Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 91 "Wisuda"


__ADS_3

Jangan lupa berdoa. Bismillah. Happy reading. ❤️❤️🙏


Hari ini, tepatnya di akhir pekan minggu keempat bulan Juni, sekolah akan melepaskan satu generasi dengan jumlah ratusan wisudawan dan wisudawati terbaik. Bahkan, kepala sekolah mengatakan bahwa hasil ujian kelas XII dan perkembangan tahfiz tahun terbilang sangat bagus. Sebut saja Kala, peraih terbaik dua se-jurusan unggulan agama, terbaik enam se-sekolahan, dan terbaik satu tahfiz dengan nilai memuaskan, mumtaz dan mutqin. Mengudaralah riuh tepuk tangan yang menyusul kemudian. Membuat sahabat terbaik, Ruma dan Mela, suami tercinta, Gus Omar, dan kakak tersayang, Vey, tak berhenti membentangkan senyuman sepanjang narasi kepala sekolah didengungkan.


Bangga. Sudah pasti Vey merasa bangga bisa menggantikan peran kedua orang tua dengan baik. Perjuangannya selama ini tidak sia-sia. Dia bisa bernapas sangat lega. Tak ada angan-angan lain lagi selain bagaimana caranya kemudian memikirkan dirinya sendiri. Kala telah menikah dan berhasil meraih impiannya. Sedangkan, sampai saat ini dia masih berteman dengan sepi. Fokus bekerja dan menunaikan tugas sebagai seorang guru. Air matanya meluruh. Antara bahagia dan nestapa.


"La, aku udah menjalankan takdirku sebagai seorang kakak. Kamu harus bisa hidup dengan baik bersama suamimu," batin Vey sembari mengarahkan tatapannya pada Kala yang sedang menatap Gus Omar.


"Alhamdulillahi 'ala kulli ni'matillahi wa 'ala zaujatis salihah wa zakiyah." (Aku bersyukur atas semua kenikmatan, istri salihah dan cerdas)


Gus Omar mengacungkan jempolnya. Sedangkan, Kala yang ada di panggung menyembunyikan senyuman bahagianya di balik telapak tangan. Terlebih saat Gus Omar melempar tanda love dengan kedua jari. Kontan Kala menunjukkan deretan giginya.


"Saranghaeyo," gumam Gus Omar lirih.


Penghargaan pun diberikan kepada seluruh wisudawan wisudawati terbaik, baik selempang, buket, medali, dan uang tunai khusus untuk wisudawati tahfiz terbaik satu, dua, dan tiga. Kala pun berbisik, lalu tak lama kemudian dia dipersilakan berbicara di atas podium sebagai wakil para wisudawan.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh." Kala memulai salam. Diikuti suasana yang tiba-tiba berubah hening. Dia melanjutkan dengan muqaddimah, puji syukur, dan beberapa kalimat pembuka dengan bahasa semi formal.


"Saya tidak akan berhenti bersyukur. Karena selama saya belajar, ada seseorang yang sangat mendukung penuh cita-cita saya. Dia adalah Onni. Dia yang sekarang duduk di barisan nomor lima dari belakang pinggir tengah dan memakai jilbab kuning terang. Allah memang baik sekali. Sebelum saya ada di dunia ini, almarhum kedua orang tua saya telah mendidik Onni dengan baik. Lalu, ketika adiknya lahir, hingga adiknya beranjak remaja, dia sanggup terus mendukung keinginan Mama sekaligus cita-cita saya. Onni, makasih, ya. Makasiiih banget. Bahkan, Onni menggadaikan impiannya demi saya. Tiap hari kita kerja keras sampai tidak tidur. Bangun pagi-pagi. Kalau salah satu di antara kita sakit, kerjaan kita pasti keteteran. Tapi, semua itu sudah berlalu. Semenjak ada seseorang yang menggantikan peran Onni, saya sudah bukan lagi menjadi bebannya. Terima kasih juga untuk panjenengan, Gus Omar. Suami saya."


Beberapa orang tampak terkejut mendengar kalimat terakhir Kala. Mereka mempertanyakan kejelasan faktanya sekaligus penasaran dengan hari pernikahan Kala yang selama beberapa pekan telah ditutupi. Dan beberapa orang di samping Vey tampak mewancari.


