Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
PART 11 "Pertemuan di Milad Sekolah"


__ADS_3

"La, bantuin aku," pinta Vey. Vey kesulitan melakukannya sendirian jika dia sedang melukis. Terkadang dia lebih suka merepotkan Kala dengan menyuruhnya mengambilkan cat akrilik yang berserakan di lantai. Apalagi, jika ada yang memesan lukisan padanya. Dia akan menyerahkan pesanan mahar dan seserahan kepada Kala.


"Bentar, Onni. Bentar aja."


Kala memantau layar smartphone-nya. Awalnya dia mengira kalau pesannya tak akan langsung terbalas. Rupanya pesan Gus Omar membuatnya buru-buru membuka dengan tangan bergetar.


"Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Oke siap. Bentar."


Dia menunggu tanpa membalas. Sejurus kemudian masuk pesan bergambar. Dia membukanya, lalu membacanya pelan-pelan. Dahinya berkerut saat melihat tahun kelahiran Gus Omar. Dia lekas menghitungnya dengan bergumam. Matanya pun membelalak. Dia cukup heran setelah mendapati usia Gus Omar melebihi dari dugaannya. Awalnya dia hanya mengira Gus Omar masih berusia antara 29-31 tahun-an. Sayangnya, tak ada status yang ditampilkan.


"Maybe beliau udah punya istri kali, ya," batin Kala semakin penasaran.


Tiba tanggal 10 Oktober 2022.


Tak ada satu pun siswa yang tidak sibuk. Mereka mondar-mandir melengkapi persiapan stan yang belum selesai. Stan harus selesai maksimal nanti siang karena mulai pukul empat sore stand sudah harus dibuka semuanya. Sebagian stan yang sudah selesai persiapannya bisa dibuka sejak pukul setengah delapan pagi.


Ada juga yang sibuk berlatih di panggung untuk mempersiapkan acara kreasi siswa nanti. Lomba penampilan kreatifitas siswa yang diwakili satu orang atau grup dari masing-masing kelas. Setelah sarasehan selesai, barulah panggung gembira siswa akan dimulai dengan penampilan grup band sekolah yang beberapa kali sudah mewakili perlombaan tingkat nasional.


Namun, berhubung acara pembukaan milad akan dimulai pukul delapan nanti, maka seluruh siswa diminta untuk bersiap-siap diri setelah tiba di sekolah. Siswa yang tidak mendapatkan bagian menjaga stan dan baru datang diminta langsung naik ke aula oleh seksi sarana dan prasarana, tiga anggota OSIM yang berjaga serta memandu arah parkir kendaraan siswa-siswa.


Kala berdiri di depan stan berbicara dengan Mela dan Ruma. Membicarakan gambaran acara pembukaan dan sarasehan nanti. Kedua siswi itu tampak semangat setelah mendengar nama Gus Omar kembali disebut. Beberapa kali dia melongok ke arah gerbang. Sekali dua kali dia memperhatikan gelang jamnya. Berharap Gus Omar bisa datang tepat waktu.


Ruma dan Mela menepuk lengan Kala. Menyuruh Kala menoleh ke belakang. Di lantai dua, di depan aula sekolah, Syarif memanggil dan bertepuk tangan. Kala menoleh.


"Kenapa?" teriaknya.


Syarif meletakkan kedua jarinya di telinga. Mengisyaratkan Kala harus membuka handphone-nya.


"Itu Syarif minta aku buka handphone gitu, ya?"


"Paling," jawab Mela.


Kala merogoh sakunya. Chat Syarif sudah masuk sepuluh menit yang lalu.


"Kamu telfon Gus Omar sekarang."


Kala melenguh. Tak lama kemudian, handphone-nya berdering. Degup jantungnya mengeras dengan sendirinya. Dia mengaduh karena Gus Omar justru meneleponnya lebih dulu.


"Kok nggak sopan, ya, aku. Masak Gus Omar yang malah telepon aku. Barusan Syarif nyuruh aku nelpon beliau lo. Kamu angkat, Mel!" Kala tidak berani.


Mela jelas menolaknya. Mereka pun berdebat siapa yang akan mengangkat. Sampai akhirnya panggilan itu berakhir.

__ADS_1


"Mati lo. Gara-gara kamu, Mel."


"Kok aku. Enggak ya. Kamu lagian malah nyuruh aku. Aku tugas apa coba. Telpon aja lagi! Kan jadi kamu yang telpon duluan."


"Oke oke."


Kala meneleponnya. Memberanikan diri meski sebetulnya dia cukup gerogi bersinggungan dengan orang seperti Gus Omar.


📞"Assalamualaikum, Gus. Ngapunten...eee...tadi tidak langsung angkat."


📞"Wa'alaikumussalam. Oke santai aja. Mbak Habibah, ini aku udah mau sampek, Mbak. Cuma mau ngasih tahu itu aja."


📞"Oh, enggeh enggeh, Gus. Saya dan teman-teman menunggu di depan gerbang."


📞"Ya. Sampun assalamualaikum?"


📞"Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh."


Kala berlari ke arah Geri, Mayumi, dan Dharma sembari memasukkan handphone.


