Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 87 "Ibrah"


__ADS_3

Jangan lupa berdoa. Bismillah. 🤗


"Kalau pun ada, ya akan tetap percuma, Niar."


Niar kembali menatap depannya.


"Musibah itu datang di waktu yang tepat. Ketika Mas Abi sudah menikah. Ada istri yang akan tetap menjaganya."


"Tapi, Mbak Na. Aku nggak tega ngebayangin kalau Mas Abi setelah sadar, lalu tahu kakinya sudah tidak sempurna lagi."


"Yakin aja. Mas Abi pria yang beriman."


"Kalau menurut Mbak Na Mas Abi laki-laki yang soleh, kenapa dulu Mbak Na menolak?"


Lagi-lagi Vey kebingungan menjawab. Ada baiknya jika dirinya memang jujur. Hanya saja kepada orang yang tidak tepat. Bahwa yang sebenarnya terjadi adalah bukan karena dirinya telah menolak secara pasti. Ada satu harapan kecil yang letaknya di bagian relung terdalam. Yang dia sendiri terlalu gengsi untuk mengakuinya. Apalagi, sekarang. Abimana telah beristri. Percuma. Jujur atau tidak jujur keadaannya akan tetap sama.


"Takdir." Vey memangkasnya dengan jawaban yang ringan.


Niar menghela napas.


"Aku emang kasihan, Niar. Sebetulnya aku juga sama seperti dirimu. Bagaimana keadaan rumah tangga mereka selanjutnya? Baru dua hari mereka bersama. Musibah datang sebesar ini. Apa karena saking cintanya Tuhan pada mereka? Karena saking kuatnya iman mereka berdua? Ketika dua manusia beriman telah bersatu, lantas cobaan datang sebesar itu?" batin Vey.


"Mbak, aku nggak yakin lo kalau Mas Abi benar-benar menyukai Nurmaya."


"Emang yang dulu membuat mereka harus nikah?"


"Aku kurang tahu pasti. Aku dianggap bocil. Nggak boleh ikut campur urusan orang dewasa."


"Semuanya udah terjadi. Pelakunya tinggal menjalani. Niar, setelah ini aku minta kamu baik-baik ke Nurmaya."


"Aku baik, Mbak Na. Tinggal adaptasi aja," katanya seraya membersihkan ingus.


Kondisi Abimana dan Nurmaya benar-benar stabil setelah tiga hari kemudian. Abimana sadar ketika tabuh bedug azan subuh berkumandang, sedangkan Nurmaya sadar tatkala kedua orang tuanya telah tertidur--tadi malam. Kini, Abimana bersama Bu Cipto, Niar, dan Vey yang sengaja datang sepulang mengajar langsung ke rumah sakit.


"Na?" panggil Abimana.


Vey terkejut. Nama dirinya yang terpanggil. Dia bangkit dari kursi. Memasukkan handphone.


"Kenapa kamu di sini?"

__ADS_1


"Aku? Aku ya pengen jenguk kamu aja, Mas. Sorry, tapi kalau kamu nggak nyaman, aku bisa pulang sekarang." Vey menunjukkan gelagatnya yang buru-buru. Dia langsung pamitan setelah hanya duduk sepuluh menit menunggu Abimana bangun.


"Na?"


Langkah Vey terhenti di tengah pintu. Dia menoleh.


"Kamu sudah ketemu Nurmaya?"


"Sudah."


"Apa dia ingat kamu?"


Vey menggeleng.


"Mas, baru kali ini aku lihat keadaanmu sesedih ini. Inilah ekspresi yang paling ingin aku lihat darimu. Kenapa kamu baru bisa menunjukkannya sekarang? Keadaan Nurmaya yang sudah tidak bisa mengingat apa-apa, pasti itu yang paling kamu sedihkan," batinnya.


"Syukran (terima kasih)."


Vey mengangguk. Dia mengira Abimana akan menahannya agar tetap tinggal di tempat. Rupanya tidak. Dia yakin saat ini Abimana hanya mengkhawatirkan Nurmaya. Ya, memang tidak salah. Dia tidak menyalahkan itu dan tidak ada gunanya cemburu. Siapa dirinya? Bukan siapa-siapa.


"Mas, kenapa Mbak Na diusir?" Niar merajuk.


"Buk, tolong antarkan aku ke ruangan Yaya."


"Aku ikut," kata Niar.


"Nggak usah. Kamu di sini saja."


Niar cemberut, tapi tetap menurut.


