
Syarif pun sama seperti Mela dan Ruma. Yang katanya tadi dia akan segera memberitahu justru mengabaikan telepon Vey.
"Tapi, Syarif juga lagi nggak enak badan. Nggak enak kalau samperin ke rumahnya."
Namun, akhirnya Vey tetap berangkat ke sana. Jika Syarif tidak memberi jawaban, dia akan ke sekolah Kala karena ini sudah jam pulang sekolah.
"Assalamualaikum, Rif?"
Pintu terbuka. "Ada apa, Mbak?"
"Syarifnya ada, Tante?"
"Oh, ini Mbak Vey yang tempat anakku mesen souvenir itu?"
"Bener, Tante. Saya ada perlu sama Syarif."
"Syarifnya lagi tidur itu. Dia meriang. Tadi habis minum obat belum bangun sampai sekarang. Demamnya agak tinggi. Lain kali aja gimana?"
"Oh, begitu..ya sudah, Tante, saya pulang. Makasih. Assalamualaikum."
"Ya waalaikumsalam."
Vey lanjut ke sekolah. Meski sedikit pusing, dia tetap mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Begitu tiba di depan gerbang, dia langsung menghampiri satpam.
"Pak, misi...mau nanya adikku Kala kelas dua belas unggulan agama. Sudah pulang apa belum, ya?"
"Sebentar saya lihat, ya, Mbak. Monggo duduk dulu, Mbak."
Satpam itu lantas pergi memeriksa. Karena biasanya masih ada siswa yang tetap di kelas saat sudah jam bel pulang sekolah. Dia kembali setelah sepuluh menit.
"Nggak ada, Mbak. Semua kelas sepi. Tadi saya sekalian menutup semua kelasnya."
"Kala kamu ke mana?" batin Vey.
"Pak, Bu Maria sudah pulang?"
"Nggak tahu, Mbak. Tapi, sudah banyak yang pulang."
Vey pulang. "Apa dia ke pondok sambang temennya itu? Atau ke warung Mas Abi," pikirnya.
Panggilan terjawab.
๐"Maaf, ganggu, Mas. Lagi di mana sekarang?"
๐"Lagi di pondok."
๐"Pas banget. Kenal dengan Nurmaya nggak?"
๐"Kenal. Ada perlu?"
๐"Apa Kala lagi sama Nurmaya?"
๐"Aku cek dulu nanti aku kabari lagi. Kali aja Yaya ada di ndalem."
__ADS_1
๐"Makasih."
Vey memutuskan pulang. Sesampainya di rumah, handphone-nya langsung berdering.
๐"Ya gimana, Mas?"
๐"Nggak ada."
๐"Ya udah. Makasih."
๐"Nggak pulang?"
Vey mengatakan apa yang terjadi, tapi tidak dengan kejadian tadi malam.
๐"Dilacak aja handphone-nya. Pakai nomor atau e-mail. Bisa?"
๐"Aku coba dulu. Makasih, Mas."
๐"Iya sama-sama."
Sejurus Syarif yang menelepon.
๐"Mela, Ruma, sama Kala katanya sekarang di Lamongan. Ke WBL katanya."
๐"Apa? Minta tolong, ya, Rif kamu kasih tahu Kala kalau aku nyariin. Suruh dia cepet pulang atau dia akan segera dinikahkan." Vey keceplosan.
๐"Nikah sama siapa?"
๐"Gapapalah, Kak. Sekali sekali. Namanya juga anak muda. Apalagi kaya Kala. Butuh refreshing itu."
๐"Gundulmu."
Vey langsung mematikan. Dia ke kamar Kala untuk memeriksa apakah Kala membawa handphone atau tidak. Dan, ternyata Kala sengaja meninggalkan handphone-nya. Baru kemudian Vey menyadari sesuatu.
"Apa kamu marah?"
Vey ingat semalam sudah membentak Kala yang berusaha peduli dengannya.
"Tapi, apa harus semarah itu dia?"
Paman Gani memanggilnya dari pintu depan. Langkahnya terdengar semakin mendekat.
"Nduk?"
"Paman?"
"Mana Kala?"
"Kala ke Lamongan sama temennya."
