
Ketika Abimana menjelaskan pelajaran Alquran Hadis kepada santri-santri putri kelas sepuluh di MA Mahbubah, handphone-nya mendadak bergetar. Gerak tangannya pun berhenti, dia menoleh. Meminta izin kepada santri-santri untuk mengangkat telepon sebentar. Jika yang menelepon Gus Omar, dia tak berani mengabaikan.
”Nurmaya ke mana, Bi?”
”Di sekolah, Gus.”
”Barusan sopir bilang, dia nggak ada di sana. Cari dia, Kang!”
”Ngapunten saya selesaikan penjelasan pelajarannya, Gus. Nanti saya cari.”
”Iya. Nanti langsung kamu cari. Bisa repot kalau dia nggak ada di pondok.”
Gus Omar langsung memutus sambungan.
“Apa mungkin ke rumah Kala? Padahal, tadi sudah aku bilang nggak usah,” gumamnya kemudian.
Dia melanjutkan penjelasannya sekitar lima belas menit. Jam pelajaran masih setengah jam. Lantas dia meminta santri-santri untuk mengerjakan soal latihan dan wajib dikumpulkan di mejanya.
Dia kembali menelepon Gus Omar, nihil jawaban. Dia pun mengirim pesan, meminta nomor handphone Kala, masih centang dua. Setelah dia turun tangga menuju parkiran, dia kembali memeriksa. Ternyata masih sama, pesannya belum dibaca. Tapi, dia tahu apa yang harus dilakukannya. Dia kembali ke MAN untuk menemui Syarif.
Syukurlah dia masih sempat bertemu dengan Syarif di depan gerbang. Syarif memanggilnya dan menanyakan ada apa. Sebelum dia bertanya, Syarif dengan sendirinya mengatakan kalau Nurmaya pergi pulang dengan Kala.
“Antarkan aku ke sana! Aku gandol.”
Syarif menerima tawaran itu.
Setibanya di rumah Kala, dia melihat sandal Nurmaya teronggok di depan. Dia turun dari motor. Meminta Syarif untuk berjalan mendahuluinya.
“Assalamualaikum?”
Kala menjawab salamnya cukup lantang. Tapi, Nurmaya buru-buru mojok di dekat lemari piala.
Tak hanya Kala yang terbengong, Abimana pun terdiam.
“Aku dulu pernah ke sini menemui seseorang,” batinnya.
Kala bangkit. Dia menyuruh Abimana dan Syarif masuk. Dia juga mengatakan kebetulan sedang makan siang. Tapi, Syarif justru menolak dan langsung pamit pulang. Sekali lagi dia mempersilakan Abimana masuk. Dia memberitahu kalau Nurmaya sedang bersamanya. Sekaligus meminta maaf karena dia telah pergi membawa santri tanpa izin.
Vey berdiri tepat di depan Abimana yang masih mengingat kapan terakhir kali dia datang ke rumah ini. Rumah yang ternyata tempat tinggal Kala dan kakaknya. Vey ke ruang tamu dengan masih memakai celemek penuh cat akrilik dan cat minyak. Termasuk pipi dan keningnya yang terkena cat berwarna putih dan biru. Dia mempersilakan Abimana duduk.
“Pak, maaf saya dan Nurmaya baru mau makan siang. Monggo, Pak! Saya ke dapur dulu.”
“Tidak perlu,” tegas Abimana. Dia memperhatikan Kala sekilas, lalu memandang Vey yang kembali berlalu ke samping dapur.
__ADS_1
Abimana lupa, apa tujuannya datang ke rumah Kala. Ada sekeping wajah masa lalu yang tiba-tiba berkelindan di kepalanya. Ketika itu, dia masih berusia tiga belas tahun. Dia adalah satu-satunya anak laki-laki Pak Cipto sebelum adik keduanya lahir berjenis kelamin laki-laki. Ke mana pun Pak Cipto pergi, dia seringkali diajak. Jika bapaknya bertandang ke rumah Pak Adi untuk memesan bibit padi unggul dan bibit tembakau siap tanam, dia juga selalu bersama bapaknya. Bertemulah dia dengan Si Gadis Manis yang selalu memeluk ayahnya dari belakang.
Si Gadis Manis itu berambut pendek seperti laki-laki. Paling panjang, hanya sekitar sebahu. Walaupun penampakannya sudah sembilan tahun, tapi gadis itu tampak masih seperti anak usia tujuh tahun. Perawakannya yang kecil dan kurus dengan tingkah yang selalu manja pada ayahnya.
Bagi Abimana, gadis itu tampak sangatlah manis. Abimana yang sudah puber di masa remajanya, tentu bisa membedakan rasa. Setiap kali dia diminta ayahnya untuk menemani, dia selalu bersemangat. Karena, dia pasti akan bertemu dengan gadis itu. Dan harapannya pun selalu terjadi. Namun, apalah daya dia yang dulu sangat pemalu. Gadis manis itu juga terlihat tak peduli dengan kedatangannya.
“Bukankah dia Kakakmu?”