"Jangan galak-galak dengan adikmu, Bi. Kemarin dia nangis-nangis nggak berhenti-berhenti. Nangisin kamu."


Abimana abai.


Begitu masuk ruangan, Nurmaya memalingkan wajahnya. Malu. Tidak tahu sedang berhadapan kepada siapa. Lebih-lebih Abimana langsung hendak menyentuh tangannya. Dia menarik cepat. Memukul tangan Abimana dan melempar kalimat, mengatakan Abimana tidak sopan.


"Kamu nggak ingat siapa aku?"


Nurmaya menggeleng. Menarik selimut ke wajahnya. Perilakunya sekarang setengah mirip anak kecil.

__ADS_1


"Buk, kok jadi begini?" tatap Abimana pada Bu Cipto.


Lalu, menatap orang tua Nurmaya bergantian. "Pak, Buk, saya benar-benar minta maaf. Saya sangat minta maaf. Saya salah. Saya mengakui itu secara sadar. Ngapuntene. Ngapunten." Abimana hampir menangis.


Sore itu. Di rumah Nurmaya yang sangat sederhana. Abimana menyampaikan salam silaturahmi. Berniat melihat secara langsung, bagaimana keadaan keluarga Nurmaya. Persis seperti yang dikatakan Nurmaya atau malah lebih menyedihkan. Ternyata memang persis. Rumah tembok itu, sebagiannya berdinding anyaman bambu.


Dan di ruang tamu itu, orang tua Nurmaya seakan-akan meminta belas. Ada makna lain yang tersirat dari kalimat yang disampaikan mereka dan Abimana memahami itu. Abimana mengerti Nurmaya telah lama memendam pengabdian dan cinta, lalu berakhir nestapa.


"Pak, saya sangat berterima kasih kalau ternyata ada seseorang yang mau, ringan tangan bantu kami. Dengan keadaan yang serba terbatas, saya selaku orang tua Nurmaya mengucapkan terima kasih. Matur nuwun. Gusti Allah yang balas, Pak Abi."


Mulanya, Abimana hanya menawarkan kesediannya membantu semua kebutuhan Nurmaya. Dia melakukan itu atas dasar nuraninya sendiri. Sebagai abdi ndalem, Nurmaya pantas mendapatkan lebih. Dia juga mengirimkan beberapa paket sembako, gula, telur, minyak goreng, dan kelapa kepada keluarga Nurmaya.


"Pak Abi, saya boleh minta tolong?"


"Monggo."


"Kalau seandainya Pak Abi mengenal laki-laki yang sekiranya pantas untuk menikahi anak saya. Saya khawatir hidup Nurmaya akan semakin kekurangan, Pak."


Berlanjut pada kalimat itulah, akhirnya Abimana merenung. Meminta petunjuk berulang kali. Sampai hadir keinginan untuk menikahi Nurmaya. Setengah beralasan karena memberi belas. Namun, tatkala itu Vey juga semakin tak dapat diharapkan. Menikahlah mereka sampai tiba musibah besar ini.


Di hadapan Abimana kini, orang tua Nurmaya hanya bergeming. Tak punya keberanian untuk meminta penjelasan lebih. Dan, Abimana sendiri sudah meminta maaf dan mengungkapkan kesadarannya karena telah melakukan kesalahan yang baginya memang fatal.


"Semua biaya kami tanggung," ucap Bu Cipto.


"Apakah Nurmaya akan baik-baik saja, Nak Abi?" Dengan gaya bicaranya yang sangat medok, ibu Nurmaya bertanya.


Abimana menggeleng. "Kita serahkan semuanya pada Allah. Keadaan saya saja seperti ini. Bapak dan Ibuk nggak perlu khawatir. Selama Nurmaya masih menjadi istri saya, saya akan bertanggung jawab penuh." Di depan orang tua Nurmaya, Abimana harus bersikap sebagaimana mestinya. Menahan kegelisahannya.


Lima hari kemudian, Abimana dan Nurmaya dipulangkan.


"Mbak Yu Situn, nginep di sini ndak apa-apa. Nanti bisa tidur sampai beberapa hari di rumah belakang."


"Kami tidak apa-apa pulang, Mbak Ci. Saya hanya minta tolong, Nurmaya dijaga dengan baik. Pasti setelah ini, dia akan sangat merepotkan."


Abimana mengiyakan.


"Ada Niar. Insyaallah dia siap bantu," tutur Pak Cipto.


Mereka pun akhirnya tetap memaksa pulang. Jika tetap tinggal, mereka khawatir akan merepotkan.

__ADS_1


__ADS_2