
Jangan lupa berdoa. Bismillah..π€
Pagi-pagi, ketika fajar menyembul dari ufuk timur, Kala lebih suka menemani ibunya di dapur. Walaupun dia tidak berbuat apa-apa, tapi dia suka sekali bertanya dan memperhatikan apa saja yang dilakukan ibunya saat membuatkan makanan untuk keluarga.
"Rambut panjang anak Mama waktunya dipotong ini. Nanti dipotong Mama, ya, Nak?" Ibunya mengambil karet gelang baru, lalu menguncir rambut lurus Kala yang sudah sepinggang--tebal dan lurus persis seperti milik ibunya.
Kala mengangguk dan tersenyum. "Tapi, jangan banyak-banyak, ya, Ma motongnya. Kala gak suka pendek. Maunya panjang terus."
"Mama bangga sama kamu. Harapan Mama ada di kamu, Sayang. Tumbuh jadi Salihahnya Mama, ya. Jadi hafizah yang berakhlakul karimah. Biarkan Kakakmu meniru Ayah, tapi kamu nggak perlu ikut-ikut. Jadi...kamu dan Kakakmu bisa saling melengkapi."
"Kala gak suka berkelahi, Ma."
Ibunya mencipta senyum.
Vey ingat betul peristiwa bertahun-tahun silam. Dia tahu bahwa hanya Kala yang bisa mengabulkan harapan sang ibu. Pesan sang ibu menjelang tiada membuat dirinya berjanji akan mendukung Kala hingga berhasil mengkhatamkan Alquran. Untuk itulah kenapa selama ini dia tak pernah membebani Kala dengan masalah pribadinya. Sayangnya, Kala menanyakan alasan itu di saat yang tidak tepat. Maka, terjadilah pertengkaran singkat beberapa menit yang lalu.
Karena sadar bahwa tidak seharusnya dia menaikkan suaranya, dia mengalihkan perhatian dengan menyuruh Kala makan siang. Entah kenapa siang ini dia tidak bisa mengendalikan emosi. Dia hanya berpikir itu karena kondisi fisiknya yang sedang tidak baik juga. Pasalnya dia sudah menahan pusing sejak pagi dan harus menyelesaikan pesanan-pesanan yang tertunda. Beberapa pemesan juga sudah mulai menagihnya.
Vey merebah. Menghadap ke kiri dan memeluk guling.
"Kaf, sebetulnya ada apa? Kenapa justru kamu menyuruhku agar menerima tawaran Paman."
Vey menyerana. Menatap beberapa potret dirinya dengan Kafil di bukit cinta bulan lalu.
π"Nana, i'm sorry. Aku belum bisa penuh permintaan kamu. Jika memang dengan kamu penuhi permintaan Paman itu bisa tambahkan rasa baktimu pada mereka, lakukan saja, Nana. Never mind. Jika Tuhan nak persatukan kita, aku rasa semua akan baik-baik saja."
π"Aku tahu. Aku juga sempat berpikir begitu. Tapi, setelah aku dengar kamu terus menyuruhku begitu, aku benci sama kamu, Kaf. Aku nggak suka cara berpikirmu."
Lantas Kaf terdengar sedang berbicara dengan seorang perempuan yang menanyakan apakah dia baik-baik saja. Lalu, menyuruhnya beristirahat. Namun, suara perempuan itu lekas menghilang.
π"Kaf, kamu nggak ingat permintaan Papamu. Papamu pengen kita nikah tahun depan. Iya, kan?"
π"Aku juga sudah bicara. Papah menyerahkan padaku, Na." Di seberang sana, Kafil tetap menggunakan suara rendahnya.
π"Kalau gitu siapa perempuan yang ngobrol sama kamu?"
π"Aunty."
__ADS_1
Vey tak segera percaya. Dan dia mulai curiga ke arah sana. Di sisi lain dia pun segera melibas prasangka buruk itu. Karena tak mungkin setelah lamanya hubungan mereka berjalan, lalu Kafil dengan mudahnya mengkhianatinya.
Begitulah percakapan mereka tadi. Sampai akhirnya Vey benar-benar tidak betah menahan suaranya, meninggi dan membuat Kala penasaran dengan apa yang sudah terjadi. Walau dia tidak sepenuhnya yakin, tapi dia berusaha tetap bersikap dewasa dan bijak. Dia akan memenuhi permintaan Paman Gani. Namun, dia tidak mau membayangkan kemungkinan apa saja yang nantinya akan terjadi.
Hanya saja Vey tidak berhenti pada keputusan itu. Dia tidak menyerah untuk mencari tahu. Dia tangguh, pemberani, dan dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan kepastian. Walau Kafil telah berkata demikian, tapi dia akan berusaha menuntaskan semua rasa penasarannya. Dia membuka galeri kontaknya. Memeriksa ada nomor siapa yang telah dia simpan--barangkali teman Kafil ada yang bisa dihubungi.
