
Kala berdiam di depan cermin kamarnya. Dia mendapati dirinya dengan gamis mewah pemberian Gus Omar. Malam ini, dia merasa harus memakai gamis itu untuk menyenangkan pemberinya. Gamis itu melekat sempurna di badannya yang tampak berisi. Lantas, dia keluar menunjukkan penampilannya pada Vey.
"Gamis udah secantik itu, kerudung juga. Semua perfect kecuali senyumanmu."
Kala mendekati Vey, lalu menubruknya. Memeluk.
"Doakan aku. Doakan aku bisa menyukai Gus Omar, Onni. Aku akan mulai melupakan Pak Abimana." Sejak magrib tadi, Kala bertekad untuk melakukannya. Di penghujung sujudnya, dia hampir menangis untuk memohon rida Tuhan atas semua takdirnya.
Vey melepaskan pelukan Kala. "Udah nggak nangis lagi?"
Kala mencoba tersenyum.
"Ya sudah. Emang baiknya ya begini. Kamu sudah dewasa. Sudah mau jadi istri orang." Vey mengelus lengan kiri Kala.
"Mungkin Pak Abi memang jodohmu, Onni," batinnya. Dia menatap kedua bola mata berwarna gelap itu. Meski sempat berseteru pada kalimat cinta tak harus memiliki, yang kenyataannya tak semudah pengikrarannya, dia kembali menguatkan hati dan pikirannya. Hidup tak selamanya berjalan sesuai yang diinginkan.
Tatkala Paman Gani keluar dari mobil sewaan, Kala terkejut dan langsung bertanya, "Kok bawa banyak orang kenapa, Paman?" Dia berjalan mendekat Budhe Atun. "Aku malu, Budhe?" lanjutnya.
"Sudah ndak apa-apa. Lawong cuma ketambahan tiga orang."
"Jadi semua keluarga udah ngerti?"
Budhe Atun mengangguk. Mengelus lengan Kala. "Cantik banget, Nduk, kamu. Baju dari siapa ini?" Tentu Budhe Atun merasa ada yang spesial dari penampilan Kala. Karena Kala memang tidak pernah memakai brand mahal.
"Gus Omar."
"Walah...ya Alhamdulillah bisa pas dan cocok banget begini. Tak jamin Gus pasti demen, Nduk, kamu pakai pemberiannya."
Kala mengangguk. Menurut ketika diminta masuk mobil, duduk di kursi depan.
Sementara Vey dan Paman Gani menggotong barang-barang ke bagasi.
"Na, uang habis berapa biar Budhe ganti."
Vey menjawab sembari menata, "Nggak usah, Budhe. Sudah telanjur aku hitung di pengeluaran bulananku."
"Kamu ambil saja uang dari Budhemu," bisik Paman Gani yang hendak menutup bagasi.
Vey menatap. "Nggak apa-apa, Paman. Serius."
"Terus Abimana kemarin bagaimana? Kamu sudah memutuskan?"
"Aku bilang di antara kita tidak perlu ada komitmen. Tidak usah saling menunggu juga."
"Kamu menolak halus?"
"Aku harus bagaimana, Paman? Ya ini bisa dianggap lebih baik di antara kita berkenalan dulu. Kalau aku langsung mengiyakan, kok kesannya aku buru-buru."
"Mereka itu keluarga baik-baik. Abimana juga Soleh. Paman menyayangkan kamu justru menanggapi lamarannya seperti itu. Kedengaran ndak sopan, Na."
"Aku yakin Mas Abi juga mengerti. Apa jangan-jangan sebetulnya Paman sudah mengiyakan?"
Paman Gani berlalu.
"Paman jawab dulu!" Vey menarik kemeja Paman Gani.
"Kamu sudah dewasa."
Vey termenung sejenak sebelum akhirnya Budhe Atun menyuruhnya agar segera masuk.
Tak terasa perjalanan pun berakhir di halaman Pesantren Mahbubah. Hampir seluruh sudut bercahaya. Di antara lalu lalang para santri yang hendak madrasah diniyah, ada dua santri yang berlari menyambut mobil. Mengarahkan di mana mobil harus parkir.
Kala dan Vey tampak memperhatikan Paman Gani yang tengah berbicara kepada santri putra yang sesekali menunjuk ke arah ndalem kesepuhan.
"Kita langsung diminta ke ndalem," ucap Paman Gani kemudian.
Kala membuka pintu mobil terlebih dahulu. Pandangannya menyebar ke seluruh penjuru pesantren. Lalu, di samping ndalem kesepuhan itu dia menyipitkan pandangan. Maju beberapa langkah untuk memperjelas siapa yang berhasil dilihatnya. Dia mempercepat langkahnya. Pergi tanpa pamit. Mengabaikan panggilan Budhe Atun.
"Mau ke mana itu Kala?"
