Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 65 "Ketika Cinta Bertasbih"


__ADS_3

Jangan lupa bismillah.. 😊😀


Semua komentar aku balas di part ini. Selamat membaca surat dari Nurmaya....🤭🤭🤭🙏❤️


"Makasih, Rum. Kayaknya kalau kamu nggak nemenin aku hari ini, pulang-pulang aku pingsan. Soalnya nggak enak rasanya sekarang. Agak gimana gitu."


"Ya udah istirahat, gih. Nggak usah keluar kalau nggak penting. Aku balek, La. Assalamualaikum?"


"Oke. Waalaikumussalam. Hati-hati, Rum."


"Oke."


Kala mengucap salam saat menunduk, melepas sepatu di tengah pintu. Pandangannya tertarik ke sebelah kirinya, di meja ruang tamu. Ada box besar.


"Apa itu paketan dari Syarif, ya?" batinnya seraya meletakkan sepatunya di rak.


Dia memeriksanya.


"Oh, Jogja. Bener dari Syarif ini," gumamnya.


Lantas dia membukanya. Berisi satu boneka koala besar, ukuran jumbo, dan tas kerajinan custom bertuliskan Habibati Kala Anjani.


"Rif, nggak mungkin kamu pindah sekolah. Kita harus lulus di sini bareng-bareng. Aku, Mela, Ruma, dan kamu, Rif." Kala justru bersedih melihat barang pemberian Syarif.


"Onni, tadi ada pesen dari Pak Abi."


"Pesan?" Vey sedang mem-packing sketsa dan lettering yang sebentar lagi siap dipaketkan.


"Pesenan yang kata Pak Abi aku di rumah sakit, nambah lima ratus biji. Oh, iya aku tadi udah ngomong ke Mela dan Ruma. Mereka mau nyari orang, tapi mereka juga siap kalau Onni butuh tenaga mereka sewaktu-waktu."


"Dia nggak ngomong langsung ke aku? Kayaknya dia menghindari setelah malam itu," batin Vey.

__ADS_1


Kala duduk di lantai tanpa melepaskan tas ranselnya dulu.


"Emang rencana Onni sudah sematang apa?"


"Belum, La. Ya aku nunggu respons kamu dulu."


"Apa aku minta tolong ke Gus Omar. Siapa tahu bisa bantu."


"Nggak usah. Nggak perlu melibatkan orang pesantren. Lagipula kita juga belum jadi keluarga mereka."


"Hmm..."


"Paketan dari siapa itu?"


"Dari Syarif."


"Emang dia ke mana?"


Vey diam.


"Ternyata Syarif sudah ngerti kalau aku mau nikah. Kok aku nggak enak hati jadinya." Kala menyelonjorkan kakinya. Menghela napas.


"Syarif itu sebetulnya nganggep lebih dari seorang sahabat, La."


Kala menatap Vey. "Kita itu sahabatan. Sahabat ya sahabat aja. Selama ini aku fine sama dia bukan karena ngasih harapan palsu atau gimana itu enggak. Walaupun agak aneh, tapi Syarif orangnya dari dulu royal. Tapi, aku udah lama ngerasa agak beda sama sikapnya. Tapi, berhubung kita temenan dekat, masih sejajaran, mau gandeng juga kok kayaknya sulit. Itu dia ngasih boneka dan tas."


"Kaf, kamu sekarang gimana, ya?" batin Vey.


"Nanti aku mau keluar beli asesoris, mukena, dan barang-barang yang kita butuhkan, La. Cat akrilik dan cat minyakku hampir hampir. Kamu nggak usah ikut." Vey berniat ingin memeriksa rumah Kafil yang telah dijual itu. Barangkali sudah dihuni dan dia bisa mencari informasi.


"Iya. Kalau barangnya banyak, mending minta tolong Paman juga."

__ADS_1


"Nggak usah. Ya kaya biasanya aja."


Kala bangkit. Bersiap makan siang, wudu, dan murajaah hafalan. Dia menutup pintu. Teringat secarik kertas yang dia simpan di saku tas.


Assalamualaikum, Kala.


Semoga kamu selalu sehat dan mendapat perlindungan Allah.


Kala, sudah lama aku di sini. Jadi, tentunya aku pun sudah lama mengenal keluarga ndalem. Aku juga udah paham kebiasaan mereka. Terkhusus kebiasaan Gus Omar yang beberapa dekade menyita perhatianku. Saat kamu memilih meneruskan membaca pesan ini, aku berharap kamu menyingkirkan kepedulianmu pada perasaanku. Ketahuilah bahwa orang yang memilihmu adalah orang yang baik.


