
“Nggak tahu. Cuma nanya apa keseharianmu dan Mbak Vey di rumah. Terus beliau niatnya ada keinginan buat ngundang kamu ke sini, terus aku bilangnya kamu sudah aku undang. Terima kasih, ya, Kala sudah dateng. Kita bisa ketemu lagi dan ngobrol bareng.”
“Hehe. Hari ini kebetulan nggak ada pesanan banyak.”
Kala mengedarkan tatapannya sekali lagi. Tertuju pada santri-santri putra yang tampak berdiri menjaga keamanan sekitar.
“Di sini itu kebanyakan santri putranya apa berambut gondrong gitu, sih?”
“Nggak juga. Mungkin mereka yang rambutnya panjang itu karena ngikut-ngikut Gus Omar. Gus Naba, Gus Abil, Gus Asri, Gus Yusuf. Tapi Gus Yusuf yang paling bontot itu dulunya rambutnya panjang sepunggung malah. Berhubung masih kelas dua SMA akhirnya dipotong. Sekarang dah kelas dua belas. Pas momen kaya gini itu nyenengin banget. Semua keluarga berkumpul. Santri bebas kegiatan. Libur dua hari. Yang paling dinantikan itu bisa makan besar walaupun capek jadi kepanitiaannya.”
“Kalau Pak Abi ke sini nggak?”
“Pasti ke sinilah. Tapi, dari tadi aku nggak nemuin dia. Mungkin repot sama Gus Omar. Soalnya aku dari pagi di dapur terus. Balik ke kamar ingat baju-bajuku belum aku cuci.”
Nurmaya mendekatkan mulutnya. Khawatir terdengar Vey. “Emang Pak Abi orangnya gimana, Ya?” bisiknya. Dia berharap semoga pertanyaannya tidak terdengar aneh di telinga Nurmaya.
“Aku kurang tahu lo. Bahkan, nggak tahu. Ya yang jelas kalau Kang Abi diminta jadi badal Gus Omar, kan, kelihatan dia orang kepercayaan Gus Omar. Kehidupan pribadinya benar-benar nggak tahu aku, La.”
“Bisa minta tolong cariin tahu?” Kala nyengir.
“Heee?” Nurmaya mengangkat alis.
“Iya, Ya. Bisa?”
“Nggak berani. Aku sungkan ngomong banyak sama Kang Abi. Nanti dikira aku ada apa-apa sama dia.” Seketika itu dia ingat tawaran perjodohannya dengan Abimana.
“Gitu, ya...”
__ADS_1
Sementara, Vey gelisah ketika membaca pesan kekasihnya.
“Nana, aku baru bicara sama orang tua. Pasal kita akan segera menikah.”
^^^“Terus?”^^^
“Mereka setuju. Mama ingin tahun depan kita sudah halal. Pasal kapan, Papah merekomendasikan sebelum hari raya.”
Bukannya senang. Vey justru menjadi cemas. Perkataan Kala kemarin malam membuatnya berpikir ulang. Haruskah dia berangkat menikah tahun 2023? Hitungan lima bulan itu tidaklah lama. Kalau kekasihnya tak masalah jika mereka menikah dengan cara sederhana, budget sudah tidak menjadi masalah. Tapi, kesedihan di wajah Kala tak membuatnya tega. Kemungkinannya adalah dia menikah dan tetap tinggal bersama Kala, lalu pindah rumah setelah Kala menikah. Karena, untuk membangun sendiri pun tak mungkin. Kekasihnya sudah menyiapkan. Atau, menunggu Kala sampai setidaknya ada yang melamarnya. Namun, di antara Vey dan Kala sendiri belum pernah berterus-terang soal kesepakatan siapa yang kelak akan tetap tinggal di rumah wasiat ayahnya. Memang kalau pada umumnya, adiklah yang berhak untuk menempati. Tapi, lagi-lagi mereka sama-sama perempuan yang kemungkinan besar akan diharapkan pasangannya, agar berkenan tinggal bersama di rumah orang tuanya. Dan, sangat tidak mungkin apabila rumah wasiat dibiarkan kosong. Vey berpikir, harus ada yang menempati demi menghargai wasiat mendiang Pak Adi, ayahnya.
Vey selaku kakak, merasa begitu berat hati membahas hal yang membuat mereka akan bersedih. Dia tak suka itu. Tak suka kesedihan. Sudah cukup hari-harinya bersama Kala dipenuhi dengan kerja keras sejak usia belia. Sudah cukup kesedihan enam tahun lalu terkubur bersama waktu. Hilang ditebas angin. Hilang bersama tawa-tawa mereka yang begitu senang saat income bulanan masuk di luar jumlah perkiraan. Namun, pada akhirnya hal-hal seperti ini harus dibicarakan, tentang bagaimana kelanjutan masa depan mereka.
