
Semoga review tidak lama. Selamat malam hari raya idul Fitri, nggeh.. ❤️🙏✨🌜🌜🥳
Syukuran khataman Alquran Kala dilakukan dua kali. Pagi ini, khataman kedua diadakan di ndalem kesepuhan. Hanya beberapa anggota keluarga ndalem yang bisa hadir karena bertepatan dengan hari aktif dan pagi hari. Gus Omar sendiri justru tidak dapat hadir karena harus menghadiri talk show kampus di luar kota. Hanya Budhe Atun, Vey, Ning Via, Ning Fatiyah, dan Ning Bulqis yang mendampingi. Bersama undangan beberapa warga sekitar yang jumlahnya tidak sampai delapan puluh orang, termasuk ketua fatayat, Bu Lurah, Bu RT, dan Bu RW. Dan dengan pertemuan bersama warga, Kala pun akhirnya dikenal sebagai calon menantu kiai. Yang semula warga tidak tahu menahu khataman pagi ini diperuntukkan kepada siapa.
Kala sempat mendengar dirinya dipertanyakan. Atas dasar apa dirinya mampu menjadi wanita terpilih, sedangkan dirinya bukan gadis trah pesantren ataupun santri sendiri. Mungkin terdengar sedikit janggal di telinga orang. Padahal, di luar sana banyak nawaning yang idealisnya jauh lebih pantas menjadi teman hidup Gus Omar. Dia pun tidak tahu apa alasan yang sebenarnya.
Beberapa menit sebelum doa penutup, tim dapur ke depan membawa nampan berisi berkat. Ada Nurmaya di antara mereka. Lalu, Vey tak sengaja melihat sesuatu yang berkilau di jari Nurmaya.
"Cincin itu?" batin Vey.
Vey ingat bagaimana model terakhir cincin yang akan diberikan Abimana. Namun, kini pemilik itu bukanlah dirinya. Malah tampak manis ketika sudah melekat di jari Nurmaya yang agak berisi.
"Apa pun yang terjadi, aku nggak boleh nyesel," ujarnya. Vey sedang mengontrol emosi. Tak ingin menyalahkan diri sendiri. Malam itu, dia mengatakannya dengan sangat sadar. Termasuk kemungkinan konsekuensi seperti yang dia lihat sekarang.
Vey juga enggan mengakui bahwa dirinya pun sebetulnya berharap Abimana memperjuangkannya lebih. Lebih-lebih setelah dia tahu Abimana memilih mundur seribu langkah, lalu membersamai perempuan yang tak lain ialah gadis yang juga sempat patah hatinya. Namun, di sisi lain dia pun menyadari. Ada sebagian kondisi yang mengakibatkan kesalahan itu tak dapat dilimpahkan semuanya pada Abimana. Karena dirinya telah menolak, maka dirinya layak untuk ditinggalkan. Tak sedikit pria yang berpikir demikian. Dan, itu telah berlaku pada Abimana sekarang.
Tatkala Nurmaya melempar pandangan ke arahnya dengan raut wajah sedikit sungkan, Vey tetap membalas dengan senyuman. Walau rasanya berat, senyum itu akan menunjukkan kegigihannya sebagai wanita yang paham konsekuensi. Pun terbiasa dengan luka perpisahan karena kehilangan ataupun ditinggalkan. Dengan sikapnya yang demikian, seketika cemas hilang dari wajah Nurmaya.
__ADS_1
"Makasih," ucap Vey ringan.
Nurmaya mengangguk, sedikit tersenyum, lalu mengangsurkan berkat kepada undangan lain.
Dua jam berlalu dengan khidmat. Para undangan pulang menawarkan doa kebahagian dan kelancaran untuk pernikahan Kala bulan Syawal depan.
"La, aku keluar dulu."
Dengan berada di luar ruangan, Vey justru bertemu dengan Abimana. Dia menghela napas dengan spontan. Tak bersemangat menatap mata Abimana. Saat mereka berpapasan pun, Vey masih sempat mengira Abimana akan memanggilnya. Ternyata tidak. Aura dingin memancar sangat kuat. Terlihat dari cara Abimana membuang pandangan saat Vey berusaha menatap Abimana untuk yang kedua.
Deg! Perasaan Vey begitu cepat berubah. Dalam sekejap, dia membayangkan dirinyalah yang memakain cincin itu. Ah, masa bodoh. Dia meneruskan langkah. Toh Abimana tidak akan memanggilnya, pikirnya.
"Kala, sebentar lagi kamu akan menikah. Lalu, aku akan tinggal sendirian. Berapa bulan lagi kita bisa tinggal serumah?" Meski anak mata Vey tak mampu berlinangan, jauh di dalam relungnya dia merasa kesepian. Apa jadinya bila Kala benar-benar diboyong ke pesantren? Bukankah hari-harinya akan bertambah sunyi? Sudah jelas itu akan terjadi.
Dalam sekejap, lalu lalang santri yang tengah beristirahat membuyarkan kecemasannya. Tertindih kenangan lama semasa di bangku kuliah. Walaupun dulu dia tak sesibuk sekarang, meskipun dulu juga bekerja sembari kuliah, dia berhasil melewati masa-masa itu.
"Kalau boleh aku mengartikan dewasa, aku ingin menyebut dewasa sebagai wadah penampung ujian. Karena nyatanya untuk membuat seorang dikatakan dewasa jika dirinya bisa lulus melewati ujian demi ujian. Haaaahh." Vey menghela napas. Sejurus dia membarenginya dengan syukur.
__ADS_1
Tatapannya kembali mengedar. Berhenti pada tubuh Abimana yang sedang mematung menghadap utara. Nurmaya berada di depan Abimana, lalu mengangsurkan tiga kresek berkat. Bersama Nurmaya, Abimana sempat menawarkan senyuman. Begitu pula Nurmaya yang hatinya kesepian, kini jelas telah bertuan. Pedih. Pemandangan itu menyita perhatian Vey sampai beberapa detik hingga Abimana berlalu menuju arah depannya. Kali ini dia tak segan untuk memandang dengan tatapan setengah menghujam. Dia berharap Abimana mengerti. Ah, dia menyesal telah melakukannya. Sementara, Abimana tak mempedulikannya.
"Astagfirullah. Maafkan, Ya Allah."
Entah ke mana perginya Abimana. Vey hanya melihat tubuh Abimana sampai di gerbang. Mungkin pergi memberikan berkat kepada warga yang tidak datang, pikirnya. Ada kemungkinan Abimana akan lewat di depannya lagi.
Memang benar. Usai itu Abimana kembali. Ketika Vey tak menatapnya karena sengaja, Abimana justru yang menatap.
"Na?" batin Abimana. Namun, dia segera berlalu. Jika dia harus menemui Vey sekarang, dia tak ingin membuat Nurmaya terluka. Dia menghargai Nurmaya sebagai calon istri yang telah dipilihnya.
Vey mengangkat wajah, tapi Abimana sudah berlalu dari pandangannya.
______________________
Vey dan Kala mengucapkan happy Ied Mubarak 1443 H.
__ADS_1
Semoga Allah lekas mengabulkan hajat-hajat kita di tahun ini. Selamat berbahagia dan sampai jumpa h+7 tanggal 8 Mei 2022. Big thank's.. ❤️❤️❤️❤️🥳🥀🥀🤗❤️✨✨✨