
Jangan lupa berdoa. Bismillah.. Ngapunten up 1 eps lagi, tapi agak panjang. Nulisku lambat bangeeeeet. Terima kasih doa dan prasangka baiknya..❤️❤️🙏
Abimana senang karena Vey mau menerima ajakannya untuk sesekali mampir ke warungnya. Dia mengira Vey akan datang bersama Kala. Tapi, dia tahu kalau Vey berangkat dari sekolah langsung ke warung--melihat Vey yang masih memakai seragam.
Usai dia mengantarkan makanan pesanan Vey, dia mengamati Vey dari meja kasir. Memperhatikan Vey yang sesekali melemparkan pandangan kosong ke sembarang arah. Dia bisa menangkap gelagat itu. Dia bangkit dan mendekati.
"Aku kira datang sama Adikmu."
"Aku langsungan kok." Vey memaksakan senyum.
"Nggak pengen nyoba menu best seller-nya sini?"
"Apa emang?"
"Krengsengan ayam."
"Ehmmm...oke boleh. Tapi, bawa pulang aja, Mas."
"Oke siap bentar."
"Tanpa nasi, ya. Nanti di rumah aku bisa masak nasinya sendiri."
"Porsi dua orang, kan?"
Vey mengangguk.
Beberapa menit kemudian Abimana kembali duduk. Dia menggeser dua kotak sterofoam di dalam kresek hitam.
"Kok dua?"
"Nggak papa."
"Berapa semuanya?"
"Nggak usah."
Vey mendadak berhenti mengunyah. "Nggak nggak. Aku nggak minta lo, Mas."
"Iya beneran nggak usah." Abimana melembutkan suaranya. Dia menggeser kresek itu lagi. "Buat kamu sama Kala. Makasih udah menyempatkan datang ke sini."
"Beneran ini?"
Abimana mengangguk. Tak tersenyum.
"Ya Allah, jadi nggak enak loo. Baru aja sekali ke sini langsung dibikin nggak enak hati."
Abimana tersenyum tipis. "Ibuk yang minta bungkusin."
Vey langsung menubruk tatapan ibunya Abimana. Yang kebetulan sedang memperhatikan dirinya dan Abimana berbicara. Dia mengangguk seraya tersenyum.
"Makasih banyak, Mas. Kapan-kapan aku ke sini lagi. Kali aja malah dibungkusin lagi." Vey mencoba bercanda.
"Siap."
"Eh, nggak aku bercanda, Mas."
"Ya tapi aku serius. Mau minta aku gratisin tiap hari juga boleh kok." Abimana menatap. Baru sekali ini dia bisa memandang Vey dari jarak yang sangat dekat.
Vey hanya menggeleng. Tak menanggapi serius perkataan Abimana.
Segerombolan siswi tiba-tiba masuk dengan suara agak ramai. Abimana menoleh. Dan, seketika delapan siswi itu mengangguk seraya memanggil dengan nada centil. "Pak Abi?"
Abimana mengangguk tanpa berekspresi.
Vey sempat memperhatikan dengan jeli. Lalu, tersenyum karena dia menyadari air muka Abimana yang datar meskipun para siswi itu kegirangan bertemu dengan Abimana.
Abimana menyedekapkan tangan.
"Nggak makan siang, Mas?"
"Udah barusan."
"Sama donat?"
"Ya nggaklah."
Abimana tertawa lirih. Vey pun demikian. Kali pertamanya mereka saking bertukar tawa.
Abimana memegang rambutnya. Lalu, menguraikan rambutnya yang panjang lebih dari sebahu. Rambut yang agak mengombak itu sedikit menyita perhatian para siswi yang sengaja duduk di kursi sebelah kanannya.
"Santri Mahbubah banyak yang berambut panjang?"
"Ya nggak juga. Cuma karena Gus Omar rambute panjang ya santrinya ikut-ikutan style begitu."
"Termasuk Mas Abi?"
"Dari dulu aku suka rambut panjang."
"Kalau udah nikah terus saingan sama rambut istrinya gimana?" Vey bersiap melebarkan senyum untuk menanti jawaban Abimana.
"Emang rambut kamu seberapa?" Abimana sedikit berharap Vey akan memahami maksud pertanyaannya.
"Rahasia dong."
Namun, ternyata Vey tampak tidak menyadari itu.
