
jangan lupa bismillah.
Ngapunten tidak up sampai berhari-hari. baik karena kegiatan dan juga lagi moody banget. 🙏🙏🙏🙏
...🥀🥀🥀...
"Gimana, La, dah sembuh kamu?" tanya Syarif di seberang chat.
^^^"Alhamdulillah mendingan banget."^^^
"Mayan, deh. Besok idah bisa masuk sekolah?"
^^^"Insyaallah. Ngapa? Mau beliin aku pentol lagi?"🤣^^^
"Enggak. Pede."🤪🤪
^^^"Y." 😏^^^
"🤨🤨"
^^^"🙄"^^^
"😒😒😒😒"
^^^"😤😤😤😤😤😤"^^^
"🌹🌹"
^^^"💩💩💩"^^^
"🤤🤤🤤"
^^^"Ih, gaje kamu, Rip."^^^
Kala menyudahi ke-gabutannya. Dia mengabaikan pesan Syarif. Lalu, menepi ke ujung ranjang, membuka pintu kamarnya. Dia menguping pembicaraan Vey dan Paman Gani di ruang tamu.
"Mereka ngomongin apa, ya?"
"Gimana, ya, kalau seandainya Onni berjodoh dengan Gus Omar? Onni pasti akan tinggal di pesantren. Ngurus santri. Apa Gus Omar tahu kalau perempuan yang dikenalkan itu Onni ya? Tapi, kalau menurutku Gus Omar itu bukan kriterianya Onni. Dilihat pun mereka nggak cocok." Kala menerawang. Membayangkan Vey dan Gus Omar berjalan berdampingan.
Sementara, Vey dan Paman Gani masih terlibat pembicaraan serius di ruang tamu. Seperti yang Vey rencanakan kemarin, dia sudah menjelaskan semuanya pada Paman Gani. Dia membeberkan satu demi satu rahasia yang telah dia pendam selama enam tahun. Dia juga buru-buru menjelaskan siapa Kafil dan siapa keluarganya. Dia memberitahukan semua itu sebelum Paman Gani mengajukan pertanyaan lebih lanjut.
"Paman tidak menyangka, Nduk."
__ADS_1
"Tidak menyangka gimana, Paman?"
"Enam tahun itu lama. Kok yo kamu baru jujur sekarang. Kenapa, Na?"
"Sepurane, Paman. Awal-awal dulu, Kafil yang melarang. Sampai hubungan kami berjalan genap tiga tahun. Kami sudah ada niatan serius. Aku sudah ngomong sama orang tuanya kok."
"Jangan gelo kalau Paman tidak akan langsung mengiyakan. Kamu itu perempuan, Na. Kamu ndak bisa memutuskannya sendirian."
"Enggak, Paman. Aku sekarang minta pendapat Paman."
"Paman tahu ke mana arah berpikirmu. Kamu tidak sedang meminta pendapat, tapi kamu meminta persetujuan. Kamu sebetulnya tahu kalau keluargamu tidak akan langsung setuju. Makanya, kamu mengulur waktu sampai selama ini. Hanya untuk menunggu bicara. Orang tuanya saja bukan orang indonesia. Itu artinya kamu disuruh tinggal dengan mereka?"
Vey mengangguk pelan. Pesimis. Separuh kalimat yang dikatakan Paman Gani, dia membenarkan.
"Kamu opo ndak mikir sejak awal? Paman kira kamu sudah lebih dewasa ketimbang Kala. Apa kamu ndak memikirkan nasib Adikmu?"
"Paman, suatu saat, entah aku ataupun Kala, kita pasti akan berpisah. Apa mungkin bisa kita tinggal satu atap ketika kami sudah sama-sama menikah? Tidak masalah jika aku yang mengalah. Paman, kita bisa tinggal di sini sampai Kala menemukan jodohnya kalau Paman mempermasalahkan aku akan menelantarkan Kala. Tidak, Paman. Aku bertanggung jawab. Kala yang kelak akan mengurus rumah ini. Juga usaha-usaha kami."
Paman Gani tetap bersikap tenang dan menjadi pendengar yang baik. Walaupun, dia tak tampak mengerti dengan rencana Vey sepenuhnya.
"Kenapa kamu bisa seyakin itu, Nduk?"
"Yakin soal apa?"
"Kafil sudah siap, Paman."
"Kamu yakin?" Paman Gani menelisik. Dia tak begitu meyakini pernyataan Vey.
"Justru keluarganya yang menyarankan kita nikah tahun depan sebelum hari raya."
"Paman perlu bicara dulu dengan dia. Paman ingin dengar langsung jawaban dari dia."
"Insyaallah aku akan beritahu dia, Paman. Mmm...soal Gus Omar gimana? Apa aku tetap harus menemuinya?"
"Lupakan dulu! Nduk, cobo kamu mantapkan hatimu dengan istikharah."
