
"Ya Allaaaaaah."
Dia menyentuh lemari kacanya. "Allahumma nular, Gusti."
"Mama? Mama pengen banget aku bisa kaya gini. Jadi kebanggan Mama. Tapi, Mama udah dipanggil dulu." Dada itu mendadak nyeri. Bulir matanya pun meluruh. Dia menggunakan ujung kerudungnya untuk menyeka.
"Aku kangen, Mama. Kangeeen, Ma." Dia membenamkan medali itu di dadanya.
Kala terduduk di kursi. Mengelus-ngelus medali itu.
Ruma dan Mela di luar melambai-lambai. Menyuruhnya segera pergi.
"Napa kamu?"
"Nggak papa, Rum. Inget Mamaku doang."
Mela tak jadi bicara. Hampir saja dia keceplosan ingin mengejek.
"Yuk!" Kala mendahului langkah.
"Menurutmu Kala pantes sama siapa, sih?"
"Mel, kamu kenapa, sih, repot banget. Itu urusan Kala. Dia lagi sedih gitu masih aja kamu ngomongin jodoh."
"Kalau sama Pak Abi, aku khawatir dia kecewa."
"Yakin banget?"
Mela berbisik, "Nggak gitu masalahnya. Aku tadi sengaja diem, ya. Kenapa pas pertama kali Pak Abi menyapa yang ditanya malah Onni-nya Kala."
"Maybe mereka teman dekat. Teman lama...bisa jadi."
Mela menatap lebih serius. "Nah itu...ya itu masalahnya. Cinta lama bersemi kembali. Nggak ada yang namanya perasaan yang murni..kalau ada cewek sama cowok sahabatan. Salah satu dari mereka pasti ada yang suka lebih dulu. Mau contoh? Udah jelas. Sya-rif. Dia mah sudah jelas banget suka sama Kala."
"Itu Syarif. Bukan Pak Abi, Mel. Ayoklah nggak usah bahas itu sekarang."
Mereka melangkah berjejeran.
"Aku cuma peduli. Apa kita perlu mengklarifikasi perasaan Kala. Terus kita sampaikan ke Pak Abi? Ide bagus nggak?"
"Nggak. Sama sekali nggak bagus. Memalukan itu namanya. Kita bisa mencoreng nama Kala kalau seandainya Pak Abi nggak suka. Tega kamu?"
__ADS_1
Mela mengulum bibir.
"Lagipula, ya, kita nggak bisa sering ketemu sama Pak Abi."
"Bener juga." Mela manggut-manggut.
"Kita tunggu aja. Kala pasti nanti cerita sama kita. Dia belum siap aja itu. Hei, tiba-tiba aku kepikiran gimana jadinya kalau Kala mendadak nikah dan kita nggak dikasih tahu."
"Emang pilem."
"Aku harap itu nggak pernah terjadi."
Tiba di rumah.
Kala mendengar suara tinggi dari dalam. Dia terkejut dan segera berlari. Membiarkan sepatunya berserakan di teras.
Langkahnya mendadak berhenti. Tak berani mendekat. Dia melihat Vey sedang marah-marah dengan seseorang di seberapa telepon.
"Onni marah sama siapa?" batinnya.
Kala menyisih. Dia kembali ke teras.
"Aku nggak pernah lihat Onni kaya gitu. Kira-kira kenapa?" Kala menoleh ke belakang. Menguping dari pintu.
"Aku akan terima tawaran Paman." Vey menegaskan dengan nada penuh kekecewaan. Dia mengakhiri teleponnya.
"Tawaran apa? Kenalan sama Gus Omar?" batin Kala. Dia masuk dan berpura-pura baru saja datang. Pun berlagak tidak mendengarkan apa-apa. Sekaligus mengetes, apakah Vey akan bercerita tanpa dia bertanya.
"Aku pulang, Onni. Habis dari warung Pak Abi. Tadi Pak Abi nanyain Onni." Dia tak yakin Vey akan menanggapi.
"Biarkan saja." Vey menjawab ketus. Dia mencari ceret di meja. Lalu, menuangkan segelas air. Duduk sekaligus meminumnya.
