
Jangan lupa berdoa. Bismillah.❤️😚
Linda, Entin, Cia, Maza, Mela, dan Ruma berkumpul di rumah Vey. Empat orang partnernya memang sengaja pamit datang usai magrib karena ada kerja part time siang hingga sore. Empat hari lagi flowers papers yang mereka kerjakan harus selesai tepat pada hari yang diminta customer. Sementara, kebetulan Mela dan Ruma bermain karena ingin belajar bersama dan murajaah bersama untuk mempersiapkan ujian Senin depan.
Vey dan partnernya merampungkan pesanan di dalam ruang lukisan. Sengaja memilih tempat yang lebih luas supaya lebih leluasa. Sedangkan, Kala dan dua temannya berada di teras, duduk lesehan di tikar dengan ditemani cemilan yang dipesan baru saja melalui greb food. Mereka saling menyimak bergiliran. Tak lama kemudian, Budhe Atun datang membawakan semangkuk besar es blewah dan nanas.
Mela dan Ruma membelalak senang. Berseru.
"Temen-teman Vey belum pulang, La?" Budhe Atun ikut duduk.
"Kayaknya bisa sampek malem nanti, Budhe. Soalnya tadi mereka nggak bisa datang siang. Makasih esnya, Budhe."
"Iya. dihabiskan, ya. Kasih tahu Vey kalau dia mau, langsung ambil di rumah saja."
Kala mengangguk.
Budhe Atun tersenyum. Membelai kepala Kala. "Nduk, Nduk, Mamamu pasti bangga padamu. Harapan Ibumu ingin punya anak penghafal Alquran sudah tercapai."
"Aamiin. Doanya, Budhe. Insyaallah nanti kalau sudah ujian, aku pengen ngaji di makam Mama sampai khatam. Sehari sejuz atau dua juz."
"Iya wis sembarang. Semangat terus." Budhe menoleh ke Mela dan Ruma. "Makasih, ya, Nduk Mela, Ruma. Kala sudah ditemani begini."
"Iya, Dhe. Kita juga lagi butuh disimak. Kebetulan kitanya ke sini barengan sama Mbak yang di dalam. Ya ... jadinya rame begini. Hehe." Ruma yang menjawab.
"Mela dan Ruma jangan lupa pas pernikahan Kala, kalian datang. Biar pengantinnya ada yang menemani. Nginap di sini."
"Dhe, saya kok nggak kebayang Kala nikah secepat ini."
Budhe Atun tersenyum lagi. "Permintaannya memang seperti itu. Semua sudah direncanakan dengan matang. Kita tinggal menjalani." Lalu, menoleh. Tak sengaja melihat jari Kala. "Loh, itu cincinnya di mana?"
"Hmm ... aku lepas."
"La, dipakai aja lo napa."
Ruma menambahi, "Nggak nggak kalau anak-anak sekepo itu sama kamu. Masak orang pakai cincin di jari manis aja sampai dikira ada sesuatu yang aneh. Nggak juga kali."
"Betul kata Ruma itu." Budhe Atun mengangguk.
"Ya nanti malam aku pakai lagi, Dhe."
"Ya sudah lanjutkan!" Budhe Atun beranjak.
"Aku tu tetap kepikiran Syarif lo. Dia emang sekolah di mana, sih sekarang? Cari kabar dong. Dia temen kita. Dia kaya tiba-tiba ngilang."
Ruma menatap es tadi.
"Eh, bentar." Kala bangkit untuk mengambil gelas. Dia juga memberitahu Vey agar mengambil es di rumah Budhe Atun.
Dia kembali.
"Gimana tadi?" Dia meletakkan tiga gelas plastik.
"Aku nge-chat temen-temennya ekstra, temen sekelas, nggak ada yang tahu."
"Aneh, kan?" tanya Kala.
Ruma mengangguk. "Agak. Emang ada masalah gitu? Sampai perpindahannya aja di mana dirahasiakan? Nggak mungkin, kan, Syarif kena masalah sama sekolah?"
__ADS_1
"Nggaklah. Ngawur. Syarif walaupun aneh gitu orangnya, tapi dia nggak nakal."
Mela berdehem. "Awas lo. Kalau dipikirin lama-lama nanti bisa suka. Ada acara ngebela pula." Dia cekikikan.
"Coba, ya, aku telfon kakaknya."
"Coba aja." Ruma menuangkan es ke dalam gelasnya.
Tersambung.
📞"Assalamualaikum, halo?"
📞"Iya, waalaikumsalam. Siapa?"
📞"Kala, Mbak."
📞"Oh, sorry nomormu belum aku simpan, Dek."
📞"Gapapa, Kak. Kak, boleh nanya sesuatu nggak?" Kala menggigit bibirnya.
📞"Nanya apa? Boleh silakan."
📞"Syarif itu kenapa nggak bisa dihubungi, ya?
