
Jangan lupa berdoa. Bismillah. 🤗
Seperti yang pernah dijanjikannya pada diri sendiri, tiga tahun sudah berlalu tanpa adanya pengingkaran. Abimana masih menduda hingga selama ini. Ketika itu, dia sadar penuh bahwa caranya mempertahankan pernikahannya memang bukan karena cinta. Murni karena belas. Rasa bersalah itu kian memelupuk dari hari ke hari. Demi melihat perubahan sikap dan cara bersosialisasi Nurmaya yang semakin memburuk, dia menahan diri. Nyatanya, dia justru menjadi pria yang lebih emosional meski tidak sampai ada perkataan atau perlakuan kasar. Namun, dia memang menyadari perubahan sikapnya yang sudah berbeda ketimbang sebelum musibah itu terjadi. Setelah empat tahun mempertahankan pernikahan, tapi akhirnya pernikahan itu harus kandas dengan talak satu.
Abimana mengira jika dengan hanya talak satu, masih ada kesempatan yang terbentang bagi dirinya untuk kembali pada Nurmaya. Sayangnya tidak. Waktu itu, Gus Omar menjenguknya dan meminta Nurmaya agar kembali ke pesantren dengan alasan siapa tahu keadaannya akan lebih baik. Sebab, cinta dan perhatian Nurmaya telah menggema di Mahbubah. Dia juga mendengar Gus Omar akan membiayai pengobatan Nurmaya sampai sembuh. Dan jika Nurmaya sudah pulih, dirinya bisa kembali pada Nurmaya seperti sedia kala.
Abimana memantau kabar Nurmaya langsung dari Gus Omar dan rekan santri putra yang juga menjadi abdi ndalem. Dia mendengar kabar baik, Nurmaya bisa bekerja dengan baik seperti biasa meski sosialisasinya masih sangat kurang. Rencana semulanya pun berubah. Dia akhirnya memilih untuk tidak kembali dengan janji, aku akan membiarkannya bahagia sebagai caraku untuk menebus kesalahan. Aku juga tidak akan menikah lagi sebelum akhirnya dia menikah lagi dengan bahagia. Dia membuktikan janji itu sampai tiga tahun berlalu.
Di atas peristiwa musibah yang pula sudah berlalu, sayangnya itu menyebabkan Abimana trauma berkendara.Tak berani pergi jauh walau harus dibonceng. Dia hanya mau berkendara jarak dekat dan itupun dia kadang meminta adik laki-lakinya untuk mengantarkan. Atau, kadangkala meminta Niar untuk membelikannya sesuatu. Sampai saat ini, dia masih berusaha untuk melawan kekhawatirannya walaupun sebetulnya dia sudah mendapatkan kaki palsu.
Hanya tersisa trauma dan kenangan. Di tengah kesibukannya tetap mengajar di LBB, yang proses pembangunannya dilimpahkan kepada seorang teman pengajar yang juga mengajar di sana, dia memperbanyak membaca buku tentang bagaimana caranya menghadapi trauma. Dia juga lebih sering menghabiskan waktunya di ruang tamu untuk mendalami kitab kuning atau membuka kembali kitab-kitabnya di pesantren dulu.
📞"Gus, bagaimana keadaan Nurmaya?" Seminggu sekali, dia bertanya kabar. Dia menutup kitabnya sebentar.
📞"Masih gitu-gitu aja, Bi. Sudahlah kamu nggak usah terlalu khawatir. Aku sudah pernah bicara kalau Nurmaya pasti sembuh. Kamu bisa kembali pada dia."
📞"Sepertinya tidak mungkin, Gus. Mungkin lebih baik jika selamanya Nurmaya tinggal di pesantren. Saya akan bahagia jika melihatnya bisa bergurau dan bercanda lagi seperti dulu."
📞"Kalau begitu, kamu menikahlah lagi. Kupikir, dengan menikah lagi kondisi psikismu akan jauh lebih baik. Cari perempuan yang benar-benar rela menerima kondisimu."
Abimana menghela napas.
📞"Belum waktunya saya nikah lagi. Sebetulnya saya sudah berjanji akan memastikan Nurmaya bahagia lebih dulu, Gus. Dan saya tidak akan mengingkari janji itu."
📞"Ya oke. Terserah kamu wae."
📞"Kapan-kapan saya akan ke pesantren untuk memastikan langsung. Sekalian ziarah makam Abah dan Bu Nyai, Gus."
