
Meski usia sudah tak lagi muda, Sayyid Omar tak kunjung menemukan calon istri seperti yang diidam-idamkannya. Meskipun juga telah haji sekali dan umroh tiga kali, terakhir saat usianya sudah tiga puluh delapan tahun--dua tahun lalu--ternyata doa-doanya masih ditangguhkan hingga kini.
Berbagai cara sudah dia cari. Tak sekadar menunggu karena dia adalah pria sejati yang tak akan pantang mundur sebelum memperoleh impiannya. Dia datang kepada salah seorang kiai dari Magetan, bernama Kiai Bahar, meminta doa barakah dan amalan. Dia menerima tawaran perjodohan dengan salah seorang putri kiai dari Sleman yang akhirnya pun gagal di tengah jalan. Bahkan, ketika dia mencoba membuka diri, memandang santri-santrinya sendiri pun tak ada yang menurutnya cocok. Saat tiba pernikahan kawan-kawannya, yang juga seorang gus, dia juga mendapatkan doa-doa istimewa. Yang pada intinya, sampai sejauh ini Allah belum memantaskannya untuk berumah tangga.
Apakah dia terlalu muluk-muluk meninggikan kriteria? Tidak. Dia tak menentukan pilihannya berdasarkan ras, latar belakang, trah, ataupun keilmuan. Dari tahun ke tahun, dia semakin sadar bahwa sebagai manusia biasa dia tak mungkin terlalu menjadi lelaki pemilih. Sampai akhirnya dia melakukan banyak hal untuk mencari tulang rusuknya yang hilang.
Berulang kali dia datang ke makam ibunda, mengirimkan hadiah fatihah yang sudah tak terhitung bilangannya. Berulang kali dia melakukan sembah sujud pada abah sepuh yang kini telah terkulai lemah di tempat tidurnya--yang dalam dua tahun terakhir sudah tak mampu lagi mengurus pesantren yang terus bertambah santrinya dari tahun ke tahun.
Ke tujuh saudara dimana yang kelimanya membersamai Sayyid Omar mengelola pesantren, juga tak tinggal diam. Bila datang kesempatan, ada siapa pun yang datang mencari calon suami, mereka tak segan-segan menawarkan Sayyid Omar. Namun, ada yang kemudian mundur melihat usia Sayyid Omar telah empat puluh tahun. Tapi, ada pula yang beralasan, menganggap Sayyid Omar terlalu luar biasa untuk dijadikan seorang suami. Akan selalu datang beribu macam alasan jika memang takdir belum merestui.
Padahal jika dilihat dari penampakannya, Sayyid Omar adalah pria yang tampak lebih muda dari usianya. Wajah bening itu sangat membohongi usianya sekarang. Dia lelaki yang penyabar dan menjaga wudu, meskipun dia bukan pria berpendidikan--hanya sekolah hingga tamat sekolah menengah pertama. Bukan karena tak mampu, tapi dia hanya ingin fokus mengembangkan diri di ilmu agama. Karena, dia tahu suatu saat nanti dia akan menjadi pemegang tonggak perkembangan pesantren beberapa tahun ke depan.
Malam ini, setelah dia usai manaqib-an bersama santri putra dan putri yang jumlahnya hampir seribu, dia memanggil Kabir Khan--santri blesteran india dari simbah. Dia meminta Kabir untuk masuk ke kamar pribadinya.
"Kabir, minta tolong dipotongin rambutku. Ini sudah kelewat pundak. Seperti biasa nggak usah panjang-panjang. Lima senti aja. Yok!" Omar menyuruh Kabir memegang gunting dan sisir di meja.
__ADS_1
"Iya, Gus."
Kabir pun memulai merapikan rambut gelombang Omar.
"Sebetulnya aku kok sayang banget Kang Abi nggak mau lagi tinggal di ndalem ini. Apa dia sudah nggak krasan, Bir? Tahu kamu?"
"Bapaknya kan modin, ya, Gus. Setahu saya dia diminta Bapaknya boyong agar lekas bisa mengabdi di masyarakat."
"Loh, tapi saudaranya kan ada empat. Dia anak kedua to."
"Iya, Gus. Anak kedua."
"Kenal tiga tahun. Tapi, baru dekat setahun belakangan, Gus."
"Kamu sudah tahu kalau dia itu lulusan luar negeri?"
"Sudah, Gus."
__ADS_1
"Itu juga yang membuat aku dulu agak berat memberinya izin boyong. Pa dia udah mau nikah, ya?"
"Menikah? Mmm..." Kabir dengan hati-hati memotong rambut Omar agar tidak sampai melebihi lima senti. Karena, Omar tak suka jika rambutnya terlihat lebih pendek dari biasanya.
"Belum kok, Gus. Saya tidak dengar apa-apa. Seandainya Kang Abi mau menikah, dia pasti sudah memberitahu Gus Omar."
"Iya juga, Bir."
Kabir kembali menyisiri rambut Omar. Memastikan potongannya sudah rapi.
Rambut hitam legam itu akhirnya kembali seukuran semula sebelum beberapa waktu memanjang. Rambut yang setiap dua hari sekali selalu dikeramasi. Rambut yang lebih sering dibiarkan terurai daripada dikuncrit. Rambut yang jarang tersentuh minyak rambut.
Rambut yang menurut Omar, membuatnya tampil dengan style khas. Bukan Omar jika tak berambut panjang. Bahkan, dia sudah terbiasa memanjangkan rambut sejak usia SMA, tapi tidak pernah sekali pun mewarnainya dan sangat menjaga kesehatan rambutnya.
Omar pun menyuruh Kabir pergi. Dia termangu di depan kaca sembari membatinkan doa bercermin. Walaupun di depan semua santrinya dia tak pernah menampakkan rasa sedih dan kecewa, tapi dalam kesendirian itu dia menyimpan rindu yang sangat mendalam. Saking dalamnya, tak ada seorang pun yang tahu bagaimana perasaannya yang sesungguhnya. Dia begitu ingin merasakan bagaimana berdampingan dengan kekasih bernama istri. Di atas semua usaha yang telah dilakukannya, dia terus mencoba bersabar atas semua ujian hatinya. Sekali lagi dia adalah pria yang penyabar.
Dia jarang sekali menyentuh wanita yang bukan mahramnya hanya karena ingin senantiasa melanggengkan wudunya. Kalau pun dia harus bersalaman karena rasa penghormatannya, maka dia akan segera berwudu di waktu senggangnya. Seperti misalnya ketika dia akan berjabat tangan dengan keponakan kakak iparnya, kepada tamu-tamu wali santri yang kerap mendatanginya. Atau, dia akan menemui wali santri jika abah sepuh tidak kerso ditemui. Kebiasaan menjaga wudu itu sudah begitu melekat dengan dirinya.
__ADS_1
Kata orang-orang, itu menurun dari sikap dan kebiasaan bu nyai dulu sebelum sedo (wafat). Sehingga banyak pula orang yang bilang--mereka yang sudah mengenal lama seluk beluk keluarga pesantren--bahwa Omarlah yang paling cocok untuk menggantikan posisi abah sepuh. Walaupun, dia adalah putra nomor dua.
Ini dia yang penasaran ama Gus Omar.. 😊😊 Gus berambut ombak sepundak dengan warna hitam legam seperti kegelapan malam.. Met baca.. 😊