
"Assalamualaikum?"
"Ya. Ada apa? Siapa?" teriak pemilknya dari dalam. Berusaha melangkah keluar.
"Saya mau tanya, apakah Masnya mengetahui kabar pemilik rumah ini yang bernama Kafil Jaan?"
"Setelah serah terima semua berkas dan uang, aku tidak tahu lagi. Dari awal penjualan rumah ini lewat perantara. Aku nggak ngerti, kecuali pemilik rumah ini kesandung kasus narkoba. Kan, anak dan bapaknya kena semua itu. Ngerti?"
"Itu aku ngerti."
"Kalau ditanya lebih, sorry aku nggak ngerti."
"Nomor telepon mungkin?"
"Nggak ada. Serius. Nanti dikira aku menutupi sesuatu."
"Mas, coba aku minta tolong, ya." Vey kepikiran sesuatu. Dia menunjukkan nomor telepon.
"Nomor siapa itu?"
"Mas, saya minta tolong sebentaaar saja. Tolong hubungi nomor ini."
Laki-laki itu menuruti permintaan Vey.
📞"Halo, saya ingin mengantarkan paket. Bisa tolong dikasih arah-arah alamatnya sekarang. Bisa dikirim lewat chat."
📞"Halo, paket dari siapa?"
Pria itu menjauhkan handphone sebentar. Berbisik kepada Vey. "Mbak, laki-laki. Tanya dari siapa."
"Dari Nania di Pesantren Mahbubah."
📞"Dari Nania. Pengirimnya dadi Pesantren Mahbubah. Saya masih perjalanan. Tolong dikasih alamat yang jelas."
📞"Ya aku shareloc."
📞"Jangan shareloc, Mas."
📞"Oke."
"Jadi, bener itu nomor Kafil. Aku kenal banget sama suaranya," batin Vey.
__ADS_1
"Makasih banyak sudah dibantu. Itu tadi nomor orang yang saya cari. Ternyata benar dugaan saya. Sekali lagi makasih."
"Oke."
"Mas, tolong simpan nomor saya. Nanti kirimkan alamatnya. Dan, kalau ada apa-apa yang berkaitan dengan pemilik rumah ini, tolong saya dikabari. Penting soalnya."
"Aku usahakan."
Vey kembali ke motor. Pesan masuk. Pria itu telah mengirim alamatnya.
"Makasih," teriak Vey kepada pria itu.
"Loh, ini kan bukan alamat yang kemarin. Apa kemarin alamat palsu? Karena Kafil menyamarkan namanya jadi Barli akhirnya dia ngirim pakai alamat palsu? Alamatnya berubah-ubah," batinnya.
Vey menuju ke alamat tanpa pikir panjang. Untuk menuju Kecamatan Kejayan, tepatnya Desa Cubanjoyo, dia harus menempuh jarak kurang lebih lima puluh menit. Tak perlu memakai arah-arah karena dia sudah hafal jalan menuju ke sana. Hatinya mantap untuk menemukan Kafil hari ini juga. Perpisahan harus diungkapkan langsung, diakhiri sebaik mungkin sebagaimana pertemuan dulu.
Di pinggir jalan hampir masuk Desa Cubanjoyo, Vey melacak nomor handphone itu. Sayang sekali nomor itu sudah tak dapat dilacak. Menyesal. Seharusnya tadi dia bersedia saja dikirim shareloc. Itu akan memudahkannya untuk segera menemukan lokasi. Karena bisa jadi Kafil tidak menggunakan nama aslinya.
"Ya udahlah." Vey kembali melaju. Mengandalkan keyakinan, dia pasti akan menemukan Kafil walaupun dirinya tidak tahu, entah sampai pukul berapa.
Sampai di jalan paving, tepat di depan balai desa Cubanjoyo, dia bertanya kepada salah satu pegawainya. Dia menunjukkan foto Kafil, barangkali Kafil memang memutuskan tinggal di desa yang baru atau sekadar bersembunyi.
"Tapi, nggak mungkin dia pindah rumah kalau dia saja terdakwa kasus narkoba. Buronan pasti nggak mungkin membeberkan identitasnya. Apa mungkin sebetulnya Kafil sudah bebas dari dakwaan itu? Dia nggak jadi bersalah?" Hiduplah setitik nyala semangat dalam dirinya.
"Mangkal? Ya Allah, aku harap dugaanku emang benar. Kafil lepas dari dakwaan."
"Makasih, Bu. Terima kasih semuanya."
Vey bergegas. Fokus memandang ke depan. Melaju pelan-pelan.