"Malam nanti janjian sama Gus Omar ke ndalem. Gus Omar ingin Kala sungkem ke Abah. Kiai mau bertemu."
"Mau bagaimana lagi?"
__ADS_1
"Ya sudah. Suruh dia cepet pulang. Paman akan kasih tahu Gus Omar."
***
Dada itu nyata semakin perih. Nurmaya tak sengaja mendengarkan percakapan Gus Omar dengan abah sepuh di kamar. Awalnya karena dia memang bertugas untuk mengirimkan makanan, tapi setelah itu dia sengaja memasang telinga di depan pintu. Ketika nama Kala disebut-sebut, dia tak mampu menepis rasa penasarannya. Dia menguping sampai terdengar jelas ungkapan bahwa Gus Omar ingin menikahi Kala.
Tubuhnya bergetar hebat. Dadanya terguncang. Salivanya tertelan beberapa kali. Dia menyisih segera, lalu menghamburkan tangisnya di kamar mandi pondok putri. Tak sanggup mendengar penyataan menyayat hati itu.
"Kamu yang akhirnya menjadi perempuan terpilih itu, La?" Dia sesenggukan. Meneruskan tangis hingga bersuara cukup nyaring. Tak peduli santri lain di luar sedang mengantre.
"Kenapa rasanya sangat sangat menyakitkan, Ya Allah."
Sesenggukan.
"Kala emang pinter, pialanya banyak, hafalan juga. Berpendidikan. Nggak kaya aku cuma abdi ndalem. Bapakku cuma nelayan. Nggak pantes jadi keluarga besar ndalem. Seharusnya aku benar-benar nyadar diri. Ya, sadar dari awal kalau tugasmu itu hanya mengabdi. Cinta yang kamu beri hanyalah cinta seorang santri pada gurunya. Cinta semacam itu tak patut mengharapkan pamrih." Dia menasihati dirinya sendiri. Tapi, kenyataannya dada itu kian menyesak. Air matanya jatuh bersamaan dengan mengucurnya air kran.
Nurmaya segera membasuh wajahnya dengan berwudu. Dia sadar sedang digoda setan. Dia berusaha sekuat tenaga menahan kepulan amarah di dadanya.
"Yaya kenapa?" tanya santri yang tengah antre.
Nurmaya menunduk. Dia menutupi sebagian wajahnya dengan ujung kerudung. Sebetulnya dia tidak ingin pergi ke ndalem. Pekerjaanlah yang memaksanya untuk tak berat hati kembali.
Langkahnya terhenti. Menguping lagi.
Gus Omar tengah berbincang-bincang di telepon. Membicarakan pertemuan yang gagal. Lalu, menjadwalkan pertemuan di hari lain.
"Jadi, Abah sepuh justru ingin ketemu sama Kala?" Dia betul-betul merasa cemburu. Ingin rasanya dia mengungkapkan perasaannya saat ini juga.
Lantas Nurmaya penasaran kenapa Gus Omar cepat menjatuhkan pilihan kepada Kala, selain dia juga menyadari bahwa Kala gadis yang berprestasi.
"Nduk?"
"Nggeh?"
"Ngapain di situ?"
Nurmaya tertunduk. Takut wajahnya diperhatikan.
"Menurut kamu Kala itu orangnya gimana, Nduk?"
"Allahu akbar," batinnya. Dada Nurmaya mendadak seperti ingin meledak. Degup jantungnya tak berirama normal.
"Baik, cantik, dan berbakat, Gus." Dia pun tetap berkata jujur. Tak mengurangi, juga tak menambahi. Dia mengatakan sesuai apa yang dia kagumi.
"Di sekolahan dia gimana?"
"Bersahabat, Gus."
Gus Omar tersenyum. Namun, Nurmaya melihatnya itu seperti sebilah pisau yang mengiris hati. Pertanyaan demi pertanyaan Gus Omar harus dia jawab dengan dada yang kian memanas.
ย
Sampaikanlah dari hati agar sampai ke hati. Hati yang akan lebih dulu berbicara. Hati akan lebih cepat merasakan semua yang berlandas ketulusan. Terima kasih untuk semuanya..๐๐๐ฅ
__ADS_1