Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 41 "Dua Keinginan"


__ADS_3

Jangan lupa berdoa. Bismillah 🤗


Pagi ini ndalem kesepuhan dihebohkan oleh kegupuhan Nurmaya. Nurmaya keluar dari kamar abah sepuh dengan tergopoh-gopoh. Gus Omar yang sedang ada di pondok putra pun harus memutus jam mengajar kitab. Ning Bulqis meminta Nurmaya agar memanggil.


"Nganu...Gus...Abah sepuh tiba-tiba mengeluh sakit di dada." Nurmaya yang berkata.


Gus Omar tak menjawab. Namun, terlihat dari langkahnya yang panjang-panjang segera menuju ndalem.


Lalu, akhirnya abah sepuh harus dilarikan ke rumah sakit. Gus Omar dan Ning Bulqis serta sopir yang berangkat. Ning Bulqis tak lupa memberikan pesan kepada Nurmaya. Jika ternyata kemudian abah sepuh dinyatakan harus rawat inap, maka Nurmaya harus ke rumah sakit bersama kang sopir untuk membawakan pakaian dan sebagainya.


Sampai larut malam pun, Gus Omar tetap stay di rumah sakit. Malah menyuruh Ning Bulqis dan Gus Naba, juga Gus Asri agar pulang. Karena, Nurmaya pun sudah membawakan pakaiannya dan pakaian abah sepuh sehabis magrib tadi. Tinggallah dia seorang diri. Mengisi keheningan dengan membaca Alquran.


Sekitar tiga puluh kemudian, lalu dia termenung. Mengalihkan perhatian sebentar ke arah handphone-nya yang menyala. Ada notifikasi masuk. Pesan Paman Gani membuatnya tak langsung bisa membalas. Dia justru beranjak untuk menunaikan salat istikharah karena masih memiliki wudu.


Paman Gani memberitahukan siapa dan bagaimana dua keponakannya itu. Namun, Paman Gani juga berterus terang bahwa Veylah yang akan dikenalkan. Sebab itulah dia memohon petunjuk agar dimantapkan. Barulah setelah dia bermunajat beberapa menit, dia membalas pesan itu.


Gus Omar mengiyakan pernyataan Paman Gani. Juga menentukan tempat dan harinya sekaligus. Hanya saja dia tak mau memberitahukan tanggal karena masih harus menunggu kesembuhan abah sepuh.


Dia kembali bangkit dan menduduki kursi.


"Abah, segeralah sehat! Santri-santri masih membutuhkan doa Abah. Aku juga masih ingin melihat Abah duduk di pelaminan memberikan restu padaku. Abah doakan kula pengen pikantuk (mendapatkan) jodoh yang terbaik. Aku akan tetap mengkhitiarkan itu. Aku akan menjemputnya setelah ini jika kita memang berjodoh, Bah. Namun, sebetulnya aku ingin sekali mendengar wejangan Abah apakah bener perempuan itu yang harus kupilih," katanya lirih.


Dan, rupanya Nurmaya mendengarkan itu dari balik pintu. Seperti diremas hati itu. Sakit tak berdarah. Dia harus menerima kenyataan itu lagi, bahwa bukan kepadanyalah Gus Omar menghendaki. Apakah panggilan nduk yang dilencanakan kepadanya itu sebagai tanda mutlak dia tak akan menjadi bagian dari perempuan terpilih? Dia tak mampu menahan debar yang berkecamuk.


"Siapa perempuan itu? Ya Allah, apakah aku tidak mampu menjadi perempuan itu?"


Tak sengaja Gus Omar menulis di belakang pintu. Mendengar kelesik lirih seperti. Lalu, beranjak memeriksa.


"Loh, Ya?"


Nurmaya terperanjat. Sejurus membersihkan sudut matanya. Tak berani menatap Gus Omar.


"Kenapa? Ada yang ketinggalan, Nduk?"


"Diminta menanyakan, njenengan nitip apa, Gus? Makanan atau apa ngoten. Kata Ning Bulqis supaya diantarkan kang, Gus."


"Oooh. Nggak usah. Aku bisa pesen greb food kalau aku pengen. Kalau mau anterin makanan besok pagi aja sekalian. Aku request ayam pedas manis, ya, Nduk. Yang pernah kamu masakin, terus aku bilang enak itu, Nduk."


"Gus, tolong sekali-kali panggil aku Nurmaya," batinnya.

__ADS_1


"Nggeh, Gus. Besok sesudah kegiatan pagi, saya ke sini. Ada lagi, Gus?"


"Mbak, kamu serius ta nggak mau sama Abimana?"


"Kok malah ke situ?" batinnya.


Nurmaya menunduk semakin dalam. Tak sanggup menjawab iya dan tak mungkin menolak terang-terangan.


