
Gelas keramik itu menyentuh meja kaca. Nurmaya meletakkannya dengan hati-hati seperti biasanya. Wajahnya yang pemurung bersembunyi. Geraknya menyisih tertahan karena Gus Omar memintanya untuk tetap tinggal.
Mereka bertiga, Gus Omar, Kala, dan Syarif bergeming. Dimana yang sebenarnya Gus Omar dan Kala tengah membiarkan Syarif memperhatikan Nurmaya. Dan, Syarif sedang melakukan itu meski sekejap. Karena kadangkala kecocokan itu datang pada masa yang hanya sesaat. Seseorang bisa mengatakan orang itu ialah jodohnya meski dalam sekali pandang.
"Mbak Yaya boleh pergi. Makasih, Mbak Yaya," ucap Kala.
Nurmaya mengangguk.
Sembari berbicara, Gus Omar memegangi telapak tangan Kala. Meletakkannya di paha kanannya.
"Apa Mas Alfin .... oh, aku panggil kamu Alfin saja, yo. Kedengarannya kok lebih nyaman. Syarif Hidayat Alfin bet?"
"Betul, Gus."
"Apa kamu mau dengan perempuan seperti Nurmaya?"
Kala menambahkan begitu saja. "Mbak Yaya emang baik. Soal pengabdian, ilmu, akhlak sudah aku percaya itu semua. Tapi, kamu lihat sendiri, kan, Rip? Mbak Yaya keadaannya begitu. Seperti yang aku bilang kemarin, dia janda kembang."
"Iya?"
"Bener. Empat tahun nikah, dia diceraikan. Dari cerita mantan suaminya, Abimana ... kamu kenal dia?" tanya Gus Omar.
"Insyaallah kenal."
"Oke. Dari cerita Abi, memang benar Abimana yang menjatuhkan talak satu. Tapi, secara tidak langsung Nurmayalah yang menginginkan mereka pisah. Mungkin naluri walaupun dia lupa ingatan. Ya intinya mereka nggak bahagialah gitu."
Syarif menelaah kalimat itu satu demi satu. Untuk menguatkan maksud silaturahmi keduanya itu.
"Aku nggak masalah kalau ada laki-laki yang siap lahir batin menerima dia apa adanya. Toh, kemarin malam aku sudah ngomong dengan Abimana, Abi benar-benar mantap melepaskan Nurmaya. Katanya itu demi kebaikan Nurmaya. Dengan catatan Nurmaya juga menyukai pria yang akan menikahinya. Jadi, tugas kamu yo mendekati dia dengan baik. Nanti Salihah akan memberitahukan apa yang menjadi kesukaan Nurmaya."
"Iya, Rip. Aku kasih tahu apa yang aku ngerti dari Mbak Yaya," ujar Kala.
"Satu hal juga. Diskusikan dengan orang tuamu. Karena aku tidak rela jika Yaya menikah tanpa restu atau sedikit pun ketidaksukaan dari keluarga barunya. Semua harus rida kamu menikahi Yaya. Paham, Fin?"
"Paham, Gus. Iya ini Papa saya juga sebenarnya yang meminta saya agar cepat mencari pendamping. Saya kepikirannya langsung ikhtiar ke sini."
"Ya apa pun alasan kamu, ending-nya semua harus setuju. Nurmaya adalah abdi ndalem kesayangan keluarga kami, Fin."
"Saya paham, Gus. Terima kasih banyak penjelasannya."
Kala merebah di ranjang seperti biasanya setelah mengaji dengan santri putri dan bermain dengan keponakan. Dia menceritakan beberapa hal kesukaan Nurmaya kepada Syarif. Usai mendengar niat baik Syarif tadi, dirinya memang sangat bahagia. Dia mendukung penuh.
"Aku nggak perlu cemas kalau Syarif masih ngarep ke aku," gumamnya.
__ADS_1
"Ngarepin apa?" celetuk Gus Omar dari kamar mandi.
"Syarif, Mas."
"Dia kenapa?"
"Sini saya sisirin rambut njenengan, Mas."
Gus Omar memberikan sisir di tangannya. Lantas duduk di tepi ranjang.
Kala berdiri dengan lututnya. Mulai menyisir.
"Duh, duh, rambut suamiku wangi banget. Lembut. Dah panjang juga ini. Punyaku aja kalah."
Sejurus Kala mengalungkan kedua tangannya di kedua pundak Gus Omar. Mendekap dari belakang.
"Sini gantian punyamu."
"Jangan, ah, Gus. Bau. Belum keramas lagi."
