
"Kalau Onni masih mual, mendingan kita rest aja di ghurfah santri."
"Di kamar maksud kamu?"
"Iya."
"Enggak aku ngomong ke Mas Abi duluan."
^^^"Mas, aku mau rehat di pondok putri. Aku mabuk. Nggak enak di depan terus aku ak uk ak uk terus." Send.^^^
Serampungnya acara, Vey dibaca ke poskestren. Demi berjalan menuju ke sana, dia pun harus memperhatikan beberapa santri tampak memperhatikan kondisi fisik Abimana.
Usai salah satu santri memeriksa, Vey dan Abimana menatap santri itu seperti orang menunggu.
Sembari tersenyum santri itu mengatakan, "Alhamdulillah. Malam ini barakah selalu untuk Bapak dan Ibuk."
"Mbak saja, Mbak. Masih muda kok aku."
"Oh, ya, Mbak. Maaf. Alhamdulillah Mbak hamil. Supaya lebih yakin nanti sepulang dari sini bisa membeli test pack atau USG saja."
"Sumpah? Masak aku hamil?" tanya Vey spontan.
Beberapa santri tampak berbisik-bisik. Sebagiannya ada yang tertawa lirih.
"Kok cepet? Mas, kok bisa cepet?" Vey masih belum sadar kalau apa yang digumamkannya membuat santri menahan tawa.
"Greng," timpal santri yang memeriksa.
"Cieee, ada yang cepet-cepetan. Selamat, Onni. Moga sehat terus. Doakan aku segera nyusul."
"Ooh ... hehe. He.em." Vey sendiri masih belum begitu yakin.
"Padahal, kan, belum ada tiga minggu. Kalau Budhe dan Paman tahu aku mesti dibully ini hmmm," batin Vey.
"Mas Abi, kok cepet?" bisik Vey.
"Ya nggak tahu. Kan dari Allah. Sudahlah. Ngapain dibahas di sini. Malu, Na." Abimana membungkam mulut Vey dengan telapak tangannya. Berjalan dengan merangkul Vey dari samping.
Kala yang sudah berjalan di depan, menoleh tiba-tiba. "Onni, ayo foto sama Gus Asyam dan Ning Ranaa. Aku ngefans lo dengan mereka. Ternyata dua-duanya aktif di sosmed. Cuma akunya yang belum tahu."
Kala mempercepat langkah. "Ning Ranaa, saya Kala yang tadi sungkem dengan panjenengan. Boleh duduk sebentar, pengen foto, Ning."
Kala kembali berniat sungkem, tapi Ranaa segera menarik tangannya sembari berkata, "Ning Kala ini, putri menantunya almaragfrullah Kiai Salam, kan? Bener? Istri Gus Sayyid Omar?"
"Inggih, Ning."
"Yuk, duduk bentar."
"Onni?" Kala melambai.
Vey menatap Abimana. "Ya udah Mas Abi ngobrol saja dulu di depan. Aku di sini sebentar."
"Iya."
"Ngapunten ini sudah berapa bulan, Ning Ranaa?"
__ADS_1
"Masuk minggu ke-30."
"Putra ke?"
"Putra ke-5 aku ini. Kenapa? Muda kok anaknya sudah banyak gitu, ya?"
Kala hanya meringis malu. Khawatir salah bertanya.
Ranaa menyentuh paha Kala. "Guse pengen anak punya tima kesebelasan. Alhamdulillah semua lancar."
"Kalau seandainya aku ngadopsi putra Ning Ranaa boleh nggak, ya? Kok tiba-tiba kepikiran begitu?" batin Kala.
"Anakku mau lima ini, yang kelahiran sebelumnya dikasih kembar dua. Ada turunan, Ning."
"Alhamdulillah."
"Terus ini Ning siapa?" Ranaa menatap Vey.
"Onni saya."
Vey menjawab, "Saya Vey."
"Oh, Ning Vey?"
"Bukan. Panggil saja Vey. Saya bukan ning."
"Ya gapapa. Ning karena sampeyan perempuan. Tadi saya dengar-dengar habis diperiksa ternyata hamil? Beneran?"
"Saya kurang yakin. Inginnya besok USG atau beli test pack saja." Vey justru merasa agak malu.
"Kok saya pernah dengar."
"Aktif di sosmed juga. Sekarang aktif jadi novelis. Sekali-kali beli novelnya, Ning. Tadi itu saya mau ngomong kalau dulu itu Gus Omar sering ketemu Abah, minta doa barakah jodoh. Lha eh ternyata jodohnya sempeyan, Ning."
"Karena doa Mama mungkin, Ning. Almarhum Mama yang ingin punya menantu orang ngalim."
"Menikah karena wasiat?"
"Bisa dibilang begitu, tapi ya sebenarnya tidak begitu juga, Ning."
Ranaa mengangguk mengerti.