"Kemarin memang Abimana jawabannya begitu, tapi kalau dibujuk lama-lama dia juga mau."


Nurmaya memberanikan diri. "Kenapa saya, Gus?"


"Kamu kesayangan ndalem. Begitu pula Abimana. Pengabdian kalian bisa dilanjutkan bersama-sama setelah menikah. Menurutku kalian cocok."


"Menurutku tidak, Gus," batinnya.


"Cobalah sekali-kali istikharah, Nduk! Nggak ada salahnya juga. Apa kamu sudah punya kriteria sendiri?"


"Su...dah, Gus."


"Beneran? Siapa?"


"Aku bisa bantu kamu kalau laki-laki itu di pesantren ini. Santri kan?"


Memang susah bagi seorang Gus Omar untuk membedakan mana antara pengabdian dan cinta, sedangkan keduanya adalah perkara yang sangat dekat. Jelas dia tidak bisa menerka perasaan Nurmaya yang sesungguhnya. Dia benar-benar tidak tahu. Sikap lembut dan penurut itu memang sering sekali ditunjukkan oleh semua santri putri, termasuk santri-santri ndalem. Baginya, sikap santri putri yang demikian adalah keambiguan yang sifatnya masih begitu muskil untuk disimpulkan.


Nurmaya terpekur sejenak. Lalu, memilih berpamitan karena sudah terlalu malam. Dia berharap caranya mengakhiri perbincangan tidak menyinggung perasaan.


"Oke. Silakan!"


Nurmaya melangkah lembing. Pelan dan tak bertenaga.


"Mengapa perasaan ini terus tumbuh? Siapa yang memupuknya? Apakah karena aku telah memutuskan aku telah jatuh cinta? Ya Allah, sesungguhnya tiada yang bisa menumbuhkan perasaan melainkan itu adalah bagian dari rahasia besar-Mu, Rabb. Takdirku adalah sebagai putri dari seorang nelayan yang dulunya tukang becak. Besar hayalku agar bisa bersanding dengan putra kiai. Jika dia bukan jodohku, hapuslah perasaan ini, Ya Rabbi." Nurmaya semakin bingung sendiri. Sibuk menerka maksud Tuhan menumbuhkan perasaannya.


***


"Nana gimana, Bi?"


Abimana menoleh begitu keluar dari pintu LBB Najah. Bapaknya baru selesai berbincang-bincang dengan salah satu wali murid yang belajar di tempat lesnya.

__ADS_1


"Pelan-pelan."


"Ini lo tadi Bapak ditawari. Mbak e si bocah cilik kerudung merah jambon tadi, sudah perawan. Usianya dua puluh empat."


"Sama seperti Nana, Pak." Abimana mengunci pintu.


"Terus perkembangannya bagaimana?"


"Alhamdulillah...ya Nana itu sebetulnya baik. Tapi, dia emang antusias banget, Pak, kalau ngobrol pekerjaan. Jadi kemarin Abi pesen hadiahnya untuk anak-anak itu ke dia."


"Yo sekali-kali kamu main lagi ke rumahnya. Kalau pintu terbuka lebar, nanti Bapak bantu bicara."


"Bapak serius merestui?"


Pak Cipto menyentuh pundak Abimana. "Diusahakan dulu. Kalau jodoh alhamdulillah."


Abimana tersenyum tipis.


Mereka melangkah bersama.


"Tadi Bapak jawab gimana ketika ditawarin Pak Taji?"


"Bapak jawab kamu sedang ikhtiar. Pak Taji langsung paham maksud Bapak."


"Jadi, sebetulnya beberapa minggu lalu, Abi ditawarin Gus Omar menikah dengan Nurmaya. Abdi ndalem. Tapi, aku nggak cocok, Pak. Dia terlalu lugu."


"Lhooo, ya wong wadon kalau lugu wajar, Bi."


"Bapak kaya nggak ngerti pilihan Abi." Ibunya yang sedang di teras membuang sampah menyambung tiba-tiba.


"Memangnya Ibuk ngerti?"


"Lha ya ngerti. Kalau Abi demen sama Nana, itu berarti Abi demenannya yang mandiri, cantik, pemberani, dan nggak kalem. Iyo, kan, Bi?"


"Nggak gitu juga, Buk." Abimana tersenyum. Sukar menjelaskan. Karena perasaannya sudah bermula sejak dulu, ketika apa-apa yang ada pada Vey sekarang tidak dia temukan di masa kecil Vey dulu.


"Apa milih yang seperti Ibukmu?" Pak Cipto berkelakar.


"Kalau yang itu cintanya Bapak," bisik Abimana sembari melenggang pergi.

__ADS_1


__ADS_2