
Tak tambahin satu eps hari ini. 🙈🙈😁🤭 Jumat berkah, berkah, berkah....😆
Debar itu kian mengencang. Entah apa yang Kala khawatirkan. Dia melirik Vey masih tetap diam dengan tenang walau sebetulnya debum itu jauh lebih keras di telinga Vey sendiri. Lalu, dia memegang tangan Vey, menunjukkan telapak tangannya yang berkeringat dingin.
Vey menoleh. Membaca kekhawatiran di kedua bola mata Kala. Dia mengedip, lalu kembali menunduk.
Kedengarannya seperti tak usai-usai. Kalimat Gus Omar seperti sengaja diperpanjang pembukaannya. Dua gadis di belakang Paman Gani itu ingin pertemuan ini segera berakhir. Keberadaan Abimana membuat Kala juga tak merasa betah, sangat canggung.
"Dan di pertemuan ini, Pak Gani, saya ingin menyampaikan permohonan maaf..."
"Maaf?" tanya Vey dan Kala dalam batin. Vey mencoba mengangkat wajah. Sedangkan, Kala semakin meremas jari-jarinya.
"Ada sesuatu hal yang membuat saya harus menukar pilihan. Pak Gani, saya ingin melamar Mbak Habibah untuk saya jadikan istri."
Kaget bukan main. Badai dari arah depan menyerang tiba-tiba. Dan, seketika air mata itu berjatuhan di pangkuannya. Napasnya sesak. Kala ingin meneriakkan kata tidak selantang mungkin. Kata-kata Bu Maria dulu benar-benar terbukti malam ini. Bu Maria yang siang itu pernah mengatakan kalau bisa saja dirinya yang menikah terlebih dahulu.
"Nggak mungkin. Nggak mungkin." Kala membenamkan wajahnya. Menunduk kian dalam. Dengan wajah seperti itu, dia tidak akan berani menatap siapa-siapa. Apalagi menatap Abimana, pria yang disukai dan diharapkannya. Susah payah dia menahan suara isak. Sederas apa pun air matanya, dia justru akan bertambah malu jika di tujuh belas tahun usianya dia masih menangis parau seperti itu. Nyatanya memang pedih dan sangat tidak terduga.
"Dia memang masih sekolah. Bagi saya nggak masalah, Pak Gani," tambahnya kemudian.
"Akan lebih baik jika saya rembukkan permintaan Gus Omar dengan keluarga. Khususnya dengan Kala."
"Ya yaa...aku paham. Silakan silakan!"
Bukannya tanpa alasan. Selama di perjalanan menuju rumah makan tadi, Gus Omar bermain handphone. Membuka insagrem, iseng membuka akun ficibook bisnis Vey dan Kala saat satu status lewat di berandanya. Di sanalah dia mendapati nama lengkap Vey.
"Vey Kun Nana Syafa'ah?" Dia menatap Abimana sekilas.
"Nana itu siapa, Bi?"
__ADS_1
"Saya kenal dengan Nana sejak kecil, Gus." Abimana menjawab sekadarnya. Dia agak merasa aneh ketika mendengar Gus Omar bertanya demikian.
"Ohhh."
Dan, seketika itulah Gus Omar mengerti. Membuatnya harus menukar pilihannya. Lagipula sebenarnya dia telah tertarik dengan Kala saat pertemuan pertama di ndalem itu. Dia memang tak memiliki alasan khusus kenapa kepada gadis biasalah hatinya justru memilih. Kepada gadis muda dengan kejamalan nasab, smart, dan fisik lebih sempurna pun dia tidak menghendaki. Keputusan itu kadang memang harus diukur dari seberapa kuatnya keyakinan. Dan, rupanya Kalalah yang mampu membuat hatinya mengatakan iya dengan tanpa alasan yang jelas. Bahkan, Kala juga bukan santrinya. Tak dikenalnya. Tapi, dia yakin akan ada jalan untuk menuju itu. Ada waktu untuk saling mengenal lebih jauh.
Kebetulan Gus Omar juga cukup dekat dengan Doktor Bowo, kepala sekolah MAN Pasuruan. Melalui perantara Doktor Bowo, dia meminta sederet prestasi yang telah dicapai Kala selama ini. Mudah sekali baginya untuk mengetahui informasi itu walau dia tidak mengungkapkan maksud dan tujuannya. Dan, Doktor Bowo juga memberitahunya soal prestasi hafalan yang telah diraih Kala. Lalu, dia menghubungi nomor Bu Maria yang telah dikirimkan Doktor Bowo kepadanya.
