Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 86 "Hot News"


__ADS_3

Hot news.


"Baik terima kasih, Kurniawan. Kecelakaan yang telah terjadi di jalan Supriyadi pada pukul tiga lebih enam belas menit tadi, bahwasannya saat ini dapat Anda saksikan langsung proses evakuasi bus dan mobil masih berlangsung. Dapat kita saksikan bahwa badan mobil rusak parah dan sebagian badan bus penyok karena hantaman antara keduanya. Sementara korban tabrakan atau sopir mobil laki-laki dan salah seorang perempuan penumpangnya, telah dilarikan menggunakan mobil ambulan rumah sakit umum pada pukul setengah empat sore tadi. Menurut keterangan dua saksi, bus diketahui melaju dari arah timur ke barat dengan tujuan tol Semarang-Solo, lalu menghantam mobil dengan nomor plat nomor V 1500 VI yang baru saja berhenti di pinggir jalan hendak menyeberang." Berita itu telah disiarkan di beberapa stasiun televisi.


Vey mencoba fokus pada pekerjaan meski firasatnya tetap mengganggu.


Handphone Niar berdering.


📞"Halo, Ibuk ada apa, Buk? Aku kan bilang mau nginep di rumah Mbak Nana. Aku udah ngomong ke Ayah kok, Buk." Niar telanjur cerewet.


📞"Niar, kamu cepetan pulang sekarang. Minta tolong Nana nganterin kamu, ya. Ditunggu Bapakmu sekarang."


📞"Buk, Ibuk kenapa, sih? Ada apa emangnya?"


Vey antusias mendengar Niar berbicara. Wajahnya berubah tegang. Was-was.


📞"Pokoknya pulang dulu. Nanti Ibuk jelaskan. Cepet!"


Telepon diputus.


"Mbak Na, aku tiba-tiba disuruh pulang sama Ibuk. Ibuk juga minta aku dianterin Mbak Nana. Maap Mbak ngrepotin. Kayaknya darurat banget."


"Oke oke. Kita berangkat sekarang." Vey bangkit. Bersiap seadanya.


Wussshhhh! Vey mengendalikan laju dengan angin yang berlawanan arah. Keahliannya mengendarai motor sudah gak diragukan lagi walau sudah beberapa kali kecelakaan kecil.


Setibanya di depan rumah, Niar turun dari motor. Tergesa-gesa. Vey pun mengikuti. Penasaran. Khawatir firasatnya terjadi.


"Buk, kenapa lo?" Nada Niar mulai goyah.


"Masmu." Bu Cipto terburu menangis. Pak Cipto di sampingnya menenangkan. Mengambil alih penjelasan.


"Kita ke rumah sakit sekarang. Masmu kecelakaan."


"Ya Allah." Niar langsung menangis. Menghambur ke tubuh Vey yang mendadak kaku, ingin terhuyung. Vey pun sigap menahan tubuh Niar yang sama lemasnya.


"Mari, Pak, Buk. Kita harus ke rumah sakit segera."


Mobil saudara sudah ada di halaman.


"Yang nyopir siapa, Pak?"


"Aku, Nduk."


"Pak, kalau misalnya Pak Cipto masih mengkhawatirkan keadaan, saya berani kok menggantikan. Itu pun kalau diizinkan. Punten kalau lancang."


"Pak, gapopo biar Mbak Nana yang nyopir. Ibuk khawatir nanti Bapak tidak fokus." Tatapannya beralih kepada Vey. "Ya sudah. Kamu aja, Mbak. Tapi, hati-hati."


Vey yang kemudian menggantikan tugas Pak Cipto demi keamanan. Sejauh ini dia masih bisa mengontrol diri sembari benar-benar memastikan keadaan yang sebenarnya. Pak Cipto mendapatkan panggilan dari pihak rumah sakit. Lantas, memintanya supaya mempercepat laju. Begitu juga Niar yang tak tahan ingin segera sampai di lokasi.


Tak ada yang bisa tenang. Vey yang berusaha tenang, ternyata ikut terbawa suasana. Namun, dia tetap harus menahan emosi sampai tiba di rumah sakit. Perjalanan setengah jam menuju ke sana.

__ADS_1


"Sampai."


Mereka berempat turun tergesa-gesa. Semuanya berjalan dengan langkah panjang-panjang. Desah kekhawatiran dan aroma kegelisahan menguar sangat kuat. Di depan ruang UGD, dokter telah menyambut mereka.


"Orang tua pasien bernama?"


"Abimana dan Nurmaya," jawab Pak Cipto.


"Alhamdulillah. Pasien telah mendapatkan penanganan sementara. Karena kami harus menunggu persetujuan pihak keluarga. Kami menyarankan agar pasien dioperasi secepatnya."


"Apa lukanya sangat parah, Dokter?" tanya Bu Cipto.


Vey memeluk Niar. Saling menenangkan. Niar berbisik ketakutan. Dia menggigit jarinya.


"Pasien sudah lebih stabil. Tapi, keduanya terluka parah. Kaki kanan pasien laki-laki patah. Tulangnya remuk. Sementara pasien perempuan geger otak."


"Allahu Akbar." Tubuh itu seketika lemas tak berdaya. Luluh lantah. Bu Cipto terhuyung ke lantai.


"Kemungkinannya apa, Dok?"


"Mari ke ruangan saya. Akan saya tunjukkan hasil rontgen."


Penuh debar. Vey tak bisa bernapas leluasa. Melihat Niar yang sesenggukan, dia tak dapat membayangkan betapa kagetnya keluarga Abimana.


