Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 48 "Pesan Mama"


__ADS_3

Satu ajaaaa... Met baca.🤭🤭🤭🙏


Meski sesuap demi sesuap telah masuk ke mulutnya, tapi sesungguhnya Vey tidak sedang berselera. Sesekali dia menatap Kala yang makan pelan dan tenang. Tentu dia tidak tahu apa yang Kala pikirkan. Dia hanya mengira sepertinya Kala masih sepertinya. Berusaha menutupi kesedihan.


"La, kamu udah baikan, kan?"


Dia menjawab sembari mengangguk, "Ya..hmm...lebih baik daripada tadi."


"Pengen liburan ke mana? Sabtu besok kita close order dulu empat hari. Mendingan kita happy-happy dulu aja." Vey mencari jalan pintas. Sejak berkemah di bukit bersama Kafil, dia belum liburan lagi. Apalagi, liburan dengan Kala.


"Terserah Onni aja." Nadanya masih terdengar kurang bersemangat.


"Deketan apa jauh?"


"Terserah."


"Nanti aku kasih opsi kamu pilih."


Kala mengangguk.


"Bang Kafil gimana?"


"Dia terlibat kasus narkoba."


"Narkoba?" Kaget. Kala tak jadi mengunyah.


"Iya. Tapi masih dugaan. Karena Papanya yang jadi buronan. Mereka melarikan diri karena kasus itu. Mungkin karena pengusutan kasus ditutupnya kantor Papanya dia, soal penggunaan narkoba itu jadi terungkap juga."


"Apa mungkin Bang Kafil ikut-ikutan?"


"Nggak tahu, La. Aku nggak nyangka kejadiannya sampai seperti ini. Aku bener-bener kaget. Dia bener-bener menghilang, lalu tiba-tiba aku denger soal kasus narkoba itu dari Zezee. Yang jelas dia pasti akan dinterogasi juga sama pihak kepolisian. Waktu itu aku pernah vidcall sama dia sekali dan...dan aku lihat dia kayak orang sakit. Dari situ aku suudzon, La. Ya Allaaaah..."


"Onni yang lebih ngerti dan kenal sama Bang Kafil. Kalau hati kecil Onni bilang enggak, sepertinya emang enggak."


"Nggak tahulah, La. Aku cuma pengen refreshing." Vey memegang kepalanya sembari menunduk.


Kala meneruskan makan.


Lalu, Vey mendongak. "La?"


"Hmm?" Sembari mengunyah.


"Gus Omar gimana? Aku minta maaf, La."


"Bukan salah siapa-siapa kok. Kenapa Onni yang minta maaf?" Dari situ Vey mengerti kalau Kala belum sepenuhnya tertarik membahas pertemuan semalam.


"Mungkin andai aku nggak nerima perkenalan itu, nggak gini kan jadinya?"


"Cara mainnya nggak gitu, Onni. Ini sudah qadarullah."


Vey menatap belas. Dia pun paham kalau kalimat itu hanyalah alibi untuk mengelabui hati Kala yang gundah.

__ADS_1


"Apa yang mau kamu lakuin setelah ini?"


"Manut Paman."


"Serius? Kamu tahu, kan, apa keinginan Paman Gani?"


Kala menelan kunyahannya, lalu menanggapi, "Tahu, Onni. Memangnya aku harus gimana?" Dia sedikit meninggikan suaranya. "Coba Onni kasih tahu!" Pandangannya berubah serius.


"Aku bantuin ngomong kalau kamu nggak bersedia. Aku bisa."


"Kalau bantuin aku bisa, kenapa kemarin Onni nggak bisa menolak?"


"Ya karena permintaan Paman, kan, La."


"Kenyataannya sulit."


"Oke dispensasi aja."


"Dispensasi apa?"


"Habis lulus kuliah?"


"Nyatanya bernegosiasi dengan orang seperti Gus Omar itu sulit, Onni. Kita yang mesti sungkan, kecuali kalau beliaunya yang menawarkan."


Vey terdiam. Setengah membenarkan. Ingin menyangkal, tapi tak bisa berkata-kata.


"Kalau jodohku emang Gus Omar, Onni yang harus tinggal di sini. Onni nggak boleh ke mana-mana."


Kala bangkit. Menyudahi makan. Dia menjawab seraya mencuci piring. "Entahlah. Aku kaya ngerasa dituntun untuk pasrah. Bu Maria guruku tahfiz juga ngomong kalau Gus Omar ternyata dulu udah nyari tahu soal aku. Gimana prestasi aku di sekolah dan di hafalanku."


"Sebegitunya?"


"Jadi, alasannya karena Gus Omar emang suka dengan Kala?" batin Vey. "Tapi, kayaknya nggak karena itu juga."


