
Kala dan Nurmaya menepi di saung bambu yang berdekatan dengan pot-pot bunga pesantren putri.
"Dari sekolah langsung ke sini?" tanya Nurmaya. Dia mengamati Kala masih memakai seragam lengkap.
"Ya, aku pengen langsung ja. Aku pengen nanyain undangan pernikahan kamu."
"Iya? Emangnya kenapa, Kala?"
"Pa yang membuat kamu mau menerima Pak Abi?"
"Dia laki-laki yang baik. Kita ada karena perantara Gus Omar. Cuma itu yang bisa aku jelaskan, Kala."
"Maaf, maaaaf banget. Bukannya apa-apa. Tapi, apa kamu ngerti kalau sebelumnya Pak Abi pernah ..."
Nurmaya menyahut, "Melamar Mbak Vey?"
"Iya."
"Aku ngerti."
"Yang ngasih tahu Pak Abi?"
"Tentu saja bukan, Kala. Nggak mungkin. Justru Gus Omar. Gus Omar pasti ngerti besar kehidupan Pak Abi, termasuk lamaran yang lama ditangguhkan Mbak Vey."
"Jadi, maksud kamu kalau pun ada yang mungkin disalahkan itu Onni-ku?"
Nurmaya cepat menggeleng. "Enggak. Enggak begitu, Kala."
"Hanya itu yang bisa kamu jelaskan ke aku, Ya?"
"Di sini aku cuma berusaha manut dan melihat kondisiku aja. Nggak lebih, Kala. Aku juga berusaha melupakan soal Mbak Vey. Itu pun bukan karena aku tak peduli."
"Lebih karena Gus Omar yang meminta?"
"Tidak juga. Karena aku sudah tiga kali ini ditawari menikah dengan Kang Abi. Baru kali ini Kang Abi mengiyakan tawaran itu tanpa alasan yang berbelit-belit. Tapi, La, aku ngerti soal lamaran Kang Abi ke Mbak Vey justru setelah aku setuju. Hingga kami memutuskan untuk menikah cepat di bulan Syawal nanti. Sama seperti kamu, La."
"Melihatmu yang pernah terluka gara-gara aku, aku tak tega bersikap begini padamu, Ya. Kamu nggak tahu apa-apa," batin Kala.
"Ya, tapi apa kamu menyukai Pak Abi?"
Wajah Nurmaya tetap tak bercahaya. Tak semringah, tapi juga tak sendu. Setiap kalimat yang keluar darinya selalu bernada kelembutan.
"Kang Abi pria yang baik. Atas alasan apa aku harus menolaknya untuk ke sekian kali, Kala?"
"Apa mungkin karena pria yang kamu cintai justru berlari padaku, Ya?" Kalimat tanya itu hanya tersimpan. Khawatir membuka lama yang luka.
"Ngomong-ngomong kamu datang, ya, Kala. Di pernikahan kamu besok, aku pasti akan ikut merayakan. Kudengar dari keluarga ndalem, pestanya nanti digelar di aula utama. Persiapannya di-handle santri senior dan Gus Omar."
"Miris dengernya. Ya, aku setengah merasa kamu menikah dengan Pak Abi karena ingin berusah melupakan perasaanmu ke Gus Omar. Ya, seandainya itu benar ... hmm ... moga enggak gitu." Kala membantin lagi.
Semalam, Kala sudah menanyakan masalahnya pada Niar. Tapi, Niar belum saguh untuk menjawabnya. Dia hanya berjanji akan cerita hari ini.
Lantas Kala mengulurkan tangannya. Nurmaya menjabat biasa.
"Ya, selamat. Semoga dilancarkan semuanya."
Senyum itu mengembang. "Makasih, Kala."
"Sama-sama."
"Ya udah aku pulang dulu. Aku janjian dengan Niar."
"Siapa dia?"
__ADS_1
"Adiknya Pak Abi. Belum tahu?"
"Aku belum tahu sampai sejauh itu, Kala."
Kala hanya membalas senyum tipis.
"Nggak titip salam untuk Gus Omar?"
"Enggak, deh. Malu aku. Pengen sowan ke Abah sepuh kok juga sungkan. Mendingan aku titip salam ke Abah saja. Sampaikan, Ya. Makasih sebelumnya."
"Insyaallah aku sampaikan."
***
Safari ramadan sekolah telah usai. Selama seminggu itulah siswa unggulan agama yang siap diwisuda dengan prestasi terbaik, tampil secara bergiliran, mengaji dengan disimak para siswa dan guru-guru satu sekolah. Di hari terakhir safari, Kala mendapatkan pujian dari Bu Maria. Yang katanya dia memang telah layak diwisuda bulan Juni nanti. Ketika safari telah usai itu artinya dia pun telah siap menghadiahkan hafalan kepada orang tua tercinta. Juga siap untuk menjadi seorang menantu kiai. Tak lama lagi kisah cintanya akan dimulai.