"Jangan, Gus. Malu. Rambutku tidak sebagus punya njenengan lo. Nanti njenengan tidak suka?"
Gus Omar memaksa. Menyuruh Kala memutar posisi duduk. Berbisik, "Kumal pun aku tetep suka. Besok kita keramas, Dek."
***
Tubuhnya menggigil. Dua selimut saja ternyata tidak cukup. Sekujur tubuh Vey mendadak kedinginan. Lehernya menghangat. Dia merintih lirih. Berhubung di rumah sendirian, dia harus memaksa bangkit ke dapur.
"Kenapa, sih, aku?" Dia berusaha menyibak selimut. Lalu, berjalan dengan sempoyongan.
"Emang jam berapa ini kok dingin banget?" Dia memutar pandangan ke arah kiri.
"Masih jam satu ternyata."
Tiba-tiba perutnya keroncongan. Sayangnya hanya ada nasi karena dia tak sempat memasak. Makan sore tadi pun hanya membeli makanan dengan tiga teman kerjanya. Dan, dia langsung tidur setelah isya.
"Kayaknya aku harus izin sekolah besok. Aku belum bikin media pembelajaran untuk materi hari Jumat. Aduh ... terus aku makan apa ini?" Dia membuka kulkas. Di sana hanya ada sayur mentah, beberapa bungkus mie, telur, pasta spaghetti, roti tawar, dan tempe yang sudah busuk.
"Ngrebus telur ajalah ketimbang mie terus. Kemarin aku sudah makan mie dua kali," pikirnya.
Sembari menunggu, dia duduk kursi bawah.
"Jangan sampai aku K.O. Nggak boleh," pikirnya. Dia menatap foto keluarga yang selalu terpampang di tempatnya.
__ADS_1
"Aku udah lama nggak ngaji. Nggak ada Kala, aku makin nggak kepikiran. Biasanya dia yang nyuruh. Ya Allah, kalau seandainya aku dulu jadi nikah dengan Kafil."
Tiga puluh satu tahun sudah usianya. Dengan status diri yang masih belum jelas.
"Sampai kapan aku sendiri gini? Apa ini karmaku karena dulu terlalu cuek ke Mas Abi? Mas Abi sekarang pun juga berubah. Akunya juga makin sungkan ingin komunikasi. Nggak nggak. Ini cuma karena aku tiba-tiba sakit terus aku kepikiran macam-macam."
Tubuhnya semakin kedinginan. Dia mengaduh.
"Tapi, aku menyadari. Keinginanku untuk menikah tidak sekuat dulu. Aku sekarang lebih nyantai dan lebih mementingkan pekerjaanku yang makin banyak."
Kavey_Store yang sekarang sudah ditempatkan khusus di sebuah rumah kaca, tepat di samping rumah. Partner kerja yang semula lima kini menjadi sepuluh orang, termasuk konsultan dan adminnya. Partner kerja masuk sesuai dengan shift kerja yang sudah berlaku. Sedangkan, konsultan dekorasi dan admin bekerja mulai pukul sembilan pagi sampai jam dua siang, batas pemesanan semua barang. Selain itu, Kavey_Store juga telah menjalankan mitra dengan beberapa MUA lokal Pasuruan, salah satunya Rumaisya. Sudah sewajarnya jika pekerjaan adalah satu hal yang paling menghibur Vey.
Lalu keesokan harinya, Budhe Atun datang dari pintu depan.
"Na? Pintunya kok nggak dikunci?" teriak Budhe Atun.
Seketika Budhe Atune melantangkan suaranya.
"Ya Allah, ini gimana? Kok pancinya gosong?" Lalu memperhatikan Vey yang tidur pulas di kursi.
"Untung tidak kebakaran. Telurnya sampai hitam begitu. Aduh, Ya Allah, Nanaa. Kok bisa ketiduran." Budhe Atun menyentuh pundak Vey.
"Loh. Kok anget begini?" gumamnya.
Vey membuka mata. "Jam berapa?"
"Subuh mau habis."
"Aku belum salat, Dhe. Telurku???" Vey beranjak seketika.
"Gosong."
"Kebarakan nggak?"
"Endak, Na. Paling gasnya habis itu."
Vey menghela napas.
"Nana, kamu harusnya banyak-banyak istirahat. Budhe tahu kamu mandiri, ndak ingin merepotkan orang. Tapi, kalau kamu sakit seperti ini terus piye (bagaimana)?"
"Aku izin nggak masuk hari ini."
"Na, Pamanmu mau mengenalkan kamu dengan seseorang. Kamu mau?"
__ADS_1