"Terima kasih, Gus. Jauh sebelum kita bertemu, mungkin keberhasilan saya sejauh ini juga tidak lepas dari doa-doa yang panjenengan berikan pada jodoh panjenengan. Yang ternyata dia adalah saya. Terima kasih juga untuk Bu Maria, guru sekaligus teman curhat saya. Bimbingan dan nasihat Bu Maria tidak akan pernah saya lupakan. Termasuk nasihat-nasihat pernikahan yang sedikit demi sedikit sedang saya terapkan. Dan, tidak lupa untuk Bestie terbaik, Mela dan Rumaisya. Terakhir, untuk semua Bapak dan Ibu guru yang telah bersabar memberikan ilmu kepada saya. Semoga berkah dan menjadi amal kebaikan di akhirat kelak." Usai menutup kalimat, Kala beringsut duduk.


Di penghujung acara, semua siswa berfoto bersama teman sekelas, wali kelas, dan kepala sekolah. Kala menunggu gilirannya dengan memberanikan diri duduk di sebelah Gus Omar yang sedari tadi belum berpindah posisi dari kursi sofa, VIP.


"Kok berani ngomong begitu tadi?"


"Hehe. Tidak apa-apa. Pengen."


"Udah nggak malu lagi?"


"Saya bukannya malu."

__ADS_1


"Ya udahlah. Aku malah seneng Istri kecil dan manis ini berani mengenalkan dirinya sebagai istri orang yang sudah umur."


Kala menatap manja. Memanyunkan bibirnya. "Ampun ngoten ta (jangan begitu lo). Panjenengan itu luar biasa. Saya nggak pernah kok mempermasalahkan usia panjenengan. Pokoknya saya nggak mau, ya, ada kata-kata seperti itu lagi. Awas."


"Oo berani mengancam sekarang?"


"Berani."


Gus Omar mendekatkan bibirnya. Berbisik, "Aku gigit baru tahu rasa kamu."


"Tidak mungkin. Tidak mungkin." Kala balik meledek.


Di barisan belakang, Vey masih terduduk menanti Kala menghampirinya. Dia mengalihkan suasana hatinya dengan bermain handphone. Meladeni pesanan yang masuk dan sedikit mencatat keuangannya bulan ini.


"Onni Vey kok sendirian aja?" tanya Mela.


Begitu pun Ruma yang kemudian ikut menemani.


"Oh, ini ... iya aku sendirian, nih. Nilai kalian gimana?" Vey memperhatikan wajah Mela dan Ruma bergantian.


"Beneran, Kak?" tanya Ruma.


Vey mengangguk.


"Itu aku yang merias."


"Eh, seriusan?" Vey membelalak.


"Serius. Ceritanya Si Mela ini nyari mode gratisan. Makanya dia ke rumahku, deh."


"Aku saranin, Rum, kamu nanti jadi MUA aja. Jadiin sampingan. Lumayan lo. Kita bisa kerja sama kalau suatu saat kamu beneran punya WO misalnya. Kamu MUA, aku bagian dekorasinya dan souvenir."


"Doakan aja, ya, Onni. Belum mikir ke sana."

__ADS_1


"Harus ada progres lo. Ditingkatkan skill kalian."


Ruma meringis.


Mela menjawab pertanyaan Vey tadi. "Nilai aku bagus alhamdulillah. Tapi, tetep kalah sama Kala."


Vey hanya tersenyum tipis.


"Kak, tadi itu temen-temen pada kepo ke aku. Pada kaget Kala udah nikah duluan. Katanya nikah dini. Ada lo yang julid juga. Ada yang iri."


"Udah nggak usah didengerin. Yang penting nggak ada yang ngirain Kala MBA."


"Aku tampol itu orang kalau sampek ada yang berani ngomong begitu." Mela membela


Ruma menambah, "Kala sampai hari ini juga belum hamil, kan. Nggak mungkin ada yang berani bikin opini begitu. Norak banget."


Giliran kelas XII Unggulan Agama yang berfoto di panggung. Mela dan Ruma pamit sebentar.


"Iya. Habis ini foto sama aku, ya."


"Oke, Kak," jawab Ruma.


Vey teringat tiba-tiba. "Gimana kabar Mas Abi sekarang, ya? Sejak di rumah sakit waktu itu aku nggak ketemu lagi. Kayaknya dia jadi nutup diri. Emang berat juga. Belum lagi Nurmaya yang lupa ingatan. Apa aku nyoba telfon Niar aja, ya?"


Klik! Berdering.


📞"Assalamualaikum, Niar?"


📞"Eh, waalaikumsalam. Mbak Nana apa kabar? Maaf, Mbak, ya."


📞"Buat apa?"


📞"Sekarang aku udah nggak maen."

__ADS_1


📞"Kenapa emang?"


Hayo siapa yang galfok sama judulnya? ✌️😂😆✌️✌️


__ADS_2