
Jangan lupa berdoa. Bismillah.
Nurmaya Basith. Gadis malang yang hatinya seluas samudra itu kini telah menemukan seonggok hati yang jauh lebih sempurna. Empat bulan sudah berlalu. Dan, selama satu bulan pernikahannya dengan Syarif, dia merasa dirinya seperti terlahir kembali. Walaupun keadaannya sekarang belum mengembalikan semua tentang ingatannya, dia sudah bisa tersenyum riang gembira. Mungkin itu yang dinamakan dengan jodoh. Sosok yang kemudian hadir membawa kebaikan dunia dan akhirat.
Sehari menjelang akad, waktu itu Nurmaya berpamitan kepada Kala dan Gus Omar. Dia berkata, dirinya nanti akan hidup bersama suami dan mertuanya. Dan yang terpenting, dia pun menyempatkan diri bertandang ke rumah mantan suaminya, Abimana. Sekaligus meminta doa restu kepada Pak Cipto dan Bu Cipto yang meskipun sebenarnya dia tak benar-benar mengenal mereka, dia merasakan kebaikan. Juga karena kelapangan hati merekalah, dia bisa menemukan berkah di pernikahannya. Dan atas izin Allah, segalanya dipermudah.
Hari ini dia bertandang ke rumah Vey. Datang dengan memakai sepeda Syarif semasa sekolah di MAN Pasuruan dulu. Kebetulan dia mendapati Vey yang tengah duduk bersantai di depan rumah sembari memegang tablet.
"Assalamualaikum, Mbak Vey?"
"Oh, waalaikumussalam. Ada apa, Ya?" Vey mempersilakan Nurmaya duduk di sebelahnya.
"Sekarang kamu kelihatan bahagia banget?" Vey mengamati gelagat Nurmaya. "Sorry, apa ingatanmu udah balik?"
Nurmaya menggeleng.
"Walaupun begitu, tapi hatiku bisa merasakan, Mbak. Mana yang membuatku nyaman dan enggak. Terima kasih, Mbak."
"Buat apa emang?"
"Sudah mau menjaga Mas Abi."
"Apaan?" Vey berpura-pura tidak mengerti.
"Aku ingat dhawuh Gus Omar waktu itu, Mbak. Katanya, Mas Abi nggak akan nikah sebelum aku menikah lagi. Setelah Mas Alfin ceritakan banyak hal, tentang masa lalu aku, keadaan orang-orang di sekitarku, aku ingat kalau Mbak Vey adalah orang yang seharusnya menikah dengan Mas Abi. Selamanya, aku tidak akan mendapatkan cinta yang tulus dari dia, Mbak. Pernikahan yang terjadi di antara kami hanya soal belas."
"Jadi, kamu sudah ngerti, Ya?"
"Ya insyaallah sudah, Mbak."
Vey menghela napas. Lalu menoleh bersamaan dengan keluarnya kata pertama. "Perjalananku begitu panjang. Prosesku untuk merenung, menenangkan diri, menerima, lalu menjalani itu nggak mudah. Semua laki-laki yang pernah datang datang kepadaku setelah Mas Abi nyata menyatakan perasaan kepadaku, lalu dia menikah denganmu, mereka hanya menjadi ujian. Mungkin memang Mas Abilah takdirku. Dia hanya pernah kaupinjam barang sementara waktu."
Nurmaya tersenyum tipis. "Kalau boleh aku jujur, aku seneng mendengarnya, Mbak. Mas Abi akan beruntung sekali jika menikah dengan wanita sehebat Mbak Vey. Bukan denganku. Mbak Vey nggak usah khawatir. Empat tahun kita bertahan dalam pernikahan, Mas Abi belum pernah menyentuhku. Kami bercerai dalam keadaan aku masih seorang gadis, Mbak. Mungkin itu karena Mbak Veylah pemilik dia yang sebenarnya. Alhamdulillah, sekarang aku juga sudah hamil, Mbak."
"Sumpah?" Vey agak membelalak.
"Hehe. Ekspresi Mbak Vey bikin aku malu."
Vey lantas bergumam, "Ngegas banget itu Si Syarif."
"Ngegas bagaimana, Mbak?"
"Nggak nggak. Abaikan. Abaikan, Ya." Vey berdehem.
***
Setiap tulang rusuk yang hilang, pasti akan kembali pada pemiliknya. Vey telah resmi menikah dengan Abimana Gulzar sore tadi, sah secara agama dan negara. Meski hanya mengadakannya dengan sangat sederhana--merias diri sendiri tanpa mengundang MUA, juga dekorasinya, dan undangan yang hanya dari saudara dan tetangga dekat tanpa menghadirkan teman-teman guru ataupun kawan seperjuangan dulu--acaranya berlangsung khidmat.