"Aku nggak tahu. Onni nggak usah bahas itu dulu."


Rembulan menduduki singgasana langit yang pekat. Dari jarak lima belas meter terdengar suara seruling bakul putu ayu. Kala yang tengah mendaras di teras, hendak membeli, tapi tidak kadi. Paman Gani bertamu ke rumah, mengajaknya membicarakan soal kemarin malam karena Vey sudah memberitahukan keadaan dirinya.


"Na, cobo sini, Nduk!"


Vey menanggalkan celemeknya. Dia merapat ke ruang tamu, membersamai Kala dan Paman Gani.


"Bagaimana keuangan kalian?"


"Tumben, Paman?" Vey menelisik.


"Cukup untuk acara akad nikah?"


"Maksud Pa...man...?"


"Paman ingin menceritakan sesuatu pada kalian berdua."

__ADS_1


Berceritalah Paman Gani.


Ini mungkin akan terdengar seperti sebuah wasiat karena penuturannya berlangsung menjelang kematian. Namun, sebetulnya ibu Vey dan Kala sudah lama menyimpan mimpi itu. Melihat anak-anak masih terlihat belia dan belum mengerti pernikahan, ibu mereka menyimpan keinginan itu. Sampai suatu ketika Paman Gani mendapatkan pasrah untuk menikahkan salah satu dari kedua putri agar kelak dinikahkan dengan putra kiai. Tak disebut siapa putra kiai itu.


Paman Gani merasa punya tanggung jawab penuh untuk mengemban amanat itu. Barangkali kalau memang jodoh kedua ponakannya itu ialah seorang anak kiai, entah Vey ataupun Kala. Mulanya, dia ingin menawarkan Kala yang notabene lebih agamais dan berakhlak baik daripada Vey. Namun, pada akhirnya dia mengubah keputusan dengan menawarkan Vey sebagai keponakan yang mungkin lebih pantas dijadikan menantu. Mengingat usia Vey yang sudah sangat matang.


Takdir berkata lain. Putra kiai itu justru menjatuhkan pilihannya kepada Kala. Pinangan telah jatuh kemarin malam. Seperti yang diharapkan ibunda. Seakan-akan memang berjodoh. Meski Budhe Atun memiliki pendapat yang sedikit bertentangan dengan Paman Gani karena usia yang terpaut jauh, tapi amanat itu harus dilaksanakan. Menolak dengan alasan yang tak jelas pun kurang begitu memungkinkan.


Dan setelah mendengar pernyataan itu, Kala semakin menggeming. Vey terbengong. Menoleh kepada Kala yang melemparkan pandangan ke arah ayunan di halaman.


"Ternyata Mama punya keinginan begitu, ya?" tanya Kala kemudian. Nadanya terdengar pasrah.


"Kala, katanya Gus Omar ingin Paman sowan ke pondok. Apa kamu mau ikut? Paman yang bicara, kamu bisa nyambang temenmu."


"Memangnya Paman kapan akan ke sana?"


Vey hanya menjadi pendengar. Antara bingung dan heran.


"Insyaallah besok malam lusa."


"Gimana mau ikut?"


"Terserah Paman."


"Oo ya uwis. Terus bagaimana, Vey, tabungan kalian?" Berganti menatap Vey.


"Kalau untuk acara akad ada, Paman."


"Ini untuk jaga-jaga saja. Barangkali Gus Omar menghendaki cepat dilaksanakan."


Kala mendatarkan raut mukanya.


"Ini keinginan Mama? Mama nggak pernah cerita?" batin Kala.


Paman Gani pamit. Sebelum itu dia mengingatkan agar Kala memperbanyak salat hajat.


Begitu langkah semakin menjauh, Kala menubruk tubuh Vey. Memeluk erat. "Onni?" Dia tersedu-sedu.


"Seandainya kamu nikah duluan, La, aku juga harus siap jadi bahan gibah tetangga. Adik perempuan yang mendahului pernikahan kakak perempuannya biasanya akan dikira tidak laku menikah." Vey membatin.


"Nangis aja, La. Habiskan air matamu. Pokoknya kita habis ini harus liburan berdua."


Vey teringat sesuatu. "La, apa memungkinkan jika seandainya kalian menikah sirri dulu?"


Kala menggeleng. Menandaskan seluruh air matanya.


"Seandainya Mama masih hidup, aku pengen ngobrol banyak." Suaranya terbata-bata.


Vey mengelus-elus pundak Kala. "Sudah. Nanti jadi tambah sedih. Mama juga sedih nanti lihat kamu gini.


Walau hati Vey masih kalut dengan kasus yang menimpa keluarga Kafil, tapi dia tak mungkin abai melihat kondisi Kala yang demikian.

__ADS_1


__ADS_2