"Nggak tahu, Budhe," jawab Vey.
"Ikuti dia!"
Vey menurut.
Kala memanggil lirih. Takut salah memanggil orang. Tapi, memang benar perempuan yang menangis itu ialah Nurmaya. Nurmaya tengah bersama santri putri lainnya.
"Ngapain di sini, Ya? Kenapa nangis?"
Tangis itu kian menghujani wajah Nurmaya.
__ADS_1
"Ya, kamu kenapa?" Kala mendekati lagi sampai dia benar-benar melihat derasnya air mata Nurmaya.
Nurmaya bergeming.
"Yaya, what's wrong? Tell me."
"Gimana aku bisa cerita, La?" Dia balik bertanya.
"Ya, kamu bisa cerita. Aku kan temenmu, Ya." Kala mengajak Nurmaya duduk di pinggiran teras.
Nurmaya menolak, sementara Kala sudah terduduk, siap mendengarkan apa pun curhatan hati Nurmaya.
"Lebih baik kamu jujur," bisik santri itu pada Nurmaya.
Nurmaya menggeleng. Lalu malah pergi ke arah pondok putri.
"Kenapa, ya, Nurmaya malah nangis aku tanyain begitu?" gumam Kala.
"La, diajak masuk itu lo," pinta Vey.
Kala menoleh. "Sebentar. Duluan aja."
Kala beranjak. Menahan langkah santri itu agar tak juga pergi mengikuti Nurmaya.
"Sebentar aku mau nanya. Yaya kenapa, Mbak? Mbaknya tahu?"
"Sebetulnya ini rahasia pribadinya. Tak ada orang yang tahu. Mungkin hanya aku yang baru saja ngerti."
"Nggak ngerti aku. Maksudnya?"
"Aku kasih tahu intinya saja, ya. Kamu pernah ingat puisi yang Nurmaya buat di sekolah kamu waktu itu, Mbak?"
"Kok ngerti soal itu?"
"Yaya terpaksa cerita semuanya ke aku barusan. Sebelum dia menangis kejer setelah lihat kamu datang."
"Ada apa, sih, ini? Aku salah apa? Apa hubungannya dengan puisi?"
"Dia menulis puisi hanya untuk dipersembahkan pada satu orang, Mbak. Udah begitu saja, ya. Ini privasinya dia. Nurmaya nggak mau aku cerita ke orang lain. Dia malu." Santri itu pergi setelah mengucapkan salam. Terburu-buru.
"Kala?" panggil Vey lagi.
Kala tak mendengar.
Berhubung Kala semakin penasaran, dia membuntuti santri putri itu. Dia bertanya kepada santri-santri yang duduk di teras pondok--persiapan berangkat madrasah diniyah.
"Gus Omar nggak ngajar kelas kita. Males masuk, ah. Timbang nanti dibadali kang santri yang senior, tapi jutek itu lo."
"Sopo maksudmu?"
Yang lain menimpali, "Kang Abimana."
"Iya lo. Kang senior yang paling cuek, setahuku ya dia. Beda sama Gus Omar yang murah senyum."
"Tapi, kalian dengar, kan, hari ini Gus Omar mau lamaran. Eh, maksudku tunangan."
Santri lainnya mendadak berkumpul.
"Kata siapa kamu?"
"Kata Mbak ndalem dong."
"Seneng, tapi galau juga, sih. Pantesan nanti nggak ngajar kita. Emang tunangan sama siapa? Ning dari pesantren mana?"
"Nggak ngertilah. Kalau mau tahu, tanya sama Nurmaya tuh!"
"Aku tadi lihat dia lari sambil nangis."
Kala berhenti di depan santri-santri itu. Dia tak sengaja mendengar mereka membicarakan Nurmaya. Untuk itulah dia menyambung dan menanyakan di mana Nurmaya sekarang. Sontak santri-santri itu memperhatikannya dari ujung kepala sampai kaki.
"Mbak siapa?"
Ada santri yang lantas menyahut. Baru turun dari tangga. "Mbak, maaf, ya. Peraturan di sini kalau mbesuk atau nyambang santri tidak boleh malam-malam. Ada pesan saya sampaikan."
"Anu...tapi ini penting, Mbak. Maaf saya bukan mau sambang Nurmaya. Kebetulan malam ini saya hanya mau sowan ke ndalem Abah sepuh. Tapi, tadi saya lihat Nurmaya menangis. Nurmaya teman saya dulu, Mbak. Bisa tolong dipanggilkan sebentaaar saja. Please! Help me, nggeh?" Kala menelungkupkan tangannya
Ada yang kemudian mendadak kepo. "Mbaknya siapa kok ke ndalem malam-malam begini? Ndalem mau ada acara loh? sudah tahu belum?"
Kala menjawab refleks. "Iya tahu, Mbak. Saya ikut acara itu."