"Kaf, mungkinkah kamu ke sini hanya ingin ketemu aku? Jika kamu sudah lepas dari kasus, harusnya kamu tinggal kembali ke Malaysia dengan Mama dan saudaramu."
Di bawah pohon-pohon yang tumbuh lebat di sepanjang jalan setelah balai desa, Vey melaju lebih cepat. Sepi rumah. Tepat di pertigaan dekat dengan ladang jagung, dia berhenti dan bertanya pada orang-orang yang bekerja mengeruk pasir.
"Entah kenapa aku ngerasa janggal," batin Vey. Dia melamati ekspresi dua orang yang diajak bicara. Hanya tinggal menjawab pertanyaannya saja mereka tampak kebingungan.
"Pak, benar nggak orang ini tinggal di sekitar sini? Saya mohon, Pak. Kami kenal dekat. Nama aslinya Kafil, Pak. Dari wajahnya kelihatan kalau dia bukan orang asli Indonesia. Jika memang dia ada di sini, tolong beritahu saya."
"Sebetulnya kami tadi diminta untuk tutup mulut. Mbak ini pasti yang dimaksud Mas Johan tadi. Tandanya dia tahu Mbak mau ke sini. Dia itu ngekos di sana. Sebelum balai desa."
"Malahan?"
__ADS_1
"Tapi, dia kerja apa saja. Kadang di warung, kadang di sini. Sudah tiga minggu, Mbak."
"Apa caranya berinteraksi itu seperti orang aneh?"
"Biasa. Dia rukun dengan kita-kita."
Yang lain menyahut, "Sepertinya Mas Johan tinggal di sini sementara. Katanya begitu. Tapi, kita gak ngerti apa masalahnya. Apa juga yang akan Mas Johan dapat di sini. Mas Johan pantesnya hidup di kota."
"Aku yakin, Kaf, kamu ke sini karena pengen ketemu aku. Tapi, kenapa kamu malah menghindar?"
"Terima kasih, Pak."
Vey putar balik. Lewat jalan semula. Di tengah jalan, dia tak sengaja bertemu dengan seseorang yang mirip dengan Kafil tengah mengendarai sepeda motor butut, belok dari arah kiri. Dia spontan memanggil dengan nada tinggi. Karena melihat gelagat pria itu justru mempercepat laju, dia menjadi semakin yakin.
"Itu pasti Kafil. Aku hafal tubuhnya walau dari belakang. Aku berharap bisa ketemu kamu, Kaaaf."
Meski harus ngebut, berhenti mendadak di tanjakan polisi tidur, dan .elewati jalan berpasir, Vey berusaha sebisanya untuk menyalip. Debu-debu terbang masuk ke sela-sela kelopak matanya. Dia harus tetap terjaga meski harus mereka melek untuk memastikan dirinya tidak kehilangan jejak Kafil.
"Kaaaf?" Tak peduli orang akan mendengar, dia berteriak.
Jarak semakin dekat. Vey menggebu-gebu. Dia membunyikan klakson dua kali. Menyuruh atau dua orang minggir sekaligus meminta Kafil untuk berhenti.
Brukk!!!
Menyembul dari arah kanan, sepeda yang dinaiki oleh anak kecil. Vey limbung ke arah kiri. Dengkulnya kotor. Perih. Dia masih memastikan arah depannya.
"Kafiiil?" Vey berusaha tetap memanggil Kafil seraya menoleh ke kanan menenangkan anak kecil itu sedang menangis.
Dua orang yang kemungkinan salah satunya adalah orang tua anak kecil itu menghampiri. Memarahi Vey dengan nada emosi yang tak beraturan.
"Kaf?" gumamnya. Vey menatap arah depan. Setengah tak mempedulikan orang di sampingnya tengah menasihati.
Kafil sempat berhenti dan menoleh. Vey yang pada akhirnya bisa kembali menatap mata lelaki yang dicintainya.
"Kaf, kesinilah! Please, aku pengen ngomong," batin Vey.
Anak kecil itu menangis semakin parah. Lengan dan punggung kakinya terluka. Sementara, Vey sendiri masih gupuh berdiri karena tubuhnya bergetar. Mendadak lemas.
"Mbak, anak saya luka-luka ini. Malah bengong sendiri gimana kamu."
Fokus Vey saat ini hanya kepada Kafil. Lalu, dia menatap wanita itu dengan bibir terbuka. Kecewa sekaligus gagap ingin merespons.
__ADS_1
"Ya Allah ..."
Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan ke-25 dan 26 esok hari. Terima kasih untuk kesabaran dan kebaikannya. semoga berbuah surga esok nanti.. ❤️🙏🙏🤗