Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 94 "Cerita Sebenarnya"


__ADS_3

"Rif, selamat, ya. Aku ikut seneng ternyata kamu perfect banget. Maaf aku nggak ngerti sama sekali. Kakakmu juga bungkam."


"Ya emang itu bukan rahasia umum, Bu Nyai. Nyantai aja."


"Berarti sekarang kamu sudah jadi mantunya Kiai jangan-jangan. Hayo ngaku!"


"Memangnya Kak Vey kamu ngomong sesuatu kalau aku habis nikahan?"


"Enggak juga."


Kala sesekali menoleh karena Gus Naba dan putranya lewat.


"Sebelumnya maaf banget, ya, nanti mungkin aku nggak bisa nemenin lama-lama. Nggak enak dilihat mereka."


"Apa bisa kapan-kapan kita ketemu? Sekalian ngajak suami kamu juga. Kira-kira Gus Omar bisa?"


"Waduh ya itu aku harus izin dulu, ya, Rip. Semenjak Ruma. nikah dan pindah ke rumah suaminya, kayaknya dia juga belum pasti bisa juga. Dia pindah Gondang Wetan, satu daerah dengan Mbak Yaya nih. Tapi aku kabarin dia coba, ya. Nomor kamu ganti, kan? Nomor aku masih sama, kamu chat aja."


"Nggak apa-apa?"


"Iya nanti aku pasti ngomong ini semua ke Mas."


"Iya, Bu Nyai Kala."


"Apaan." Kala mengelak panggilan itu.


"Tujuh tahun nggak ketemu, tahu-tahu Ruma sudah menikah, pastinya aku ingin sekali ngobrol banyak dengan kamu dan mereka berdua. Ajak Kak Vey juga kalau dia nggak sibuk."


"Insyaallah. Tapi, aku nggak janji lo. Aku harap kamu ngerti posisi aku sekarang."


Kala bersolek seperti biasanya demi menunggu Gus Omar masuk kamar--masih mengisi kajian kitab tambahan dengan santri kelas wustho dan meeting sebentar dengan beberapa dosen. Dia menepi di ranjang dengan hanya menyibukkan diri dengan handphone. Saking penasarannya dengan status Syarif yang tiba-tiba sudah menjadi al-hafiz.


Demi mengusir dingin yang membelai separuh tubuhnya yang terbuka, Kala menyelimuti dirinya dengan selimut. Merebah dan mulai mencari tahu setelah beberapa menit yang lalu, Syarif mengirim pesan padanya. Dan, terkejutlah dia untuk yang kedua kali.


Ada lima belas foto yang diunggah selama enam tahun ke belakang. Lima foto di antaranya foto dimana Syarif berada di sebuah kampus Ahqaff University dan tempat bersejarah di Yaman. Dia juga meng-upload foto dirinya tengah bersungkem dengan Habib Umar dalam sebuah majelis. Dan, itu bertanda bahwa selain kuliah di Al-Ahqaff, dia juga sering tabarukan ke Hadhramaut, Tarim. Dua lokasi yang keduanya berada di Yaman.


Kala mengirim chat-nya tanpa basa basi lagi. Tak juga gengsi dan menjaga image.


^^^"Rip, kamu kuliah di Yaman?"^^^


"Enggak."


^^^"Jangan bohong kamu. Terus?"^^^


"Itu mampir aja karena santri Daris ada yang kuliah di sana."

__ADS_1


^^^"Jadi pas kamu ke Tarim kamu juga ke Al-Ahqaff begitu maksud kamu?"^^^


"Iya."


^^^"Ya Allah, Rif, aku aja belum pernah ke sana. Kamu pas di sana doain aku nggak? Hehe."^^^


"Iya pastinya."


^^^"Apa?"^^^


"Aku siap menunggu jandamu. 😆😂😂✌️✌️."


^^^"Innalillahi. Rif, kok gitu? Hapus chat kamu."^^^


"Biarkan saja, Bu Nyai."


^^^"Hapus nggak? Aku laporin kamu ke Gus Omar. 🙄🙄🙄😒😏."^^^


"Iya iya. Bercanda, Bu Nyai 🙏🙏." Syarif pun menghapus pesannya.


^^^"Intinya aku doakan kamu dan keluargamu. Jangan khawatir. Baik semua doaku."^^^


"Alhamdulillah. Moga maqbul, Ya Allah. Aamiin."


Percakapan terus berjalan. Tak sadar hingga setengah jam kemudian. Kala memeriksa jam, berharap Gus Omar lebih cepat ke kamar karena sudah pukul setengah sebelas.


