
Jangan lupa berdoa. Bismillah. 🤗
Ngapunten dua eps saja. Tapi, eps 60 lebih panjang dari biasanya. 🙏🙏🙏
"Oleh karena itu, izinkan saya melamar, Nana. Dengan niat bismillah, saya ingin menjadikan dia sebagai teman hidup."
Setelah Abimana melepaskan kalimat pinangan itu, Vey terkesiap. Dia hanya ingin menemukan alasan yang kuat kenapa Abimana sampai bisa menaruh perasaan kepadanya, sedangkan dia sama sekali tak merasa dicintai selama ini. Sebelum akhirnya Kala dikabarkan pingsan di jalan, dia hanya bertanya-tanya. Dan kalimat tanya itu terus mendengung berulang-ulang di kepalanya.
Namun, tidak dengan Paman Gani. Ekspresi yang dia bawakan seakan-akan sudah lama mengetahui kalau pinangan itu akan datang. Ada binar kebahagian di wajahnya. Hanya saja dia tak terlihat tergesa-gesa menyambut dengan langsung mengiyakan pinangan Abimana. Dia membiarkan Vey ikut andil dalam memutuskan.
Namun, sekali lagi Vey tak tahu harus membuat keputusan yang seperti apa. Dia sudah mengatakan bahwa antara dirinya dan Abimana tak perlu ada ikatan dan komitmen. Pernyataan di telepon tadi sudah cukup jelas mengindikasikan bahwa dia tak bergembira. Apalagi, setelah melihat Kala yang bersikap dingin kepadanya.
"Terus mau kamu apa, La?"
Kala bergeming.
"Aku ngerti. Seandainya aku jadi kamu, mungkin aku juga bingung. Aku nggak yakin kalau aku akan berjodoh dengan Abimana, La. Kamu juga paham, kan, kalau aku nggak suka sama dia. Aku masih berharap bisa bertemu dengan Kafil."
Kala masih berdiam. Terpekur. Lalu, menggeleng.
"Seandainya kita nggak perlu nikah dulu gimana?" Dia bertanya. Sedikit ragu.
"Aku nggak bisa memutuskan, La. Masalahnya pernikahan kamu itu semacam perintah."
"Aku tiba-tiba nggak begitu yakin dengan sikap Gus Omar selama ini. Aku khawatir beliau mau menikah hanya gara-gara Abahnya yang meminta. Apa yang bisa dilakukan anak jika orang tuanya sudah sakit-sakitan?"
"Kamu ingin memastikan?"
"Aku terlalu sungkan. Semakin aku ingin menghindari pernikahan ini, aku semakin ingat Mama."
"La, emang gimana perasaan kamu yang sebenernya? Mending kamu cerita!"
__ADS_1
"Aku juga nggak ngerti, Onni. Kadang berubah cepat. Meski terkadang aku bisa pasrah, kadang aku ingin mengelak."
"Setelah aku ngerti Pak Abi justru menyukaimu, tiba-tiba aku merasa sangat tidak siap. Aku takut berada di situasi dimana aku menikah dengan orang asing dan sakit melihat yang kusuka menikah dengan kakakku sendiri." Kala melanjutkan dalam hati.
"Sekarang aku nggak nyuruh. Juga nggak bisa melarang kamu mengambil keputusan, La. Tapi, mungkin saat ini kamu hanya bisa menundanya. Nggak bisa menghindari. Seluruh keluarga ndalem pasti sudah tahu soal kamu. Sedikit atau banyak Gus Omar pasti sudah cerita. Karena Abah Kiainya saja ngerti. Kalau aku, aku bisa saja menolak Abimana."
"Tapi?" Kala cepat menyahut.
"Ya...ya nggak ada tapinya."
"Entah kenapa aku nggak yakin. Lambat laun kamu mesti jatuh cinta pada Pak Abi, Onni. Kamu nggak mungkin bisa mengabaikan dia meski kadang kamu mikirin Bang Kafil," batinnya lagi.
Pagi itu menjadi saksi bahwa Kala pernah mengagumi seorang laki-laki sejak pemandangan pertama. Debar dan tatapannya menjadi terdefinisi. Jika dirinya saja bisa menukar rasa kagum menjadi cinta, kemungkinan besar orang lain akan melakukan hal yang sama. Malah, mungkin saja cinta itu akan datang tanpa sebab.
