
Kala mempercepat langkahnya. Dia harus menemui Nurmaya sampai dirinya tahu apa alasannya. Meski berulang kali mengingat singkatan GSO, tetap saja dia tak dapat menemukan maksudnya. Sayangnya, Nurmaya enggan ditemui. Beralasan sedang mengaji. Padahal, banyak gerombolan santri putri yang baru pulang madrasah. Karena barangkali berbohong, dia menunggui Nurmaya di saung tadi. Sampai beberapa menit dia tak mendapati Nurmaya lewat di depannya. Dia juga sudah bertanya, tapi mendapatkan jawaban yang sama. Dia yakin mengaji hanya menjadi alasan agar Nurmaya tak bisa ditemui.
"Mbak, saya minta tolong banget. Bisa saya ke kamar Nurmaya ndalem. Bentaaaar, Mbak. Penting. Tadi saya udah ngomong, tapi keburu acaranya dimulai. Katanya dia ngaji."
"Enggak kok kalau ngaji. Dia nggak masuk madrasah. Dari tadi aku lihat dia di dapur ndalem Abah. Masih beres-beres kayaknya. Kan acara tunangannya baru selesai."
Sejurus Kala menyembunyikan tangannya sebelum santri itu cepat menyadari.
"Oh gitu. Makasih, ya."
"Sama-sama, Mbak. Nama Mbak e siapa, sih?"
"Saya...hmm...saya Anjani, Mbak. An-ja-ni."
“Kalau nyambang santri lebih enak siang atau sore, Mbak. Pokok sudah magrib sambangan ditolak. Kalau kirim barang, ya, hanya bisa dititipkan ke pengurus. Nggak bisa ketemu langsung sama santrinya.”
“Iya, Mbak. Tadi sudah dikasih tahu. Kalau gitu saya temui Yaya di ndalem, ya, Mbak.”
“Silakan kalau Yaya memang nggak repot. Soalnya tadi habis ada acara tunangannya Gus Omar. Setahu aku...silakan silakan.”
Kala pergi ke dapur ndalem. Melangkah pelan-pelan seperti maling. Bingung. Dia mendapati ada empat pasang sandal di pintu dapur. Dia mengira salah satunya milik Nurmaya. Dia menepi ke tembok.
“Ya, semoga kamu ada di dalam.”
Desir angin malam pelan menggoyangkan jilbabnya. Lantas ada yang kemudian bersuara. Entah dari mana. Sekadar berdehem. Dua kali sampai Kala harus menoleh ke kanan kiri. Lalu, menatap pohon nangka yang tumbuh cukup tinggi. Dia maju dua langkah untuk melihat wujud pohon itu. Terdengar lagi suara orang mendesis. Persis suara ular. Dia sempat mengira memang ada ular di sekitarnya.
“Apaan, sih, ini?” gumamnya. Dia mencoba mengabaikan, tapi suara itu justru memanggil namanya. Entah kenapa dia merasa suara itu terdengar begitu horor. Bulu kuduknya seketika berdiri. Dia menahan langkah sembari berharap tiba-tiba Nurmaya menyembul dari pintu dapur yang bercahaya itu.
Suara itu kembali memanggil namanya dua kali. Dia menoleh cepat. Arahnya seperti dari belakang, pikirnya. Tak ada siapa pun. Namun, suara itu cepat berubah. Terdengar lumrahnya suara manusia. Menyusul kemudian tawa lirih dari arah jendela. Dia mengerutkan alisnya—mungkinkah dari ruangan itu? Dia melangkah lambat untuk mendekati sumber suaranya. Benar memang. Jendela itu memang sedikit terbuka.
Dari situ, dia bisa melihat beberapa rak yang terisi penuh dengan buku. Hening. Nyaris tak ada suara apa-apa. Sampai kemudian memang nyata terdengar orang memanggilnya dari dalam.
Dan...
Huaaaaaaa...
Kala berjingkat. Denyar ketakutan merambat seketika. Dia mundur selangkah setelah melihat Gus Omar tiba-tiba menyembul dari jendela sembari mengagetinya. Yang ditatap merasa puas mengerjai, sementara dirinya masih menahan gelagapan. Dia menelan ludah.
“Ngapain di situ seperti maling hmm?”
__ADS_1
“Emmm...anu...itu...”
Gus Omar memperhatikannya.
Kala menunduk. “Mau bertemu Yaya, Gus.”
“Itu dia ada di dapur. Langsung masuk aja! Anggap rumah sendiri.”
“Oh...mmm...enggeh.”
Kala tetap berdiri di tempat. Urung pergi karena dia menunggu Gus Omar menghilang dari hadapannya.
“Suka nggak cincinnya? Kalau enggak, kapan-kapan ditukar.”