Dia bertanya selayaknya seorang wali murid yang menanyakan perkembangan anaknya. Lagi-lagi dia juga mengenal dengan baik siapa Bu Maria. Dia mendapatkan sejumlah informasi yang menurutnya cukup menarik, bahwa prestasi Kala di bidang tahfiz cukup terbilang unggul dari seluruh siswa yang duduk di kelas unggulan agama. Walau bukan satu-satunya alasan kenapa dia akhirnya memilih dengan rela, tapi informasi itu memang telah mendorong keinginannya untuk mencoba.
***
Kala tak berusaha menyembunyikan gurat kesedihannya. Tiap air mata itu hendak jatuh, dia sigap meletakkan ujung kerudung almamaternya untuk membendung. Berdalih sedang mengantuk berat ketika ditanya oleh teman sebangkunya. Tapi, Mela dan Ruma tidak akan percaya. Sahabat terdekatnya mengerti jika mata sembabnya itu karena dirinya telah menangis semalaman, lalu tidak sengaja ketiduran.
"Mel, Bu Maria ada nggak?"
"Nggak tahu." Ruma yang menjawab.
Kali ini Kala bersikap tak peduli. Dia bangkit mencari sendiri di mana Bu Maria--satu-satunya guru yang menjadi tempat curhatnya. Sebelum itu, dia memakai kaca mata yang disematkannya di saku seragamnya. Setidaknya orang akan mengira dia sedang sakit mata.
Dia mencari Bu Maria di ruang guru. Saat dia tidak menemukan Bu Maria duduk di meja kerja, dia langsung menuju musala sekolah. Barangkali Bu Maria sedang menunaikan duha di sana. Dia meneruskan langkah begitu tahu sepatu Bu Maria ada di depan pintu. Dia memperhatikan sepatu itu, lalu membalikkan posisinya--teringat bagaimana sikap santri memperlakukan alas kakinya ketika sowan sore itu.
Tak lama setelah itu dia mendekat karena Bu Maria mengajaknya bersalaman.
"Assalamualaikum, Bu?"
"Waalaikumussalam. Mau setoran?"
"Mboten, Bu Maria." Pelan-pelan dia menunduk.
__ADS_1
Bu Maria mendongakkan wajahnya. "Kenapa? Masalah Mbakmu lagi?"
"Bukan, Bu."
Bu Maria melepas mukenanya. Sembari melipat beliau bertanya, "Gimana gimana? Kamu keluarkan saja semua unek-unekmu!"
"Tadi malam, Bu..." Kala menahannya. Malu sekaligus enggan.
"He.em?" Bu Maria mencari sandaran punggungnya di tembok. Berselonjor kaki.
Kala menelan salivanya.
"Bu, saya tidak mau menikah muda."
"Maksudnya Kala? Kenapa bilang begitu?"
Kala menceritakan detail pertemuan tadi malam. Dia juga menceritakan kalau apa yang pernah Bu Maria katakan siang itu menjadi kenyataan. Begitu juga dugaan Vey yang tiba-tiba sebelum masuk rumah makan.
"Bukannya menduga-duga, Kala. Tapi, malam sebelum hari kamu curhat ke Ibu, Gus Omar menanyakan kamu. Awalnya Ibu nggak ngerti. Beliau nanya bagaimana prestasi kamu di sekolah. Beliau telepon langsung loo. Dan, kebetulan sekali esoknya kamu cerita ke Ibu. Makanya, Ibu bilang kalau menikah itu tidak pandang usia. Memang bisa jadi kamu yang lebih dulu menikah daripada Mbakmu."
"Buuu?" panggilnya setengah merengek.
"Bukannya menikah itu perkara yang sulit, Bu?"
"Ya begitulah pernikahan. Ladang untuk mencari pahala dan belajar. Beribadah seumur hidup. Wajar kalau sulit."
"Apa yang harus aku lakukan, Bu?"
"Mempersiapkan mental dan hati. Hatinya ditata mulai sekarang. Menurunkan ego, memperbaiki sikap, menurunkan pola pikir yang negatif."
__ADS_1
"Tapi, Bu...ini terlalu mendadak bagi saya. Saya malu sama temen-temen, Bu."
"Kala, hadapi dulu yang ada. Ya? Selebihnya dipikir nanti. Ikuti alurnya. Gus Omar itu tidak sembarang membuka peluang. Dengan memilih kamu, itu tandanya sudah ada pertimbangan matang. Taaruf dulu. Lalu, didiskusikan apa yang mau Kala rencanakan ke depan. Berbicara dengan orang dewasa seperti Gus Omar itu insyaallah mudah. Beliau akan cepat mengerti dan kamu akan diarahkan. Sabar, ya."