Ada empat nomor. Walau tiga di antaranya tidak cukup dekat dengan Kafil, Vey berharap dia mendapatkan petunjuk.
Dia berbasa-basi sebentar, lalu kunjung bertanya, π"Kamu tahu di mana Kafil sekarang?"
π"Kafil, aku nggak sedekat itu sama dia. Jadi aku nggak tahu. Kita terakhir ya di puncak itu, Kun. Terakhir kontekan juga sebulan lalu kayaknya. Dan, dia masih di sini. Emang kamu ada masalah?"
π"Ya aku cuma pengen tahu dia sekarang ada di mana. Ada masalah penting yang harus kita obrolkan bareng. Harus ketemu, Maya. Kalau Akbar tahu nggak kira-kira?"
π"Bisa jadi Akbar lebih tahu. Tapi, katanya Akbar sekarang di luar negeri. Pamitnya, sih, menghadiri pernikahan temennya. Nggak tahu siapa. Sampai di sini ada petunjuk nggak?"
π"Entahlah, May."
π"Aku bantuin cari tahu, ya. Biar aku yang tanya ke Kafil. Kalau dengar kamu nyariin dia gini, sih, menurutku dia menyembunyikan sesuatu dari kamu."
π"Thank's, ya. Kalau udah, kabari aku secepatnya."
Vey mengaminkan dalam hati, lalu menutup teleponnya. Lanjut menghubungi Akbar. Namun, Akbar aktif dua jam yang lalu. Wajar karena dia juga pria sibuk seperti Kafil. Sembari menunggu, dia menghubungi sisa dua orang.
Kali ini dia to the point. π"Zee, aku minta maaf. Mau nanyain soal Kafil. Kamu tahu dia di mana sekarang?"
π"Pas banget. Aku mau nanyain dia ke kamu. Keburu kamu nanya duluan. Emang dia pulang ke rumah lagi?" Malah bertanya balik.
π"Iya. Setahuku begitu. Tapi, aku pengen tahu dia pasnya sedang di mana dan ngapain gitu."
π"Setiap ada cowok...sama cewek berantem, yang bingung mesti pihak cewek. Nggak ada hati, ya, tuh cowok."
π"Kamu bisa bantuin aku nyari tahu?"
π"Iya. Insyaallah aku usahakan tanya ke temen-temen."
π"Setidaknya aku ngerti kapan dia berangkat, kenapa WA sampai sekarang tidak aktif, dia jarang update feed atau status ficibook, atau...ya apalah."
__ADS_1
π"Tapi, yang ngerti kayaknya Akbar, deh, Vey. Udah kamu hubungin dia?"
π"Oh, iya Akbar kan pacarmu, Zee."
π"Enggak. Orang kita nggak ada kejelasan kok."
Vey tersenyum. "Kata Maya Akbar ke luar negeri karena temennya nikah?"
π"Ya iya aku emang tahu juga itu. Dia pamit, sih. Update feed persiapan lihat akad."
π"Kapan emangnya?"
π"Besok mungkin."
π"Aku mau hubungin Akbar, tapi belum bisa."
Sama seperti Maya tadi, Zezee juga berkata akan membantunya.
Stelah dia istirahat kurang lebih empat puluh menit, dia memeriksa handphone-nya. Akbar menghubunginya balik. Dia berjingkat.
Tut Tut. Panggilan berdering. Menit pun berjalan.
π"Assalamualaikum. Akbar, sorry aku ganggu. Bentar aja, ya. Kamu di mana sekarang?"
π"Aku di Singapore."
π"Nggak di Malaysia?"
Akbar berdehem. π"Enggak. Kata siapa?"
Vey hanya menyimpulkan sendiri bahwa Akbar mungkin tengah berbohong.
π"Ya aku kira aja. Siapa yang nikah?"
π"Rekan bisnis. Aku deket banget sama dia. Aku berangkat tadi. Pernikahannya digelar besok. Ada masalah?"
π"Masalah? Ooohhhh...enggak. Enggak kok. Makasih kalau gitu."
__ADS_1
π"Yaa."
Dia bertanya ulang pada Maya dan Zezee di chat--ke Singapore atau ke Malaysia? Namun, keduanya tidak menjawab sama. Maya mengatakan Akbar di Malaysia, sedangkan Zezee mengatakan di Singapore. Dia masih sulit memastikan mana yang benar. Karena walaupun kemungkinannya jawaban Zezee lebih akurat, tapi nada Akbar di telepon tadi terasa ada yang aneh.