
Sewaktu Vey akan berangkat mengajar, tiba-tiba saja dia tersenyum sendiri mendapati pesan washap yang baru dibacanya. Kala menatapnya heran.
"Kenapa, Onni?"
"Pesenannya jadi. Moga aja bisa kita kerjain. Pesenannya mau dipakai sebulan lagi. Tapi, kita diminta menyiapkan semuanya seminggu sebelum." Vey duduk di sofa ruang tamu. Tak jadi memakai tas ranselnya. Lima belas menit lagi baru dia akan berangkat.
Kala ke dapur. Mengambil sarapan nasi goreng buatannya tadi. Dia pun kembali ke ruang tamu. Lalu, meraih handphone Vey sembari duduk.
"Bagus nggak?"
Dia meletakkan piringnya. Mengiyakan pertanyaan Vey.
"Dia pesen delapan ratus souvenir sendok garpu sumpit yang plastik. Yang seratusnya sama, tapi yang besi. Dia minta yang kualitas sedang. Semoga nggak sulit nyari sebanyak itu. " Vey akan selalu bersemangat menyambut pesanan orang-orang. Dia ingat, betapa gigihnya sang ayah dulu ketika mengajari dan memberinya teladan tentang arti kesungguhan dan tanggung jawab.
"Onni, kamu pesti semangat banget kalau pesenan rame. Padahal, mesti gak bakalan tidur. Muter-muter ke sana ke sini. Hmm...kalau kita udah gak bisa gini lagi gimana?" batin Kala. Dia mulai menyendok nasi gorengnya. Tak begitu bersemangat makan.
Vey mendadak bangkit. Dia keluar rumah. Kala mengira itu panggilan dari pemesan yang bersangkutan tadi. Padahal, sebetulnya Vey sedang mengangkat telepon dari kekasihnya.
📞"Gimana?"
📞"Mamah minta kamu ke rumah. Dia nak bicarakan sesuatu denganmu."
📞"Kamu udah ngomong lagi sama mereka? Yang kita bicarakan semalam."
📞"Baru tadi. Supaya clear, kamu ke sini. Kapan kita nikah dan kita akan tinggal di mana nantinya. Perlu aku jemput?"
📞"Nggak, nggak usah. Sepulang ngajar aku langsung cus ke rumahmu."
📞"Oke, Na. By the way, kamu sudah seserius ini. Kan keluargamu belum ada yang tahu."
📞"Belum. Aku baru akan ngomong kalau kita udah dapet kepastian semuanya. Kalau kitanya clear, orang lain tidak akan terlalu ikut campur."
📞"Kamu yakin mereka semua setuju? Termasuk Adikmu?"
📞"Kala urusan gampang. Insyaallah aku bisa bujuk dia. Paman Gani baik. Dia adil dalam memutuskan sesuatu. Insyaallah kalau Paman oke, saudaraku yang lain oke."
Begitulah cara berpikir Vey. Dia tidak ingin terburu-buru melibatkan orang lain sebelum dirinya yakin semuanya akan bisa berjalan sesuai rencananya.
📞"Hati-hati, Nana Cantik. Aku bersyukur bisa mengenalmu."
Vey tersenyum tipis.
📞"Assalamualaikum?"
__ADS_1
📞"Waalaikumsalam."
***
"Hafalan kamu nggak lancar kenapa, Kala?" tanya Bu Maria. Dia yang paling responsif saat Kala yang biasanya lancar saat setoran, tapi hari ini hafalannya sedikit menuntun. Selain karena sebagiannya juga masih hafalan baru--dihafalkan tadi usai masak dan mandi.
"Bu, apa saya boleh curhat?"
"Curhat? Soal apa?" Bu Maria lantas menghitung sisa anak yang belum setoran. "Nanti, ya, kalau setorannya sudah rampung. Nggak apa-apa?"
"Terima kasih, Bu Maria." Kala menyucup punggung tangan guru kesayangannya itu.
Bu Maria tersenyum.
Kala menunggu setoran selesai dengan hanya duduk-duduk di depan kelas. Menatap air mancur yang mengalir menguyupi ikan-ikan mas. Lantas, dia memangkas satu bunga krokot yang sengaja ditanam di sepanjang depan kelas--dari ujung timur ke barat.
Tiba-tiba saja Syarif berdiri di sampingnya tanpa mengatakan apa pun. Menyodori Kala seplastik pentol goreng.
"Kok ada sausnya, sih?" gerutunya.
"Lagi PMS?" Syarif duduk di depannya. Dengan santainya makan pentol di tangan kirinya. Mengabaikan suasana sekitar yang hening--masih jam pelajaran.
