
Jangan lupa berdoa. Bismillah. 🤗
Sayyid Omar duduk di depan teras. Menghitung setiap lembar daun kelengkeng yang berguguran. Sembari menyeduh secangkir kopi buatannya sendiri. Khusus untuk minuman kesukaannya ini, dia jarang sekali meminta orang lain untuk membuatkan. Hampir tidak pernah malah. Dia lebih suka meraciknya sendiri. Dialah baristanya. Baginya, sesuatu yang spesial harus diracik oleh seseorang yang istimewa pula. Kopi yang harus dibuat dengan penuh cinta dari tangan seorang pecinta, dinikmati dengan cinta, agar kemudian lahirlah cinta dari secangkir kopi.
Kalimat syukur pun membarengi suaranya ketika tengah menyuruput kopi. Berdecak kemudian sembari sedikit merebahkan punggungnya. Dahinya mendadak berkerut. Dia teringat sesuatu setelah membuka layar smartphone-nya, berapa banyak tawaran yang telah dia tolak. Lalu lalang santri putra yang berjalan menunduk-nunduk di depannya pun menjadi kabur.
Waktu itu...
Ada salah seorang laki-laki yang usianya sekitar lima puluh ke atas datang menemuinya. Dia duduk melebur bersama orang-orang yang tengah sowan menghadap abah sepuh. Satu per satu tamu berpamitan dan memohon doa barakah, tapi tidak dengan pria itu. Omar yang ketika itu ingin bangkit pun tak jadi. Pria itu menahannya pergi, meminta agar dirinya tinggal barang sebentar.
"Ngapunten, Gus..." Pria itu seperti bingung menata kata. Sedangkan, Omar menatapnya terburu-buru.
Dengan sikap yang sangat sungkan, pria itu melanjutkan kalimatnya.
"Barangkali Gus Omar mau menerima tawaran saya, Gus."
"Hmm...tawaran? Tawaran apa?"
"Saya punya dua keponakan..."
Omar berusaha menghargai dengan tetap menunggu. Dia sudah jelas tahu ke mana arah pembicaraan itu. Tak heran. Memang biasanya saat tamu datang beramai-ramai, akan ada beberapa yang menawarkan putri atau sanak mereka. Sayangnya, dia tengah terburu-buru. Dia tidak bisa jenak mendengarkan kalimat yang disampaikan pria itu.
"Usia berapa, Pak?"
"Yang besar dua puluh empat, Gus."
Omar hanya manggut-manggut. "Terima kasih, Pak. Tapi, mohon maaf saya kok lagi terburu-buru. Semoga lain kali bisa disambung." Dia beranjak.
Omar ingat tawaran itu. Begitulah kadang. Tawaran datang di saat yang tidak tepat. Dan karena aktivitasnya yang juga padat, banyak sekali yang terabaikan. Padahal, dia belum sempat memperjelas siapakah perempuan yang dimaksud. Belum lagi dia tidak tahu nama pria itu. Hanya sekilas masih mengingat postur dan wajahnya.
__ADS_1
Langit bersemburat jingga. Kopinya tinggal separuh. Terbayang kemudian, alangkah indahnya bila pecintanya datang membawakan secangkir kopi. Dia melepaskan kopiah, lalu meletakkannya di meja. Dia kembali mempertanyakan siapa dua perempuan yang ditawarkan padanya. Namun, dia tak mau ambil pusing. Mungkin belum waktunya atau dua perempuan itu tidak berjodoh dengannya.
Seperti biasa, hari-harinya akan disibukkan dengan kegiatan-kegiatan. Mulai dari rapat yayasan tadi siang usai bel pulang sekolah--dihadiri oleh pimpinan SDI, tsanawiyah, MA, ketua pondok putri dan putra. Kemudian, meladeni wali-wali santri yang sowan ke ndalem kesepuhan sampai menjelang habis waktu asar. Dan, malam ini dia akan bersiap-siap memenuhi undangan ceramah di Kecamatan Lekok, tepatnya di acara walimatul khitan yang diselenggarakan besar-besaran.
Di kursi sofa itu, Omar duduk menyampaikan ceramah. Setengah jam berlalu hingga jarum jam merangkai ke arah angka sepuluh. Ssekali dia menengok jam tangannya. Atau, sesekali dia berdiri memberikan pertanyaan kepada mustami'in.
"Coba, Pak, Buk. Apa tanda balignya anak laki-laki?"
Salah satu hadirin ada yang menjawab khitan. Lantas Omar pun menyalahkan.
"Kalau laki-laki tidak sunat sampai usia dewasa seperti Nabi Ibrahim gimana, Pak?" Omar menoleh ke samping kanan. Menyuruh supaya hadirin disediakan mikrofon.