Dan, demi mendengar cerita singkat itu, Kala tak berhenti berdecak kagum pada sahabatnya. Dia membayangkan betapa hebohnya Mela dan Ruma jika sudah mendengar ceritanya. Itu menambah tidak kesabarannya untuk segera melampiaskan temu.


Kreek!


"Mas?"


"Hmm."


"Sudah?"


"Sudah."


"Lancar?"


"Alhamdulillah."


"Sudah saya siapkan semuanya. Baju dan parfumnya."


Sebelum ke kamar mandi, Gus Omar sempat meninggalkan salivanya di rona kemerahannya wajah Kala.

__ADS_1


"Makasih. Jangan lama-lama. Pengen cepetan mbucin sama njenengan," ujarnya manja.


"Iya, Cah Manisku, Salihahku."


Kala pun berpamitan singkat pada Syarif. Beralasan sudah malam.


Meski memang sudah sangat larut, Gus Omar masih harus membuka kitabnya di tablet yang dia pegang sekarang. Sembari sesekali memperhatikan Kala menunjukkan pesan-pesannya dengan Syarif, sekaligus menceritakan pertemuannya siang tadi.


"Yang penting kamu tahu batasan. Sedekat apa pun kamu dulu dengan Si Syarif itu, dia tetaplah seseorang yang tidak halal untuk kamu." Begitu ucap Gus Omar yang tidak memandang wajah Kala.


"Enggeh, Mas. Saya minta maaf terlalu banyak ngomong."


"Nggak papa. Dia sudah punya calon belum?"


"Kurang tahu. Belum mungkin. Tapi, kalau lihat dari perubahan dia sekarang, kok sepertinya sudah, nggeh."


"Kalau belum, kapan-kapan suruh dia ke sini lagi nemuin aku."


"Mau njenengan jodohkan?"


"Enggak. Diajak ngobrol saja."


Kala melirik Gus Omar yang tetap bisa fokus pada apa yang dibaca meskipun juga sedang berbicara kepadanya.


"Gus, saya merebah di sini." Sebelum diiyakan, Kala menjatuhkan kepalanya di kedua paha Gus Omar.


Esok harinya Kala bangun lebih awal. Sama seperti hari sebelumnya, dia berharap usahanya semalam akan membuahkan hasil di bulan ini, dua garis merah. Setelah menyelesaikan semua rangkaian bersucinya, dia keluar kamar untuk mengambil sesuatu di dapur. Berniat sahur puasa senin.


"Mbak Yaya?" panggil Kala. Nurmaya pun berjingkat karena dirinya hanya memanggil sekali, lalu tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.


"Mau puasa juga?"


Nurmaya menggeleng.


"Mendingan kamu tidur lagi, Mbak. Kamu emang jadi abdi ndalem lagi, tapi kamu harus istirahat juga. Kondisi kamu nggak kaya dulu lagi."


Meski Nurmaya lupa segala tentang dirinya, kecuali dua nama, abah sepuh dan Gus Omar, dia tidak lupa dengan kebiasaan lama yang sudah dilakukannya bertahun-tahun lalu. Karena itulah saat dia diminta Gus Omar untuk kembali ke pesantren, dia mengiyakan tanpa banyak kata. Di tangan Gus Omar, dirinya seolah-olah terkendali. Berdasarkan pertimbangan atas kemalangan nasib dirinya pada waktu itu, dicerai setelah empat tahun menikah tanpa kebahagiaan.


"Saya baru membuatkan roti bakar untuk Gus Omar dan njenengan, Ning Kala."


"Mana?"


Nurmaya menunjukkannya.


"Makasih, ya. Nggak aku ambil semua. Kamu makan juga. Ini aku bawa ke kamar.

__ADS_1


Nurmaya mengangguk. Tersenyum sangatlah tipis.


"Yaya, malang bener nasibmu. Kamu wanita yang sangat baik, kamu sabar, kamu punya pengabdian yang luar biasa. Tapi, kenapa ujianmu sebesar ini, Ya? Aku nggak tega sebetulnya. Setelah kamu pisah dengan Pak Abi, kalian juga nggak pernah ketemu lagi. Kamu pasti menghindar dari dia. Gimana kalau seandainya dulu aku yang nikah dengan Pak Abi? Mm ... aku nggak tahu bisa sekuat dia atau enggak. Dan ternyata Allah ngasih aku suami yang jauh luar biasa."


__ADS_2