Singkat kata aku cuma pengen ngasih tahu kamu kebiasaan-kebiasaan Gus Omar. Anggap aja itu bekal kamu untuk jadi istrinya. Karena aku pernah mendapatkan pesan dari Abah sepuh, bahwa dua hal yang perlu diperhatikan oleh seorang istri. Satu, istri harus berusaha mengusahakan apa pun yang menjadi kesenangan suami. Dua, berusaha menjauhi apa yang tidak disukai suami. Jika kelak kamu bisa melaksanakan itu untuk Gus Omar, Abah pasti bangga padamu.


Setiap pagi setelah subuh, Gus Omar suka menyeduh teh hangat. Beliau lebih suka membuatnya sendiri. Tehnya teh tubruk, ya. Dengan sedikit gula. Kalau kemanisan, beliau kurang suka. Jarang sekali minum kopi. Tapi, ya mau. Jarang merokok juga bukan karena nggak mau. Kebiasaan rutin lainnya pas sore menjelang magrib. Kalau beliau di ndalem, beliau suka membaca buku di perpustakaan yang ada di ndalem. Beliau kadang minta santri putra untuk menemaninya bercerita. Jadi, ketika beliau udah punya istri, beliau pasti suka ditemani seperti itu. Kapan pun ketika beliau membaca, beliau suka ditemani apa pun yang hangat-hangat. Susu juga suka.


Beliau suka kalau kemeja-kemeja dan celananya rapi. Kadang beliau minta santri putra untuk menyetrikakan. Karena beliau lebih sering bepergian memakai celana, beliau tidak masalah memakai sarung tanpa setrikaan. Beliau suka wewangian asalkan tidak menyengat. Karena aku pernah mengoleskan parfumku ke sajadah yang beliau duduki ketika mengajikan kitab di pontri, beliau menyuruh mengganti karena terlalu strong. Beliau itu sebetulnya nggak terlalu metroseksual, La. Tapi, ya tetap rapi kalau dilihat. Suka pakai baju hitam atau putih.


Setiap dua minggu sekali, beliau nge-gym di tempat biasa. Beliau juga suka nongkrong dengan santri putra. Kadang santri putra ada yang diajak keluar juga. Nongkrong untuk diskusi atau sekadar keluar untuk main badminton. Salah satu kang santri yang sering diajak adalah Kang Abimana. Santri putra yang ternyata terkenal dingin di pondok ini.


Beliau itu sayang sekali dengan Abah sepuh. Birrul walidainnya aku acungi jempol. Beliau juga membelikan barang-barang untuk kakak ipar atau saudara perempuannya. Beliau itu sabar, tapi beliau akan marah jika ada santrinya tukang bolosan ngaji.


Lalu, kebiasaan unik yang beliau punya adalah beliau itu katanya punya satu selimut kumal yang jarang sekali dicuci sampai berbulan-bulan. Dan beliau nyaman tidur pakai selimut itu. Jadi, kamu harus tahan baunya kalau tidur dengan beliau pakai selimut itu. Selimut itu pemberian almarhumah Bu Nyai. Ada lagi...kalau beliau sudah suka dengan satu barang, dia akan sering memakainya sampai barang itu rusak. Beliau juga perawatan rambut gondrongnya, La. Setahuku, dua minggu sekali beliau ke salon. Jangan kaget, La. Punya tukang cukur khusus. Gak mau potong rambut di salon.


Terakhir, kebiasaan yang aku kagumi sampai sekarang adalah beliau yang suka dailmul wudu. Menurutku, itu yang bikin wajah beliau tampak lebih muda dari usianya.


Itulah kebiasaan beliau yang aku ngerti. Beberapa hal yang beliau suka dan nggak suka. Pasti masih banyak lagi. Kebiasaan baik dan lucunya beliau. Soalnya aku nggak tidur di ndalem. Paling enggak jadi gambaran kedepannya nanti setelah kamu berumahtangga dengan beliau.


Kala mengulum bibirnya. Satu hal yang mengganjal. "Kok Yaya nggak ngomong makanan atau minuman kesukaan Gus Omar? Pasti dia tahu."


Tak jadi makan siang. Akhirnya dia merebah. Membaca surat itu sampai dua kali. Meski dilarang, tapi saat ini dia memikirkan bagaimana perasaan Nurmaya tatkala menulis surat itu.


"Apa kamu sambil nangis, Ya? Sambil marah? Kok bisa, Ya? Bagaimana cinta telah mendidikmu menjadi perempuan yang sekuat ini? Apa karena saking besarnya pengabdian uang sudah kamu beri? Ya Allah, berikanlah Yaya jodoh yang luar biasa seperti dirinya."

__ADS_1


Kala tak tahu apakah dirinya harus senang setelah mengetahui bagaimana sosok Gus Omar.


__ADS_2