"Nggak nggak. Aku bercanda. Ya ngapain itu bukan masalah juga."
"Bener juga, sih. Kenapa kamu kemarin justru menanyakan alasan Gus Omar?"
"Aku penasaran."
__ADS_1
"Kamu masalah kalau Gus Omar memilih Kala?"
"Kasihan Kala."
"Gus Omar sudah lama menantikan jodoh. Kalau beliau sudah memutuskan pilihannya, tandanya beliau sudah mantap. Sembilan tahun beliau menunggu. Dari semula rencana akan menikah saat usia tiga satu, di usia empat puluh inilah beliau sepertinya menemukan seseorang yang cocok."
"Jadi, Mas Abi nggak tahu alasan yang sebenarnya?"
"Nggak." Abimana mendadak teringat dengan Nurmaya.
"Aku minta tolong kalau Kala ke pesantren agar dia tidak menceritakan dulu pada siapa-siapa."
"Nggak mungkin dia berani cerita, Mas. Dia katanya malu kalau habis lulus langsung menikah."
"Aku dengar-dengar Gus Omar malah pengennya cepet. Nggak usah nunggu lulus."
"Beneran, Mas?" Vey terbeliak.
"Beliau sudah ngomong ke Abah sepuh. Abah sepuh setuju saja. Menurutku, itu juga karena Gus Omar tidak tega melihat kondisi Abah yang semakin memburuk. Di ndalem masih pakai infus." Kepada Vey, Abimana merasa nyaman berbicara. Walaupun, pada perempuan lain dia terlihat dingin. Bahkan, dia tak segan berbicara banyak.
"Begitu ternyata. Memangnya kehidupan di pesantren itu seperti apa?"
"Diniati ngaji dan ngabdi."
Vey mencoba mencerna.
"Na, aku minta tolong ya."
Vey menyisihkan piringnya yang sudah bersih. Dia menyeruput minumannya, lalu menanggapi, "Apa?"
Abimana menunjukkan katalog perhiasan di sebuah web.
"Menurut kamu perempuan akan suka yang mana?"
Vey berusaha menatap layar handphone Abimana sembari bertanya, "Mau nikah sama siapa?"
Abimana diam saja. Dia membiarkan Vey melihat-lihat. "Mungkin kebanyakan perempuan akan suka yang model-model begini, Mas."
"Lalu?"
"Aku pribadi enggak suka. Nggak suka perhiasan."
"Terus?"
"Nggak ada terusannya." Vey menunjukkan kesepuluh jarinya. "Kosong, kan?"
Abimana mengangguk.
"Kalau yang ini sederhana?"
"Kalau dari dua yang ini?"
"Aku pribadi malah demen yang polos sih. Hehe."
"Polos?"
Abimana diam sebentar.
"Yang gini maksudmu?"
"Itu kan ada permatanya. Polosan, Mas."
"Kaya yang satunya itu?"
"Ya kurang lebih begitu. Tapi, kan seleranya calon istri Mas Abi aku nggak tahu. Jangan disamakan. Mendingan Mas Abi beli aja tuh yang pertama aku tunjuk tadi. Atau yang kedua."
Abimana mengangguk.
"Semoga lancar."
"Aamiin."
"Masih lamaran atau nikah?"
"Lamaran."
"Kapan?"
"Enaknya kapan?"
"Minggu depan malam Jumat."
"Gitu, ya? Siap..siap."
"Eh, aku bercanda. Jangan dikira beneran. Itu rencananya Mas Abi. Lagian yang punya acara kamu malah nanya aku."
"Gapapa."
"Orang mana?"
Dan, entah kenapa juga Vey juga banyak bicara dan antusias menanggapi setiap kalimat Abimana.
__ADS_1
"Pasuruan juga."
"Alhamdulillah deket. Siapa? Kalau boleh tahu, sih."
"Nggak usah tahu. Kapan-kapan aja aku kasih tahu."
Abimana terus menjawab pertanyaan Vey dengan raut muka datar.
"Mas Abi, tapi aku masih pengen tahu apa alasan Gus Omar. Aku minta tolong ditanyakan. Kira-kira bisa nggak?"
"Akan aku coba. Tapi, kalau beliau masih bungkam ya kita nggak usah banyak tanya lagi."
"Semoga saja bisa."
"Kukira kamu perempuan yang dingin, Na. Ternyata..," batin Abimana.
