Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 30 "Mohon Restu"


__ADS_3

Jangan lupa baca doa. Bismillah..🤗😀


Terima kasih sudah berkomentar. Rata2 tebakannya sama, ya... ❤️😅😅. Selamat membaca, Sahabat..


🥀🥀🥀


Di ruang tamu ndalem kesepuhan, Nurmaya dan Abimana tengah duduk bertiga. Bersama Gus Omar yang menyuruh mereka berdua menghadap usai santri-santri salat jamaah zuhur di masjid pesantren. Tentu Nurmaya sendiri bingung kenapa dia harus menemui suasana yang canggung dan mendebarkan seperti ini. Sementara, Abimana terlihat santai dan tak memperlihatkan kegupuhan apa-apa. Mereka berdua masih menunggu Gus Omar menyulut rokok.


Di belakang Nurmaya, gorden warna biru langit itu berkibar tak sengaja. Angin bersemilir ke arah depannya. Membawa keharuman parfumnya yang masih menempel di sarung Gus Omar. Yah, itu memang wangi parfum yang selalu tertempel di sajadah khusus yang digunakan Gus Omar singgah ketika mengajikan kitab di pesantren putri. Berdebarlah seonggok hati yang telah lama menyimpan nama itu. Tersenyumlah bibir warna merah pucat itu. Demi menyambut wajah sang purnama baginya.


Nurmaya dan Abimana masih terdiam. Gus Omar tidak kunjung mengajak mereka bicara. Nurmaya tertunduk sembari meresapi debar perasaannya. Sedangkan, Abimana semakin abai. Wajahnya yang selalu dingin membuat Nurmaya kembali ingat dengan tawaran Gus Omar beberapa waktu yang lalu. Mana mungkin dia akan suka dengan pria yang jarang tersenyum itu.


Seketika Nurmaya membandingkan Abimana dengan Gus Omar. Baginya, mereka berdua sangatlah jauh. Selama ini, dia memperhatikan betul bagaimana tindak-tanduk Gus Omar yang begitu baik pada semua orang. Sumeh dan gampang care dengan santri-santrinya. Meski kepada Abimana baru memperhatikan baru-baru ini, tapi sikap mereka berdua memang terlihat kontras. Sekilas orang akan melihat Abimana sebagai sosok yang jumawa. Ya meskipun tidak demikian adanya. Nurmaya memiliki alasan yang kuat kenapa dia sudah untuk menerima tawaran itu.


"Kang? Nggak pengen nyari calon istri santri sini?"


Abimana sedang melamun. Sampai dia harus meminta pengulangan pertanyaan.


Gus Omar mengudarakan asap rokok. Lantas, meletakkan tangan kanannya di pegangan kursi kayu jati ini dan membiarkan tangan kiri di tengah kedua pahanya yang tak saling berdekatan.


"Pura-pura nggak denger kamu, Bi?" Gus Omar justru menertawakan.


"Ngapunten bener nggak denger, Gus. Gagal fokus."


"Kamu nggak pengen nyari istri santri sini?"


"Kok saya tidak kepikiran ke situ, Gus."


Nurmaya mengucap hamdalah dalam batin. "Lagipula kenapa juga aku dijodohkan sama Kang Abi. Aku merasa nggak cocok sama dia. Pokoknya alhamdulillah banget kalau Kang Abi sendiri nggak suka sama aku."


"Pernah denger Abah ngendikan?"


"Nggeh, Gus. Abah memang dulu pernah memberi wejangan santrinya agar mencari calon istri dari pesantren putri sini."


"Nah itu sudah jelas." Lalu, menghisap rokok.


"Barangkali njenengan yang harus memberi contoh lebih dulu, Gus." Abimana tersenyum mengejek. Sengaja membalikkan keadaan.


Gus Omar terbahak-bahak.


Debar jantung Nurmaya mendadak kencang.

__ADS_1


"Omonganmu, Kang, Kang. Jangan mbatin mentang-mentang kita sama-sama jomblo." Gus Omar masih menyisakan tawa.


"Berarti Ning yang pernah datang itu ditolak dong?" Nurmaya berseru dalam hati.


"Kaulihat itu! Nurmaya kesengsem duluan sama kamu, Bi." Mengalihkan sasaran.


"Eh, eh, mboten, Gus." Dia menggeleng cepat. Pengelakannya terlepas begitu saja. Lalu, menunduk malu.


"Ya sudah kamu boleh kembali ke pondok, Nduk."


Nurmaya mengangguk. Beban pikirannya soal tawaran itu terlepas seketika. Dia menganggap itu sudah tidak menjadi masalah lagi karena Abimana tak mungkin mau menikah dengannya.