"Bagaimana jika ternyata Pak Abi adalah orang yang bersikukuh pada perasaannya? Aku emang tidak mengenal dia. Tapi, gelagat dan cara bicaranya saja mengidentifikasikan ia adalah tipikal lelaki setia," batin Kala.
"Sejak kapan Pak Abi menyukai Onni?" Kala kembali menelan pertanyaan itu. Dia berubah pikiran untuk menginterogasi Vey dengan beberapa pertanyaan lagi.
Gelap.
Hening.
Kala terbangun dengan sendirinya. Lalu, memohon jawaban atas semua kerisauannya. Berbaris-baris kalimat mampu dia langitkan. Hanya agar dirinya yakin bahwa Gus Omar adalah jodoh terbaiknya. Bukan Abimana yang telah mengikrarkan perasaan pada kakaknya. Dia tak meminta Tuhan untuk mengubah takdir. Dia hanya meminta keikhlasan lahir dan batin. Tak lebih daripada itu. Jika keyakinan telah tertanam, perasaan kepada Abimana akan luruh dengan sendirinya.
Dan di saat yang sama, Vey mulai menggelar sajadahnya. Dia terbangun karena dering alarm yang sudah dia persiapkan semalam. Dalam sujud, dia meminta agar ditunjukkan siapa jodoh dirinya yang sebenarnya. Dia menyadari bahwa kedatangan Abimana seperti sedang membius luka yang baru menganga.
Vey dan Kala keluar kamar bersama-sama. Meski tidak mengantuk, mereka tak berencana melakukan sesuatu setelah itu. Mereka kemudian hanya duduk tanpa berniat membuka obrolan. Suara cicak yang lantas menyela keheningan. Juga denting jarum jam yang menunjukkan pukul empat, terdengar melenguh lebih lantang dari kebiasaan.
"Mm..," gumam mereka bersamaan.
"Ngomong duluan aja," pinta Kala.
__ADS_1
"Oke. La, tapi sorry aku pengen meneruskan obrolan kita semalam. Nggak apa-apa, kan?"
"Gapapa. Aku juga pengen ngomongin itu kok."
Vey tetap melanjutkan meski dia tak mendapati binar dari tatapan Kala.
"La, barusan Paman Gani kirim SMS. Nanti malam kita ada undangan makan di pesantren. Abah Kiainya katanya mau ketemu sama kamu. Gimana?"
"Nanti ada Pak Abi nggak, ya?" pikir Kala kemudian.
"La, gimana?"
Kala tergagap. "Iya. Paman juga chat aku, tapi belum aku buka. Mungkin mau ngomongin itu. Kita disuruh belanja."
"La, tapi kenapa, ya, kok nggak Gus Omar sendiri aja yang ngomong ke kamu?"
"Gus Omar menghindari hal-hal semacam ini. Mungkin emang nggak pernah juga chat-chatan dengan cewek."
"Kamu bener juga. Apalagi kan kamu calon istrinya."
"Calon istri? Calon istri?" Kadangkala dua kata itu masih terdengar aneh di telinga Kala sendiri.
Sepulang Kala sekolah dan setelah Vey memasak ayam bakar untuk dibawa ke pesantren nanti, mereka berdua bersiap-siap. Sebelum itu Vey juga sudah sempat menyelesaikan satu sketsa. Lalu, Kala menyiapkan semua barang bawaan--ayam bakar, kue, dan buah--ke ruang tamu supaya Paman Gani mudah mengambilnya.
"La, jam berapa?" tanyanya sembari menaburkan bedak ke pipi.
Kala kontan menoleh ke arah jam tangannya. "Jam setengah tujuh."
Vey sibuk berdandan. Tak sadar kalau Abimana baru saja meneleponnya. Dia baru mengeceknya setelah dia sudah siap dengan semua outfitnya hari ini. Agaknya dia bersemangat menemani Kala bertemu dengan Abah Kiai.
"Ada apa dia nelpon?" Vey sempat berniat ingin menelepon ulang walau akhirnya tak jadi melakukannya. Dia memilih abai. Jika sampai sekarang dia tak menaruh perasaan apa-apa pada Abimana, itu adalah kesempatan baginya untuk tak menumbuhkankan perasaan itu menjadi arti lain. Dia tidak akan kesulitan. Sekarang, dia merasa perlu menjauh dari Abimana.
__ADS_1