Mereka melanjutkan bicara. Abimana menanyakan kegiatan Vey selama satu semester ini. Cukup mengasyikkan sampai Abimana tak pindah dari kursi. Pun sampai gerombolan siswi tadi sudah beranjak pulang.
"Famous juga." Vey tertawa kecil.
Abimana mencipta senyum tipis.
Begitu pula ibu Abimana beberapa kali melemparkan senyum begitu melihat Abimana dan Vey tertawa bersama.
Abimana yang kemudian bercerita bagaimana kehidupannya selama kuliah di Al-Azhar Kairo. Mulai dari kehidupan di asrama ataupun di kampus. Ataupun, kegiatan pribadi yang dia gunakan untuk menjelajah kota Kairo. Dan, Vey cukup terkesima.
Deg!
"Ya Allah, bukannya Kala suka dengan Mas Abi?" batin Vey. Dia melupakan itu. Benar-benar lupa.
"Jangan sampai dia tahu kalau Mas Abi mau nikah. Ya Allah, La, La. Malang bener nasib kamu," batinnya lagi.
***
Vey tercengang ketika tak sengaja mendapati berita di televisi. Dia tak jadi pamit pulang.
"Kenapa, Na?"
Vey menggeleng. Dia kembali duduk. "Jangan diganti channel-nya." Dia menahan tangan Abimana.
Abimana terbengong memperhatikan wajah Vey yang berubah. Dia kembali meletakkan remot.
Polisi berhasil menangkap papanya Kafil di daerah Kalimantan perbatasan dengan Malaysia. Dan, kini dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan memakai pakaian yang menandakan dia telah menjadi terdakwa. Dalam berita itu, disebutkan bahwa dia telah memakai narkoba selama tiga tahun lamanya. Melalui seorang bandar narkoba internasional yang keberadaannya kini masih menjadi buronan.
"Kenapa ditangkapnya di Indo? Terus kamu gimana, Kaf? Itu tandanya kamu masih aman, kan? Meski kamu dekat dengan Papamu, kamu nggak seperti dia, kan?" Relung hati itu berbicara.
Masih ada kecil harapan dirinya bisa bertemu dengan Kafil. Meski misalnya pertemuan itu hanya akan menjadi pertemuan terakhirnya. Hubungan itu harus diakhiri baik-baik. Dia belum bisa menerima bila statusnya adalah sebagai perempuan yang dicampakkan meski telah direlakan.
Vey tidak sadar bila dia tengah diperhatikan Abimana.
"Nana?"
Vey bergeming. Pandangannya terlihat seperti orang melamun.
"Jika Kafil tidak terlibat, melihat Papanya sudah ditangkap begitu, harusnya dia tidak perlu bersembunyi lagi. Mungkin akunnya sudah diaktifkan lagi," pikirnya. Dia buru-buru memeriksa smartphone-nya.
Vey salah menduga.
"Na, kamu baik-baik saja?" Abimana menyodorkan segelas air putih.
Vey justru bangkit. "Aku pamit." Ngeloyor tanpa salam.
Setiba di kantor Akbar, dia harus menunggu karena Akbar masih meeting dan akan selesai beberapa menit lagi. Tak lama kemudian hujan turun cukup deras.
"Kenapa lagi, Vey?"
Vey menoleh. Bangkit. "Kita harus ngomong."
"Apalagi?"
Akbar mengarahkan Vey agar ke ruangannya saja. Mereka berdua duduk.
"Pasti kamu udah tahu beritanya."
"Penangkapan maksudmu?"
"Ya. Sekarang aku mau kamu jujur, apa Kafil terlibat?"
"Nggak tema lain?"
"Bagiku ini penting." Vey menegaskan.
"Jujur, Bar, jujur."
"Dulu aku bilang ke elo. Ketimbang elo syok."
"Maksud lo Kafil terlibat?"
"Vey, lo harus terima kenyataan."
Vey meremas tangan dengan mengepalkannya. "Seharusnya kamu bilang dari awal."
"Aku nggak tega lihat keadaan lo begini."
"Sebagai temen deket, kamu bener-bener...bikin aku nggak enak ati."
"Aku tahunya juga nggak sengaja, Vey."
"Aku kecewa sama lu. Lu nggak bisa ngertiin perasaan perempuan, Bar."
Lagi-lagi Vey pulang tanpa pamit.
__ADS_1