
Paman Gani kembali mempertanyakan kapan Kafil akan datang. Dari caranya bertanya, Vey seakan-akan menangkap nada ketidakpercayaan Paman Gani pada Kafil.
"Kafil belum bisa dihubungi lagi," jawabnya cuek.
Kafil memang belum menanggapi soal yang dia katakan siang itu. Kafil seperti bertapa dari media sosial.
Kala keluar dari kamar tak berani mendekat, apalagi mencampuri perbincangan Vey dan Paman Gani. Vey saja dulu tak pernah bercerita apa-apa padanya soal Kafil. Maka, sampai sekarang pun dia masih menganggap kisah Vey dengan Kafil begitu privasi. Dia langsung ke teras mengulang hafalannya--mendekap Alquran dan handphone.
Walau sebetulnya Kala ingin sekali membantu meringankan beban pikiran Vey, tapi Vey selalu saja menolak membahas terlalu jauh bagaimana keadaan dirinya sekarang. Padahal, sudah sangat yakin kalau akhir-akhir ini Vey bermasalah dengan Kafil. Dia pun hanya bisa mendengarkan dari posisinya duduk sekarang. Dia mengambil headset menyetel musik dursun ali sembari mengirim pesan.
..."Mel, Rum, kapan-kapan kita ke warung Pak Abi, yuk!" Dia mengirimnya di grup. Centang dua....
^^^Lanjut ke Syarif. "Rip, ayok marung."^^^
Kebetulan Syarif online. "Warung siapa?"
^^^"Warung rame deket LBB Najah. Tahu nggak?"^^^
"Tahu. Kapan?"
^^^"Aku kok nggak ngerti, ya. Kamu kapan bisa?"^^^
"Kan, yang biasa repot lu, La. Berdua aja, nih? π€€π€€"
^^^"Nggaklah. Ngarep. πππ€"^^^
"Kali aja Bu Nyai mau nraktir. Tumben kan lu ngajak marung. ππ"
^^^"Berempat. Ngajak Mela sama Ruma. π€£π€£π€£"^^^
"Kapan?"
^^^"Besok aja. Besok kan Jumat. Pulang cepet."^^^
"Siap, Bu Nyai."
^^^"π."^^^
Mela mengetik di grup.
"Oke. Besok?"
^^^"Iya besok aja. Mumpung Jumat, Mel."^^^
"Oke."
Kala lanjut murajaah hafalannya. Dia memejam. Bersandar di tiang penyangga. Berselonjor kaki.
Vey masih berbicara panjang lebar dengan Paman Gani.
"Kalau Kafil sudah balas pesanku, siap ke sini, aku pasti akan bilang ke Paman. Paman yang sabar."
"Paman tidak ingin dia mempermainkan kamu, Na. Paman peduli dengan masa depanmu."
"Makasih, Paman. Aku tahu itu." Vey malas berkomentar panjang. Dia menahan semua kalimatnya. Dia yakin Kafil tidak pernah mempermainkannya. Kafil memang pria muda dan mapan, tapi dia memang sudah siap berkomitmen. Untuk masalah kesiapan dia tidak mempertanyakan.
"Kemarin Gus Omar tanya. Itu tandanya beliau siap kenalan sama kamu. Paman minta kamu bisa mengambil sikap yang baik. Yang rasional. Yakinlah jodoh tidak akan tertukar."
"Iya, Paman." Lagi-lagi Vey tak mau mengomentari lebih.
__ADS_1
Dia masih menyangkal kalau Gus Omar benar-benar akan tertarik padanya. Dia tidak memungkinkan itu.
Setelah Paman Gani pulang, dia buru-buru menyelesaikan pesanan. Karena molor tiga hari, dia sempat diancam pemesan akan membatalkan pesanan. Padahal, dia sudah mengerjakannya separuh. Beberapa pesanan seperti lukisan molor beberapa hari. Selain pengerjaannya memang lama, Kafil membuatnya tak fokus.
Pukul delapan malam dia istirahat sebentar. Makan malam setelah nasinya matang. Dia hanya memasak sop ayam lauk krupuk. Sembari menahan pusing, dia menelan nasinya pelan-pelan. Sebetulnya tak berselera, tapi perutnya harus terisi. Hari ini dia hanya makan dua kali.
"Onni, sory, ya. Onni kenapa nggak mau nyeritain Bang Kafil? Aku belum kenal lo. Pengen kenalan juga."
"Kamu lihat aja insagremnya. Kaf under score."
"Pantesan aku cari-cari nggak ada. Eh, tapi harusnya kemarin aku cari di pertemanan insagremnya. Hmm...nggak kepikiran."
"Oh, oke."
Vey yang hanya mengambil nasi sedikit segera mencuci piringnya begitu rampung makan. Dia mencoba memeriksa handphone. Dia berjingkat saat tahu ada notifikasi panggilan video dari ficibook.
Vey kontan membanting pantatnya di kasur. Menelepon balik. Harap-harap cemas karena panggilan itu sudah dua jam yang lalu.
Tiga kali panggilan tidak terjawab.
"Onni?" Kala berteriak seperti ada sesuatu yang bahaya.
"Haa kenapa?"
"Ini aku kasih tahu." Kala menyusu.
"Kenapa, sih?" Vey bangkit mendekati Kala yang masih duduk di kursi. Urung menghabiskan makanannya.
"Bang Kaf baru update feed."
"Masak?" Vey merebut handphone Kala.
