Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 98 "Ruang Pasien"


__ADS_3

Vey, Niar, dan Budhe Atun duduk di jok belakang.


"Periksa, Mas. Mbak Na sakit mendadak," ujar Niar seraya menutup pintu mobil.


Mobil melaju pelan. Diputar balik.


Budhe Atun memperhatikan wajah yang kemudian berpapasan dengannya di spion dalam.


"Bukannya ini Mas Abimana itu?"


Nia menjawab, "Iya, Dhe. Aku adiknya. Dan itu Mas Jamal."


"Pripun, Mas, kabarnya? Ngapuntene merepotkan setelah lama tidak berjumpa."


"Enggeh, Bu. Alhamdulillah sehat," jawab Abimana biasa.


Vey terdiam. Merasakan perutnya yang melilit dan tubuhnya yang kehilangan tenaga dalam seketika. Meski demikian, dia mengira Abimana akan menanyakan kenapa dirinya. Ternyata sepanjang jalan sampai ke rumah sakit terdekat pun, namanya tak terpanggil sama sekali. Dia tak bisa menilai kenapa sikap Abimana berubah demikian.


Rembulan tak bersinar terang. Meski suasananya damai, tapi tidak dengan hati Abimana yang kini kembali tertuju pada sosok yang telah lama dicintainya. Di kamar, dia terpekur di atas sajadah dengan keremangan lentera.


"Kenapa sekarang aku tidak berani mendekatimu lagi, Na?" pikirnya.


Sejurus bangkit dengan bertumpu pada sudut meja, lalu mengambil dompet yang tergeletak di kasur. Meski tujuh tahun telah berlalu, cincin itu senantiasa tersimpan dalam dompetnya. Setelah cincin itu tak sampai pada pemiliknya, dia baru membukanya sekarang.


"Harusnya memang ini sudah ada di tanganmu."


Abimana menyimpan kembali cincin itu. Cincin yang menurutnya hanya menjadi cerita lama, saat masa kalabendu cinta pertamanya kandas.


"Na, andai saja dulu kamu langsung mengiyakan lamaranku." Hati kecil itu masih menyayangkan. Ada kekecewaan yang memang tidak pernah disampaikan.


"Di saat kamu sudah sedewasa itu, kamu semakin mapan dan berpengalaman, kamu semakin punya kewenangan untuk menentukan siapa yang paling pantas untuk mendampingimu. Dan, pria sepertiku, apa mungkin layak?"


***


"Mbak Na, sudah sehat?"


"Kamu nggak harus ke sini setiap hari," kata Vey.


Niar tersenyum.


"Lagipula Kala barusan ke sini. Ada Budhe juga. Katanya kamu repot?"


"Aku mengkhawatirkan Mbak Na. Mas Abi udah sering menolak kalau aku bantuin, Mbak. Baru seminggu ini, sih. Nggak tahu kenapa. Anggap aja aku penggantinya Kak Kala yang udah nikah. Boleh pulang kapan, Mbak?"


"Lusa mungkin."


"Emang kemarin diagnosisnya Dokter apa?"


"Ya tipes itu. Bronkitis juga."


"Kalau tahu sakit begini, kenapa Kak Kala kok pulang?"


"Mau nyimak santri katanya. Nanti paling dia juga ke sini lagi."


Niar mengangguk.


"Eh, Mbak, Kak Kala itu sudah hamil belum, ya?"


"Belum."


"Kasihan, ya, padahal udah selama itu nikahnya. Tujuh tahun lo."

__ADS_1


"Doakan aja, Niar. Kala masih muda nggak masalah."


"Tapi, bukannya Gus Omar sudah tua, Mbak?"


"Mau gimana lagi? Biarinlah. Hamilnya nungguin aku nikah mungkin." Vey mencoba berkelakar.


"Awas jadi doa lo, Mbak Na."


"Orang aku cuma bercanda."


Ada yang kemudian masuk ke ruangan pasien.


"Siapa? Mataku nggak jelas," tanya Vey pada Niar.


"Ibuk, Mbak." Niar bangkit. "Ibuk ngerti dari siapa kok ke sini sendirian?"


"Ibuk baru belanja dengan orang warung. Masmu yang ngasih tahu."


"Buat apa?" Niar menerka.


