Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 89 "Heha Sky View"


__ADS_3

Jangan lupa berdoa..Bismillah.


Mohon maaf atas keterlambatannya sampai selama ini. Terima kasih banyak telah menunggu. 🙏🙏🙏





Sudah seharian, Kala dan Gus Omar menghabiskan waktunya bersama di atas tanah Heha. Mereka berdua melebur di antara pengunjung yang tumpah ruah sejak pukul sepuluh pagi. Kini jarum jam berpindah ke angka selanjutnya. Isya telah lewat. Gus Omar mengajak Kala segera kembali ke penginapan.


"Njenengan sudah capek?"


"Belum."


"Kenapa pengen cepat pulang?"


"Nggak apa-apa. Di sini terlalu ramai."


"Kenapa memangnya, Gus? Kan ini memang tempat wisata."


"Pengen cium kamu."


Kala membungkam mulutnya seketika. Berlari. Langkahnya yang gesit tak membuat Gus Omar lantas berhenti mengejar. Namun akhirnya dia harus berhenti berlari karena perutnya yang kekenyangan.


"Sudah tahu kenyang kok malah lari-lari." Pelan kaki Gus Omar mulai mendekati Kala.


Kala terengah-engah.


Mereka berdua duduk berdampingan di depan kamar.


"Aku harap kamu nggak sungkan sama aku, Dek."


"Mmm." Kala mengulum bibirnya.


Tak lama kemudian dia menatap Gus Omar yang juga sedang memandangnya.


"Allah merangkum semesta di kedua matamu."


"Njenengan bisa aja." Kala menyembunyikan senyumannya.


"Udah jangan malu." Gus Omar menarik tubuh Kala dari samping. Menyandarkan kepala Kala ke pundaknya.


"Saya minta maaf belum bisa menjadi istri yang baik."


Gus Omar tersenyum tipis. "Nyantai aja. Aku percaya kamu pasti ngerti apa yang seharusnya kamu lakukan. Jika kamu siap menjadi bumiku, aku siap menjadi langitmu."

__ADS_1


"Saya bingung mau balas apa."


Gus Omar mengecup kepala dan mengelus-elus lengan kanan Kala.


"Dengerin ya!" Gus Omar berdehem, lalu melanjutkan bicara, "faqad yakuunaani munakkaraini, kamaa yakuunaani mu'arrafaini."


"Itu bait atau apa, Mas?"


"Ini bait, Cah Manisku. Bait nazam alfiyah. Masyhur banget ini di kalangan santri. Tahu artinya?"


"Saya, kan, tidak pernah mondok."


"Gapapa. Mengandung makna seperti antara kamu dan aku. Romantis kaya kita ini." Dia kembali membubuhkan senyumannya.


"Maksudnya, Gus?"


Gus Omar meraih telapak tangan Kala. Membuka dan merenggangkannya. Lantas dia menggerakkan jari telunjuknya untuk menuliskan nazaman itu di sana. Sembari berkata, "Faqod yakuunaani ( فقد يكونان) mongko terkadang ana apa 'athaf , iku munakkaraini (منكرين) kang nakirah karone. Kama (كما) koyo dene barang, yakuunaani (يكونان) ana apa nakiraini, iku mu'arrafaini (معرفين ) ma'rifat karone." (Nggak usah translate, ya. Ini maknan pegon kitab santri salaf 😁✌️)


Sampai di sini Kala menyimak dengan antusias. Dia tak melepas tatapannya dari Gus Omar yang menjelaskan dengan nada gembira.


"Kamu nggak harus ngerti arti nazaman ini. Yang jelas artinya maka terkadang ma'tuf dan ma'tuf alaihi itu sama-sama nakirah. Sebagaimana keduanya sama-sama ma'rifat. 'Ataf itu kata penghubung, seperti huruf wawu yang artinya dan. Lalu, ma'tuf dan ma'tuf 'alaih yang dimaksud adalah kata sebelum dan sesudahnya kata penghubung tadi. Yang mengapit huruf wawu itulah misalnya. Nhaa, keduanya kadang ma'rifat ataupun nakirah. Nggak harus selalu ma'rifat."


"Memang nakirah dan ma'rifat itu apa, sih, Gus?" Walaupun Kala sudah mengerti, dia tak segan untuk tetap bertanya. Karena di depan guru, selayaknya seorang murid bersikap tidak banyak tahu.