"Nggak. Aku biasa aja. Jam segini ngapain kamu di sini? Dilihat BK tahun rasa kamu. Beli pentol pula."
"Ih, sudah dikasih kok diambil lagi. Bagaimana kamu itu...hmm." Kala menggerutu lagi.
"Pasti bentar lagi mau itu kamu..."
Kala mencebik. Melirik sewot.
Syarif mengunyah sembari berkata lagi, "Eh, nggaklah. Malam itu kamu pas ketemu aku mau beli roti, kan?" Roti yang dimaksud adalah pembalut. Dia kembali memakan sisa dua butir pentol yang langsung dimakannya sekaligus. Lantas melemparkan plastiknya ke tong sampah.
Kala pun langsung melepaskan tatapan tajamnya. Entah kenapa dia risih sekali hari ini. Mungkin juga Syarif benar, sebentar lagi bulanannya akan datang.
"Nih!" Syarif memberikan lagi pentolnya.
"Makasih," ucap Kala kasar. "Nggak ke kelas kamu?" tanyanya kemudian.
Syarif bangkit. "Dibaik-baikin tu hatinya. Kamu jelek sumpah, La, kalau sewot begitu." Sebelum Kala melemaparinya dengan sesuatu, Syarif buru-buru berlari sambil tertawa.
Syarif memang sengaja keluar kelas, pamit ke kamar mandi. Begitu dia melihat Kala tengah bermasygul hati, sehabis dari kamar mandi dia langsung ke kantin membeli dua bungkus pentol. Sayangnya, dia tidak tahu kalau Kala kurang suka dengan saus tomat.
Setoran selesai lima belas menit kemudian. Bu Maria langsung mengarahkannya ke ruang guru setelah dia menutup pintu.
__ADS_1
"Bu, kalau di sini bagaimana? Bu Maria keberatan?"
Bu Maria sejenak melamatkan pandangannya ke wajah Kala yang tak semringah.
"Ya sudah."
Mereka berdua duduk bersamaan.
"Oke. Kala mau bicara apa? Sudah lama, ya, kita nggak berbincang-bincang serius begini?"
Kala memaksakan senyumannya.
"Tenangkan diri dulu!"
Kala menggigit bibirnya. Menelan ludah sekali.
"Bu, apa perempuan tidak berhak untuk menentukan di mana dia akan tinggal nanti?"
"Tinggal di mana ini maksudnya?"
"Setelah menikah, Bu."
"Tentu berhak dong. Tapi, sebaiknya perempuan ikut ke mana pun suaminya pergi."
"Apa wajib, Bu?"
"Kalau dibilang wajib, sih, tidak asalkan suaminya rido. Misal, suami mau ke Malaysia. Kan tidak mungkin juga kalau istri ikut ke sana. Yang Ibu maksud tadi, misalnya kalau Kala suatu saat nanti menikah, lalu setelah menikah suami mengajaknya tinggal di rumah sendiri atau di rumahnya. Ya sebaiknya memang ikut suami. Cara istri memuliakan suami sama seperti anak perempuan memuliakan orang tuanya."
"Tapi, semua itu tergantung bagaimana kondisinya, kan, Bu?"
"Iya bener. Umumnya memang perempuan akan selalu ikut suaminya setelah menikah. Contohnya kalau dia punya saudara. Tapi, mungkin juga kalau banyak saudara pun suaminya itu mau tinggal di rumah si istri."
"Tapi, saya dan Onni hanya tinggal berdua, Bu. Kami sudah tidak punya orang tua. Kalau Onni menikah, bukannya dia berhak menolak diajak ke rumah calon suaminya?"
"Emangnya Mbakmu mau menikah?"
"Belum, Bu. Sepertinya juga belum punya calon."
"Atau kamu yang mau menikah?" Bu Maria mencandai.
Kala tertawa lirih. Menegaskan itu tidak benar.
"Tapi, jodoh itu misteri, Kala. Tidak pandang usia. Dulu Ibu juga begitu. Ibu pikir jodoh Ibu akan datang di usia dua puluh ke atas. Ternyata Ibu sudah dijodohkan dari SD. Bapaknya Ibu sudah sepakat besanan dengan orang. Ingat nggak pelajaran tentang wali nikah. Ada yang namanya wali mujbir. Wali kita berhak menikahkan kita dengan laki-laki mana pun selagi laki-laki itu dipandang baik dalam agama dan wali kita merasa laki-laki itu sudah cukup sekufu. Kala nggak lupa materi itu, kan?"
__ADS_1
Terima kasih sudah mendukung Vey dan Kala. 🐱🐱😘😘😘😍🥰🥰🥰