
📞"Ya tahulah, Mbak, gimana kondisi Mas Abi pasca kecelakaan. Mbak Yaya juga gitu."
📞"Boleh aku tahu gimana kondisi mereka, Niar?"
📞"Boleh banget. Aku lama mau nyeritain ini ke Mbak Nana, tapi takut ganggu. Kalau Mbak Nana mau denger ya kebetulan banget, kan. Gini lo, Mbak. Aku tu makin kasihan sama Mas Abi. Mikirin LBB, kondisi Mbak Yaya yang masih sering pingsan, dan mikirin diri sendiri. Mas Abi sekarang jadi lebih sering emosi. Beneran nggak kaya dulu, Mbak. Sekarang Mas Abi itu bisa marah."
📞"Karena banyak masalah itu?"
📞"Iya, Mbak."
📞"Berarti Yaya masih parah banget?"
📞"Mbak Yaya itu sampai sekarang belum mau disentuh Mas Abi. Mas Abi bingung gimana cara memperlakukan dia. Kadang Mbak Yaya setengah kaya orang linglung. Diem aja. Mas Abi ngerasa bersalah sama orang tua Mbak Yaya. Mbak Nana ngerti, kan, kalau sebetulnya Mas Abi itu menikahi Mbak Yaya karena ingin menolong kondisi mereka yang krisis ekonomi?"
📞"Belum ngerti. Juga karena menuruti keinginan Gus Omar?"
📞"Mbak Nana manggilnya kenapa gus? Bukannya harusnya langsung panggil nama atau dek gitu, Mbak?"
📞"Nggak enaklah, Niar. Nggak terbiasa juga. Canggung lo. Aku aja nggak bisa betah di sana. Pengen cepet pulang terus bisa polah."
Niar terkekeh.
📞"Gimana? Karena Gus Omar juga, kan?"
📞"Iya, Mbak. Intinya aku sekarang juga ngurusin Mas Abi dan Mbak Yaya. Soalnya Ibuk ngurus warung dan catering. Komunikasi dengan Mbak Yaya makin susah."
"Kasihan, Mas Abi. Aku jadi merasa bersalah juga ke mereka. Kaya nggak berkah aja pernikahan mereka. Baru nikah bentar langsung dapat musibah sebesar itu. Apa karena pernikahan mereka nggak didasari cinta atau gimana?" batin Vey.
📞"Mbak, udahan, ya. Aku mau bantuin Mas Abi dulu."
📞"Kapan-kapan boleh jenguk?"
📞"Boleh. Tapi, kalau Mbak Nana nggak repot silakan ke sini."
📞"Oke. Insyaallah, ya."
📞"Ya, Mbak. Bye."
"Pengen rasanya aku minta maaf ke Mas Abi atas perlakuanku selama ini. Tapi, gimana ngomongnya. Apa dia juga nyaman? Hmm ... tapi, ah ya sudahlah. Aku nggak perlu ada acara drama. Dia nggak mungkin juga memikirkan itu. Kondisinya aja nggak karuan." Vey bangkit.
"Onni mau ke mana?" tanya Kala.
"Hmm? Aku? Aku mau pulang, La."
"Foto dulu dong. Ayok!"
"Foto dulu, Mbak. Kalian foto aja berdua," kata Gus Omar kemudian.
"Sama njenengan juga dong, Mas."
"Aku fotoin sini. Pakai handphone siapa? Mbak Vey?" Gus Omar menengadahkan telapak tangannya.
Vey memberikan handphone-nya.
__ADS_1
"Ih, Kala gitu, ya. Kakaknya ditinggal di rumah sendirian. Ditinggal nikah duluan pulak. Nggak kasihan apa. Biasanya kalau Kakak perempuan ditinggal nikah duluan sama adik perempuan itu bikin persepsi yang nggak baik tuh buat kakak perempuan," kata salah satu siswa yang lewat di sisi kiri Kala. Mereka tidak menyadari Kala tengah berpose dengan Vey.
"Kok mereka gitu?" batin Kala seraya membentangkan senyuman.
"Senyumnya yang manis, Dek," ucap Gus Omar. Sejurus membidiknya.
Kala memeluk erat Vey. Menatap Vey sembari menunjukkan ekspresi ceria.
"Gitu. Sudah. Bagus semua. Dapat tiga."
Kala mengubah ekspresinya. Memegang tangan Vey. "Onni, makasih banget. Aku cuma bisa ngomong makasih. Thank you very much. Apa pun sikapku selama ini, aku minta maaf. Aku udah jadi Adik yang manja, ngrepotin, nggak bisa banyak bantu juga, dan ... dan aku minta maaf karena sudah nggak bisa satu rumah sama Onni."