Sejurus dia merogoh saku jasnya. "Emm...di saku saya ini...kok saya nemu duit. Semoga duitnya tidak cuma gopek." Tawanya terlepas. Dia pun menunjukkan dua lembar uang merah di tangan.
"Ada yang bisa jawab? Tak kasih duit ini. Pak, Buk, mau nggak?"
Mereka serempak menjawab mau.
Omar mengucap hamdalah setelah menyeruput teh jahe hangat di depannya. Lantas, pandangannya menyapu ke seluruh hadirin. Berdirilah seorang gadis berkerudung merah jambu.
"Ya. Silakan, Mbak!" Dia mengayunkan tangannya.
"Tanda balig laki-laki itu kalau setahu saya ada dua yaitu keluar ****** usianya genap usia lima belas. Begitu, Gus." Begitulah terangnya dengan malu-malu.
"Maju-maju."
Gadis belia itu kegirangan. Malah memojoki teman di sampingnya agar ke depan mengambil uang.
"Eh, Mbak kamu sendiri yang ke sini. Berani jawab mosok emoh duitnya. Saya hitung sampai tiga kali nggak mau, berarti hangus." Dia mengangkat uangnya dengan tangan kiri.
__ADS_1
Gadis itu terbirit-birit berlari seraya menunduk-nunduk. Menutupi sebagian mukanya dengan ujung kerudung. Sementara, Omar merunduk untuk menjangkau tangan si gadis yang sedang menengadah.
"Oke. Enggeh jawabannya sahih. Jadi begini Bapak Ibu. Kok kalau njenengan-njenengan menemui anak laki-laki yang belum mengeluarkan ****** sampai usia lima belas tahun qomariyah/hijriyah, berarti dia dianggap sudah balig. Lha kok usia dua belas tahun sudah sunat, itu belum dikatakan balig kalau belum mengeluarkan ******. Kenapa? Banyak anak laki-laki yang sunatnya masih kecil. Keluar ****** itu pun ada ketentuannya. Apa? Ya kalau usianya sudah genap sembilan tahun. Berapa, Pak, Bu? Sembilan....sembilan ta-hun. Ini dijadikan pedoman, Pak, Bu. Perkara seperti ini harus dilengkapi dengan melatih anak-anak panjenengan sedanten untuk mengenal tata cara beribadah yang baik dan benar se-jak di-ni. Karena sekarang banyak, Pak, Bu...anak-anal yang keduluan balig, tapi belum bisa beribadah sama sekali. Yang kaya begini ini yang susah orang tuanya. Anak semakin besar, biasanya makin sudah dikontrol. Kesenangannya semakin banyak. Paham, nggeh?"
Dan, akhirnya ceramah berakhir pada pukul setengah sebelas malam. Ketika Omar beringsut ingin pamit pulang, tak sengaja dia bertemu dengan seorang pria yang menyambutnya dengan bersalaman tangan.
"Sehat, Gus Omar?"
"Alhamdulillah. Pangestu." Sejurus dia mengernyitkan dahi. "Njenengan pernah ke ndalem?"
"Pernah, Gus. Ngapunten saya yang hari raya kemarin sowan sekaligus memberikan Gus tawaran."
"Masyallah masyallah..." Omar menoleh. Berbisik pada sopirnya agar menunggu di mobil dan membawakan semua makanan berkah dari sahibul bait.
Omar menepuk pundak pria itu meskipun jelas lebih tua darinya.
"Boleh saya bertandang ke rumah Pak...Pak sinten (siapa)? Belum sempat kenalan...ngapuntene."
Pria itu tersenyum ramah. "Oh anu...iya saya Gani, Gus. Silakan silakan! Rumah saya dekat dari sini. Sepuluh menit jalan kaki."
Omar memeriksa jam tangannya. "Tapi, sudah malam nggak apa-apa, Pak?"
"Tidak apa, Gus. Beneran. Saya bener terhormat. Monggo!"
"Oh, alhamdulillah. Cuma sebentar. Mau ngomong sesuatu."
Pria itu agaknya tengah menerka-nerka. Dia mengajak Omar menepi ke sebelah kiri, lalu belok melipir di bawah pohon-pohon penitian yang buahnya langsung rontok begitu disundul kepala.
Orang-orang di belakang tampak membuntut. Beberapa mendahului sekaligus menyapa. Ada pula yang menawarkan. Tapi, Omar hanya membalasnya dengan ucapan terima kasih. Tak mungkin selarut ini bertandang ke rumah banyak orang. Kalaupun tidak karena mumpung ada kesempatan dan ingin membicarakan sesuatu, dia juga tak mungkin bertamu.
__ADS_1
Pria itu masuk rumahnya tanpa salam. Pintunya tidak dikunci. Dia mempersilakan Omar duduk. Omar sendiri langsung meminta agar pria itu tidak perlu repot menyuguhinya sebelum pria itu menawarkan. Lagipula dirinya benar-benar tidak akan singgah lama.