pulang jam berapa?"
"Jam setengah dua, sih, biasanya. Tapi, ada kumpulan OSIM katanya. Mungkin agak sorean."
__ADS_1
"Nana, sebenernya Budhe itu kasihan sama kamu. Budhe itu emang nggak ada hak untuk melarang-larang kamu atau apa pun. Dari dulu kamu ndak pernah merepotkan. Mandiri. Tapi, Budhe cuma mau ngomong satu hal. Dengarkan apa kata Pamanmu. Pamanmu itu ada benarnya."
"Maksud Budhe soal aku mau nikah sama Kafil tahun depan?"
"Iya."
"Enam tahun itu bukan waktu yang lama, Budhe. Jika Budhe sama Paman ingin aku meminta Kafil ke sini aku akan usahakan. Tapi, kalau untuk meninggalkan dia, aku pikir-pikir, Budhe. Kecuali kalau Kafil memang udah nggak cinta lagi sama aku." Vey menghela napas. "Budhe maaf. Bukan maksud aku berlaku nggak sopan," katanya kemudian.
"Gapopo. Budhe hanya menyayangkan kenapa kamu mengenalkannya tidak dari dulu. Jelas...wajar kalau sudah berhubungan enam tahun kamu berat hati. Budhe ngerti itu, Na. Ngerti banget. Kalau sudah begini Budhe ya ndak berani menyuruh kami kenalan sama Guse sing bagus itu."
"Gus Omar?"
"Siapa lagi, Na. Kalau orang seperti kita mau dikenal sama orang kaya Gus Omar itu ya termasuk keberuntungan. Tapi, Budhe manut Pamanmu e. Kalau pacarmu bule itu tidak cepat-cepat ke sini, Pamanmu mungkin akan kembali meminta kamu kenalan sama Gus Omar."
Vey cemberut. "Kala aja Budhe." Kalimatnya terlepas tiba-tiba.
"Bercanda, Budhe. Aku tahu kok. Lagipula Gus Omar mana suka sama Kala. Lagipula Gus Omar itu tidak mungkin juga akan berselera sama cewek kaya aku dan Kala. Standard orang kaya dia mesti tinggi. Yang berilmu, yang ngajinya bagus, nasab baik, berpendidikan, terutama pasti harus cantik dan kalem."
"Kamu bener juga, Na. Alah wis embohlah. Budhe tunggu pacar bulemu ke sini. Minimal Budhe pernah kenal langsung sama bule. Ya sudah Budhe mau pulang dulu." Budhe Atun pergi tanpa meminum sesruput pun minuman yang dibuatkan Vey tadi. Lupa.
Bayang-bayang Kafil tak membuatnya fokus sejak tadi. Tak ada gairah untuk beraktivitas. Sepulang mengajar tadi, dia hanya langsung memasak sayuran yang gampang diolah, lalu salat dan langsung merekap nilai hasil ujian anak-anak didiknya. Setelah Budhe Atun pergi pun, dia hanya terpaku di depan laptop.
"Kayaknya aku harus ke rumah Kafil. Aku harus sempatkan daripada nggak tenang terus."
Vey bergegas. Tak lupa mengirim pesan kepada Kala sebelum berangkat.
^^^"Aku mau keluar. Agak lama. Sudah aku masakin oseng mie sosis sama tempe mendoan. Kalau rapatnya udah, buruan pulang kerjain souvenir sama hampers seserahan." Send. Centang dua.^^^
__ADS_1
Vey mengunci semua pintu. Lalu, meletakkan kunci rumah di tempat biasa. Motor sudah di luar. Dia buru-buru. Sembari berharap tidak terjadi apa-apa dengan Kafil. Di tengah jalan, dia hanya tiba-tiba berpikir sesuatu yang buruk telah terjadi. Karena seminggu itu waktu yang cukup lama.
Vey menuruni motornya dengan pandangan menerawang. Gerbang rumah Kafil tertutup. Kelihatannya digembok. Dia tak langsung memencet tombol bel di tembok. Dia merogoh gerbang, apakah dikunci dari dalam. Rupanya memang terkunci. Itu artinya Kafil sekeluarga tidak ada di rumah.
"Di mana kamu, Kaf?" Vey kebingungan. Menoleh ke kanan kiri tak ada orang lewat. Suasana perumahan memang selalu sepi karena penghuninya sibuk bekerja. Dan, hampir semua rumah berpagar. Vey sungkan jika harus bertamu. Dia memeriksa handphone-nya.
^^^Vey mengirim pesan suara. "Kaf, please kamu di mana. Kamu jawab dong! Kamu kenapa dan di mana? Aku lihat rumahmu gembokan. Kalau ada masalah kita omongin bareng-bareng. Tolong jangan buat aku terus-terusan mikir. Aku lagi sibuk banget ini." Send. Centang satu. Vey berdecak. Mengaduh kesal. Mengentalkan kakinya sekali.^^^
"Ya Allaaaaaah," gumamnya.
"Mana kepala juga jadi pusing gini. Migrain kumat." Vey tak dapat mengendalikan ekspresi mukanya. Bibirnya cemberut. Wajahnya masam.
"Goblok," celetuknya.
Vey langsung memeriksa semua sosial media. Biasanya Kafil lebih sering aktif di insagrem dan twittar. Barangkali ada jejak feed terbaru atau story'. Dia juga memeriksa ficibook dan yutub. Dia hanya menemukan satu notifikasi baru di antara puluhan notifikasi ficibook. Dia mendapati Kafil telah mengganti foto profil. Masih sepuluh menit yang lalu. Dengan hati penuh debar, dia mengirim pesan singkat.
^^^"Kaf? Where are you now?"^^^
Sayangnya, Kafil sudah tidak aktif lima menit yang lalu. Namun, Vey masih berharap penuh. Dia menunggu beberapa detik sembari bersandar di tembok.
"Tadi Kafil foto di mana, ya?"
Dia kembali memeriksa foto profil Kafil yang baru. Dahinya berkerut. Dia memperbesar suasana sekitar tempat Kafil berfoto. Blur. Entah itu foto lama atau baru. Dugaannya masih mengambang. Hanya saja dia merasa itu bukan di Indonesia. Karena dia masih bisa melihat tulisan dalam bahasa inggris yang ada di gedung besar yang tengah Kafil tatap di foto itu.
"Kalau gedung tinggi itu kelihatan, berarti Kafil ada di lantai berapa itu? Apa mungkin dia di apartement? Tapi, setahuku keluarganya nggak ada yang punya hotel atau apartement, deh. Kakaknya juga nggak. Kalau pun foto itu ternyata nggak di Indo, biasa aja itu foto kemarin dia pulang. Oh, iya..."
Dia men-scroll sembilan komentar yang terketik beberapa menit yang lalu. Semuanya belum terbalas. Sayangnya, dia tak bisa membaca komentar mereka yang semuanya menggunakan bahasa pakistan.
__ADS_1