📞"Monggo. Sudah, ya, Bi. Sepurane aku ada pertemuan dengan Kiai."
📞"Nggih. Ngapunten."
Telepon ditutup.
Janji tetaplah janji. Yang selamanya harus ditepati.
Terdengar kemudian suara motor Niar. Niar turun dari sana langsung terkekeh karena bercanda. Abimana melihat ada seseorang di belakang Niar, masih memakai seragam guru.
"Assalamualaikum?" Niar menatap Abimana. Dia melepaskan sepatu dan kaus kakinya.
__ADS_1
"Waalaikumussalam. Nggak ada jam lagi?"
"Ada, sih. Ntar malem, Mas. Mas Abi butuh bantuan apa aku bantuin sekalian sebelum aku ngobrol sama Mbak Nana. Mbak Nana mau ke warung, makan siang, Mas."
"Kamu yang ngajak atau dia yang ..."
"Mbak Nana yang pengen. Kenapa?"
"Enggak. Ya sudah pergi sana kamu."
"Iyeeee," jawab Niar sewot.
Abimana melihat Vey masih berdiri di luar. Dia pun beranjak dan berdiri di tengah pintu.
"Monggo masuk!"
Vey menoleh. "O iya. Di sini saja. Lagi gerah." Dengan sedikit malu atau khawatir menyinggung perasaan, Vey tak sungkan menatap lama-lama.
"Ya sudah."
Vey merasa kalau yang dikatakan Niar itu memang benar. Dingin sikap Abimana, dia bisa merasakannya. Bahkan, jauh lebih dingin. Karena pada umumnya orang akan bertanya keadaan jika sudah lama tidak berjumpa. Tidak dengan Abimana yang malah kembali masuk.
"Mbak Nana ayo!" ajak Niar. Dia pun menggamit lengan Vey.
"Gimana menurut Mbak Na?"
"Apanya?"
"Mas Abi," bisik Niar.
"No komen."
"Mbak, mungkin nggak sih kalau Mas Abi nantinya menikah lagi?"
"Nggak tahu juga, sih. Bapak dan Ibumu?"
"Nggak itu cuma angan-anganku aja. Tapi kayaknya Mas Abi milih menduda. Nggak tahu sampai kapan. Mbak, doain Mas Abi, ya. Doain dia cepet sembuh."
"Masmu itu laki-laki. Dia pasti tegar kok menghadapi musibahnya."
__ADS_1
"Oh, iya ya, Mbak Nana kan juga pernah ngalami ini. Cuma bedanya justru orang tua Mbak Na yang meninggal dunia."
"Ya begitulah, Niar."
"Satu hal, Mbak, please aku minta tolong doakan Mas Abi supaya nantinya ada perempuan yang tulus mau nikah sama Mas Abi." Niar memohon.
"Iya aku doakan."
Sunyi. Hanya terdengar nyala musik yang mengalun dari tadi. Berhubung sedang uzur, Vey langsung merebah. Waktunya mengistirahatkan badan.
"Mas Abi milih menduda?" gumamnya. Tangan kirinya mengecilnya volume musik.
"Apa iya? Kok aku ngerasa gimana gitu."
Kling! Chat masuk.
"Mbak, Mas Abi barusan berangkat sama Mas Jamal ke pesantren mau jenguk Mbak Yaya."
^^^"Iya."^^^
"Kalau memungkinkan, doakan mereka bersatu kembali ya, Mbak 😔."
^^^"Insyaallah, Niar."^^^
"Intinya aku kangen sama Mas Abi yang dulu, Mbak, Mbak. Maaf ya, Mbak, aku curhatnya sama Mbak Nana mulu. Cocok, sih. Nggak ada yang semengerti Mbak Na 😬😬✌️🙈."
^^^"Iya gapapa."^^^
"🤗🤗🤗🤗. Mbak Na sendirian? Kak Kala gak pernah pulang, ya?"
^^^"Jarang banget. Kalau dulu masih lumayan dua minggu sekali dia ke rumah, nginep. Kadang juga datang lagi balik magrib. Aku maklum kok. Dia repot. Tanggungannya ratusan santri."^^^
"Mbak Na kapan nikah emang? Udah ada calon?"
^^^"Doakan, ya."^^^
"Mbak Na itu pantes dapetin cowok yang baik hati banget. Karena Mbak Na juga baik. Mbak Na juga mandiri. Pasti nggak ngrepotin 😘."
^^^"Aamiin."^^^
__ADS_1