Bu Cipto menjawab pertanyaan Niar sembari berlalu. "Buat apa gimana to kamu itu?"


Niar berbisik, "Kan, Mas Abi nggak pernah bahas soal Mbak Na, Buk."


Bu Cipto duduk. Meletakkan parsel buah yang ditentengnya.


"Terima kasih, Buk, repot-repot ke sini."


Mereka berbincang-bincang kemudian. Berselang sepuluh menit kemudian, Bu Cipto membuka topik lain.


"Apa yang membuat kamu menunda menikah sampai selama ini? Apa ada yang ditunggu?"


Sebetulnya Vey malas menjawabnya.


"Memang kriterianya yang seperti apa? Bukan yang seperti Abimana pasti."


Vey berdehem.


Niar memperhatikan wajah ibunya dan Vey bergiliran.


"Buk?" Niar memukul lengan ibunya.


"Ssssttttt."


Vey menjawab apa adanya. "Yang bersedia tinggal dengan saya, Bu. Satu visi dan misi dengan saya juga."


"Tanpa syarat?"


"Maksudnya Bu?"


"Asal dua kriteria itu bisa dipenuhi, Mbak Nana pasti mau menerima?"


"Ya itu bisa menjadi pertimbangan kuat saya, Bu."


Bu Cipto mengangguk.


"Kalau begitu cepat sembuh. Kapan-kapan ke warung Ibuk lagi."


"Aamiin. Terima kasih."


Niar mengantarkan ibunya sampai ke depan ruangan.

__ADS_1


"Ibuk apa-apaan?"


"Apa bagaimana, Nduk?"


"Ya tadi itu yang pas Ibuk bilang pasti kriterianya bukan Abimana."


"Terus?"


"Buk, kan kedengarannya Ibuk seperti mengingatkan kembali kalau dulu memang Mbak Nana yang menolak Mas Abi. Ibuk kaya sedang memarahi Mbak Na juga."


"Ibuk pulang duluan."


"Hiuh, Ibuk malah pergi."


Niar kembali ke tepi tempat tidur Vey.


"Ngomong-ngomong aku belum pernah nanyain gimana perasaan Mbak Nana pas ditinggal nikah Mas Abi," batinnya.


Keesokan harinya.


Ada Kala, Budhe Atun, dan Syarif yang menemani Vey.


Sama seperti Kala ketika itu, Vey juga kaget mendengar prestasi Syarif saat ini. Di luar dugaan. Bahkan, sudah jauh berbeda dengan Syarif yang dia kenal dulu walaupun dia masih bisa mengenali cara bercengkrama Syarif yang tetap khas.


"Terus gimana udah bisa move on dari Kala belum?"


"Harus bisa dong," jawab Kala bersemangat.


"Belum, Kak. Dia perempuan yang paling spesial yang pernah aku temui."


Vey mencebik. "Masaaak? Mulut buaya atau garangan itu?"


"Dua-duanya."


Vey dan Kala terkekeh.


"Udah, Onni. Bentar lagi mau nikah dengan Nurmaya."


"Apa? Nurmaya? Kok bisa?"


"Di tangan Mas, semua pasti bisa."


Vey menatap Kala. "Maksud kamu Syarif dijodohkan dengan Nurmaya gitu?"


"He.em. Iya, kan, Rip?"


Syarif hanya memperlihatkan bahasa tubuhnya yang tampak mengiyakan.


"Kok mau?"


Syarif dan Kala terkesiap.


"Eh, nggak maksudku enggak begitu. Pengen tahu alasan kamu aja. Memangnya Nurmaya juga setuju?"


"Nurmaya memang belum mengatakan iya, tapi cara dia merespons pemberian Syarif, aku menangkap sinyal baik, Onni. Yang terpenting keluarga Syarif sudah setuju."


"Kukira kalau melihat Syarif anak orang berada, berpangkat, orang tuanya akan sangat selektif memilih mantu. Enggak ternyata," batin Vey.


"Ini sorry lo, sorry banget. Mas Abi sudah ngerti?"


"Harusnya sudah ngerti," jawab Syarif.

__ADS_1


"Menurutku belum. Soalnya Mas tidak cerita apa-apa ke aku." Kala menambahi.


"Lebih baik kita diam aja."


__ADS_2