Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 61 "Peningset"


__ADS_3

Jangan lupa bismillah...🤗 up 2 eps, ya. Kalau muncul satu, berarti yg atu ketinggalan..hehe


Met baca...❤️🤗🤗🤗


Kala tidak menyapa seorang pun. Dia hanya fokus mengendalikan diri. Telapak tangannya dingin. Jemarinya hampir bergetar jika dia tidak menggenggamnya. Dia duduk di balik tubuh Budhe Atun. Ketika Budhe Atun berusaha sedikit menggeser posisi, dia mencubit Budhe Atun agar tak berpindah sedikit pun. Dengan sikapnya yang seperti itu, beberapa orang yang melihatnya pun menjadi tertawa. Termasuk Gus Omar yang sengaja memperhatikan gelagat kekanak-kanakannya. Dia tidak peduli karena tidak tahu bagaimana ekspresi mereka.


Suasananya sangatlah berbeda. Energi keberanian Kala seketika terkuras begitu melihat keluarga besar Pesantren Mahbubah berkumpul untuk merayakan acara tunangan malam ini. Dia baru sadar memang. Pesan Paman Gani yang dikirimkan pagi tadi, dia tidak membacanya dengan baik. Paman Gani tidak terang-terangan mengatakan bahwa malam ini akan menjadi malam awal dari kisahnya bersama Gus Omar.


Dia pun tak membayangkan bilamana cincin peningset itu telah terpasang di jari manisnya, lalu dia dipertanyakan oleh beberapa orang temannya di sekolah. Sejauh ini hanya Bu Maria, Mela, dan Ruma yang mengetahui. Dia mengira hanya mereka walau padahal Syarif pun sudah paham. Sekarang dia hanya menduga orang-orang di sekitarnya tengah memperhatikannya. Itulah yang membuat dirinya menjadi semakin malu. Jika untuk menatap saja dia membutuhkan keberanian, apalagi untuk mendekat kepada abah sepuh.


Kala masih berdiam diri ketika Gus Asri meminta Kala untuk mendekat. Sementara, di samping Abah sepuh ada Gus Omar, Gus Asri, dan Ning Bulqis. Paman Gani dan Budhe Atun berupaya membujuk Kala berulang kali sampai Paman Gani harus mengucapkan permintaan maaf atas sikap Kala yang masih kekanak-kanakan. Namun, abah sepuh menanggapi itu dengan senyuman.


"Sini sebentar, Cah Manis," pinta abah sepuh langsung.


Vey berbisik, "Kala, kalau kamu nggak cepetan ke sana, nanti kamu malah diperhatikan."


Sembari menunggu Kala berpindah dari posisinya, Gus Abil dan Gus Asri melempar beberapa pertanyaan kepada Paman Gani. Mereka bertukar cerita. Paman Gani menjelaskan perihal kehidupan pribadi Kala dan Vey, juga penyebab meninggalnya orang tua mereka. Sedangkan, Gus Abil memberitahukan bahwa Gus Yusuf, putra bungsu abah sepuh, masih berada di pesantren sehingga tidak bisa hadir di tengah-tengah acara. Lalu, Gus Asri sedikit berbicara jumlah santri dan semua kegiatannya. Itu semua supaya bisa menjadi gambaran Kala jika suatu saat diboyong ke pesantren.


"Kalian mandiri. Aku bangga dengan perempuan yang mandiri sejak remaja." Begitu kata Ning Bala.


Ning Bulqis ikut menimpali dengan beberapa pertanyaan. Dia bertanya kepada Vey, apa jurusannya dan sudah berapa lama mengajar. Juga seputar kemajuan usaha Vey dari dulu hingga sekarang. Dia tidak merasa cukup ketika Paman Gani yang menjelaskan.

__ADS_1


Dari sekian banyak orang yang mencairkan suasana, hanya Gus Omar yang tampak diam dan tenang. Menyimak dan memandang setiap orang yang bertanya. Dua kali memerhatikan Kala yang kian tertunduk. Lalu, kadangkala dia tersenyum melihat sikap itu. Yang menurutnya manis dan menggemaskan.


Dan, Kala sendiri berusaha menghela napas pelan-pelan. Dia memberanikan diri sembari menahan kencangnya debar di dada. Karena abah sepuh kembali memanggilnya, dia pun mendekat. Telapak tangannya semakin dingin. Dia mengira semua orang pasti sedang menatapnya, termasuk Gus Omar. Tak terbayangkan betapa malunya bila dirinya berani mengangkat kepala.