__ADS_1
"Kamu beneran nggak malu nikah denganku?"
Vey menoleh. "Semenjak kapan Abimana Gulzar jadi gampang insecure begini?"
"Kamu ngertilah keadaanku aku gimana. Semua orang juga sudah ngerti sekarang."
"Udah, ah, ngapain bahas itu, Mas, Mas." Vey bangkit, beringsut ingin beranjak.
Abimana menarik tangannya seketika. "Tunggu, Vey. Duduk sebentar saja."
"Mas Abi mau membahas itu lagi? Aku sudah paham lo apa konsekuensinya. Dengan sikap Mas Abi yang sekarang gampang insecure gini, aku nggak mau membuat Mas Abi tambah insecure."
"Aku ingin kamu berjanji."
"Soal?"
"Tetaplah di sampingku sampai kapan pun."
"Utututututuuuuu. Sejak kapan Abimana Gulzar yang dulu cuek bebek, ngomongnya agak pedas, sekarang kok mellow?"
Abimana kontan menggelitiki pinggang Vey. Yang menurutnya ekspresi Vey saat ini terlihat menyebalkan.
"Aku aslinya emang gini." Abimana membela diri.
Vey mendekatkan wajahnya, hampir mengenai pipi Abimana. Dia berkata, "Alaaaaah, masak iya? Betulkaaaaah?" Matanya menatap nakal.
"Bener."
"Frontal," ucap Abimana spontan. Menahan senyum.
Vey menegakkan badannya. Menyedekapkan tangan. "Halal, kan? Orang aku udah thirty one years old. So, wajar kalau aku frontal. Udah nggak bucin-bucinan lagi. Maunya yang gercep. Mau dicoba malam ini?"
Abimana tertawa lirih. Setengah heran dengan sikap Vey yang menurutnya sangat berbeda dengan dulu. Berubah jauh lebih asik dan menyenangkan. Dia pun menawarkan tatapan lembutnya.
"Enggak. Aku mau pacaran dulu sampai puas. Kita seneng-seneng dulu, Na."
Vey mengerutkan dahinya. "Mmm ... gitu, ya? Tapi, Mas Abi keburu tua loh. Nggak ingat umur apa?"
"Memang kamu juga masih muda?"
"Kalau aku memang, ya, sudah sadar diri dari lama."
"Tadi kamu ngomongnya nggak bucin-bucinan? Apa kabar mantan?"
"Apa itu mantan? Yang diperes warnanya putih itu?"
"Santan."
__ADS_1
Vey berusaha cuek ketika Abimana menyinggung Kafil.
"Na, lihat aku!"
Vey mendekatkan wajahnya, membalas tatapan itu. Mereka bertemu pandang dalam beberapa detik.
"Betah begini terus?" tanya Vey.
"Hmm?"
"Aku lihat napas kamu udah mulai nggak beraturan itu, Mas?" Vey menahan senyum.
Abimana berdehem. "Ah, enggak. Biasa saja."
Vey tergelak. "Cowok kalau mengelak lucu juga. Sok elegan, sok berwibawa, aslinya ya mau itu. Bilang kalau pengen, Mas. Aku mau ke dapur bentar ambil makan."
Abimana menggeleng-geleng. "Bisa begitu, ya, sikapnya? Apa memang begitu, tapi aku dulu yang nggak peka?" batinnya.
"Mas, aku ambil banyak. Sepiring. Aku pengennya makan dikit, jadi ini sisanya Mas Abi yang menghabiskan." Vey masuk tiba-tiba. Lalu, meletakkannya di kasur.
Vey menyendok nasi untuk Abimana.
"Bentar." Abimana menyuruh Vey untuk tidak menyuapinya dulu.
"Kenapa?" Vey melembutkan suaranya.
"Sebetulnya aku hanya insecure pada satu orang."
"Aku?"
Abimana mendiamkan.
"Usah, Mas. Aku males banget membahas itu. Sudah, ya."
"Kamu nggak malu misalnya dikata orang, nikah sudah umur, giliran dapatnya kok fisiknya begitu. Kamu mau jawab bagaimana?"
"Please, Mas, sudah ngomongin itu."
"Itu kemungkinan besar pasti terjadi, Na. Kamu nggak malu?"
"Aku males bahas itu. Dahlah." Vey beranjak.
Lagi-lagi Abimana menahan tangannya.
"Jutek lagi dong, Na!"
"Oooh, Mas Abi maunya begitu?"
__ADS_1
"Habisnya kangen juga dengan sikap kamu yang dulu."
"Nikah sama sebelum nikah itu harus ada bedanya. Ya wajar dong kalau dulu aku jutek, jaim ke Mas Abi. Lagi nggak pengen jutek. Manja-manjaan aja gimana?" Vey mengedipkan matanya.