Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 24 "Bunga yang Layu"


__ADS_3

Jangan lupa berdoa. Bismillah.. 😃😃


Musik pengantar siswa-siswi beristirahat sudah berganti dua kali. Kala masih meletakkan dagunya di meja. Membatu seperti patung. Dia juga memejamkan matanya.


Langkah kaki orang berlari mendadak berhenti di tengah bingkai pintu. Mela dan Rumaisya spontan mencebik.


"Mana jajan?" pinta Mela. Menodong Syarif yang langsung mendekati Kala.


Syarif bercongkang di depan meja Kala. Mengabaikan Mela dan Rumaisya.


"Lihat ngapain tuh dia?" bisik Mela pada Rumaisya.


"Biarkan. Aku mau dengerin murottal di hape biar nanti hafalan lancar jaya makmur sentausa. Hahahaha." Rumaisya mengeluarkan handphone-nya. Kontan mengerutkan alis. Melipat bibir.


"Ini siapa, ya?" gumamnya. Membuka pesan dari Vey.


"Apa?"


"Chat masuk dari kontak nggak dikenal."


Rumaisya dan Mela membacanya pelan-pelan. Lalu, keduanya menatap Syarif. Mereka berdua bangkit mendekati Kala yang masih memejamkan matanya.


"Kamu ngapain bengong di depan Kala kaya gini. Kalau mau bangunin tu ya disentuh," sungut Mela. Lantas dia menyentuh lengan Kala yang panas sekali.


Mela terkejut. "Eh, kok panas banget gini."


Rumaisya ikut-ikutan menyentuh kening Kala. Sedangkan, Syarif hanya terbengong.


"Onni-nya emang bilang Kala sakit. Kalau panas tinggi dia bisa pingsan."


Mela kontan membelalakkan matanya. Sejurus menggoyang-goyangkan tubuh Kala yang separuhnya terasa dingin.


"Ini tangannya dingin banget," ujar Rumaisya.


Syarif melenggang entah ke mana.


"Eh, eh, bantuin dong. Kala pingsan nih," ujar Mela.


Enam teman yang lainnya menoleh serempak. Tiga di antaranya berdiri memastikan keadaan Kala.


Rumaisya memegangi Kala karena Mela tengah meminggirkan mejanya. Mela mengambil dua kursi lainnya, lalu Rumaisya membaringkan Kala di kursi-kursi itu. Mela melepaskan sepatu pantofelnya Kala.


Salah satu siswa menyodorkan minyak kayu putih kepada Rumaisya.


"Oke thank's."


Syarif kembali membawa dua petugas UKS.


Lima belas menit kemudian. Kala tersadar. Dia malu melihat teman-temannya merubung.


"Pulang, ya?" pinta Syarif.


"Iya, La. Mendingan kamu pulang. Nanti aku ijinin ke Bu Maria." Rumaisya mendukung saran Syarif.


"Aku pesenkan greb mobil sekarang."

__ADS_1


Kala terdiam. Menyeka air matanya yang akan tumpah.


"Ngapain nangis, sih. Memalukan," batinnya. Dia tersenyum sembari mengerling ke arah Mela dan Rumaisya. "Aku kelilipan. Hehe."


Mela membantunya duduk.


Rumaisya memperlihatkan obat penurun panas di genggamannya. "Minum ini, La!" Dia menggeser segelas air mineral dan obatnya ke depan Kala.


Kala menurut.


"Harusnya nggak usah maksalah." Syarif sedikit kesal melihat Kala berpenampakan seperti sekarang.


"Namanya juga usaha, Rip, Rip." Mela membela. "Syarif nggak usah didengerin, La."


"Eman-eman kalau aku nggak bisa setoran. Kan seminggu cuma dua kali, Mel, Rum."


"Emang kamu habis ngapain bisa sesakit ini?"


Kala membungkam.


Rumaisya mengerti. Dia melarang Syarif dan Mela yang hendak bertanya lagi.


"Mobilnya udah datang," kata Syarif. Dia menyuruh Mela dan Rumaisya mengantarkan. Sementara, dia membawakan tas Kala yang cukup berat.


"Eh, bukunya belum dimasukkan."


"Ei, aku bisa sendiri kok. Malu dilihatin orang-orang lo," sergah Kala.


Mela, Rumaisya, dan Syarif tak mau mendengarkan.


"Siap."


Di depan mobil greb, Mela berkata, "Kamu kabarin Onni Vey, Rip."


"Nggak. Nanti Onni kepikiran. Onni lagi ngajar. Sayang kalau dia harus pulang awal. Udah nggak apa-apa."