"Gus, izin ketemu Abah sebentar."


"Oke. Tapi, nggak usah lama-lama. Langsung aja ke kamarnya. Nggak dikunci." Dia menjawab sembari meletakkan puntung rokok di asbak.


Abimana membuka pintu kamar abah sepuh dengan sangat hati-hati. Abah sepuh kebetulan tidak sedang tidur. Hanya duduk bersandar di tempat tidur.


"Abimana?"


"Inggih, Bah." Dia menyucup punggung tangan sepuh itu.


"Restu apa, Le? Apa kamu sudah mau menikah?"


"Saya ingin berkenalan dengan salah satu perempuan yang dulu pernah saya kenal, Abah. Tapi, ngapunten Abah dia bukan santri Mahbubah."


"Semua itu tergantung kehendak Gusti Pengeran, Bi." Begitulah suara renta itu mengatakan dengan nada yang hampir tak terdengar.


"Saya mohon izin dan restu, Bah."


"Semoga Gusti mudahkan semua urusanmu." Abah sepuh membelai lembut kepala Abimana yang tak berkopiah.


Dengan begitu, Abimana tak akan merasa sudah melanggar sabda. Abimana hanya ingin bebas menentukan kepada siapa hatinya akan memilih. Dan, sebentar lagi dia akan meneruskan niatnya ber-taaruf dengan Vey. Melanjutkan perasaan masa lalu yang sempat terjeda oleh ruang dan waktu. Tapi, dia tidak akan langsung melamar Vey agar tak terkesan terburu-buru. Dia berencana akan menjalani perkenalan sampai beberapa waktu. Sembari menumbuhkan rasa suka menjadi cinta.


Sepulang dari Mahbubah, Abimana menyempatkan ke toko buku. Dia membutuhkan beberapa sampul buku untuk anak-anak yang les di LBB-nya. Tadi, ibunya juga berpesan agar membelikannya seratus sterofoam dan kertas minyak dua pack. Saat dia keluar dari toko buku, saat dia hendak belok ke toko khusus peralatan kue, dia tak sengaja bertemu dengan Vey. Dengan tanpa basa-basi dan keraguan, dia menyapa.


"Nana?" panggilnya lirih. Sekilas dia mengamati barang bawaan di motor Vey.


"Banyak banget? Butuh bantuan?"


Vey menatap Abimana dengan raut muka setengah membaca. "Ehmm...sory siapa, ya?"

__ADS_1


"Abimana. Aku kemarin menjemput Nurmaya di rumahmu. Aku makan juga. Kamu lupa?"


"Oooh...mmm....sory lagi nggak fokus. Tadi nanya gimana?"


"Bawa apa aja itu? Butuh bantuan?"


Vey menoleh menatap kardus di jok belakang motornya. "Oh, itu anu...cat aga, cat minyak, aksesoris bunga-bunga, sama...apa, ya, tadi. Banyaklah pokoknya."


Abimana memperhatikan air muka Vey yang kelihatan tidak fokus. Menerjemahkan cara berbicara Vey yang terdengar seperti mengarang.


"Kamu sehat?"


"Ya aku sehat kok. Maaf banget aku lupa kalau Mas Abi pernah datang ke rumah. Ya sudah aku ke dalam dulu, Mas. Permisi, ya."


Abimana terbengong. Vey menahan langkahnya sejenak. Menawarkan senyum tipis sebelum masuk ke toko.


"Nana, Nana?" Dia maju dua langkah.


"Boleh minta nomor WA kamu?"


"Boleh banget. Jangan lupa follow insagremku juga. Kavey_Store. Huruf S setelah under score pakai huruf S kapital. Mas Abi bisa pesan apa aja ke aku."


"O...oke." Dia mengeja senyum.


"Nomor WA-ku ada di linktr.ee. Duluan, Mas."


Abimana tersenyum. Dia langsung merogoh handphone di saku celananya. Mencari akun insagrem Vey, lalu mengikutinya.


Klik. Dia mengirim pesan ke washapp Vey.


^^^"Assalamu'alaikum. Jangan lupa di-follow balik." Centang dua.^^^


Save nomor. Dia memberinya nama Kun Nana. Lalu, kembali menatap Vey yang sedang melihat-lihat pigora putih di dalam toko.


Tak lama kemudian handphone-nya bergetar. Dia tersenyum.


"Siap. 😉😉"


Sejurus muncul notifikasi akun Vey mengikutinya balik.


Lalu, berpapasanlah kedua pasang mata yang tak sengaja saling memandang itu. Vey mengangkat jempol dan memberikan senyuman. Abimana hanya membalas dengan lambaian tangan, pamit pulang lebih dulu.

__ADS_1


__ADS_2