"Ngomong-ngomong semoga Ning Vey sehat sampai melahirkan, ya. Sihah dzahiran wa bathinan. Karena orang hamil itu harus senantiasa happy. Dan, Ning Kala kelihatannya masih muda banget. Meskipun belum dikaruniai anak, insyaallah setelah ini akan ada jalan. Dulu saya melahirkan Mas Hisyam usia 25. Jadi dibawa happy saja. Insyaallah. Bisa pacaran sepuasanya, kan, ya?" Ranaa mengakhiri kalimatnya dengan senyuman.
"Ning, ini kalau seandainya. Seandainya saja. Kalau seandainya Gus Omar setuju mengadopsi anak, kami bolehkah mengadopsi putrane njenengan, Ning?" tanya Kala dengan sangat hati-hati. Dia merendahkan suaranya hingga terdengar seperti orang benar-benar memohon kasih dan belas.
"Mmm ... bagaimana, ya."
"Saya tahu pertanyaan saya ini mungkin ..."
Ranaa memotong, "Coba nanti saya rembuk dengan Gus Asyam, Ning. Njenengan sabar. Pasti njenengan orang yang berhati lapang. Saya yakin itu. Kalau pun nanti Gus Asyam nggak kerso (menghendaki), coba saya usahakan tanya ke yang lain."
"Terima kasih banyak, Ning."
***
__ADS_1
"Mas, aku kok masih nggak percaya sama yang kemarin malam. Coba bentar aku cek. Kita lo nikah tiga minggu belum genap."
"Kenapa emang? Belum siap?"
"Bukannya begitu."
"Cek sana!"
"Iya bentar." Vey beranjak dari tepi ranjang.
"Ya Allah, semoga benar-benar positif. Aku ingin menimang anak laki-laki. Rabbana hablana min azwajina wa zurriyyatina qurrata a'yuniw waj'alna lil muttaqina imama. Istajib du'ai. Istajib." Abimana menanti dalam debar. Telapak tangannya masih dibiarkan menengadah di meja.
"Mas Abi?" panggil Vey dari luar.
Abimana menoleh. "Gimana, Na?"
"Mana dulu tanganmu!"
Abimana menengadah.
"Ini."
Abimana menatap lamat-lamat. "Strip dua beneran?"
"He.em."
"Alhamdulillah."
Segala puji bagi Tuhan semesta alam. Keterlambatan usia menikah Vey tak membuatnya menunggu lama untuk segera memiliki momongan. Lantas kabar kehamilan itu pun tersiarkan ke seluruh keluarga, termasuk keluarga di pesantren.
"Mas, kapan kita punya baby? Mas Omar serius sabar?"
"Mas, aku ngerasa tidak baik-baik saja. Njenengan lama menunggu jodoh datang, haruskah njenengan pun lama menantikan seorang putra?"
Gus Omar duduk usai memakai sarungnya. Dia memberikan sisirnya kepada Kala.
"Menurut njenengan bagaimana?"
"Kalau seandainya anaknya Mbak Ranaa laki-laki aku nggak masalah. Kalau perempuan, selamanya dia nggak akan jadi mahramku, Dek."
"Laki-laki pun kalau aku tidak menyusuinya mana mungkin bisa jadi mahram juga, Mas."
"Itu masalahnya. Kasihan si anak nantinya."
"Dikasih pengertian."
"Kita tunggu Mbak Bala melahirkan. Aku dengar anaknya perempuan. Nggak susah nantinya."
"Mas, tapi itu kan anak perempuan pertama. Sayang dong. Pernah dengar, kan, Ning Bala matur (bilang) begitu?"
Namun, apa kata takdir? Tuhan lebih menghendaki mereka mengadopsi seorang bayi yang memang bukan bagian dari keluarga mereka. Kini di tengah-tengah mereka telah hadir seorang bayi yang telah dinamai Fathimah Amra. Gabungan dua nama wanita yang hidupnya bermanfaat untuk Rasulullah. Sungguh berbaik hati dua orang tua yang mau memberikan putra kepada Gus Omar dan Kala. Yang juga membebaskan mereka berdua untuk memberikan nama untuk bayi Amra. Setidaknya kerinduan itu telah tergantikan walaupun doa-doa dan usaha senantiasa dilangitkan.
End.....
❤️ Langsung cek extra part Fizah, nggeh.
__ADS_1
🖊️ Setelahnya, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kekurangan dan kesilapan dalam kisah ini. Kesilapan saya yang terlambat up hingga berhari-hari. Semoga ada sedikit kebaikan yang bisa diambil. Kekurangan dari saya dan kelebihan hanya milik Allah semata. Alhamdulillahi 'ala kulli hal wa 'ala birrikum. Jazakillah khairan katsiran. 🌷🌷🌺❤️❤️❤️🥀🤗🤗🤗