"Kafil di Malaysia? Caption-nya kenapa gitu?" Pikiran Vey mulai ke mana-mana.
"Onni, Bang Kaf ganteng banget ternyata. Pantesan Onni jatuh cintrong." Kala mencoba berkelakar. Tapi, sepertinya Vey tidak mendengarkannya, sibuk dengan pikirannya sendiri.
Kala terdiam.
Vey mengembalikan handphone Kala. Lantas dia memeriksa insagrem Kafil dari handphone-nya.
"Caption-mu mencurigakan, Kaf. Kenapa, sih, Ya Allaaaah," batinnya. Dia kembali ke kamar.
"WA belum aktif sampai sekarang."
Vey mencoba menghubungi lagi. Bersamaan dengan itu, Kafil online di massanger.
Berdering. Langsung diangkat. Kafil bersedia telepon video call dengannya. Seketika Vey menutup kamar dan menguncinya. Menarik bantal dengan posisi tengkurap.
π"Hei?" Kafil menyapanya dengan senyum.
π"Sehat?"
Vey mengangguk. Dia terharu. Sekaligus rindu. Dia menyembunyikan tangis.
π"Wajahmu kok gitu, Kaf?"
π"Gitu kenapa?"
__ADS_1
π"Kaya orang capek. Sayu. Kamu baik-baik aja?"
π"Yes. I'm oke. Sorry, ya."
π"Kamu sekarang di mana? Malam-malam gini di luar. Sama siapa?"
π"Aku sendirian." Kafil langsung memperlihatkan suasana sekitarnya. Dia memang terlihat sedang sendiri.
π"Eh, kamu nggak lagi sakit kan?"
π"No. Seperti yang kamu bilang, kalau keluar malam harus pakai jaket ni. Aku dah memakai jacket." Kafil memperlihatkan pakaiannya.
π"Iya." Saking rindunya, dia hanya memandangi Kafil lama. Enggan menanyakan semula yang menjadi kekhawatirannya. Semuanya terasa lebih melegakan sesaat setelah dia bisa melihat rupa Kafil yang baik-baik saja. Beberapa pertanyaan hilang.
π"Kemarin kamu ngomong apa?"
π"Ngomong apa, Kaf?"
π"Kamu diperkenalkan dengan someone."
π"Hmm...itu, ya. Paman Gani, Kaf. Bukan dijodohkan, tapi memang ada yang mau kenalan sama aku. Perantaranya langsung Paman. Aku nggak tahu. Makanya, kamu ke sini, ya. Paman nunggu."
π"Belum bisa, Na. I'm sorry. Lagi bussy sangat di sini."
π"Sampai kapan? Sejak kapan kamu pulang?"
π"Udah beberapa minggu yang lalu. Aku tak tahu sampai kapan di sini. Sabar nggak?"
π"Aku sabar. Tapi, bagaimana caranya aku ngomong sama Paman, Kaf. Kadang tuh ya aku milih diem daripada ngomong membela diri. Daripada akhirnya ujung-ujungnya tetap sama."
π"Kamu ngomong aja aku masih di Malaysia."
π"Ya tapi kamu harus ngasih kepastian kapan bisa pulang. Atau kamu pulang barang dua hari atau tiga hari. Ke sini habis itu balik. Nggak bisa?"
π"I'm sorry, Na. Belum bisa. Sorry."
π"Sebetulnya ini nggak darurat, Kaf. Tapi, Paman itu pengennya aku tetep kenalan karena kamu belum melamar. Tapi, aku sudah bilang kalau kita punya komitmen. Aku ceritakan semuanya sama Paman. Tapi, kali ini Paman kayaknya beda. Paman tu kaya ngarep aku bisa kenalan sama orang itu. Paman bilangnya, kalau nggak jodoh ya ngg jodoh. Aku kenalan pun dengan dia, ya nggak akan cocok kalau nggak jodoh. Aku sih juga sama sekali nggak memungkinkan orang itu akan suka."
π"Siapa pun laki-laki akan kagum sama kamu, Vey. Terutama bagi dia yang sudah mengenal kamu dengan baik."
π"Kaf, aku nggak mau, ya. Makanya aku minta tolong kamu ke sini. Atau kamu ngobrol ginilah sama Paman. Online dulu nggak apa-apa."
π"Na, aku benar-benar minta maaf. Aku belum bisa melanjutkan obrolan kita lebih jauh. Ada hal lain yang sedang aku kerjakan saat ini."
π"Oke. Aku tahu ini privasi kamu. Aku nggak berhak tahu semuanya karena hubungan kita masih terbatas. Tapi, kamu yakin nggak mau berbagi cerita sama aku?"
π"Kamu sibuk."
Dari situ Vey bisa menangkap bahwa Kafil tak ingin membebaninya dengan apa pun.
π"Setidaknya bisa meringankan."
π"Aku akan cerita kalau semuanya sudah membaik. Untuk sementara, kamu penuhi permintaan Pamanmu."
π"Gila kamu, Kaf. Kamu yakin?" Nadanya meninggi tiba-tiba. Kala pun mendengarnya
Kafil terdiam.
π"Kamu sendiri loh, ya yang bilang kalau kemungkinan dia akan suka sama aku itu bisa saja terjadi. Lantas kenapa kamu oke oke aja, Kaf?"
__ADS_1
π"Setidaknya kamu bisa menunjukkan baktimu pada mereka. Kamu pahami sudut pandang mereka."