"Paman, istikharah itu diperuntukkan bagi mereka yang mempunyai pilihan. Aku? Aku sudah jelas memilih satu orang. Nggak perlu lagi, kan?"
"Tidak ada salahnya. Paman minta tolong juga...kamu tanya Si Kafil itu...apa dia mau tinggal di sini, apa dia akan pulang ke negara asalnya, apa dia juga sudah nyaman hidup dengan adat istiadat orang jawa seperti kita."
"Kafil dan keluarganya emang nggak pindah kewarganegaraan. Katanya, sih, dulu dia mau pindah ke indo. Tapi, kita emang nggak pernah bahas itu lagi," batin Vey.
Paman Gani beranjak. "Paman tunggu secepatnya, Na. Paman pamit dulu."
__ADS_1
Vey mengangguk.
Kali ini Vey tak mengulur waktu. Dia bergegas menghubungi Kafil. Tapi, entah kenapa setelah seminggu berlalu pun dia tak dapat menghubungi Kafil. Hanya saja kemarin sempat tersambung, tapi Kafil tak menjawab panggilannya. Di saat dia sibuk seperti ini, masalahnya dengan Kafil justru menambah beban pikirannya. Belum lagi complain beberapa pesanan yang baru dikirimnya dua hari yang lalu. Sudah berulang kali dia mencoba menghubungi. Lagi-lagi mengecewakan.
Aneh memang. Tak biasanya Kafil tak menghubunginya selama itu. Kalau pun repot, Kafil akan memberitahunya. Apalagi, Kafil pun cukup terbuka kalau berbicara masalah pekerjaan dengan dirinya.
"Onni, kok nggak fokus gitu mikirin apa, sih?" Kala memasukkan sendok dan garpu ke mika plastik. Lalu, mengambil lakban.
Vey membungkam diri. Dari kemarin dia belum bisa berbicara terlalu terbuka pada Kala. Untuk masalah percintaan, dia hanya belum terbiasa bercerita panjang lebar. Seperti halnya menceritakan dunia baru. Dia memang tak pernah berbicara kepada siapa pun soal percintaan yang dia jalani selama ini. Canggung.
"Soal Bang Kafil? Onni, kapan-kapan Bang Kafil suruh ke sini aku pengen kenalan."
"Iya kapan-kapan."
Kala tersenyum tipis.
"Aku mau tanya, La. Tapi, yang jujur."
"Hmmm?" Kala sibuk melakban kardus yang dipegangnya.
"Kemarin pas kamu sakit, kamu nyebut nama Abimana. Kenapa Abi? Kenapa kamu sebut dia saat kamu nggak sadar?"
"Aku kagum sama dia, Onni. Setelah aku ngerti kalau dia ternyata lulusan Al-Azhar, aku makin kagum."
"Kagum atau suka?"
"Maybe kagum aja, sih."
"Berawal dari kagum terus jadi suka."
"Tapi, kayaknya Onni bener. Rasanya kadang pengen ketemu. Aku suka damage-nya Pak Abi. Pak Abi, Pak Abi..." Senyum Kala terlepas begitu saja.
Packing seribu souvernir sudah rampung. Tinggal menunggu pemesan membalas pesan Vey. Sketsa wajah dan dua lettering pun siap dikirim besok siang.
Sudah lewat pukul sebelas malam. Pesan Vey tak kunjung dibaca. Vey yang sengaja tak memegang handphone sejak ba'da magrib tadi mengira kalau Kafil pasti akan membalasnya kali ini. Dia bertambah gulana. Panggilannya kemudian, tak juga membuahkan hasil. Ingin rasanya dia pergi ke rumah Kafil untuk memastikan, tapi dia benar-benar sibuk dikejar pesanan. Belum juga dia harus membuat soal ujian tengah semester anak-anak didiknya. Minggu ini dia kalang kabut. Capek, cemas, letih, dan sumpek. Tak ada waktu istirahat yang cukup. Tapi, dia harus kembali bersemangat mengejar income maksimal. Jika dia bisa mengerjakan semuanya dengan baik, pendapatannya di bulan ini akan sangat lumayan.
"Kaf, aku pengen kamu ke sini menjelaskan semuanya ke Paman. Dia pengen ngobrol langsung sama kamu. Aku tunggu balesan kamu secepatnya." Centang satu.
Vey merebah. Mencari posisi ternyaman. Bersiap tidur. Tapi, ternyata hingga jam berdentang tepat di angka dua belas, matanya masih terjaga. Seperti tak ada tanda-tanda dia bisa tidur dengan cepat.
"Kita jodoh nggak, ya?" batinnya.
Dia memeriksa handphone. Masih sama. Centang satu.
__ADS_1
"Hidup sama Kafil emang harus siap beradaptasi hidup di negara orang. Aku juga nggak tahu Kafil akan berubah pikiran atau enggak. Soal perpindahannya, kita nggak bikin kesepakatan apa-apa."