Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 43 "Bertemu Seseorang"


__ADS_3

Jangan lupa berdoa. Bismillah..


Pertemuan itu akhirnya akan tiba nanti malam, tepatnya ba'da isya. Sebelum itu, Vey mendapatkan perintah agar membeli makanan yang lezat untuk disajikan kepada Gus Omar. Berhubung dia juga tidak punya banyak waktu untuk memasak sendiri. Lagipula dia juga tidak seantusias Paman Gani dan Budhe Atun. Selain tidak punya waktu, dia pun malas. Dia melakukannya hanya karena ingin berbakti, seperti yang dikatakan Kafil waktu itu. Juga bukan karena berusaha membuka hati dan berambisi menjadi calon menantu kiai.


Di tengah kegamangannya menanti tibanya malam, dia masih memikirkan Kafil yang keadaannya entah bagaimana. Jejak komentar di media sosial yang seharusnya bisa ditelisik, kini tak ada apa pun lagi yang bisa digunakan Vey untuk mencari tahu. Dia bisa saja datang menemui Akbar, tapi entah kenapa juga Akbar seperti sedang menghindar darinya. Akbar juga sulit ditemui. Lalu, Maya, Zezee, dan Miftha sepakat menyuruhnnya agar bersabar dan menunggu saja. Sementara, Kala justru memintanya fokus mempersiapkan mental untuk menghadapi pertemuan nanti malam di rumah Paman Gani.


Ponsel Vey berdering.


📞"Ada apa, Paman?"


📞"Na, Guse tiba-tiba minta ketemuan di rumah makan. Sudah dibooking-kan tempat VIP."


Vey menghela napas. Melirik tas kresek yang ditentengnya.


📞"Sudah beli kuenya?"


📞"Ya ini kadung aku beli, Paman."


📞"Ya sudah nanti uangnya Paman ganti."


📞"Nggak usah, Paman. Makasih. Aku makan saja di rumah sama Kala."


Belum sempat dia menarik gas motor, pandangannya tak sengaja terlempar ke arah kiri.


"Dia?" Vey membelakak. Sejurus alisnya berkerut.


"Aku harus ngomong sama dia." Vey turun dari motor. Mengejar laki-laki yang masuk ke dalam tempat belanja pakaian itu.


Sekarang dia harus memburu laki-laki itu di dalam toko yang ramai pengunjung. Dan, entah ke mana perginya laki-laki itu. Mula-mula dia berdiri di tengah pintu, mengedarkan pandangan ke segala sisi. Pria itu tidak ada. Dia terus masuk, menyibak kerumunan orang. Dia berpikir pria itu pasti mencari pakaian laki-laki.


"Laki-laki itu tadi pakai kaos dan jas. Aku harus nemuin dia."


Setelah sepuluh menit berputar-putar, dia akhirnya menemukan pria itu sedang memilih celana levis.


"Ke mana aja kamu?"


Pria itu menoleh pelan-pelan. Dari air mukanya, sangat kelihatan kalau dia terkejut melihat Vey telah berada di depannya.

__ADS_1


"Sengaja menghindar karena nggak mau aku introgasi?" Vey tak perlu basa-basi.


"Aku emang sibuk, Vey. Aku sementara ini menggantikan jadwal Ayahku ngantor. Jadi, aku harus meeting dengan klien. Aku sering meeting di luar."


Vey tak ingin mendengar alasan itu terlalu banyak. "Sudahlah. Aku cuma pengen kita ngobrol sebentar. Ada yang harus aku bicarakan."


"Aku nggak bisa lama, Vey."


"Nggak masalah. Kita ngobrol sekarang, kamu belanja besok aja. Please, Aku yakin kamu bisa menjawab semua pertanyaanku."


Vey membaca perubahan ekspresi di wajah itu. Yang semakin lama mengiba.


"Jangan di sini."


"Oke."


Mereka pergi ke kafe mini di pinggir jalan, tak jauh dari toko pakaian tadi. Di sana, Vey hanya memesan segelas juz alpokat.


"Aku nggak akan menyita waktu kamu asalkan kamu nggak berbelit-belit."


"Ngomongin soal apa, sih, lu?"


"Oke oke. Silakan ngomong!" Akbar mengayunkan tangan. Memperlihatkan air mukanya yang santai. Dia sedikit merebah sembari bersedekap.


Vey meletakkan kedua tangannya di atas meja. Menautkan jari-jarinya.


"Benar, kan, Kafil pulang ke Malaysia tanpa alasan yang jelas bukan karena dia menikah?"