Bulan beranjak naik. Suasananya berubah tenang. Hanya ada komat-kamit para jamaah yang sedang berjamaah salat tasbih. Pohon-pohon ikut bertasbih. Diselingi kelesik langkah-langkah pelan.
Acara berakhir hingga pukul sepuluh lebih lima puluh menit. Usai mubalig menyampaikan dakwahnya dan doa selama kurang lebih satu setengah jam. Para jamaah berhamburan, berjubelan menuju satu arah. Sedangkan para santri menuju timur, lewat belakang ndalem—berjubelan di hadapan Kala dan Vey duduk—menuju pondok putri.
“Iya. Ndalem jadi pembatas. Aksesnya ya lewat belakang ndalem ini. Tapi, di belakang sana ada ndalem Gus Abil.” Munaya ganti menunjuk sebelah barat daya. “Kalau yang di samping masjid itu ndalem Gus Asri. Udah menikah semua kecuali Gus Omar dan Gus Yusuf yang masih SMA. Putri abah yang dua sudah diboyong ke rumah suaminya.”
“Diboyong ke pesantren juga?”
“Satunya enggak. Ning Bala Syahidah itu dimantu sama orang biasa. Sekarang ya tinggal di rumah kumpul sama masyarakat. Mengabdi pada masyarakat. Beliau anak kedua abah. Jadi urutannya itu satu Gus Naba, Ning Bala, Gus Omar, Gus Abil, Ning Fatiyah, Gus Asri, dan Gus Yusuf. Gus Naba usianya empat tuju yang istrinya masih muda usia dua delapan, yang kataku Ning Bulqis itu istrinya. Udah punya dua anak. Ning Bala empat empat, Gus Omar empat puluh masih lajang. Mm...Gus Abil tiga lima, suaminya Ning Via...dan punya dua anak juga. Ning Fatiyah kayaknya tiga puluh, deh. Dan Gus Asri dua tuju baru jadi pengantin baru setahun kemarin. Istrinya lagi hamil empat bulan. Terakhir, Gus Yusuf. Banyak, kan? Makanya rame banget.”
“Hafal banget kamu?”
“Ada foto keluarga. Aku hafalin.”
Gus Omar yang tengah bersalaman dengan habaib, tiba-tiba memutar pandangannya ke arah Vey dan Kala duduk. Ada juga Abimana yang baru muncul dari pintu utama ndalem, mendekati Gus Omar. Gus Omar melambai Nurmaya.
__ADS_1
“Sebentar. Jangan pulang dulu, ya. Bentar.”
Kala memperhatikan Abimana dari jauh. Menunggu Abimana menoleh padanya barang sebentar. Menurutnya, kopiah putih itu membuat penampilan Abimana semakin memukau. Sama indahnya dengan bulan di atas menara.
Nurmaya berlari. Menjatuhkan dengkulnya tergesa-gesa. Menepuk paha Kala.” Kala dan Mbak Vey diminta Gus Omar ke dapur ndalem.”
“Ngapain heh?”
“Kala, kita diutus makan sebelum pulang. Harus manut lo. Daripada nanti aku ditanyain, kenapa kok Kala dan Mbak Vey nggak mau. Mari, Mbak Vey!” Dia bangkit. Mencangking mukena dan sajadahnya.
Kala yang kikuk hanya berusaha menuruti.
Vey berjalan biasa di belakang Kala dan Nurmaya, memikirkan kapan dia akan membahas hubungannya dengan kekasihnya itu pada Kala. Yang bahkan belum diceritakan juga pada semua keluarganya. Dia hanya berpikir, tidak ingin diganggu dan tidak ingin urusan percintaannya dicampuri.
Santri-santri putra dan putri pun banyak yang mengambil makan prasmanan di dapur. Vey dan Kala menyisih seperti orang asing yang seharusnya tidak berbaur dengan mereka.
“Mbak Habibah?”
Nurmaya, Vey, dan Kala mencari sumber suara itu. Diikuti gerak kepala santri yang mendadak menatap Kala dan Vey, lalu ke arah Gus Omar yang memanggil.
Nurmaya mendorong Kala supaya mendekat.
“Ayok!”
Kala menahan langkah. Berbisik mengatakan malu pada Nurmaya. Lalu, Vey pun berbisik mengatakan agar tak perlu menyita perhatian para santri.
“Dalem, Gus Omar.” Kala menatap lurus.
__ADS_1