📞"Ooo itu ... Syarif nggak ganti nomor. Dia memang nggak pegang handphone sekarang. Nggak tahu kenapa. Tapi, mungkin ke depannya dia pegang kok. Tunggu aja, Dek."
📞"Emang sekolahnya mana lo, Kak?"
📞"Ya sama di MAN juga. Di Jogja."
📞"Oke."
Wajah Mela dan Ruma menunggu.
"Kayaknya emang sengaja dirahasiakan. Karena pas aku tanya sekolahnya di mana, Kakaknya cuma ngomong di MAN. Umumnya orang kan harusnya langsung menjelaskan nama sekolahnya."
"Padahal, kan, kita Bestienya Syarif. Kok gitu, sih," ujar Ruma seraya mencemberutkan wajahnya.
"Aku masih yakin semua ini gara-gara kamu mau nikah, La. Dia patah hati berat. Mungkin aja dia marah. Sengaja nggak ngasih jejak biar kita nyariin. Masuk akal nggak?"
Kala diam dan Ruma menyahut, "Selabil itu dia? Kalau dia patah hati masih masuk akal, ya. Cuman kalau sampai ngasih balasan kaya gitu, dia merahasiakan keadaannya sekarang, aku masih gimana gitu."
Kala mengamati sekitarnya. "Andai di sini ada Syarif, kan? Dia bisa nraktir kita makan. Kangen sama royalnya dia nggak, sih?"
"La? Sssttttt ... kamu beda banget? Emang segitu kangennya sama Syarif?" Ruma menelisik.
"La, yang kamu kangen sikap dia apa orangnya? Betewe aku ngerasa kamu beda lo."
Kala mengamati wajah Mela dan Ruma satu per satu. Lantas dia mengerenyotkan bibirnya.
"Apaan? Enggak. Serius ini cuma karena Syarif itu aneh. Rasanya pengen marah gitu ke dia. Perasaanku ke dia sebatas temen. Ya walaupun aku ngerti perasaan dia ke aku lebih. Aku tahu diri, Mel, Rum. Aku bentar lagi mau nikah."
"Ya udah gini aja. Siapa tahu pas kamu nikah, dia tiba-tiba datang. Ngasih kamu kejutan," ujar Ruma.
"Kasih aja ... itu ... itu undangannya ke Kakaknya." Mela berusaha menelan potongan buah di es yang baru saja dia minum.
"Lha kan dia nggak pegang handphone."
__ADS_1
"Diposkan lo bisa. Hmmm," kata Ruma.
Pukul 22.15 menit.
Rumah kembali sepi.
Kala mulai sedikit membantu Vey yang masih fokus mengerjakan sketsa.
"Nggak capek?"
"Ngejar cuan ya gini, La. Pernikahan kamu butuh persiapan banyak. Sorry aku belum ngomong ke kamu. Aku nyiapin souvenir. Nggak banyak. Tapi, aku pesenin ke orang aja. Kita nggak ada waktu ngerjain sendiri."
"Nanti kalau aku udah khatam setoran walaupun belum wisuda, kita syukuran, ya. Kita undang tetangga dan anak-anak yatim ke rumah. Ambil aja dari tabunganku."
"Iya gampang." Vey merespons dengan tanpa menatap Kala. Saking fokusnya.
"Onni, Mas Abi ngajak ketemuan."
Barulah Vey mendongak cepat. "Ngapain? Tumben banget?" Menunduk lagi.
"Disuruh ke rumahnya."
"Nggak mau. Ya kalau dia pengen ketemu ke sini dong."
"Gitu, ya?"
Vey mendongak lagi. "Iya, La. Laki-laki itu nggak boleh ngalem. Kalau dia butuh, ya harus ngejar."
"Oh, jadi harus dikejar." Kala manggut-manggut.
"Emang kalau dikejar gitu, yang dikejar mau?"
"Perempuan perlu bukti kesungguhan, La."
"Oh, jadi perlu bukti. Ya ya ya."
"Kira-kira buktinya apa yang bisa bikin perempuan langsung luluh?"
Vey mendongak lagi. Kali ini dia meletakkan pensilnya. "Tergantung ceweknya. Kalau ceweknya seperti kamu, kayaknya nggak butuh banyak perjuangan." Dia melepaskan tawanya.
"Yeeeee. Hmm."
"Aku nggak mau ketemuan sama dia."
"Kenapa?"
"La, masak aku yang ke rumahnya? Gengsi dong."
"Ya udah kalau gitu cincin Pak Abi aku minta. Aku kasihkan ke Niar biar dikasihkan ke Pak Abi."
"Tuh, ambil di laci." Vey memegang pensilnya.
"Haa? Kok semakin cuek gini? Berarti Pak Abi yang harus ngalah ke sini. Aku harus ngomong ke Niar," batin Kala.
"Kenapa cincin itu nggak Onni kembalikan saja ke Pak Abi kalau emang nggak perlu?"
Vey diam saja.
__ADS_1