Kala segera mengganti seragam, salat, dan mendaras seperempat hafalan barunya. Lebih dari setengah jam dia melakukan itu semua. Dari kamarnya, dia sempat melirik ke luar kamar, melihat Vey terduduk di lantai sembari menyelonjorkan kaki--melamun.
Kala tak tahu apa yang Vey gelisahkan. Dia hanya bisa menebak dari satu kalimat terakhir sebelum Vey menutup telepon tadi. Menurutnya, Vey ada masalah serius dengan Kafil sampai memutuskan untuk menerima tawaran Paman Gani dengan nada marah dan putus asa.
Vey bangkit. Pergi ke ruangan tempat dia menyimpan semua maha karyanya. Di situ dia berdiri di depan lukisan, potret dirinya dengan Kala yang pernah dia tunjukkan pada Abimana ketika itu.
"Nyatanya nggak mudah, Yah. Aku nggak bisa terus kuat. Ayah pernah ngomong aku harus lebih kuat daripada Kala. Tapi, Yah...kadangkala aku ingin menangis," batin Vey. Sebutir air meluruh tak sengaja. Membentuk garis vertikal di pipi. Dadanya tersengal.
"Sepi nggak ada Ayah. Nggak ada Mamah. Andai aku bisa mengulang waktu. Tuhan, kenapa tiba-tiba dadaku dipenuhi sesak. Seperti ada kesedihan yang lama terpendam, tapi baru bisa aku keluarkan."
__ADS_1
Kala mengintip Vey. Menempelkan pipi di bingkai pintu sembari menerka-nerka. Dia tak tahan karena ingin tahu.
"Onni, kenapa nggak pernah mau cerita sama aku?" Kala to the point.
Vey menoleh cepat.
"Cerita soal apa?" Vey mendatarkan suaranya.
"Please, Onni. Jangan kaya gini. Apa aku kurang dewasa untuk mendengar keluh kesah Onni? Haaa?"
"Nggak ada apa-apa." Berusaha memalingkan wajah. Lalu, menyisih.
"Onni, jangan mengalihkan pembicaraan." Kala mengejar langkah.
"Kenapa Onni tiba-tiba mau menerima tawaran Paman? Apa Bang Kafil sudah nggak mau memperjuangkan Onni?"
Vey diam.
Kala tetap saja memberondong pertanyaan. "Apa Bang Kafil itu sebetulnya menipu Onni?"
Vey menoleh cepat lagi. "Diam kamu, La! Kafil nggak pernah menipuku. Tahu apa kamu soal dia." Suasana mendadak panas. Dia pusing. Lelah. Kecewa. Ditambahkan dengan pertanyaan Kala yang menurutnya tak perlu untuk ditanyakan.
"Justru karena aku nggak tahu. Onni nggak pernah cerita. Jangan salahkan aku kalau aku menebak seenakku, Onni."
"Dengarkan aku, La! Dia nggak pernah menipuku. Kamu dengar itu baik-baik." Vey melotot. Dia tak ingin mendengar kalimat itu keluar dari mulut Kala.
Jantung Kala mulai tak berdegup normal. "Lalu, karena apa?"
Vey memegang kedua pundak Kala. "Karena Mama berpesan supaya kamu jadi penghafal Alquran. Itu sudah jelas." Vey pergi.
"Maksudnya?"
Vey mengabaikan.
"Apa maksud Onni? Karena Mama berpesan supaya aku jadi penghafal Alquran. Ya aku tahu. Tapi, kenapa alasannya itu?"
Kala semakin penasaran. Dia memburu Vey.
"Onni?"
"Makan, gih! Aku beli ayam goreng. Sudah aku geprek sama sambel pedes." Vey berkata tanpa menatap. Lalu, masuk kamar. Menutup pintu keras.
__ADS_1
Jika sudah begitu, Kala hanya bisa menunggu sampai suasananya kembali membaik. Hidup mandiri memang kadangkala membuat Vey menjadi perempuan yang merasa bisa melakukannya sendiri. Saking terbiasanya hidup tanpa bergantung pada orang lain.
Terima kasih sudah mengikuti EDB sampai sejauh ini. Semoga kisahnya tetap bisa dinikmati.. ❤️❤️❤️🥀🙏😊