"Lu udah tahu jawabannya, Vey."


"Aku pengen denger langsung dari kamu. Tinggal jawab aja kenapa repot?"


"Oke...iya. Kafil nggak nikah sama siapa-siapa."


"Jadi?"


"Udah mendingan kamu langsung tanya intinya ajalah. Aku beneran nggak ada waktu." Akbar melihat jam.

__ADS_1


Tapi, Vey melirik sebal. Dia curiga Akbar hanya berpura-pura repot karena terus ingin menghindarinya.


"Kenapa kantor Papanya Kafil sampai harus ditutup?" Vey berharap pertanyaan itu akan menyeret beberapa jawaban lainnya.


"Aku nggak tahu."


Alis Vey berkerut. Dia mendekatkan wajah.


"Aku nggak percaya. Feeling-ku bilang kamu sedang bohong. Masalah besar apa yang kalian tutupi dari aku? Aku tahu kok kenapa rumahnya pun dijual. Buat nutupin gaji karyawan, kan? Kenapa juga Kafil dan keluarganya harus bersikap seperti orang melarikan diri kalau Papanya saja dikabarkan tidak bersalah atas kasus penutupan kantor itu?"


"Lu sudah tahu."


"Aku pengen denger langsung." Vey menegaskan.


Akbar merogoh sesuatu dari dompetnya. Menggeser selembar kertas yang dilipat menjadi persegi panjang. "Keadaan Kafil dan keluarganya sedang tidak baik-baik saja. Lu mungkin akan tahu jawabannya dari surat itu." Akbar beranjak.


Vey memandang kertas itu sekejap, lalu menahan pandangan Akbar agar tak berpaling.


"Kenapa dia harus mengorbankan hubungan kami? Akbar, dia menyuruhku untuk menerima tawaran Pamanku."


"Aku nggak ngerti masalahmu. Aku hanya menyampaikan mandat. Terserah lu mau percaya atau enggak. Baca surat itu, lu bakalan tahu alasannya apa." Akhirnya, dia melenggang pergi.


Vey mendesis. Dengan hati penuh debar, dia membuka lipatan kertas itu pelan-pelan.


Assalamualaikum, Nana Cantik.


Aku berharap kamu selalu baik-baik sahaja. I know aku sudah repotkan kamu. Dah buat kamu rasa terganggu. Tapi, apa yang boleh aku buat bila keadaanku tak mungkin untuk bertemu denganmu. I know, kamu perempuan smart. Kamu pasti tahu kenapa kantor Papa ditutup dan bukan Papa pelakunya. Aku mencintaimu, Nana. Tapi, sepertinya aku tidak pantas untukmu. Semoga laki-laki yang dikenalkan padamu, dia akan menjadi jodoh terbaikmu.


"Ssssttttttt." Vey meremas kertas itu. Mendesis. Lalu, memukul meja. Sejurus menubrukkan keningnya.


"Kafil, Ya Allaaaaah. Apa mau kamu? Begitu mudahnya kamu bilang kaya gitu tanpa kamu ngerti perasaan aku, Kaf. Gila kamu, Kaf. Gilaaaa." Dia menahan amarah itu. Mendesis berkali-kali. Menutupi wajahnya yang memerah. Degup jantungnya berirama tak keruan.


Vey menyesalkan pernyataan Kafil. Bukannya membuat rasa penasaran itu tuntas, tapi Kafil justru membuatnya semakin ingin marah. Dia hanya mendapatkan kejelasan, tapi tak mendapat jawaban seperti yang dia inginkan.


Dia beranjak. Meninggalkan minumannya yang masih utuh. Lalu, mengejar Akbar yang sudah pergi entah ke mana.


"Akbar pokoknya aku harus nemuin kamu." Dia bergegas memakai helm, lalu menyalakan motornya. Wussssshhhhh!!

__ADS_1


Vey pergi dengan hati yang menggebu-gebu. Ambisi yang tak bisa dikendalikan. Dia merasakan tubunya menghangat, sementara angin berembus cukup kencang--berpacu dengan kecepatan motornya.


Benar sekali dugaannya. Tak berselang lama setelah motornya berhenti di depan kantor, mobil Akbar baru saja datang. Dia bergegas mengikuti, masuk ke parkiran. Dan, dengan percaya dirinya dia memarkir motor di tempat parkir mobil. Turun. Lalu, mendekati Akbar dengan langkah panjang-panjang dan dalam keadaan masih memakai helm.


__ADS_2