“Benar, Pak. Ada perlu sama Onni?”
“Tidak. Nama Kakakmu Nana?”
“Mmmm...Vey Kun Nana Syafa’ah, Pak.” Kala masih bingung kenapa Abimana justru terfokus pada Vey. Bukannya langsung menanyakan Nurmaya yang tetap berada di pojokan.
“Waktu itu kamu masih dua tahun. Kakakmu sudah besar, tapi terlihat masih kecil. Sukanya berambut pendek laki-laki. Dia suka sekali mengganggu Ayahnya bekerja.”
Kala mengingat sekilas foto yang ada di kamar Vey. Dia membenarkan kesukaan Vey pada gaya rambut laki-laki.
“Pak Abi bisa tahu itu?”
“Ya aku baru sadar dulu kita sering bertemu karena Bapakku langganan Ayahmu. Aku ingat. Apa sekarang dia sudah menikah?”
“Belum, Pak. Saya panggilkan Onni, ya, Pak. Mungkin Onni sudah selesai melukisnya.”
“Melukis?” Air muka itu berubah penasaran. Gadis yang dulu disukainya kini menjadi seorang pelukis. Itu di luar dugaannya.
“Innalillahi. Kapan meninggal?”
“Sudah lama, Pak. Oh, itu Nurmaya, Pak.” Kala meminta Nurmaya untuk duduk di depan Abimana.
Abimana menoleh. “Kenapa di situ?” lontarnya kemudian.
Nurmaya menunduk. Mendekat. Dia buru-buru mengucapkan permohonan maaf.
“Gus Omar yang menyuruhku ke sini.”
Wajah itu seketika terangkat. “Segitu pedulinya beliau padaku?” batin Nurmaya. Malu sekali rasanya.
“Besok-besok jangan diulangi.”
Wajah itu kian terbenam. Dia khawatir Gus Omar akan memarahinya karena dia tak bisa memegang amanah dengan baik.
“Kami makan, Pak,” kata Kala sedikit sungkan.
__ADS_1
Vey menyembul dari dalam. Membawa piring kosong dan telur dadar yang baru saja digorengnya.
“Silakan, Pak Abi!” Vey duduk. Meletakkan apa yang dibawanya.
Mendengar suara itu menyuruh, Abimana tak bisa menolak. Dia begitu ingin menghargai.
“Nana?” panggilnya sebelum menyendok.
“Ya?” Vey menatap biasa. Dia hanya sedikit merasa tidak biasa ada memanggilnya begitu. Hanya dua orang yang dulu dan sekarang memanggilnya begitu.
“Aku bisa lihat lukisanmu?”
“Bisa. Nanti aku antarkan ke ruangan samping. Sekalian promosi.” Vey tersenyum tipis.
Kala meneruskan makan. Nurmaya dan Abimana memulainya bersama-sama.
Lima menit makanan itu habis dilahap. Selama makan, dia hanya fokus pada rasa makanannya.
“Siapa yang masak?”
“Onni.”
Lagi-lagi Vey menatap Abimana. Biasa. Menyuguhkan senyum simpul, yang tanpa sadar sudah membuat Abimana tak bisa banyak berkata-kata.
Abimana manggut-manggut.
Semua orang terdiam. Vey menatap satu per satu, Kala, Abimana, lalu Nurmaya. “Ya sudah mendingan kita lihat lukisan saja. Ayo, La!” Dia bangkit lebih dulu.
Kala mengikuti, kemudian Abimana dan Nurmaya. Mereka berdua mengekori langkah Vey dan Kala.
Di ruangan samping yang Vey maksud tadi, di sanalah tersimpan belasan lukisan Vey. Baik lukisan baru, lama, ataupun pesanan.
Vey mulai bicara saat Abimana mulai tampak mengagumi maha karyanya.
“Dulunya ini hanya ruangan putih. Sengaja dikosongkan supaya ide-idenya terus muncul. Hanya dengan melihat karya-karya inilah aku bisa mengenang pahit manis kehidupan yang sudah aku dan Adikku lalui.”
Abimana semakin terpesona. Terpaku pada satu karya paling besar yang tertempel di dinding. Ada dua penampakan wajah perempuan yang tengah tertawa, Vey dan Kala.
“Dan lukisan itu, akan selalu mengingatkan kita bahwa kita tersenyum agar orang tua kita bahagia di sana. Di surga-Nya Tuhan.”
Meski suara itu terdengar tegar, tapi Abimana merasakan kesenduan yang hanya bisa ditangkap oleh perasaan. Dia menatap Vey sekejap.
“Mas Abi kalau butuh lukisan, lettering, mahar pernikahan bisa pesan ke kita. Insyaallah kami buatkan sebagus mungkin. Kalau aku lihat-lihat dari wajahnya, ini kelihatan sudah mau menikah pasti.” Vey mencoba berkelakar. Memecah keheningan ruangan.
__ADS_1
Abimana hanya tersenyum tipis. Cenderung masih berwajah datar.
Bagaimana bagaimana?? Terima kasih atas doa dan dukungannya.. 😍😘