"Nakirah umum atau belum diketahui. Kalau ma'rifat ya kebalikannya."


"Yang diketahui?"


Kala tersenyum. "Tapi, sekarang sudah ma'rifat kok, Gus."


Gus Omar melepas senyumannya lebih lebar. Lalu, Kala tersipu mendengar kalimatnya sendiri, dia membuang muka.


"Lihat sini, Dek!"


Dan, akhirnya ujung bibir Gus Omar mengenai kulit pipi Kala yang lembut. Lalu mendekap Kala lebih erat. Mengecup punggung tangan itu berkali-kali dengan penuh kasih.


"Ternyata njenengan orang yang sehangat ini," batinnya.


"Beneran kita sudah ma'rifat?" Dia berbisik.


Kala mengangguk.


"Alhamdulillah."


"Jadi?"


"Jadi pripun (gimana)?"

__ADS_1


"Udah siap dong?"


"Siap apa, Gus?" Kala melonggarkan dekapan Gus Omar. Memandang serius.


"Nggak jadi, deh."


"Looh??"


"Nggak nggak. Nggak penting." Gus Omar berusaha mengerti. Seperti janjinya ketika itu bahwa dirinya tidak akan terburu-buru. Dia tak ingin mendapatkannya semata-mata hanya karena ditunggangi nafsu. Dia perlu bersabar atas semua itu.


Sedangkan, Kala memang tak mengerti sama sekali. Dia belum pernah berpikir ingin mengarah ke sana. Justru menurutnya, Gus Omar akan meminta kepadanya dengan jelas jika memang tengah menginginkan dirinya.


"Sebentar lagi saya wisuda, Mas."


"Ya bagus. Kenapa?"


"Kenapa nggeh sampai sekarang saya kok masih belum pede dengan status saya sekarang?"


"Ketika wisuda kamu wajib percaya diri."


"Loh kok gitu?"


"Aku belum bilang. Aku diundang juga. Doa. Lagipula aku pasti nemenin kamu."


"Pasti banyak orang yang akan tahu dong?"


"Kira-kira. Sudah. Itu nggak penting. Tanggapi biasa aja kalau temen-temenmu banyak yang kepo."


"Saya kalau sudah terserang malu akut pasti gagap. Pripun (gimana)?"


"Sekalian aja besok disiarkan. Di akhir sesi aku bakalan ngomong."


"Iiiiih, kok njenengan gitu. Malu, Ya Allah." Kala cemberut.


"Malu karena statusnya atau karena siapa yang menikahi?"


"Eh, mboten ngoten (nggak begitu). Maaf maaf." Kala dengan sigapnya mengambil tangan Gus Omar, lalu menyucup punggungnya.


Gus Omar mengubah air mukanya. Beranjak tanpa kata. Kala pun mengikuti.


"Bukan begitu, Guuus. Saya minta maaf, deh. Maaf looo. Ya sudah besok njenengan umumkan saja."


Gus Omar mengabaikan. Dia beringsut masuk kamar. Membuat Kala menjadi kebingungan sekaligus khawatir.


"Guuus? Ampun duko (jangan marah)."


Tetap tak ada respons. Merasa sadar atas tingkahnya yang kenakak-kanakan, Kala pun memilih kembali ke teras. Duduk terpekur. Pandangannya menghambur ke langit. Lalu, tak segan untuk merebah dan membiarkan angin malam membelai seluruh sisi tubuhnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, dia beranjak. Langsung ke kamar mandi dengan sebelumnya membawa satu lembar pakaian dan pouch make-up. Dia pun mandi. Membubuhkan wangi body spray yang disukai Gus Omar ke seluruh bagian tubuhnya tanpa terkecuali. Meski dia tak akan tahu bagaimana respons Gus Omar setelah dirinya keluar kamar mandi, dia tetap melakukannya usai kepikiran tiba-tiba.


Dia keluar dengan raut wajah merah di pipi. Takut kalau justru Gus Omar bertambah mengabaikannya. Lalu, dia memberanikan diri duduk di tepi ranjang tanpa mengobral kata sedikit pun. Dia hanya kemudian merasai kaki dan telapak tangannya yang mendadak dingin. Debar pun menyerang hebat.


__ADS_2