Kala sendirian, duduk di depan pusara. Berbicara seolah-olah mama dan papa ada di depannya.
"Ma, sebentar lagi lebaran. Seminggu lagi." Dia meletakkan buket bunga mawar di atas taburan kelopak bunga mawar, melati, kenanga, dan pandan yang telah tertata rapi. Menutupi tanah kuburan yang berumput.
Mengirim hadiah fatihah, lalu menghadiahkan dua juz hafalan juz awal. Di tengah-tengah merampungkan halaman terakhir, dia nyaris terjengkang karena terkejut.
"La?" Suara laki-laki memanggilnya.
Kala menoleh cepat. "Syarif? Rif, kok bisa?"
Syarif hanya diam. Ikut duduk di depannya sembari menaburkan bunga mawar.
"Syarif, kapan kamu pulang? Ke mana aja kamu beberapa bulan ini?"
Syarif tetap bergeming.
"Rif, sebentar lagi kita wisuda. Wisuda bareng, yah?"
"Rif?"
"Rif?"
Kening Kala hampir menubruk pusara. Mengaji sendirian di saat matahari sedang terik membuatnya dehidrasi dan sangat mengantuk. Sampai dia lupa terakhir membaca ayat yang mana.
"Syarif, aku kok kangen kamu, ya," gumamnya.
Tak mau berlama-lama di makam--berhubung sudah batal wudu--Kala memutuskan pulang. Tak lupa dia mengucapkan selamat tinggal.
Tiba di rumah, pintu rumah masih tertutup.
"Onni pasti ke rumah Budhe, masak." Dia pun berpikir akan menyusul setelah ganti baju.
Dia mencari kunci di persembunyian biasanya.
Klik! Terbuka.
"Haa?" Dia melihat sekotak paketan. "Untuk siapa?" gumamnya.
"Untuk aku nih? Dari?"
"Syarif?
Kardus itu berisi kaset--apaan?
Berhubung sangat penasaran, dia langsung mengambil laptopnya. Rindu itu sedikit menyeruak. Setelah dia bermimpi bertemu Syarif, video yang dia lihat sekarang membuatnya harus mengingat masa-masa bersamanya dengan Syarif, Mela, dan Ruma. Pertemanan yang akrab walaupun Syarif menjadi laki-laki satu-satunya. Entahlah. Dia kurang begitu fasih menerjemahkan rasa rindunya kepada Syarif.
Dret! Dret! Dret!
__ADS_1
Kala menoleh. Memeriksa handphone. "Gus?"
π"Enggeh. Assalamualaikum, Gus?"
π"Dek?"
Nyut!
Untuk kali keduanya dia mendengar Gus Omar memanggilnya seperti itu. Antara malu dan suka. Yang jelas selalu ada debar yang merambat tak biasa. Membuatnya tak bisa bersuara lantang seperti biasanya.
π"Dalem. Enggeh?"
π"Di rumah ngadain khataman nggak?"
π"Insyaallah, Gus."
π"Aku pengen ngatamin kamu juga."
π"Oh, begitu ... nggeh monggo, Gus."
π"Oke. Kita belum fitting baju. Kapan kamu bisa?"
π"Ikut Gusnya saja. Kan ... itu ... yang repot biasanya Gus Omar."
Gus Omar tertawa kecil.
π"Iya iya. Kamu aja yang nanya admin WO. Aku kirimin nomornya."
π"Njenengan saja, Gus."
π"Kamu aja. Cewek biasanya malah ahli babagan kaya gini."
π"Njenengan, Gus."
π"Kamu, Dek."
π"Njenengan saja lo."
π"Manja."
Kala terdiam. Lalu, mendengar suara di seberang tertawa lebih keras.
π"Enggak nggak. Oke. Aku saja yang menghubungi. Ya sudah lanjutkan aktivitasmu!"
π"Enggeh."
Gus Omar langsung mematikan.
Kala pun menulis status washaap.
Pengen ke Jogja.
Seketika Gus Omar membalas karena dia menjadi veiwer pertama.
"Ngapain?"
"Duh, aku jawab gimana ini?" gumam Kala.
"Kamu bener pengen ke sana?" Pesan masuk lagi.
Kala menggigit bibir.
^^^"Gus, ngapunten. Kalau seandainya setelah kita menikah kita ziaroh ke Jogja bagaimana? Ziarah wali Jawa Tengah. π¬πππ."^^^
__ADS_1
"Boleh banget. Insyaallah masuk list rencana, ya."
Terima kasih panjenengan sudah sabar menunggu. Alhamdulillah tinggal menghitung jam insyaallah kita akan bertemu dengan hari yang suci. Semoga amal ibadah kita diterima Allah, nggeh. Bismillah saya usahakan hari ini up lagi sebelum libur up hari raya. ππππππ. Ngapunten juga harusnya tadi malam up, tapi saya ketiduran. π π