“Suka.”
“Siplah.”
Gus Omar menoleh ke arah kiri. “Yaya? Nduk?” Dia melihat Nurmaya keluar, memakai sandal.
Kala ikut menoleh.
“Nduk, dicari Habibah.”
Jendela kembali ditutup.
“Ada apa lagi, Kala?”
“Aku mau nanya. GSO itu siapa? Apa maksudnya gitu lo? Apa ini ada hubungannya dengan hati? Kalau iya, siapa yang kamu maksud?”
Nurmaya mencipta senyum tipis. Lebih tepatnya dia hanya menghargai lawan bicaranya. Dia memegang lengan Kala sembari berucap, “Lebih baik kamu nggak usah ngerti. Simpan saja sedikit yang kamu tahu, Kala. Aku nggak apa-apa.” Meski dengan mengatakan tidak apa-apa itu tandanya dia sedang terjadi apa-apa, demi kebaikan dirinya harus mengatakan yang selayaknya. Karena hanya bintanglah yang mampu bersanding dengan rembulan. Sebanyak apa pun dirinya menumpahkan air mata, peristiwa pertunangan tadilah yang akan terus dia saksikan kelanjutan kisahnya di hari nanti.
Kala memegang kedua pundak Nurmaya. “Loh, ya nggak gitu, Ya. Kamu kan temenku. Kalau aku ada salah, aku minta maaf. Masalahnya aku nggak ngerti kenapa sikap kamu begitu.”
Kedua tatapan itu saling memahami.
“Aku harus bisa melaluinya sampai aku boyong nanti. Sebentar lagi aku lulus. Ya walaupun hitungannya masih tahunan,” batin Nurmaya.
Jangan ditanya betapa sakitnya. Jangan ditanya seberapa dalam lukanya. Kedalaman laut pun sepertinya tak akan mampu menandingi. Luas pengabdian dan cinta itu, lebih luas daripada samudra. Harapan dan rindu seperti ketika kau melihat garis laut. Tak jelas, tapi nyatanya ada. Mungkin cukup melalui puisi, dia akan menuangkan rasa tentang sulitnya mengemban cinta tak berbalas sama.
__ADS_1
“Kamu nggak salah. Di antara kita nggak ada yang salah.”
Lantas Nurmaya meraih tangan kiri Kala. “Selamat. Aku doakan kamu bahagia.”
Kala terbengong. Dari gelagat itulah dia mulai menemukan sesuatu yang janggal.
“Apa maksud kamu...”
“Sssttt. Nggak usah diteruskan, Kala. Nggak usah dipikirkan juga. Aku tahu, kamu sendiri juga merasa sulit, kan, menghadapi hari-harimu nanti.”
Senyuman Nurmaya yang kemudian menutup perbincangan itu. Tanpa mendapatkan jawaban yang jelas, Kala kembali ke mobil. Semua orang sudah menunggu.
Kala terpekur. Memandang jalanan yang masih tampak ramai. Dia memutar-mutar cincin yang masih terasa longgar itu.
“La?” Paman Gani membuka dashboard. Mengeluarkan kotak berukuran sedang. Lalu, mengangsurkannya ke pangkuan Kala.
“Itu handphone baru untuk kamu.”
Kala menoleh cepat. “Dari siapa, Paman?”
“Gus Omar.”
“Harusnya Gus Omar nggak perlu seperti ini,” batinnya. Karena sikap itu membuat Kala semakin tidak punya kesempatan untuk menolak takdir. Baik, salih, dan sudah jelas keilmuannya. Andaikata perempuan terpilih itu bukanlah dirinya, perempuan itu akan berkata, atas dasar alasan apa aku harus menolak. Bukankah ini sebesar-besarnya kenikmatan?
Usai Paman Gani pamit pulang, Kala meminta Vey duduk sebentar di meja makan. Melarang Vey yang ingin segera ke kamar mandi.
“Kenapa? Soal hape itu?”
Vey meletakkan kedua tangan di meja. “Emang tadi ngomongin apa sama Yaya? Serius banget?”
“Aku ngerasa aneh. Dia mendadak nangis gara-gara lihat aku tadi. Pikirku itu masalah hati. Tapi, emangnya Yaya suka sama siapa? “
Vey menelaah sebentar.
“Kamu hanya terlibat perasaan dengan satu orang, La. Nggak usah mikir jauh-jauh. Jika Mas Abi nggak menyukai kamu, siapa yang sekarang menyukai kamu?”
“Gus Omar.”
“Ya itu jawabannya.”
__ADS_1
“Gus Omar?” Kala tidak percaya.
Selamat menunaikan ibadah puasa ramadhan... semangat dan makasih semuanya...❤️❤️🙏🙏🙏