"Niar, kamu harus kuat. Kita duduk di sini saja. Biar Bapak dan Ibukmu yang ikut." Vey membimbing Niar untuk duduk di sampingnya.


Pak Cipto dan Bu Cipto menghadap dokter.


"Bapak dan Ibu bisa melihat. Kondisi tulang sudah remuk. Patahannya ada yang sampai tembus ke lapisan kulit terluar. Sebetulnya keparahan ini sudah bisa dilihat sejak pasien datang, tapi kami tetap melakukan rontgen untuk menunjukkan detail keparahannya. Saat cedera sudah merusak pembuluh darah di luar, jaringan yang dipasok pembuluh darah akan mati, dan infeksinya sudah masuk. Pasien harus dioperasi dalam waktu dekat ini agar infeksi tidak merusak jaringan lain."


"Tidak sampai diamputasi, kan, Dok?" tanya Bu Cipto.


"Pasien harus diamputasi."


"Ya Allah, Pak. Bapak ini gimana, Pak? Astagfirullah kok jadi begini, Paaaak." Bu Cipto kalang kabut. Sudah tak keruan perasaannya.


"Lalu, menantu saya bagaimana? Geger otaknya parah atau bagaimana?"


"Kepala bagian kanan mengalami benturan keras. Menurut CT scan, geger otak yang dialami pasien kemungkinan besar dapat mengurangi fungsi kerja otak. Pasien akan hilang ingatan atau pasien akan kehilangan keseimbangan tubuh."


"Ya Allah, Paaaak. Bapaaaak? Kok musibahnya datang bersamaan seperti ini. Abimana, nasibmu, Le. Padahal, niatmu itu baik. Ke pesantren. Tapi ..."


"Buk, ini sudah menjadi takdir Abimana. Kita lakukan saja apa yang harus kita lakukan sekarang."


Dokter menunggu.


"Dokter, saya setuju. Lakukan operasi, Dok. Jika memang keduanya harus operasi, saya setuju. Lakukan yang terbaik. Saya minta tolong dengan sangat, Dokter."


"Baik, Pak. Kami akan berusaha."


Suasana ketegangan bertambah terasa ketika Pak Cipto dan Bu Cipto menatap nanar Niar yang sudah lemas karena tak berhenti sesenggukan. Vey juga menangis. Air matanya hanya menggenang. Ditahan agar tak bergelimangan.

__ADS_1


"Bagaimana, Buk?"


"Mbak Na, Abimana harus diamputasi kakinya," jawab Bu Cipto.


"Mbak Naaaa?" Niar memeluk erat. Tangisnya kali ini sudah tak dapat ditahan lagi. Pecah. Air matanya beruraian tak terkendali. Tangannya *******-***** pinggang Vey.


"Lalu, Nurmaya?"


"Geger otak."


"Ya Allaaaah." Vey lunglai. Kehabisan kata-kata. Dia mendistraksi dirinya dengan kembali duduk. Tenang dan harus tenang.


"Apa jadinya mereka nanti? Bagaimana setelah mereka berdua tahu kalau kondisi mereka separah itu? Nurmaya geger otak. Pasti kemungkinannya akan lupa ingatan. Ya Tuhan," batin Vey.


"Bapak dan Ibuk, saya ajak Biar ke luar, ya. Saya khawatir Niar akan sakit."


"Iya. Tolong kamu cari makan sama dia. Mungkin dia belum makan, Mbak."


"Belum, Buk. Tadi ke rumah bawa makanan, tapi cuma jajan."


Niar dan Vey keluar dari rumah sakit. Mereka duduk di tikar milik penjual nasi goreng. Mereka memesan tiga bungkus karena Niar menolak makan.


"Mbak Na?" Niar bersila. Memandang lurus. Berbicara tanpa menatap Vey. Sisa-sisa tangisnya masih terdengar jelas dari embusan napasnya.


"Ya?"


"Kalau Mas Abi diamputasi, Mas Abi nggak jadi laki-laki yang sempurna lagi. Iya, kan, Mbak?"


"Kenapa kamu ngomong begitu?"


"Apa Mbak Nana masih mau dengan Mas Abi?"


"Hei?" Vey memegang kedua pundak Niar. Meminta Niar untuk menatapnya.


"Mas Abimana sudah beristri, Niar. Nurmaya."


Niar melepaskan tangan Vey. "Enggak, Mbak. Seandainya Mas Abi belum menikah, apa Mbak Nana mau menikah dengan laki-laki cacat?"


"Jangan ngomong gitu, Niar. Nggak baik. Ada baiknya kita doa sama-sama."


"Jawab aja, Mbak Na. Toh, itu bukan jawaban yang susah, kan?" Pandangannya kian menanar.


"Kamu salah jika nanya itu ke aku. Aku nggak berhak menjawab itu."


"Ini hanya perumpamaan, Mbak. Lagian seperti yang Mbak Na bilang tadi. Nurmaya adalah istri Mas Abi, bukan Mbak Na. Jadi, jawabannya?"


Vey menghela napas. Diam beberapa detik.


"Cinta akan membuat seseorang melakukan apa pun. Bahkan, yang diluar kesanggupan dan dugaannya. Bukan masalah cacat atau nggaknya seseorang. Jawabannya ada pada hati."


"Kalau aku nanya, apa Mbak Na masih menyukai Mas Abi, Mbak Na jawab apa?"

__ADS_1


Vey menelan salivanya.


__ADS_2