"Cah manis, kenapa sampeyan kok malu seperti itu?"


Kala menggeleng. Punggungnya semakin melengkung.


Abah sepuh tersenyum. Beliau menengadahkan telapak tangan ke sebelah kanan. Meminta sesuatu dari Gus Omar. Sebuah kotak kecil berwarna merah. Yang sudah jelas bisa apa isinya.


Namun, Kala tidak dapat melihat itu. Lalu ketika Ning Bulqis mendekatinya, meminta untuk mengangkat tangan, gejolak di dadanya berteriak lantang. Semakin gusar karena Ning Bulqis tertawa lirih sebelum membuka kotak kecil itu. Dia tahu Ning Bulqis tertawa sebab merasakan dingin telapak tangannya. Tak ada ucapan formalitas untuk apa acara ini digelar dan kapan cincin itu akan dipasangkan. Tahu-tahu, Ning Bulqis memasangkan sesuatu yang kemudian melingkar cantik dan pas di jari manisnya. Segalanya akan dimulai dari sini. Dia menatap cincin peningset itu, lalu menyembunyikan di balik dekapan telapak tangan kirinya.



"Aku akan jadi istri orang sebentar lagi. Ruma, Mela, Syarif, kalian akan tetap temenan sama aku, kan?" batinnya memelas. Dalam bayangannya, kehidupan pesantren itu tak ubahnya dunia lain bagi yang tak pernah tahu bagaimana sisi gelap terangnya. Dia hanya pernah bermimpi menjadi seorang santri dan mengenyam pendidikan di sana. Dan, kenyataannya mimpi itu malah seperti akan menjadi malam-malam kalabendu baginya.


Kala kembali ke posisi duduknya dengan tetap menyembunyikan tangannya. Pun urung mendongak.


"La, kamu harus yakin. Kamu pasti bisa. Jika kamu dipilih, yang memilih pasti udah tahu sama semua konsekuensinya. Konsekuensi kamu hanya gadis biasa. Banyak kekurangan. Nggak mungkin kamu dituntut macam-macam. Percaya sama aku," bisik Vey.


Kala tak bisa mendengar orang lain berbicara. Dia ripuh mendengarkan semua kalimat yang ada di kepalanya. Bahkan, dia tak dapat menyimak dengan baik apa yang kemudian dibicarakan Gus Omar, Gus Asri, dan Paman Gani. Terdengar samar namanya beberapa kali disebut. Saat diminta untuk mencicipi makanan, dia tak berselera. Tapi, dia harus memaksa karena Ning Bulqis dan Ning Bala menawarinya dua kali. Sungkan menolak berlebihan, sedangkan mereka antusias.

__ADS_1


Semua orang menikmati sajian makanan, termasuk ayam bakar yang dimasak Vey tadi.


"Siapa yang masak?" tanya Gus Abil.


"Vey ini, Gus," jawab Budhe Atun.


"Bukan Kala?"


Budhe Atun menyenggol lengan Vey.


"Hmm?" Vey tak fokus menyimak. Lalu, menoleh kepada Gus Abil.


"Yang masak kamu, bukan Kala?"


"Tadi Kala membantu sebentar. Pulang sekolah agak sore."


Gus Abil lantas membuat orang tertawa setelah bercerita ketidakpandaian Ning Bulqis dalam memasak. Sebab, sejak kecil hanya disibukkan dengan mencari ilmu.


Setelah mencoba tiga kali suapan, Kala mulai merasa sedikit tenang. Dia berencana akan melepas cincin itu sepulang nanti. Menurutnya, dirinya tak mungkin memakai cincin itu ke sekolah jika tak ingin dipertanyakan. Masygul hatinya bila mengingat masa remajanya akan habis sebentar lagi.


"Nurmaya?" Dia ingat. Dia masih bersikeras untuk menemui Nurmaya sekali lagi.

__ADS_1


"Onni, aku mau ketemu sama Yaya lagi, ya. Tunggu sebentar."


Berhubung orang-orang sudah pamit pulang, mereka menunggu di mobil. Paman Gani menyambinya dengan berbincang-bincang bersama kang santri. Sementara, Vey menepi di dekat gerbang.


__ADS_2