"Yo, ayo acara udah mau mulai. Jam delapan tepat. Yang baru dateng langsung ke aula. Cepat!" teriak Geri. Si suara besar.


Mayumi berbisik. "Emang kepsek udah datang?"


"Barusan telpon udah mau nyampek. Kalian ke depan gih!"


"Nggak kamu aja, La?" tanya Mayumi.


"Kok aku? Ya jangan. Aku mau persiapan ngemce kok."


"Jadi kamu, La, yang ngemce?" Mayumi kaget.


"Iya. Seksi acara ikut olimpiade kok. Aku yang maju. Eh, yang di atas udah ke-handle semua, kan?"


"Tenang. Di atas ada Syarif. Stand by dari jam enam tadi," ujar Dharma sembari mengangkat jarinya.


"Eh, ada mobil," gumam Kala. Dia langsung berlari tanpa mengajak tiga temannya tadi. Tapi, mereka bertiga pun membuntut atas ajakan Geri.


Kala terengah-engah begitu sampai di luar gerbang. Mobil Gus Omar sengaja tidak langsung masuk. Beliau tersenyum bersamaan dengan terbukanya kaca mobil depan sebelah kiri. Beliau turun dan mendekati Kala. Saat kaca mobil belakang pun dibuka, Kala sempat melirik ada salah seorang laki-laki dan dua perempuan ada di sana. Laki-laki ada itu keluar bersama dengan perempuan yang berada di dekat pintu. Kala terdiam mengamati. Lalu, segera melemparkan tatapannya pada Gus Omar yang sudah berdiri di depannya.


"Gus, mobilnya di parkir di dalam saja," kata Dharma menyerobot kalimat yang hendak disampaikan Kala. Kala pun menutup mulut.

__ADS_1


"Sebentar. Aku mau ngomong sama Kala dulu."


"Nggeh, Gus?"


Pria yang keluar tadi menatap Kala. Juga perempuan berjilbab segi-empat dengan style sarung dan blues putih, seperti orang akan menghadiri pengajian.


"Sepurane aku nggak bisa memenuhi undangan. Tapi, tenang aja aku sudah menyiapkan badal. Laki-laki yang kamu temui di rumahku waktu itu. Abimana namanya. Sepurane, Mbak, ya."


Kala hanya bisa manggut-manggut dengan sedikit mencerna pemandangan di depannya. Dua perempuan itu? Separuh otaknya dengan mencari kemungkinan jawabannya, sedangkan sebagiannya lagi fokus pada kalimat yang disampaikan Gus Omar.


Gus Omar pun pamit. Kembali masuk mobil dan pergi bersama perempuan di jok belakang.


"Pak Abimana?"


"Iya, Mbak Kala. Aku yang akan menggantikan beliau. Beliau ada urusan. Seperti yang beliau katakan waktu lalu. Lalu, Mbaknya ini?"


Kala menatap perempuan itu sebentar. Saat dia memperhatikan dengan baik, melintas sekilas ingatan masa lalu.


"Sebentar sebentar. Maaf ya. Aku kok kaya kenal sama kamu, Mbak? Tapi dimana dan kapan?"


"Teman lama mungkin," sahut Mayumi.


"Tadi Mbak Kala namanya?" Perempuan itu memastikan.


"Ingat sama nama Nurmaya anak tukang becak nggak?"


Kala berusaha mengingatnya lagi, tapi dia tak menemukan secuil memori yang cukup jelas.


"Setengah ingat, tapi ngambang. Ada panggilan lain nggak?"


"Kita temen SD, Kala. Aku Yaya anak tukang becak."


Kala berdecak. Matanya membulat.


"Yang rambut keriting itu, ya? Yang kalau ke sekolah bahwa bekal makanan, lauknya mesti ikan asin sama krupuk?" Kala menebaknya dengan suara lantang dan semringah.


Mobil Gus Omar pun berjalan. Geri dan Dhamar mengangguk saat disapa oleh sopirnya.


"He.em. Aku Yaya. Nurmaya, Kala. Apa kabar kamu?"


"Alhamdulillah baik banget. Kamu kok bisa?... Duh, apa ya.. Eh, mendingan kita ke aula dulu, ya. Silakan, Pak Abi kami antarkan."

__ADS_1


Kala telanjur senang. Beberapa pertanyaan besar langsung berderet-deret bermunculan. Dia tak sabar ingin berbincang-bincang dengan kawan lamanya itu. Dia pun menahan langkah untuk mensenjajari langkah Nurmaya. Sedangkan Geri, Mayumi, dan Dharma mendahului langkah mengantarkan Abimana ke aula.


Mereka pun berbincang-bincang basa basi. Kala menanyakan perihal tempat tinggal Nurmaya sekarang. Yang ternyata, Nurmaya sudah pindah sejak lulus sekolah dasar. Rumahnya dulu masih satu kecamatan dengan Kala, beda desa. Namun, setelah masuk sekolah menengah pertama, Nurmaya terpaksa pindah rumah karena diminta untuk menempati rumah warisan simbahnya. Bapaknya pun menjadi seorang nelayan--Gondang Wetan termasuk wilayah pesisir Pasuruan.


__ADS_2