"Mbaknya serius apa bercanda, ya?" Santri kepo kembali bertanya.
__ADS_1
"Serius, Mbak." Kala masih belum menyadari kalau jawabannya semakin membuat santri menduga-duga.
"Mbak dari pesantren mana?"
"Bukan pesantren kok. Dari Lekok."
"Kita kaya pernah ketemu tapi di mana?" tanya santri lainnya.
Kala terbengong. Dia hanya fokus pada Nurmaya. Berharap Nurmaya mau menemuinya walau hanya sebentar.
"Hari ini itu Gus Omar mau tunangan lo, Mbak. Sampeyan keluarga pihak putri?"
"Hmm?" Barulah Kala menyadari sesuatu.
"Ada apa, La?" Nurmaya berdiri di sebelah kanannya. Dari jarak empat meter.
Kala menunduk permisi pergi. Dia mendekati Nurmaya. Mengajak Nurmaya agar berkenan hanya berbincang-bincang berdua.
Mereka menepi di gazebo yang berdekatan dengan rambatan tanaman markisa.
"Yaya, siapa GSO yang kamu maksud? Kalau aku punya salah, kamu jelaskan! Aku nggak ngerti. Aku kepikiran kamu."
"Aku tidak punya hak untuk memperjelas perasaanku selama ini, Kala. Aku hanya anak seorang nelayan. Mungkin lebih baik jika hanya Adira yang paham."
"Adira teman perempuanmu tadi?"
"Iya. Cukup dia, La. Kamu mendingan sekarang balik ke ndalem. Acaranya mungkin sudah dimulai. Aku sudah masak enak-enak. Selamat menikmati, ya." Nurmaya terburu bangkit.
Kala menahan. Menarik pelan sarung Nurmaya.
"Padahal sebetulnya, kapan hari aku berniat untuk menceritakan sesuatu padamu."
"Yang kamu maksudkan itu, aku sudah ngerti."
"Ya sudah banyak yang tahu pastinya. Untuk datang ke sini, aku membutuhkan keberanian, Ya. Aku butuh kemantapan. Ya, kamu yakin tidak mau cerita?" Kali ini Kala sangat memaksa. Ada yang terus mengganjal hatinya.
Nurmaya mencoba untuk membendung air mata. "Intinya kamu harus bersyukur mendapatkan apa yang mungkin bisa kamu miliki. Kadangkala orang lain menginginkan, tapi justru tidak kesampaian. Makasih udah memperhatikan aku, La." Nurmaya melenggang pergi. Meneteskan air matanya perlahan-lahan. Jatuh mengiringi setiap langkahnya.
Kala kembali ke depan ndalem. Dia melihat Budhe Atun dan Vey hampir memarahinya dengan tatapan.
"Ya Allaaaah, ditunggu keluarga ini lo, hiiiih. Kamu itu malah keluyuran, La." Budhe Atun melepaskan kekesalannya.
Dari luar, Kala bisa melihat berapa banyak orang yang ada di ruang tamu. Dan yang jelas mereka semua adalah keluarga besar Pesantren Mahbubah. Demi melihat pemandangan itu, degup jantungnya mendadak tak beraturan.
Vey membenahi kerudung Kala yang tidak rapi. "Sudah cantik. Yok!"
Budhe Atun menarik tangan Kala.
"Budhe?" Kala meringik.
"Kenapa?"
"Malu, Budhe." Kala menahan langkah. Dia terduduk di lantai. Memelas seperti anak kecil.
"Malu dilihat, Nduk!"
Vey berjongkok. "La?"
"Onni, aku serius. Aku malu banget nget nget. Aku nggak bisa bertatapan dengan mereka."
"Ya nanti nunduk aja, La."
"Nggak bisa, Onni. Malu banget."
"Ya Allah, kenapa aku sama sekali tidak percaya diri begini. Rasanya ingin memilih pulang saja," batinnya.
"Kala?"
"Onni?"
"Nduk, ditunggu itu lo, Cah Ayu. Tadi Gus Omar menanyakan kamu di mana."
Dia dapat mendengar dengan jelas seberapa cepat debum suara jantungnya.
"Malu, Onni. Nggak kaya biasanya aku berani. Kali ini aku malu banget pokok."
"Bismillah," ucap Budhe Atun.
"Kamu nunduk aja terus. Sambil salawatan, La." Vey membantu Kala berdiri.
Kala tetap bersikukuh. Sampai akhirnya dia memberanikan diri walau menahan malu setengah mati. Dia masuk ndalem dengan lutut menyentuh lantai. Lalu, bersembunyi di balik tubuh Budhe Atun.
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa ke-10 esok hari..Sebagai puasa dan ssmangat menjalani aktifitas. Terima masih semuanya.. 🤗🤗❤️🙏🙏🙏