Kala naik ke mobil terlebih dahulu.


"Terus siapa yang nemenin?" tanya Syarif.


"Aku aja." Rumaisya menawarkan diri.


Syarif mendekati satpam. Membisikkan sesuatu.


"Mel, biar aku sama Rumaisya yang mengantarkan."


"Hmm? Kesempatan dalam kesempitan."


Syarif menghela napas. "Oke. Lu aja sama Ruma yang nemenin."


"Gitu aja sewot. Dasar."


"Gimana, sih, ini cewek aneh banget. Ya kalau elu pengen ngantar Kala pulang nggak apa-apa. Ya sudah hati-hati. Jaga Kala."


"Iyeee," jawab Mela yang juga sewot.

__ADS_1


Perjalanan pulang.


Kala kembali tak sadarkan diri. Kepalanya tiba-tiba menubruk pundak kanan Mela.


"Dia pingsan lagi." Mela mengaduh. Meringis.


"Kasihan Kala." Rumaisya berdecak. Menghela napas kemudian.


"Nggak ngebayangin kalau aku jadi Kala. Untungnya, ya, dia itu ada Onni yang baik hati. Mereka berdua sama-sama pekerja keras. Aku aja nggak semandiri mereka."


"Kala dewasa karena keadaan yang memaksanya begitu." Mela membetulkan.


"Loh, Mel, tapi kan ada anak yang malah nggak karuan gara-gara ditinggal mati orang tuanya. Kala sama Onni-nya itu emang sudah terdidik. Ya tapi kata-katamu bener juga. Waktu yang mendidiknya menjadi dewasa. Luka yang memaksanya berjuang untuk tertawa. Allah emang adil ya, Mel. Tapi, kita nggak akan pernah bisa tahu bagaimana keadaan Kala yang sebenarnya. Prosesnya kaya gimana kita nggak ngerti. Kita kenal tiga tahun belum genap. Sedangkan, orang tuanya meninggal sejak dia kelas tujuh, kan. Hmm...berat berat."


"Sabda Tuhan itu nggak pernah keliru. La yukallifullahu nafsan illa wus'aha. Artinya udah jelas banget." Mela mendadak bijak.


"Tumben lo kaya Mama Dedeh." Rumaisya terkekeh.


Tiba di rumah Kala.


"Pak, minta tolong Kala digotong, ya," pinta Rumaisya.


"Pintu dikunci. Kala pingsan. Kita mana tahu dimana Onni-nya naruh kunci. Bentar aku tak turun nyari kuncinya." Mela membuka pintu mobilnya.


Mela mencari ke tempat yang memungkinkan digunakan untuk menaruh kunci. Seperti di rak sepatu, pot tanaman, atau di keset. Sementara, Rumaisya mencoba mencarinya di tas Kala. Barangkali Kala punya kunci cadangan. Namun, Mela lebih dulu menemukan kuncinya di salah satu pot kaktus sukulen yang ada di pojokan teras. Mela mengangkat kuncinya, memberitahu Rumaisya.


"Pak, minta tolong diangkatkan temen saya, Pak."


"Oh, baik, Mbak." Sopir itu lantas turun membuka pintu sebelah kanan. Menggotongkan Kala ke ruang tamu. Mela memerintahkannya di sofa saja.


"Makasih, Pak"


Sopir itu menyisih.


"Aku telepon Onni Vey, ya, Mel."


Mela mengangguk. Dia sedang meletakkan bantal kursi di bawah kepala Kala.


📞"Halo, Kak Vey? Ini Ruma, Kak."


📞"Eh, Rum? Gimana gimana? Kala nggak kenapa-kenapa, kan?"


📞"Kala pingsan, Kak. Tadi udah siuman, tapi pas di perjalanan dia pingsan lagi. Demamnya makin tinggi, Kak. Aku sama Mel minta izin masuk ke kamarnya Kala, ya, Kak"


📞"Oke. Jadi, kalian sudah di rumah ini? Dari tadi?"


📞"Barusan. Kompres sekalian, ya. Aku minta tolong, Rum. Jagakan Kala sampai aku pulang." Nada Vey terdengar tergesa-gesa.


📞"Kak Vey, tapi Kak Vey nggak usah pulang awal nggak apa-apa. Aku sama Mel bisa njagain Kala"


📞"Nggak. Kalian harus kembali ke sekolah. Aku langsung pulang ini. Wait. Nggak lama."


📞"Serius, Kak. Kita nggak apa-apa. Kala juga nggak pengen Kak Vey pulang cepet. Sayang katanya."


Vey langsung memutus panggilan tanpa salam.

__ADS_1


__ADS_2