"Gara-gara omongan siswi tadi?"
"Iya."
"Ya, kan, mereka nggak tahu kondisinya. Udah abaikan saja. Aku pulang duluan. Kalian hati-hati." Vey hanya menatap Gus Omar sekilas. Lalu, mengucap salam.
"Sayang?"
"Apa, Gus?"
"Kamu bisa lo kalau pengen nginep dua tiga hari."
"Nemenin Onni?"
"Bisa, sih."
"Tapi kok mukanya begitu?"
"Begitu?" Gus Omar melempar tatapan penuh makna.
Kala mengangguk.
"Terus?"
"Jadi, maunya sama panjenengan."
"Tapi, kalau dengan aku nggak bisa cepet, Cah Manis. Mungkin minggu depan atau dua minggu lagi."
"Nggak apa-apa."
"Atau, kamu pergi aja sama sopir. Minta ditemenin arek ndalem. Kamu bisa pulang sore."
"Nggeh, Mas."
"Kenapa sekarang aku pengennya mbucin sama njenengan, sih, Gus? Sebegitu mudahnya aku jatuh cinta. Sebegitu mudahnya njenengan berhasil membuatku nggak bisa jauh walaupun hanya beberapa jam," batin Kala dengan tetap memandang Gus Omar. Degup dadanya mengencang.
"Ya udah kita pulang."
Salah satu siswa mendadak berdehem agak keras di belakang Kala. Jarak dua meter.
Kala dan Gus Omar menoleh bersamaan.
__ADS_1
"Dharma?"
"Selamat, La. Ternyata kamu udah nikah duluan."
Mendengar pernyataan itu, Kala enggan tersenyum lebar. "Mmm ... iya. Makasih banyak."
"Mumpung kamu masih di sini aku mau ngasih kamu sesuatu."
"Sesuatu?"
"Iya." Dharma menatap Gus Omar. "Pak, maaf saya hanya memberikan titipan."
"Santai saja," jawab Gus Omar. Dia mempersilakan.
"Ini, La. Kamu nanti tahu siapa yang ngasih."
Bising tawa santri dan tabuh rebana tak lagi memecah keheningan. Keponakan-keponakan pun sudah tertidur sejak tadi. Kala terduduk di ranjang sendirian, menunggu Gus Omar menghampirinya--Gus Omar masih kumpulan dengan beberapa santri.
"Aku sudah tahu ini pasti bingkisan dari Syarif." Kala membukanya perlahan.
Kotak itu berisi gelang dan pigora. Terpampang foto Syarif, Mela, Ruma, dan dirinya.
"Beneran, kan. Rif, emang kamu nggak ngerti aku udah nikah? Ngapain juga kamu ngirim ginian ke aku. Lagipula kamu di mana? Menanyakan kamu ke Kakakmu itu sudah nggak mungkin lagi. Kalau pun kita nantinya masih ditakdirkan ketemu, aku pengen kamu udah punya cewek, Rif. Kamu harus sukses."
Dan tak lama kemudian, Gus Omar masuk kamar tanpa salam.
"Dek?"
"Mas? Oh, sudah selesai nongkrong dengan santri?"
"Sudah. Tadi hanya bahas masalah kecil. Buka kitab sebentar, sudah beres ketemu jawabannya."
"Hanya membahas itu, Gus?"
"Enggak. Pondok ini harus ada perubahan sanksi. Tingkah santri makin ke sini makin bebal. Sanksi harus di-upgrade."
"Ya sudah njenengan mandi supaya fresh. Saya sudah cantik kok."
Gus Omar pun tersenyum. "Iya, Sayang. Oh, iya tadi bingkisannya dari siapa?"
"Dari Syarif, Gus."
"Syarif temen dekat kamu?"
"Enggeh. Njenengan tidak marah, kan?"
"Enggak. Sama sekali nggak marah. Kamu sudah menjadi milikku seutuhnya. Aku bisa melakukan apa pun ke kamu malah aku mau. Apa yang harus aku khawatirkan?"
"Terima kasih, Gus."
"Aku mandi, ya."
Kala mengangguk.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian. Lampu dibiarkan setengah meredup, tak begitu terang. Tirai digeraikan. Doa-doa kesunahan pun dilangitkan. Mereka bertukar pandangan, napas, dan aroma tubuh. Ketika dunia akhirnya seperti surga yang tak terbilang kenikmatannya. Ya, sudah jelas pada akhirnya Kala menyerahkan kepasrahannya pada malam yang mendebarkan. Inilah kali pertamanya wisuda itu dapat terlaksana.
"Terima kasih sudah membuat saya jatuh cinta." Kala tersenyum menukarkan pandangannya.